Setelah melaksanakan kegiatan upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi
peringatan HUT RI ke-68 bersama unsur-unsur operasi pengamanan
perbatasan bersandi “Tameng Hiu 13 secara serentak di perairan Karang
Unarang, KRI Malahayati-362 melanjutkan kegiatan operasi dengan
menggelar latihan terpadu bersandi “LAKS OPS Tameng Hiu 13” di Perairan
Karang Unarang. Latihan Anti Kapal Selam (LAKS) ini dipimpin
pelaksanaannya oleh Komandan KRI Malahayati-362 Letkol Laut (P) Moch.
Irchamni dengan melibatkan kapal selam KRI Cakra – 401 dan Pesawat Udara
Cassa U-625 yang berada dalam satu gugus tugas dibawah komando Komandan
Gugus Tempur Laut Koarmatim.
Dalam pelaksanaan latihan diskenariokan bahwa telah terdeteksi kontak
kapal selam musuh berada di sekitar perairan Karang Unarang oleh pesawat
patroli udara maritim TNI AL Cassa U-625 yang sedang melaksanakan
patroli rutin. Informasi tersebut segera dilaporkan ke komando atas dan
ke unsur teman terdekat KRI Malahayati-362 yang sedang melaksanakan
patroli di perairan Karang Unarang. Komandan KRI Malahayati-362
berinisiatif dengan kecepatan penuh segera menuju ke posisi datum kapal
selam yang diberikan oleh Cassa U-625 dan meningkatkan derajat kesiagaan
dengan melaksanakan peran tempur bahaya kapal selam.

Seluruh
prajurit mengawaki pos tempur masing-masing, Sonar aktif melaksanakan
identifikasi terhadap datum kapal selam. Setelah berhasil mendeteksi
keberadaan kapal selam, Komandan KRI Malahayati-362 memerintahkan
Principle Warfare Officer (PWO) untuk mengunci musuh dalam jarak tembak
dengan Torpedo dan Anti Submarine Rocket (Asroc). Melalui Under Water
Telephone (UWT) KRI Malahayati-362 mencoba menjalin komunikasi untuk
melaksanakan prosedur peringatan, sementara itu koordinasi terus
dilaksanakan KRI Malahayati-362 dengan Cassa U-625 untuk memantau posisi
kapal selam musuh. Sadar akan posisinya yang sudah diketahui, kapal
selam negara tetangga pun muncul ke permukaan dan bersedia menjalin
komunikasi menggunakan radio. Komandan KRI Malahayati-362 segera
memerintahkan kapal selam negara tetangga untuk keluar dari perairan
Karang Unarang yang merupakan wilayah kedaulatan NKRI. Dibawah
“todongan” Torpedo dan Asroc KRI Malahayati-362 serta pengawasan dari
Cassa U-625 kapal selam negara tetangga digiring meninggalkan wilayah
perairan kedaulatan NKRI.
Komandan KRI Malahayati-362 Letkol Laut (P) Moch. Irchamni dalam
pernyataannya mengatakan latihan sudah menjadi kebutuhan bagi prajurit
TNI AL, daerah operasi di perbatasan bukan tempat untuk bermain-main
ancaman bisa datang darimanapun dan kapanpun. “Lebih baik banjir
keringat di medan latih, dari pada harus mandi darah di medan tempur,”
tegas Komandan dengan dua melati dipundak ini.
tnial