Pages

Sunday, 23 December 2012

Makara-02, Kapal Pengintai Buatan TNI AL dan Mahasiswa UI

Makara-02, prototype kerjasama TNI AL dan UI
Kapal ini memiliki dimensi 4,94 kaki x 0,73 kaki.
Saat ini TNI Angkatan Laut Indonesia (AL), bekerjasama dengan mahasiswa teknik perkapalan Universitas Indonesia (UI), sedang menjalani kerjasama dan pengembangan sebuah proyek bernama Sea Ghost Project.

Proyek ini tergolong istimewa lantaran merupakan proyek kapal perang tanpa awak. Konsep road mapnya adalah Cyber Warfare untuk pertahanan Indonesia. Kegunaannya adalah untuk melakukan pengintaian dan penyerangan terhadap para kapal penyusup. Cara pengendalian kapal ini sendiri akan menggunakan sistem teknologi komunikasi satelit dan sensor kamera.


Saat ini Sea Ghost Project telah dibuat
prototype dan diberi nama Makara-02. Kapal ini memiliki dimensi 4,94 kaki x 0,73 kaki. Prototype ini juga telah dipamerkan di stan Mabes TNI pada acara Indo Defence 2012, November lalu.

Meski belum diujicobakan sebagai kapal perang sungguhan, prototype Makara-02 sudah sering mengikuti lomba di Amerika. Tujuannya yakni untuk memperbaiki segala kekurangan yang masih dimiliki.


Para mahasiswa yang terlibat adalah, M Hary Mukti dan Aditya Meisar dari teknik perkapalan. Mereka juga dibantu Ricky (Teknik Mesin), Novika Ginanto (Teknik Elektro), Irvan JP Elliika (Teknik Elektro), serta mahasiswa Ilmu Komputer yakni M Anwar dan Ma'sum.

  Sumber : Berita Satu

Mengenal Changbogo Class Submarine Calon Penghuni Satkasel TNI-AL



Effective Reliable Safe
Sebuah Thread pengantar ke thread berikutnya.

Terlintas dalam ingatan, tahun 2007 mengenai rencana TNI-AL untuk memperkuat armada kapal selam kita, Cakra Class (U-209/1300) dengan tambahan 2-4 kapal selam lagi. Santer waktu itu kalau kapal selam yang akan diadakan adalah dari kelas Kilo Project 636/Varshavyanka buatan Rusia Terbayang betapa gagah dan gaharnya kekuatan TNI-AL kalau saja sampai dilengkapi dengan kapal selam Kilo tersebut. Berapa dahsyat efek deteren yang kita punya kalau saja kita punya kapal selam tersebut.

Namun harapan tinggal harapan, tahun telah berganti tahun, namun program pengadaan kapal selam TNI-AL makin lama makin menjadi tidak jelas. Malah dari kabar terakhir, makin kelihatan bahwa Kilo sudah semakin jauh dari harapan untuk dapat memperkuat TNI-AL. Malah yang makin santer adalah Changbogo Class buatan Korea Selatan yang memiliki kans besar untuk memperkuat kekuatan kapal selam TNI-AL.


Hal ini makin diperkuat dengan berhasilnya T-50 Golden Eagle untuk memperkuat TNI-AU mengalahkan Yak-130 yang merupakan contender yang sangat kuat di awal tender. Terlebih lobi kuat dan intens yang terus dilakukan oleh Presiden Korea Selatan Lee Myung Bak dan terakhir kunjungan parlemen Korea Selatan bidang pertahanan ke Indonesia semakin memperlihatkan kemungkinan besar kearah pengadaan Chongbogo Class untuk TNI-AL.

Oleh karena itu ada baiknya sama-sama kita warga Formil review bagaimana sebenarnya kapal selam Changbogo Class dari Korea Selatan ini secara garis besarnya saja.

Secara teknis, Changbogo Class adalah lisensi dari U-209/1200 yang dibuat oleh pabrik Daewoo Shipbuilding Korea Selatan. Daewoo Shipbuilding sudah membuat 9 kapal selam sejenis untuk angkatan laut Korea Selatan. U-209 sendiri didesain untuk menghancurkan kapal selam lawan, kapal permukaan, melindungi pangkalan kawan, dan misi pengintaian. Secara umum Changbogo Class serupa dengan Atilay Class Submarine milik Turki yang memiliki penekanan pada penggunaan sistem sensor dan persenjataan buatan Jerman.

