Monday, 2 July 2012
Prajurit Kopassus Tiba di Jinan, China
(Foto: Kopassus)
2 Juli 2012, Jinan: Sekitar 90 personel Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat (Kopassus) telah tiba di Jinan, Ibukota Provinsi Shandong, China, untuk melakukan latihan bersama dengan pasukan khusus China.
Kesembilan puluh personel korps baret merah itu tiba di Jinan Internasional Aiport dengan menggunakan pesawat Hercules C-130 dari Skadron Udara 32 TNI Angkatan Udara.
Atase Pertahanan Kedubes RI di China Kolonel (Lek) Surya Margono di Jinan, Senin (2/7) mengatakan latihan bersama Kopassus dengan Komando Pasukan Khusus China akan dibuka resmi pada Selasa (3/7).
"Ini merupakan latihan bersama yang kedua kali yang digelar oleh Kopassus dan Komando Pasukan Khusus China," kata Kolonel Surya Margono menjelaskan.
Latihan bersama pasukan khusus dua negara kali pertama digelar pada Juni 2011 di Pusat Pendididkan Kopassus Batujajar, Jawa Barat. Kegiatan yang bersandikan "Sharp Knife II/2012" itu bertujuan meningkatkan kemampuan, keterampilan dan profesionalisme dari para prajurit pasukan khusus militer kedua negara.
"Prajurit pasukan khusus kedua negara dapat saling bertukar pengalaman, dan keterampilan, kemampuannya, sehingga didapat sebuah bentuk kerja sama pasukan khusus kedua negara yang lebih komprehensif, baik dari segi teknik dan taktik operasional," kata Surya.
Selain personel, maka Korps Baret Merah TNI Angkatan Darat juga membawa sejumlah persenjataan dan perlengkapan penanggulangan antiteror. "Sebagian persenjataan dan perlengkapan yang dibawa, selain digunakan untuk latihan bersama juga akan dipamerkan dalam kegiatan itu," ungkap Surya.
Latihan bersama Kopassus dan Komando Pasukan China akan berlangsung hingga Minggu (15/7) di Pangkalan Latihan Terpadu Kodam Jinan, China.
Sharp Knife - 2012
China, Indonesia launched on Sunday their second joint military drills code-named "Sharp Knife - 2012" in Jinan, east China's Shandong Province.
The exercises will last 15 days and attended by two teams of SWAT forces of the Chinese People's Liberation Army (PLA) and Tentara National Indonesia. Each team has 70 members with a mixture of commandos from both Chinese and Indonesian SWAT forces. Both teams have carried out training programs such as shooting practice, airborne landing, blockading and seizing tactics.
"The joint-exercises have the theme "United to fight terrorism" according to an overall plan. We have added new programs to the training such as combat study, and commanding. We conducted a combat-simulation system to highlight the true situation and confrontation under the condition of popularized information," said Yuan Yuping, head of the training team of the PLA.
The Chinese SWAT team come from the Jinan Military Area Command (JMAC) of the PLA. It has a 18-year history and the experience of winning awards in many international SWAT competitions. The team also holds a number of records in more than 20 military training programs of the PLA, and had been awarded with the first-class honor by China's Central Military Commission last year.
Sumber: Investor Daily
Pesawat Tempur TNI AU Berganti Warna
Hawk Skuadron Udara 12 Pekanbaru. (Foto: Sripoku)
2 Juli 2012, Malang: Sebuah gambar kepala Panther Hitam menempel garang di badan pesawat tempur Hawk 200. Mulutnya mengaum garang,berlatar belakang sebuah gambar kilat yang menyala tajam. Warna abu-abu langit juga semakin membuat kepala Panther ini hidup dan siap menerjang. Angka 12 tersebut merupakan penanda burung besi mematikan buatan Inggris tersebut berangkat dari Skuadron Udara 12, Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Pekanbaru.Hampir di ujung moncong pesawat juga tertulis angka 09. Nomor ini merupakan tanda nomor pesawat di skuadron tersebut.
