Pages

Thursday, 18 July 2013

Mapolsek Palu Selatan Ditembaki Dua Orang Pengendara Motor

Dua pelaku mengendarai sepeda motor berhasil kabur.
Di lokasi kejadian, Polisi menemukan selongsong peluru (foto ilustrasi)
Di lokasi kejadian, Polisi menemukan selongsong peluru (foto ilustrasi) 

Sejumlah anggota polisi menyisir wilayah sekitar Markas Polsek Palu Selatan, Sulawesi Tengah paska teror penembakan, Rabu 17 Juli 2013 malam. Di depan pagar Mapolsek, petugas menemukan selongsong peluru diameter 5,56 milimeter.

Tak hanya menyisir lokasi kejadian, petugas juga menggelar razia di seluruh wilayah Sulawesi Tengah untuk mengejar dua pelaku penembakan itu. Razia ini juga untuk mempersempit ruang gerak mereka.

Teror penembakan ini terjadi Rabu malam sekitar pukul 23.00 WIB. Menurut keterangan saksi, dua pelaku mengenakan baju gelap dan mengendarai sepeda motor, tiba-tiba berhenti di depan Mapolsek.

Mereka langsung memberondong Mapolsek dengan senjata laras panjang. "Tiga kali tembakan," kata salah satu saksi. (umi)

Petugas jaga kemudian membalas serangan itu. Namun, Kapolres Palu, AKBP Trisno Rahmadi mengungkapkan, anak buahnya menembak ke arah atas. "Sehingga tidak mengenai masyarakat," tegasnya.

Namun, dua pelaku berhasil kabur. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.

