Pages

Monday, 2 July 2012

Paskhas Rebut Kembali Lanud Palembang


1 Juli 2012, Palembang: Sebanyak 700 personel Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (Paskhas) bakal diterjunkan pada operasi Trisula dengan skenario merebut kembali Pangkalan TNI AU Palembang dari pendudukan negasor (negara asing), 6-10 Juli 2012 mendatang.

"Ini merupakan latihan puncak yang melibatkan dari beberapa batalyon Paskhas di Indonesia," ungkap Danlanud Letkol Pnb Adam Suharto di sela-sela Operasi Jalak Sakti yang melibatkan enam pesawat jet tempur Hawk dengan target pengeboman Tanjungpandan, Minggu (1/7/2012).

Menurut Adam yang merupakan lulusan AAU 1991, pada operasi Trisula Perkasa ini akan ada beberapa skenario.

"Nantinya Lanud diduduki negasor. Lalu tugas tim kita akan merebut kembali. Setelah prosesnya matang, Dalpur (Pengendali Tempur) ada satu regu beranggotakan 10 hingga 12 personel diterjunkan malam hari," terang Adam.

Kemudian kata Adam, mereka ini melakukan penyusupan mulai dari jarak 15 km dari pangkalan yang diduduki oleh musuh yang diperankan para personel Paskhas lainnya.

"Nanti ada 10 orang seperti rambo memasang bom di instalasi vital. Apabila dirasa aman baru diterjunkan Satpur (satuan tempur) yang rencana melibatkan empat pesawat Hawk untuk melaksanakan serangan udara langsung secara mendadak dan akan diikuti penerjunan pasukan (terjun payung).

Juga melibatkan empat pesawat Hercules dimana tiap-tiap pesawat akan menerjunkan 64-95 orang bersenjata lengkap SS-1 dalam rangka perebutan pangkalan. Ini baru latihan mandiri jadi hanya Paskhas yang turun. Kalau sudah gabungan, setelah dari Paskhas diserahkan ke angkatan darat," terangnya.

Sumber: Sripoku

Misi Kemanusiaan USNS Mercy Pererat Kemitraan Indonesia dan AS


USNS Mercy (T-AH-19) berlabuh di Teluk Manado, Jumat (1/6/2012). (Foto: Camelia Montoy)

2 Juli 2012, Washington D.C.: Ketua Komisi Pertahanan DPR RI Mahfudz Siddiq mengatakan, kehadiraan Rumah Sakit Terapung Milik Angkatan Laut Amerika Serikat USNS Mercy di perairan Sulawesi Utara baru-baru ini menunjukkan semakin eratnya kemitraan Indonesia dengan AS.

Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq mengatakan Jum’at (29/6), kemitraan Indonesia dan AS tidak harus selalu terkait penanganan masalah-masalah pertahanan dan terorisme, namun aksi-aksi kemanusiaan juga perlu semakin ditingkatkan.

Menurut Mahfud, konteks kemitraan di kawasan Asia Pasifik selama ini mengalami peningkatan, terutama karena pertimbangan kepentingan jangka panjang yang cukup strategis.

“Sekarang ini memang bentuk-bentuk kerjasama militer , terutama dalam konteks pengamanan laut semakin berkembang. Contoh seperti yang dilakukan AS, secara geografis tidak berbatasan langsung dengan Indonesia, namun secara geopolitic, geostrategic dan geoeconomic memiliki kepentingan, berdasarkan itu kemitraan sangat mungkin dilakukan,” kata Mahfudz.

Dalam siaran pers Kedutaan AS di Jakarta baru-baru ini menyebutkan Rumah Sakit Terapung USNS Mercy telah merampungkan misi kemanusiaannya di perairan Sulawesi Utara, Indonesia sebagai bagian dari Pacific Partnership 2012 (PP12). Sejak berada di Manado pada 31 Mei, para awak kapal menjalankan berbagai program bekerjasama dengan rekan sejawat dari Indonesia dari berbagai instansi dan lembaga termasuk kantor pemda, militer, kepolisian, dan staf penanggulangan bencana.

PP12 yang merupakan misi kemanusiaan dan sipil terbesar di wilayah Asia Pasifik mencakup pelatihan dan perencanaan penanggulangan bencana alam, perawatan medis gratis di darat dan di atas kapal.

Beberapa pengamat pertahanan mengatakan, peningkatan kerjasama antar negara sekawasan Asia Pasifik cukup menguntungkan Indonesia. “Manfaatnya baik secara kekinian maupun jangka panjang. Memang hubungan antara Indonesia dengan AS dalam posisi yang cukup bagus saat ini, perlu saling membantu banyak hal," demikian kata Wawan Purwanto dari Lembaga Pengembangan Kemandirian Nasional (LPKN).