Burung besi ini nampak mengkilat,dengan motif loreng perpaduan abu-abu muda dan abu-abu tua.Tampangnya garang, siap menerjang angkasa, menembus langit biru nusantara, menggeliat cerdik di antara awan-awan putih, menghunus pusaka menerjang setiap lawan yang mengancam.
Warna loreng abu-abu ini baru saja selesai digarap oleh para putra terbaik TNI AU yang tergabung di dalam Satuan Pemeliharaan (Sathar) 32 Depo Pemeliharaan 30, Lanud TNI AU Abdulrachman Saleh, Malang.
Bukan ahli dari Inggris, atau Amerika Serikat,yang membuat burung besi menjadi garang,segarang Panther. Putra-putra terbaik bangsa,yang bernaung di Sathar 32, mampu mandiri membuat Panther Skuadron Udara 12 mengaum di langit nusantara.
Hanya berjarak beberapa langkah di depan Panther Skuadron Udara 12, tampak logo kepala Jonga atau Kijang, mulai sumringah. Jonga yang terpampang di badang Hawk 200 milik Skuadron Udara 1 Pontianak tersebut,juga akan menjalani masa-masa pergantian warna di Sathar 32.
Saat ini,Jonga lambang kelincahan, kecerdikan,dan kecepatan ini,masih menggunakan warna lama. Loreng hijau tua dipadu hijau muda, dan cokelat masih menempel lekat. Sebentar lagi, tangantangan terampil putra-putra terbaik yang tergabung di Sathar 32,akan memanjakannya dengan warna baru,loreng abu-abu.
“Warna loreng abu-abu, menjadi warna kamuflase resmi para pesawat tempur TNI AU,” ujar Pembantu Letnan Dua (Pelda) Lagiono. Prajurit TNI AU,yang sudah mengabdikan diri sejak tahun 1986 tersebut,menjadi salah satu bintara senior di Sathar 32. Perannya,khusus dalam hal menangani pengecatan pesawat TNI AU. Banyak pesawat tempur sudah ditanganinya, termasuk pesawat tempur F-16.
Dari tangan telaten para prajurit tersebut, saat ini sudah ada delapan unit pesawat tempur jenis Hawk yang sudah berganti kamuflase loreng abu-abu. Lagiono menyebutkan, pesawat jenis Hawk yang sudah selesai dicat dan diperbaiki, ada di Skuadron Udara 1 sebanyak lima unit, dan di Skuadron Udara 12 sebanyak tiga unit.
“Pengerjaannya dilakukan di Malang. Ada juga yang kami kerjakan di skuadronnya masing-masing,” ujarnya begitu ramah. Butuh sedikitnya 7-8 galon cat,atau sekitar 28-32 liter cat untuk mengecat satu unit pesawat. Pengerjaannya dilakukan selama 1-2 minggu. Prosesnya dimulai dari pembersihan cat lama, perbaikan, kemudian pengecatan dengan cat baru. Kualitas hasil pengecatan, tidak bisa diremehkan. Karya anak negeri ini,sudah terbukti memiliki kualitas tinggi.
Salah satu buktinya,pengecatan yang dilakukan terhadap pesawat tempur taktis F- 16, sudah berusia 10 tahun, namun belum menunjukkan kerusakan.“ Kualitas kami utamakan. Selain itu, kerja seni juga menjadi bagian dari pencetan pesawat ini. Hingga membuat pesawat tampil garang, menawan, dan memiliki kualitas bagus,”ujar Lagiono.
Bukan sekadar kamuflase warna di badannya saja yang diganti dan dibersihkan. Kemampuan avionik, dan listrik instrumen pesawat juga turut dibenahi dan dijaga di Sathar 32. Alhasil,pesawat temput taktis ini tidak hanya garang di luar, namun kegarangan mesinnya layak diacungi jempol.