Kisah Begundal Karawang di Rawagede

KARAWANG : Tragedi pembantaian di Kampung Rawagede, Rawamerta, Kabupaten Karawang, oleh tentara Belanda pada 9 Desember 1947 tak terlepas dari pergerakan kaum muda di wilayah itu. Rawagede diincar Belanda karena menjadi markas para laskar.
Ketua Yayasan Rawagede Sukarman (60) telah mendokumentasikan dalam bentuk tulisan ihwal tragedi pembantaian itu. Tulisan terebut diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Riwayat Singkat Taman Pahlawan Rawagede.
Buku setebal 40 halaman itu sudah tiga kali naik cetak. Total lebih dari 5.000 eksemplar yang tersebar di masyarakat.
Saat Warta Kota berkunjung ke kediamannya di Dusun Rawagede 2, Desa Balongsari, Rawamerta, Kamis (15/9/2011), Sukarman mengatakan bahwa sejak sebelum perang kemerdekaan, Rawagede sudah menjadi daerah markas para laskar pejuang. Rawagede dipilih karena saat itu dilintasi jalur kereta api Karawang-Rengasdengklok dan salah satu stasiun itu ada di sana.
Laskar pejuang yang dikenal di Rawagede sebelum kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, antara lain Laskar Macan Citarum, Barisan Banteng, MPHS, SP88, dan Laskar Hizbulloh. "Mulai 19 Agustus 1945, seluruh laskar itu bergabung menjadi BKR (Badan Keamanan Rakyat), markasnya ada di rumah-rumah warga. Ini jadi sorotan pemerintah Hindia Belanda," kata Sukarman.
Pada 1946, kata Sukarman, Letkol Suroto Kunto yang masih berusia 24 tahun ditunjuk sebagai Komandan Resimen Jakarta di Cikampek. Salah satu komandan kompinya adalah Lukas Kustaryo yang membawahi Karawang-Bekasi. Kharis Suhud, yang sebelumnya seorang petugas Perusahaan Jawatan Kereta Api, juga bergabung dengan BKR dan diangkat menjadi Komandan Kompi Purwakarta.
Pada 25 November 1946, Letkol Suroto Kuto yang sedang dalam perjalanan dinas menggunakan kendaraan diculik laskar rakyat yang pro-Hindia Belanda di daerah Rawa Gabus, Kabupaten Karawang. Mobil yang ditumpanginya ditemukan penuh bercak darah oleh salah satu ajudannya, Kapten Mursyid, pada 26 November 1946 sekitar pukul 01.00 dini hari. "Tapi jasadnya tak ditemukan sampai saat ini, juga jasad para pengawalnya," kata Sukarman.
Bertingkah unik
Sejak kejadian itu, Kapten Lukas Sutaryo yang menjadi Komandan Kompi Karawang-Bekasi menghimpun kekuatan para laskar pejuang. Pada awal 1947, Lukas Sutaryo mengendarai sendiri lokomotif kereta api dari arah Cipinang di Jembatan Bojong, perbatasan Karawang-Bekasi. Lokomotif itu ditabrakkannya dengan kereta api penuh senjata dan amunisi milik Belanda yang datang dari arah berlawanan. "Dari situlah awalnya BKR mendapatkan pasokan senjata dan amunisi," ujar Sutarman.
Menurut Sutarman, Kapten Lukas Sutaryo juga kerap mengenakan baju seragam tentara Belanda yang baru saja dibunuhnya. Dengan mengenakan seragam itu, dia menembaki tentara Belanda yang lain. Karena kegigihannya itu, tentara Belanda menjulukinya "Begundal Karawang".
Karena ulahnya itu, Kapten Lukas juga sempat ditembak dari jarak kira-kira 25 meter oleh Letnan Sarif, anak buahnya. Sarif awalnya tidak menyadari bahwa sosok yang ditembaknya itu komandannya sendiri. Untunglah tembakan itu tak mengenai sasaran.
Suatu saat seusai melawan tentara Belanda di wilayah Pabuaran, Pamanukan, Subang, hingga ke Cikampek, Kapten Lukas meloloskan diri dengan jalan kaki menuju Rawagede. "Dia masuk Rawagede hari Senin, jam 07.00 pagi, tanggal 8 Desember 1947," tutur Sutarman.
Keberadaan Kapten Lukas di Rawagede akhirnya tercium oleh tentara Belanda. Dia kemudian menghimpun tentara BKR di Rawagede. Dia berembuk dengan para laskar hingga siang untuk merencanakan penyerangan ke wilayah Cililitan, Jakarta.
Sekitar pukul 15.00, Kapten Lukas beserta pasukannya sudah keluar dari Rawagede dan berangkat dengan berjalan kaki. Sekitar pukul 16.00, turun perintah pimpinan pasukan Belanda bahwa Rawagede harus dibumihanguskan. Kira-kira tengah malam, tentara Belanda sudah tiba di Stasiun Pataruman, Desa Kalangsari, yang bersebelahan dengan Kampung Rawagede. Selang sekitar setengah jam, sebanyak 300 tentara Belanda yang dipimpin Mayor Alphons Wijnen mulai memasuki Kampung Rawagede.
"Mereka datang ke sini untuk mencari Kapten Lukas Sutaryo. Meskipun tahu Kapten Lukas sudah meninggalkan Rawagede sejak sore, warga tetap memilih bungkam. Inilah yang menjadi salah satu penyebab pembantaian," tutur Sukarman.
Menurut Sukarman, semua laki-laki di atas usia 14 tahun dikumpulkan. Tanpa ampun, tentara Belanda menembakinya. Hari itu, Selasa, 9 Desember 1947, sebanyak 431 pria Kampung Rawagede tewas di ujung peluru. Penembakan oleh tentara Belanda berlangsung sejak pukul 04.00 hingga pukul 16.00.
Kapten Lukas sendiri tidak mengetahui terjadi pembantaian di Rawagede. Kapten Lukas, kata Sukarman, berkali-kali memohon maaf kepada warga karena kedatangannya di Rawagede telah memicu terjadinya pembantaian itu.
"Tapi warga tidak menaruh dendam. Beliau datang saat monumen pembantaian Rawagede diresmikan tahun 1995 dan meninggal 8 Januari 1997 dengan pangkat Mayor Jenderal," ujar Sukarman. (chi) 

