F-16C
block 25 serial number 84-1281 yang akan dihibahkan ke Indonesia. Photo
diambil 9 April 2008 di Eielson AFB, saat misi Red Flag-Alaska [Photo
by Karl Drage]
USAF
Angkatan Udara Amerika Serikat, US Air Force (USAF) terbagi ke dalam tiga kategori: Air Force (AF), Air Force Reserve (AFRES) dan Air National Guard (ANG).
US Air Force adalah pasukan reguler: Air Force Global Strike Command, US Central Command, US Southern Command, US Joint Forces Command, US Northern Command, US Strategic Command; serta US Air Forces in Europe-USAFE dan Pacific Air Forces-PACAF.
Adapun Air Force Reserve-AFRES adalah Komponen Cadangan. Sedangkan Air National Guard merupakan Milisi yang dipersenjatai.
Keberadaan Air National Guard tidak terlepas dari sejarah National Guard yang panjang sekali. Awalnya mereka adalah milisi yang disewa para tuan tanah, untuk berjaga dan menghadapi pasukan Indian. Kini, tugas pokok National Guard adalah unit pertahanan dalam negeri yang struktur dan komando mereka terpisah dari tentara reguler.
Air National Guard berada di bawah kendali Gubernur negara bagian, namun sewaktu waktu bisa dimobilisasi oleh Presiden atau Kongres. Salah satu bentuk mobilisasi National Guard oleh Presiden AS, adalah pasca terjadi-nya serangan WTC 11 September 2011.
National Guard sedikit relevan dengan keberadaan Resimen Mahasiswa atau Menwa di Indonesia. Mereka memiliki kemampuan dasar militer namun strukturnya di luar TNI. Bedanya, National Guard dipersenjatai.
Dalam hal tertentu ada anggota National Guard ada juga yang terlibat perang Irak dan Afghanistan. Hal itu terjadi setelah status mereka di BKO ke Air Force Reserve atau Air Force.
3
F-16 Air National Guard: New Mexico, Colorado dan Montana, terbang di
atas Kota Kunsan Korea Selatan, 9 September 2006 (U.S. Air Force photo
by Tech. Sgt. Jeffrey Allen)
Adapun Air Force Reserve (AFRES) berada di bawah kendali Presiden. Mereka adalah komponen cadangan untuk membantu tugas Air Force. AFRES lebih mobil dan banyak terlibat dalam berbagai medan operasi USAF, dengan peran sebagai pasukan pendukung, bukan pasukan pemukul. Namun setelah periode tertentu (2 tahun), mereka kembali menjadi warga sipil. Keberadaan ANG dan AFRES sekaligus perekat hubungan militer dengan warga sipil.
Air National Guard
Pada tahun 1982 ketika masih terlibat perang dingin dengan Uni Soviet, Pemerintah AS memutuskan mempersenjatai Air National Guard dengan pesawat tempur yang lebih canggih agar memiliki tanggung jawab yang lebih. Tugas Air National Guard juga ikut meningkat dan bertanggung jawab terhadap pertahanan udara negara AS yang sebelumnya menjadi tanggung jawab USAF Air Defense Command.
Dengan pengalihan tanggung jawab ini, berbagai pesawat interceptor dipindahkan dari USAF Air Defense Command ke Air National Guard. Konsekuensi lanjutan pun muncul. Pesawat F-16 yang dimiliki Air National Guard harus memiliki kemampuan serang yang bagus, seperti menembakkan BVR missile Sparrow. Untuk mendapatkan kemampuan itu, maka 271 airframe pesawat F-16A/B dimodifikasi menjadi F-16 A/B ADF Block 15 di Ogden Air Logistics Center, Utah.
Modifikasi utama adalah upgrading radar AN/APG-66 agar bisa mendeteksi target kecil dan mampu menjejak lawan di Beyond Visual Range, agar pesawat memiliki kemampuan menembakkan rudal jarak menengah AIM-7 Sparrow BVR missiles.Tugas utama Air National Guard saat itu, menjaga wilayah utara AS dari serangan bomber dan peluru kendali jarak jauh Uni Soviet. Pada akhirnya modifikasi F-16 ADF berkembang meliputi: Spotlight, yang dipasang di samping hidung pesawat untuk membantu identifikasi penyusup saat penerbangan malam, advanced IFF, high frequency, single side-band radio, improved ECCM, penyediaan GPS dan datalink rudal AIM-120 AMRAAM.
F-16 ADF block 15 dapat membawa 6 rudal AIM-7 Sparrow atau AIM-9 Sidewinder, mampu membawa AIM-120 AMRAAM serta canon internal 20-mm.
F-16B (double seater) dilengkapi rudal Sidewinder dan Sparrow saat melakukan ujicoba program ADF [Photo by Paul Boliou]
Regenerasi
Pesawat F-16 Air National Guard semakin bervariatif, setelah mendapatkan lungsuran pesawat Block 25 dan 30 dari satuan reguler, seperti US Air Forces in Europe-USAFE, Pacific Air Forces-PACAF dan satuan lainnya. Pengalihan terjadi karena pasukan reguler telah mendapatkan F-16 baru, Block 40/42 dan 50/52. Dengan demikian bisa dikatakan sebagian besar pesawat Air National Guard telah malang melintang di medan perang dan masuk usia senja.