Kepala unit avionik dan listrik instrumen (Aviolinst) Sathar 32,Letnan Satu (Lettu) Elektronik (Lek) Andhi Setyo menyatakan, setiap pesawat tempur yang masuk perawatan di Sathar 32, akan dicek kondisi keseluruhannya. “Satu incipun tidak boleh luput dari pengecekan, karena kondisi pesawat yang prima akan sangat mendukung kegiatan operasi yang dijalankan,”tegasnya.
Secara keseluruhan, ada tiga tahap yang harus dilaksanakan dalam pengecatan dan perbaikan pesawat tempur ini. Tahapan itu, menurut kontrol kualitas Sathar 32, Pembantu Letnan Satu (Peltu) Haryanto, antara lain tahap predock; in dock; dan post dock.
Tahap pre dock meliputi penerimaan pesawat dari skuadron yang mengoperasionalkan. Kemudian dilanjutkan dengan tes seluruh sistem pesawat, termasuk uji fungsi dan performance engine pesawat. Tahap in dock, berupa pembongkaran, pemeriksaan,perbaikan, dan pengetesan.“Dalam tahap terakhir atau post dock akan dilakukan penimbangan, pengecekan terakhir, dan tes terbang,”terangnya.
Pengalaman dan prestasi pengecatan pesawat,serta perbaikannya ini, sudah berjalan sangat lama. Menurut Komandan Depo Pemeliharaan 30 Lanud TNI AU Abdulrachman Saleh Malang, Kolonel Dento Priyono,pada tahun 2012 ini, jadwal pengecatan sangat padat.
Setelah menyelesaikan pengecatan sebanyak enam pesawat F 16, dilanjutkan pengecatan delapan unit Hawk 100, dan Hawk 200. “Selain itu, masih menyelesaikan pengecatan pesawat angkut Cassa A2103, dan Cassa A2017,” ujarnya.
Setiap pengecatan,dan perbaikan pesawat ini,dilaksanakan oleh tim kecil yang beranggotakan 8-10 orang personel. Mereka terdiri dari satu orang perwira, anggota, dan kontrol kualitas.
Depo Pemeliharan sendiri,membawahi tiga satuan yakni Sathar 31; Sathar 32; dan Sathar 33.
Sebuah kebanggaan tersendiri bagi bangsa ini. Setiap personel Sathar, memiliki ketelitian, kemampuan, dan jiwa seni untuk memperbaiki pesawat tempur. Mereka membuat setiap burung besi TNI AU menjadi garang, layak terbang, dan lincah bermanuver di langit biru, memecah angkasa, menjaga setiap jengkal kedaulatan udara nusantara.
Satu Motif
Seiring dengan terbitnya Petunjuk Teknik Udara (PTU) No 126, perbaikan Ke-4 tahun 2011 tentang standardisasi pola dan warna pengecatan pesawat TNI AU, kini warna pesawat tempur dan angkut ringan pun berubah menjadi satu motif dengan warna yang sama. Tingkat kamuflasenya ketika mengudara ataupun di darat akan semakin sempurna.
Khusus untuk EMB 314 Super Tucano, kata Komandan Satuan Pemeliharaan 32 Depo Pemeliharaan 30 Lanud Abdulrachman Saleh Malang Letkol M Sarifudin, warna pesawat ini memang didesain di Indonesia dan sudah diserahkan ke pihak produsen (Embraer Brasil). Nantinya pesawat tersebut datang ke Indonesia sudah memakai warna khas TNI AU.
Sumber: SINDO/Suara Merdeka
Batalyon Paskhas 461 Latihan Terjun di Cope West 2012
30 Juni 2012, Jakarta: Anggota TNI AU bersiap latihan terjun menggunakan
pesawat USAF C-130 Hercules di Lanud Halim Perdanakusumah, 26 Juni
2012. Latihan Bersama Cope West merupakan latihan bilateral TNI AU dan
USAF. Latma Cope West dirancang meningkatkan interoperability antara TNI
AU dan USAF dalam pertukaran teknik airlift, air-land dan airdrop serta
menjaga stabilitas regional.