Pada saat menyelam, kapal selam ini dapat menyelam sampai kedalaman 250m. Dengan dilengkapi dengan 4 MTU mesin diesel, kapal selam ini dapat melaju dengan kecepatan maksimum 21 knots (posisi menyelam) dan 11 knots (posisi permukaan). Kapal ini dapat membawa 8 buah 533mm/21 inch torpedo di haluan dan dipersenjatai dengan total 14 torpedo atau 28 ranjau laut. Kapal selam ini juga mampu untuk beroperasi secara terus menerus selama 2 bulan dengan 40 orang kru. Di bawah ini merupakan tabel spesifikasi teknis dari Changbogo Class :

Entered service
1993

Crew\t
33 men

Diving depth (operational)
250 m

Dimensions and displacement

Length
56 m

Beam
6.2 m

Draught
5.5 m

Surfaced displacement
1 100 tons

Submerged displacement
1 285 tons

Propulsion and speed

Surfaced speed
11 knots

Submerged speed
22 knots

Diesel engines
4 x 3 810 hp

Electric motors
1 x 4 595 hp

Armament

Torpedoes
8 x 533-mm bow tubes for 14 torpedoes

Other
28 mines in place of the torpedoes

Di atas dapat kita lihat memang secara kemampuan, Changbogo Class cukup mumpuni untuk menjadi bagian dari satuan kapal selam TNI-AL. Ditambah, TNI-AL sudah cukup berpengalaman untuk dalam mengoperasikan Cakra Class yang notebene merupakan saudara sepupu dari Changbogo Class.

Satu hal positif dari pengadaan alutsista dari Korea Selatan, pihak Korea Selatan sangatlah terbuka dalam proses ToT atau Transfer of Technology . Hal ini sudah terbukti dari suksesnya ToT dari pengadaan LPD oleh PT. PAL. Sangatlah mungkin apabila Changbogo Class menjadi bagian dari TNI-AL, maka proses kemandirian alutsista Indonesia akan menjadi sangat lengkap dengan penguasaan teknologi kapal selam.

Namun demikian, patutlah diingat bahwa Changbogo Class bukanlah kapal selam dengan teknologi terbaru. Kapal selam ini merupakan kapal selam dengan teknologi tahun 80an. Maka apabila Changbogo Class menjadi bagian dari TNI-AL, maka kemampuan yang harus dimiliki haruslah mumpuni.Changbogo Class milik TNI-AL haruslah dilengkapi dengan AIP ( Air Independent Propulsion) untuk mendongkrak daya senyapnya. Sistem kontrol, kontrol senjata, navigasi, dan pengindraan haruslah sistem yang tercanggih dan dilengkapi dengan passive towed array sonar. Selain itu untuk mendongkrak deterrence-nya, TNI-AL harus melengkapi kapal selam ini dengan VLS untuk Harpoon SSM atau Yakhont.

Sumber : Kaskus

Desain Baru SPR - SS234


SPR – SS234

Nama SPR – SS234 diambil dari sistem pengkategorian jenis senjata yang dianut PINDAD, yaitu SPR (Senapan Petembak Runduk) untuk jenis senjata sniper laras panjang, dan nama SS234 diambil dari induk asal (basis) senjata ini, yaitu perkimpoian antara SS2 V4 - PARASNIPER & SS3 V4 - SHARPSHOOTER Bullpup.
SPR – SS234 ini menggunakan peluru dengan kaliber 7,62mm origin PINDAD, dengan muatan 15 butir peluru per pack magazine, dengan sistem tembak tunggal namun pembuangan selongsong peluru & sistem kokang nya otomatis (single shot firing mode) seperti halnya pistol.
Dengan firing mode demikian maka membuat mekanisme mesin senjata lebih simple & ber-efek pada perampingan (efisiensi) dimensi senjata, karena memang desain SPR – SS234 ini lebih fokus pada efisiensi bentuk (space efficiency), fungsi & ergonomic. Menggunakan sistem BULLPUP karena pada sistem ini terdapat advantage pada ukuran panjang laras senjata & material senjata juga terbuat dari logam dengan lapisan anti oksidasi.

POPOR :
Dimensi ergonomik jarak antara gagang genggam picu dengan batas akhir popor berasal dari SS2 V4 – PARASNIPER, hanya saja posisi batas akhir popor tempat sandar bahu pada SPR – SS234 ini beberapa sentimeter lebih rendah ke bawah, sehingga saat operator senjata ini membidik melalui tele dengan posisi berdiri-duduk-jongkok (tanpa bipod) maka jatuhnya sandaran popor tepat di posisi tepian dada atas.
Demikian juga dengan melekatkan bantalan karet ber-profil kapsul-bersusun berisi udara hampa pada bumper akhir popor dimaksudkan untuk kenyamanan operator senjata ini saat membidik & menembakan senjata {gambar 01}.