"Yang paling utama hubungan (bilateral) ini tidak menyebabkan menimbulkan sentiment-sentimen baru , khususnya di negara-negara yang berseberangan dengan kebijakan politik Amerika Serikat,” lanjut Wawan.

Lebih lanjut disebutkan dalam siaran pers Kedubes AS, Rumah Sakit Terapung USNS Mercy sebelumnya merupakan sebuah kapal tanker. Kapal ini mampu menampung 1000 awak dengan 12 (dua belas) ruang operasi untuk keperluan tindakan medis. Selain bersandar di Manado, USNS Mercy juga menjalankan misi kemanusiaannya dengan melayari Kepulauan Sangihe dan Talaud. USNS Mercy setelah berada di Indonesia , meneruskan pelayaran ke arah utara mengunjungi Filipina, Vietnam, dan Kamboja.

Pacific Partnership 2012 atau Kemitraan di Pasifik 2012, merupakan aksi kemanusiaan terbesar di kawasan Asia-Pasifik, dengan beberapa negara tujuan seperti Indonesia, Filipina, Kamboja dan Vietnam. Aksi kemanusiaan dalam program Pacific Partnership meliputi bidang kesehatan, mencakup perawatan dan tindakan medis, perawatan gigi, kedokteran hewan, teknik sipil serta pertukaran para ahli.

Rumah Sakit Terapung Angkatan Laut Amerika Serikat USNS Mercy mulai menjalankan misi kemanusiaannya pasca tsunami Aceh tahun tahun 2004 silam. Para tim medis USNS Mercy telah mengobati lebih seratus ribu korban tsunami dalam melaksanakan misi kemanusiaannya selama di Aceh.

Kemudian pascagempa Sumatera bulan Maret 2005 silam, USNS Mercy juga melaksanakan pengobatan di perairan Pulau Simeulue dan Nias. Di Nias, USNS Mercy melakukan pelayanan kesehatan kepada lebih 1400 orang, 79 orang di antaranya dioperasi di atas kapal USNS Mercy. Paramedis dari USNS Mercy juga menggelar pelatihan bagi 180 tenaga medis dan paramedis Rumah sakit Umum Gunungsitoli dan melakukan perbaikan peralatan rumah sakit yang rusak di Nias, provinsi Sumatera Utara.

Sumber: VOA

Kemhan Beli Leopard dari Jerman, Acuhkan Leopard Belanda


Leopard 2A6 milik AD Jerman. (Foto: Battle 14)

2 Juli 2012, Jakarta: Kementerian Pertahanan Indonesia memastikan membeli tank berat (Main Battle Tank) Leopard dari Jerman sebanyak 100 unit dalam rangka modernisasi alutsista TNI Angkatan Darat. Rencana semula tank berat Leopard akan dibeli dari Belanda.

"Khusus TNI AD, kita telah putuskan membeli tank berat leopard dari Jerman dengan pertimbangan memperoleh kepastian waktu dan target dari volume peralatan militer yang kita perlukan," kata Wamenhan Sjafrie Syamsuddin kepada wartawan di Jakarta, Senin (2/7).

Menurut Wamenhan, rencana pembelian MBT Leopard dari Belanda dihentikan sehingga fokus pembelian tank yang berasal dari Jerman tersebut berjalan lancar.

Dijelaskan Sjafrie, alokasi anggaran sebesar 280juta dolar AS, yang diperlukan diproses berdasarkan alokasi pinjaman luar negeri, dimana prosesnya melalui Green book maupun Blue book baik dari Bapennas maupun Kementerian Keuangan. "Saat ini proses dilakukan secara akselerasi, dan pararel sehingga dalam waktu satu minggu kita akan segera memperoleh kepastian-kepastian dari aspek pengadaan dan pembiayaan dan tentu saja diikuti oleh aspek pengawasan yang dilaksanakan oleh tim pencegahan dan penyimpangan pengadaan barang dan jasa dengan melibatkan BPKP, LKTP dan Itjen Kemhan serta Mabes TNI dan angkatan," ungkapnya.

"Jumlah yang diinginkan dalam pengadaan tank ini kurang lebih 100 unit, dari jumlah tersebut, kita inginkan 15 unit sudah berada di Indonesia pada Oktober 2012," terangnya.

Dia menambahkan pertimbangan pembelian Main Battle Tank Leopard dari Belanda tidak diteruskan karena faktor kepastian waktu dan kepastian proses yang diperlukan tidak satupun ditanggapi pihak Belanda.

Terkait keinginan Kemhan agar 15 unit tank berat Jerman itu sudah berada di Indonesia Oktober 2012, penempatannya menurut Sjafrie sepenuhnya kewenangan Mabes TNI Angkatan Darat.

Sumber: Info Publik