kompas 

Prajurit Kostrad Pun Jadi Korban Bandit Berpistol


Penembakan brutal terus terjadi. Senjata api ilegal marak.
Ilustrasi perampokan  
  Musnadi akhirnya menghembuskan nafas terakhir di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Sentra Medika Depok, Rabu siang, 17 Juli 2013. Pemuda 21 tahun itu tewas akibat luka dalam setelah dipukuli massa.
Musnadi, warga asal Lampung, diringkus sesaat setelah menembak seorang prajurit TNI AD Divisi I Kostrad Cilodong, Prada Roni Erwavdi Situmorang, Selasa malam, 16 Juli 2013. Satu timah panas menghentikan langkahnya saat berupaya melarikan diri ke kebun kosong dekat lapangan BDB, Cimanggis, Depok.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Depok Komisaris Ronald Purba, menjelaskan kejadian itu berawal ketika Prada Roni memergoki Musnadi yang berupaya membawa kabur sepeda motor miliknya sekitar pukul 19.00 WIB. Saat itu Roni sedang berada di kantor jasa pengiriman untuk mengirim paket titipan kilat tujuan Sumatera.

Sebelum masuk, Roni memarkir motornya di depan kantor pengiriman itu. Lokasinya tak jauh dari minimarket. Belum berapa lama meninggalkan motor, Roni yang sudah berada di dalam tiba-tiba mendengar teriakan 'motor diambil rampok'.
    
Spontan, Prada Roni keluar. Tapi, baru akan membuka pintu ia sudah ditembak pelaku. Beruntung tembakan pertama berhasil dihindarinya dan hanya mengenai kaca serta dinding kantor itu.
Mengetahui lawannya membawa senjata api, Roni tak gentar. Ia justru nekat mengejar pelaku meski dengan tangan kosong hingga menyeberang ke jalan raya dan melompat ke kali.

Di seberang kali, di kebun kosong itulah prajurit TNI AD itu berhasil menghentikan langkah pelaku. Keduanya terlibat duel sampai akhirnya Prada Roni tumbang akibat ditembak pelaku. Roni tersungkur setelah dua kali tembakan mengenai bahu samping kanan dan paha sebelah kiri. Tak kuasa menahan sakit, dia berteriak minta tolong. Pelaku panik, dan langsung kabur.

Mendengar teriakan Prada Roni, warga langsung melaporkan kejadian itu ke markas Kostrad, yang berlokasi tak jauh dari tempat kejadian. Bersama polisi, aparat TNI langsung memburu pelaku yang saat itu lari melintasi kali, menuju area bersemak di kebun kosong.

Sekitar tiga jam kemudian, Musnadi berhasil dilumpuhkan. Tak ayal, dia diamuk massa. Aparat yang mengawalnya kewalahan menghalau warga yang sudah terlanjur beringas hingga menghajarnya tanpa ampun. Jasad pemuda yang masih berstatus pelajar/mahasiswa itu langsung dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Sementara, Prada Roni masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Polisi menduga Musnadi adalah perampok yang kerap beraksi dengan melukai korbannya dengan timah panas di Depok. Menurut Ronald, saat ini polisi tengah memburu satu pelaku lain yang diyakini ikut serta dalam perampokan Selasa malam. Satu pelaku itu kabur saat disergap.

Polisi juga masih mencari senjata api yang digunakan Musnadi untuk menembak Roni. "Pencarian di semak-semak. Ada anggota dari Polda juga yang turun langsung," kata Ronald pada VIVAnews, Rabu 17 Juli 2103.

Rumah kos hingga apartemen
Penembakan Prada Roni merupakan satu dari sekian banyak kasus kejahatan dengan senjata api yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Rabu dini hari, komplotan bandit berpistol juga menyantroni penghuni kamar kos di Jalan Permata No.27, RT 06/05, Kebon Pala, Kampung Makasar, Jakarta Timur.

Dua perampok mengincar motor yang terparkir di halaman kos-kosan itu. Para garong diduga masuk dengan cara merusak bagian engsel pintu gerbang rumah kos. Aksi mereka kepergok dua penghuni kamar kos, Santonius Simanjuntak (47), dan Erwin Gultom (25).

Melihat aksinya digagalkan, para perampok langsung melepaskan timah panas ke arah dua orang tersebut. Akibatnya, Santonius mengalami luka tembak di bagian pelipis. Sedangka Erwin terluka di bagian perut. Keduanya dilarikan ke Unit Gawat Darurat RS Haji Pondok Gede, Jakarta Timur. "Mereka masih dirawat secara intensif," kata Jakson, salah satu penghuni kamar kos.

