Pages

Sunday, 9 December 2012

Indonesia-China sepakati empat bidang kerja sama maritim



Satelit Keamanan Laut
Indonesia dan China menyepakati empat bidang dalam kerjasama maritim, sebagai bagian dari nota kesepahaman kerjasama maritim kedua negara pada Maret 2012. Empat bidang dalam kerjasama maritim kedua negara itu disepakati pada sidang pertama Komisi Kerjasama Maritim (Maritime Cooperation Commission/MCC) Indonesia-China di Beijing, Kamis.

Wakil Menteri Luar Negeri RI Wardana mengatakan keempat bidang kerjasama itu, adalah penggantian alat bantu navigasi di sepanjang Selat Malaka yang rusak karena tsunami Aceh pada 2006, dan pendirian pusat kelautan dan iklim Indonesia-China.

Selain itu, lanjut dia, Indonesia dan China juga menyepakati peningkatan daya mampu dan pelatihan operator vessel traffic service (VTS) di Selat Lombok dan Selat Sunda serta pembangunan KAMLASAT (satelit keamanan laut).

Ia mengatakan,"seluruh proyek itu didanai oleh China, karena mereka sangat komit untuk membantu sistem keamanan laut dan sangat berkepentingan untuk keamanan jalur laut itu. Indonesia dapat memanfaatkan peluang itu untuk meningkatkan daya mampu dan peralatan navigasi."

Wardana menambahkan empat bidang kerjasama yang disepakati itu merupakan bagian dari sembilan bidang kerjasama yang dirumuskan kedua negara dalam kerjasama maritim. "Lima bidang lainnya akan dibahas lebih lanjut dalam pertemuan kedua pihak mulai dari tingkat teknis hingga pengambil kebijakan yakni Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Koordinasi Polhukam kedua negara," katanya.

Tentang akan kapan kerjasama empat bidang yang telah disepakati mulai dilaksanakan, ia mengatakan,"segera setelah sidang ini dilakukan, masing-masing pihak segera melakukan koordinasi untuk menindaklanjuti kerjasama yang telah disepakati."

Dalam sidang pertama Komisi Kerjasama Maritim Indonesia-China Indonesia dipimpin Wakil Menlu Wardana dan China dipimpin Wakil Menlu Fu Ying. Kerjasama maritim itu merupakan salah satu kerjasama penting dari kemitraan strategis yang disepakati kedua negara pada April 2005. Kedua pimpinan delegasi sepakat pencapaian yang dihasilkan dalam sidang pertama itu, dapat menjadi acuan kerjasama maritim kedua negara di masa datang.
 
Sumber: Antara

Tank Tempur Medium PT Pindad Diluncurkan 2014



Tank Tempur Medium Marder Jerman
Untuk kali pertama, PT Pindad akan mengembangkan Tank Tempur Medium (Medium Battle Tank). Seperti yang diungkapkan oleh PT Pindad beberapa bulan lalu, tank medium yang akan dibuat ini dipastikan bukan hasil tiru dari Tank Tempur Medium Marder buatan Jerman yang akan dipesan oleh Indonesia.
Sekarang hal ini kembali ditegaskan Hery Mochtady, Kepala Divisi Kendaraan Khusus Pindad di PT Pindad, Bandung, Jawa Barat, baru-baru ini dengan mengatakan: "Kami tidak akan meniru dari mana. Pengembangan Tank Tempur Medium ini tentunya dibuat sesuai kebutuhan dan permintaan TNI. Sehingga ketika beroperasi nanti dapat digunakan secara maksimal. Kami akan desain dengan menyesuaikan requirement dari kavaleri TNI."

Sejauh ini, lanjut Hery, tahapan yang telah dilalui untuk pembuatan Tank Tempur Medium ini telah sampai pada pembuatan desain. Dalam pembuatan desain inilah kavaleri TNI dilibatkan meski tidak sampai ke tahap lebih jauh. "Target kami pada 2014 sudah jadi prototipe. Setelah prototipe jadi, kami mulai produksi," jelasnya.

Sementara itu, PT Pindad tidak keberatan mengikuti perintah Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk melepas anak dan cucu usaha yang produksinya tidak sejalan dengan bisnis inti induk perusahaan. Direktur Utama PT Pindad Adik Avianto Sudarsono mengatakan, melepas anak usaha dan cucu Pindad tidak akan membuat keuntungan perusahaan berubah secara drastis.

"Kalau pemerintah mengatakan begitu (menjual anak usaha dan cucu Pindad, Red), ya kami ikut ketentuan pemerintah saja. Saya yakin, kinerja Pindad akan tetap berjalan baik. Dengan melepas anak usaha maupun cucu usaha tidak serta merta membuat Pindad jomplang," ungkap Adik di Jakarta akhir pekan kemarin.
Pengembangannya akan dilakukan sendiri oleh PT Pindad, tanpa proses kerjasama maupun alih teknologi (ToT) dengan negara lain
Perintah yang ditetapkan pemerintah tersebut, lanjut Adik, akan segera dilaksanakan Pindad dengan lebih fokus pada bisnis di bidang kemiliteran. Apalagi bisnis di luar militer, hanya sedikit nilai sahamnya. Menurutnya, penciptaan usaha di luar bisnis militer sebenarnya hanya sebagai upaya memeroleh pemasukan yang lebih besar.

"Rumah sakit, itu paling nilainya hanya 30 miliar atau 1,5 persen dari total penjualan Pindad. Begitu pun bahan peledak yang hanya bernilai 60 miliar atau 3 persen dari total penjualan Pindad. Waktu itu, kami melihat ada peluang usaha dan menghasilkan uang, tapi kalau ternyata diatur untuk lepas, ya kami akan lepas saja," ujarnya.
Kembali ke rencana pembuatan Tank Tempur Medium, PT Pindad menegaskan bahwa meskipun rencana pembuatan tank jenis ini belum pernah dilakukan, namun pengembangannya akan dilakukan sendiri oleh PT Pindad, tanpa proses kerjasama maupun alih teknologi (ToT) dengan negara lain.
 
Sumber: JPNN

Tawaran Rusia kepada Indonesia: Pesawat Tempur Multirole Sukhoi SU-35 BM


Rusia Berharap Indonesia Membeli Jet Tempur Sukhoi Su-35

Rusia mengharapkan Indonesia kembali melirik pesawat tempur sukhoi Su-35, pernyataan ini diungkapkan Wakil Direktur "Rosoboronexport" Victor Kumardin kepada vietnamese.ruvr.ru bulan November lalu.
"Kita tahu bahwa Angkatan Udara Indonesia mengadakan latihan bersama dengan Angkatan Udara Australia, di mana Su-30 menunjukkan kinerja yang sangat baik. Artinya, kita berani berasumsi bahwa Indonesia mungkin tertarik pada Su-35, yang kami tawarkan, "kata Komardin.


Dia menekankan bahwa Kerjasama militer Rusia Indonesia telah terjalin cukup baik dan terus meningkat, "Hubungan ekonomi yang kuat dan hubungan perdagangan yang menguntungkan kedua negara. Kami telah menjual beberapa peralatan militer untuk Indonesia seperti kendaraan lapis baja, "tambah Victor Komardin.
Sumber : militaryparitet  kaskus