Seperti diungkapkan Panglima TNI, Jenderal Moeldoko, TNI AL telah mencanangkan MLM yang akan dilakukan pada periode 2015 – 2019. MLM menekankan pada pemeliharaan atau peningkatan alat utama sistem senjata. Seringkali hampir semua instrumen digantikan, seperti CMS (combat management system) maupun propelling system (sistem penggerak) kapal. Biasanya CMS di dahulukan saat upgrade guna mendapatkan update teknologi yang setara dengan kapal perang yang lebih baru.


Pusat Informasi Tempur di frigat Van Speijk.
CMS Len menggunakan teknologi middleware yang memenuhi standar OMG-DDS, standar internasional dalam mendefinisikan mekanisme komunikasi real-time. Algoritma radar tracking yang digunakan merupakan algoritma termutakhir sehingga proses tracking radar menjadi lebih handal dan teknologi software-based radar scan conversion untuk integrasi terpadu, mulai dari radar legacy hingga radar modern.
CMS Len juga memiliki lemampuan untuk menyajikan visualisasi terhadap situasi taktis peperangan yang antara lain meliputi tampilan track (sesuai dengan simbol-simbol yang digunakan di TNI-AL), peta laut elektronik serta video radar. CMS juga dapat melakukan kalkulasi dan menyajikan saran untuk koordinasi dengan unit tempur udara, seperti mengarahkan unit udara pembawa torpedo untuk melakukan penyerangan terhadap kapal selam, memandu pesawat atau helikopter ke target. Dan tentu saja menyediakan fungsi-fungsi yang membantu kegiatan peperangan laut.
PJenderal Moeldoko lebih jauh lagi memaparkan , MLM ini untuk memperkuat Angkatan Laut yang kredibel dan mempunyai kemampuan penangkalan dalam rangka kerja sama menjaga stabilitas keamanan kawasan Asia Tenggara, yang kian rumit dalam tahun-tahun ke depan. Saat ini, PT Len menjadi satu-satunya perusahaan di dalam negeri yang telah berhasil membuat CMS dan telah memasangnya di tiga frigat kelas Van Speijk TNI AL, yakni di KRI Yos Sudarso-353, KRI Oswald Siahaan-354 dan KRI Abdul Halim Perdanakusuma-354. Beberapa sistem senjata di Van Speijk yang ditangani pengoperasiannya lewat CMS seperti meriam reaksi cepat OTO Melara 76 mm, rudal anti kapal C-802/Yakhont, dan torpedo MK46 anti kapal selam.(Indomiliter)