Air National Guard memiliki 43 skuadron F-16, dengan tugas berbeda beda: air defense, training/testing, air defense-attack, attack dan multiroll.
Umumnya, skuadron air defence memakai F-16A/B block 15 ADF, skuadron training menggunakan block 25, skuadron attack/multirole menggunakan Block 30/32 – 40/42 dan 50/52.
Seiring berakhirnya perang dingin di pertengahan 1990, USAF menghentikan tugas fighter interceptor untuk ANG. Hal ini menyebabkan sekitar setengah dari 43 skuadron F-16, ditutup atau diganti dengan pesawat jenis lain, seperti: C-130 Hercules, Tanker udara Boeing KC-135 Stratotanker; Pesawat evakuasi medis militer C-21A, Pesawat A-10 Thunderbolt II, Pesawat F-15C/D, Unmanned aerial vehicle MQ-9, Lancer Long-Range Strategic Bomber B-1B serta Pesawat F-22A. Perubahan ini sekaligus memperlebar tugas Air National Guard diiringi peningkatan kualitas pesawat mereka.
Dengan kebijakan itu, seluruh pesawat F-16 A/B ADF block 15 dipensiunkan. Demikian pula dengan sebagian besar F-16 Block 20/25 dan 30/32. Sebagian pesawat itu dijual atau dipinjamkan ke negara lain, sebagian lagi yang sudah tua disimpan di tempat menyimpanan AMARC, Arizona.
F-16A block 15 dari 198th Fighting Squadron terparkir di AMARC October 1995 [AviaMagazine photo by Frits Jongerman]
F-16A
block 15 dari Skuadron 425th yang sempat disewakan untuk training pilot
Singapura di Luke Air Force Base, sebelum akhirnya pensiun dan disimpan
di AMARC 1 Februari 1996. [Photo by Phillip Kovaric]
Pesawat F-16 Block 40/42 dan 50/52, dilengkapi: AGM-88 HARM dan GBU-31 JDAM, Theater Airborne Reconnaissance System, serta CCIP (Common Configuration Implementation Program).
Program CCIP untuk armada F-16 USAF Block 40/42/50/52 di Eropa. Konfigurasi CCIP meliputi sistem: Modular Mission Computer, Color Multifunction Display Set, Common Data Entry Electronics Unit, Electronic Horizontal Situation Indicator, Joint Helmet Mounted Cueing System (JHMCS), Link 16 Multifunction Information Distribution System (MIDS) and Low Volume Terminal with TACAN. Sistem meningkatkan secara tajam fleksibilitas F-16 AS di Eropa.
Sekitar
4500 pesawat sipil dan militer non-aktif, disimpan di Aerospace
Maintenance and Regeneration Group (AMARG), di Davis-Monthan Air Force
Base, Arizona dengan nilai diperkirakan 35 Miliar USD
Adapun block 25 adalah generasi pertama F-16C/D yang ditandai radar baru APG-68 menggantikan APG-66, serta beberapa jenis senjata. Pesawat ini diproduksi 209 unit untuk versi C (single seater) dan 35 versi D (double seater). Unit terakhir yang diproduksi adalah seri 85-1516 yang roll-out November 1986. Dari total 344 unit pesawat, 68 diantaranya masih aktif dan tersebar di skuadron ANG/AFRES sebagai pesawat latih.
Pesawat yang akan dihibahkan ke Indonesia, antara lain F-16C Block 25D serial number: 84281. Pesawat ini pertama kali diserahkan dari pabriknya ke USAF Tactical Fighter Squadron 33, bulan Januari 1986. Awal tahun 1991 pesawat ini ikut operasi Desert Storm di Irak.
Usai operasi Desert Strom, F-16C block 25 s/n 84-1281 ini, sebentar dipindahkan ke Skuadron 113 Tactical Fighter, September 1991. Tujuh bulan kemudian April 1992, pesawat itu dialihkan ke Skuadron 112 Ohio Air National Guard.
Setelah dua tahun, pesawat ini dilepas dari Ohio Air National Guard (April 1994), untuk ditampung oSkuadron 62 LF, Arizona karena Skuadron 112 Ohio AGN telah menerima pesawat lebih baru, F-16C/D block 42.
Terakhir 5 Agustus 2009, pesawat F-16C block 25 s/n 84-1281 di-non-aktif-kan dan disimpan di USAF AMARC (Aerospace Maintenance and Regeneration Center), Tucson, Arizona.
F-16C
block 32 yang akan dihibahkan ke Indonesia saat masih bergabung dengan
Skuadron 113th TFS parkir di pangkalannya Terre Haute IAP, Oktober 1991
[Photo by Gary Chambers]
Indonesia mengeluarkan 700 juta USD, untuk meningkatkan performa 24 F-16 Block 25, termasuk upgrade: Radar, Electronic Warfare, Fire Control (EEFC), Awareness Data Link, Enhance Position Location Reporting Systems (EPLRS), Sniper/Litening dan sebagainya.
Dengan sisa +1500 jam terbang, usia pesawat hibah F-16C bLock 25, kira-kira 5 tahun lagi dengan masa terbang 20 jam/bulan. Jika upgrade/refurbish meliputi air-frame, maka life time pesawat bisa lebih lama.
JKGR