TELESKOP :
Berhubung SPR – SS234 ini didesain sebagai senjata kategori laras panjang tembak tepat jarak jauh (sniper), maka sudah pasti dilengkapi teleskop sebagai unit bawaan orisinil nya.
Teleskop orisinil senjata ini menggunakan unit teleskop milik SS2 V4 PARASNIPER yang sudah di-riset ulang & dimodifikasi khusus untuk keperluan tembak tepat jarak jauh dengan menitikberatkan pada sektor teknologi optik, fungsi & efisiensi bentuk, terutama pada penerapan teknologi lensa & mekanisme pengatur visual fokus jarak tembak, sehingga walupun bentuk & tampilannya tidak se-heboh teleskop senjata sniper pada umumnya namun teleskop yang melekat pada SPR - SS234 mampu memvisualkan dengan baik objek yang berjarak 2000m dari operator senjata ini {gambar 02}.
Begitu juga pada bentuk kemasan teleskop ini yang juga sudah tersentuh modifikasi di beberapa bagian spesifiknya sehingga teleskop pada senjata ini bisa berganti-ganti opsi visual seperti lensa kuning (Contrast Enchancement Vission),lensa merah (Infrared Vission)& lensa hijau (NightVission) sesuai kebutuhan.

PELINDUNG TELESKOP :
SPR – SS234 ini memang didedikasikan untuk profil infantri profesional, yang berarti walaupun sang operator nya sangat ahli mengoperasikan senjata ini untuk menembak tepat jarak jauh namun ia tetap seorang infantri yang wajib mampu bergerak cepat & taktis dalam setiap pertempuran.
Terinspirasi dari senjata FN F2000 buatan Belgia, oleh karena itu desain SPR – SS234 ini juga dilengkapi pelindung teleskop yang pastinya berfungsi untuk melindungi teleskop, terutama dari benturan-benturan apabila operator senjata ini sedang dalam situasi mobilitas tinggi dalam sebuah pertempuran sengit {gambar 03}.
Pelindung teleskop ini terbuat dari logam yang sama dengan material kemasan senjata. Terpasang orisinil pada SPR – SS234 namun dapat dengan mudah untuk dilepas & dipasang lagi, karena pemasangannya menggunakan sistem Slide Mounting and Lock (selipkan,dorong & kunci).
Penelitian anatomi organ dalam ilmu kedokteran menyatakan bahwa kondisi retina mata tiap manusia berbeda-beda termasuk kemampuan fungsi penglihatannya. Pernyataan tersebut sangat mendukung bila dirunut pada sebuah filosofi yang mengatakan bahwa seorang penembak jitu jarak jauh memiliki setelan pribadi pada unit bidik di senjata yang dioperasikannya. Kedua hal itu lah yang memotivasi pemasangan pelindung teleskop pada desain SPR – SS234, mengingat pentingnya setelan pada unit bidik senjata bagi tiap operator nya.

PEREDAM SUARA (Silencer) :
Untuk memenuhi kriteria Stealh (siluman), maka SPR – SS234 juga dilengkapi unit silencer yang juga merupakan part orisinil nya {gambar 04}.
Didesain khusus sehingga mampu dengan sangat efektif meredam suara ledakan dari tiap tembakan yang dihasilkan senjata ini.
Silencer pada ujung laras senjata terpasang dengan sistem derat halus.

BIPOD :
Bipod pada SPR – SS234 terpasang orisinil bawaan, karena bukan hanya dudukan poros kosong pada senjata yang bisa meng-aplikasikan bipod sembarang melainkan bipod pada senjata ini sudah didesain utuh secara mekanis (compact) dengan bagian bonggol pangku senjata yang menganut sistem rel pipa & buka payung, yaitu saat bagian spesifik dari bonggol pangku senjata didorong +/-10cm ke depan sampai batas kuncinya, maka seiring dengan itu juga secara otomatis kedua tungkai bipod yang sedang menempel pada senjata akan bergerak terbuka membentuk huruf “A”, seperti halnya saat kita membuka payung {gambar 05} dan begitu juga untuk melipatnya dengan melakukan gerakan sebaliknya. Mekanismenya menggunakan sistem susunan roda gigi dengan semua materialnya yang terbuat dari logam antikarat, kecuali tungkai bipod yang terbuat dari bahan carbon.
Tipe tiap tungkai pada bipod adalah teleskopik dengan tabung segitiga. Pengunci setelan ketinggian tiap tungkai ada di ujung tabung bagian bawah dengan menggunakan sistem klip jepit sederhana.
Pada tabung bagian atas terdapat 5 titik cekungan sejajar berjarak masing-masing +/-8cm sebagai tempat jatuhnya pin berbentuk bola kecil dari klip jepit pada tabung bawah, sehingga bipod pada SPR – SS234 memiliki 4 setelan ketinggian dalam menopang senjata saat posisi tembak runduk {gambar 06}.
Mekanisme tadi juga termasuk susunan poros-poros vertical & horizontal yang memungkinkan senjata yang sedang bertumpu pada bipod tetap mampu bergerak rotasi sampai 30* ke kiri & kanan dari titik jam 12:00, juga 30* menunduk & mendongak.Sehingga bipod pada SPR – SS234 memiliki 4 setelan ketinggian dalam menopang senjata saat posisi tembak runduk.


Sumber : Kaskus