Pages

Monday, 21 January 2013

Indonesia Membutuhkan Fregat untuk Jaga ZEE


Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kiri) bersama Menteri Pertahanan Inggris Philip Hammond MP (kanan) pada upacara penyambutan di Kantor Kemenhan, Jakarta, Rabu (16/1). Kunjungan Menhan Inggris tersebut dalam rangka mempererat kerja sama pertahanan kedua negara. FOTO ANTARA/Wahyu Putro A/Koz/Spt/13)

21 Januari 2013, Jakarta: TNI AL sangat membutuhkan kapal fregat untuk menjaga perbatasan hingga jauh ke Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Pengadaan tiga kapal fregat dari Inggris itu merupakan tindak lanjut Kementerian Pertahanan (Kemhan) atas permintaan TNI AL. Kapal itu juga memenuhi syarat untuk operasi pengamanan wilayah laut.

"Kapal multi role light frigate (fregat ringan multiperan) dari Inggris yang saat ini sedang dijajaki Kemhan mampu menjangkau hingga ZEE," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal), Laksma Untung Suropati, kepada Koran Jakarta, kemarin.

Kapal tersebut memiliki banyak peran, yakni bisa sebagai kapal anti permukaan, antiudara, dan antibawah air. "Tak semua kapal fregat memiliki fungsi yang banyak seperti itu," ujar dia. Lebih lanjut, Untung mengatakan pengadaan tiga kapal fregat itu dilakukan seiring dengan pengembangan tiga armada TNI AL. "Saat ini kita hanya memiliki empat kapal fregat. Penambahan satu armada lagi (Armada RI Kawasan Tengah) otomatis membutuhkan tambahan kapal," jelas dia.

Spesifikasi secara umum, fregat asal Inggris itu memiliki kemampuan di atas kapal korvet kelas sigma (sigma class) dan sedikit lebih ringan dari kapal fregat biasa. Tak heran jika namanya adalah kapal multi role light frigate. Namun, lanjut dia, daya jelajahnya mengagumkan.

Dilengkapi Meriam

Kapal fregat ini memiliki kecepatan maksimal 30 knot dan dilengkapi sensor radar serta avionik buatan Thales, Prancis. Kapal ini juga dilengkapi satu meriam 76 mm, dua meriam penangkis udara kaliber 30 mm, torpedo, Thales Sensors Cutlass 22, rudal permukaan ke udara Sea Wolf, rudal Exocet MM40 Block II yang berjangkauan 180 kilometer, dan hanggar yang mampu menampung satu helikopter antikapal selam jenis Sikorsy S-70 Seahawk.

Kemampuan persenjataannya masih standar, apalagi dibandingkan sejumlah KRI lama seperti frigate kelas Van Speijk yang dilengkapi dengan rudal Yakhont buatan Rusia. Sebelumnya, Kemhan tertarik memboyong tiga kapal tempur multi role light frigate dari Inggris.

Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, mengatakan pembelian itu tinggal menunggu persetujuan dari pihak Inggris, terutama terkait komponen persenjataannya. "Kita akan mengirim tim untuk memastikan dan memeriksa spesifikasi kapal laut tersebut," kata Purnomo. Namun, Menhan belum bisa memastikan kapan pembelian itu bisa direalisasikan. Alasannya, anggaran yang ada dalam pagu tak mencukupi.

Sumber: Koran Jakarta

Hercules Skuadron Udara 31 Latihan Formasi


(Foto: RAAF)

21 Januari 2013, Jakarta: Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsekal Pertama TNI A. Adang Supriyadi, SE menyaksikan langsung persiapan latihan terbang formasi empat pesawat Hercules C-130 dari Skadron Udara 31, Senin (21/1) di Taxy Way Lanud Halim Perdanakusuma.

Tepat pukul 09.30 WIB Empat Pesawat Hercules C-130 dari skadron Udara 31 Wing 1 Lanud Halim Perdanakusuma, mulai Start engine untuk melakukan latihan terbang formasi selama 2 jam penerbangan dengan route Lanud Halim-Krawang-Pamanukan-Eretan Wetan-Lanud Sukani, Jatiwangi-Lanud Suryadarma, Kalijati dan kembali ke Lanud Halim Perdanakusuma, latihan terbang formasi ini dipimpin oleh Komandan Skadron Udara 31 Letkol Pnb Damanik selaku Leader.

Menurut Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI A. Asep Adang Supriyadi,SE latihan terbang formasi ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesiapan para penerbang, awak pesawat dan pesawat . “Terutama meningkatkan profesionalisme para penerbang dalam rangka menyongsong tugas-tugas dimasa yang akan datang” tegas Komandan Lanud Halim.

Sumber:TNI AU

Sunday, 20 January 2013

Pasukan Perdamaian Indonesia TNI Latihan Bersama Tentara Srilangka


PRAJURIT TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Force Protection Company (Satgas FPC) TNI Konga XXVI-E2/UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) melaksanakan latihan terkoordinasi bidang keamanan dengan tentara dari Kontingen Srilangka (Srilangka FPC), bertempat di Sudirman Camp, Lebanon, Sabtu pagi (19/1)

Latihan terkoordinasi bidang keamanan tersebut digelar oleh FHQSU (Force Head Quarter Support Unit), sebagai penanggung jawab keamanan Head Quarter (HQ) PBB/UNIFIL di Lebanon.

Skenario latihan diperanggapkan situasi di sekitar lingkungan HQ UNIFIL mengalami gangguan keamanan dengan terdengarnya sirine alarm meraung-raung di sekitar markas besar PBB di Lebanon Selatan. Seluruh personel segera memasuki pos-pos alert yang sudah di tentukan serta Armoured Personnel Carrier (APC) menempati defence post di setiap titik kemungkinan datangnya musuh menyerang.

Komandan Satgas Konga XXVI-E2 Mayor Inf Yuri Elias Mamahi saat meninjau latihan antara lain mengatakan, latihan ini dalam rangka melatih kesiap siagaan personel Satgas FPC TNI dalam mengantisipasi perubahan situasi keamanan di Lebanon. “Kita harus memiliki kesiapan tempur yang baik dan profesional dalam menjalankannya”, ujarnya.

“Saya merasa bangga dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh personel Satgas Indo FPC TNI karena telah memberikan yang terbaik pada saat latihan, besar harapan agar seluruh prajurit tidak puas atau terbuai dengan hasil yang diperoleh tetapi justru menjadikan semangat dan motivasi untuk tetap memberikan yang terbaik selama penugasan demi kehormatan bangsa dan negara”, kata Dansatgas.

Sementara itu, Mayor Kav Harry selaku FP Center Chief pasca evaluasi latihan mengatakan, kecepatan dan respon yang ditunjukkan baik Satgas FPC TNI Konga XXVI-E2 maupun Srilangka FPC saat latihan sangat cepat dalam rangka memberikan rasa aman kepada seluruh personel UN baik militer dan sipil yang berada di lingkungan HQ UNIFIL.


(TGR/Puspen TNI)