Mendengar suara tembakan, semua penghuni kamar kos itu langsung ke luar. Para bandit pun panik. Mereka mengarahkan senjata api kepada para penghuni sambil mengancam. "Kami disuruh diam. Tidak ada yang berani, semua menunduk di balik tembok," kata Jackson. Lantas, kedua bandit itu balik kanan tanpa membawa satupun hasil rampokan.

Insiden penembakan juga terjadi di apartemen di Ibu Kota. Dua warga negara asing jadi korban penembakan di Apartemen Mediterania, Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Penembakan di lorong Tower E Edelwis Lantai 15 Apartemen Mediterania 2 itu terjadi pada Sabtu 13 Juli 2013. Berdasarkan hasil pemeriksaan rekaman CCTV, pelaku berjumlah tujuh orang. Diduga mereka memakai senjata api jenis pistol. Itu dilihat dari selongsong peluru yang tertinggal di lokasi.

Adelusi Oludare, warga negara Sierra Leone ditembak di bagian dada sebelah kanan, ketiak kiri, dan paha kanan. Sedangkan Beh Muhammed, warga negara Nigeria mengalami luka tembak di siku kanan dan lengan kanan. Korban masih dirawat di RS Royal Taruma, Grogol, Jakarta Barat.

Polisi menduga kedua pihak yang terlibat menjalin hubungan bisnis ilegal. "Mereka ingin menyelesaikan dengan cara sendiri," ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto. Bila dilihat dari cara pelaku menembak korban, pelaku diduga sudah mengenalnya. 

Penyidik sudah mengantongi identitas para pelaku. "Di CCTV mereka sudah terekam, identitas sudah didapat," kata Rikwanto. Berbekal identitas yang didapat, polisi melakukan pengejaran.

Adik kandung John Kei, Fransiscus Refra alias Tito Refra Kei, juga tak luput dari terjangan timah panas. Tito tewas ditembak oleh orang tak dikenal di rumahnya, Jalan Raya Titian Indah, Kalibaru, Medan Satria, Bekasi, Jumat 31 Mei 2013. Insiden itu terjadi sekitar pukul 20.00 WIB. Hingga kini polisi belum berhasil mengungkap kasus itu.

Direktur Reserse Kriminal Umum polda Metro Jaya, Komisaris Besar Slamet Riyanto menjelaskan, sejumlah saksi sudah diperiksa untuk mengungkap kasus ini. Termasuk mengidentifikasi pelaku yang diduga memiliki keahlian dalam menembak.

Keluarga Tito, kata Slamet juga belum bisa diminta keterangan terkait kasus yang tengah ditangani oleh Tito yang juga berprofesi sebagai pengacara.

Slamet menjelaskan, penyidik telah mendapatkan hasil uji balistik proyektil dan selongsong yang ditemukan di lokasi kejadian. Hasilnya, terdapat kesamaan antara barang bukti yang ditemukan. Artinya, amunisi itu berasal dari satu senjata.

Sebelumnya ada dugaan, jika selongsong sengaja dibuang oleh pelaku untuk mengecohkan petugas. "Senjata yang digunakan diduga senjata pabrikan, jenisnya bisa FN dan Walther. Kaliber peluru berukuran 9 milimeter. Anak pelurunya full metal bukan timah," kata Slamet.

Menurut polisi, pelaku penembakan adik kandung John Kei ini memilik keberanian besar, ahli menembak, dan telah mensurvei lokasi sebelumnya. Ratim, pemilik warung kopi juga menjadi korban salah sasaran penembakan pria misterius ini. Pelaku selain mengincar Tito Kei, sebetulnya juga ingin membidik teman Tito, Gery.

Senjata ilegal beredar
Maraknya kejahatan dengan senjata api tak lepas dari peredaran senjata api ilegal di masyarakat. Polda Metro Jaya mengaku sudah melakukan razia secara rutin lewat operasi senjata api dan bahan peledak (Sendak).

Menurut Rikwanto, senjata yang beredar biasanya berasal dari lokasi eks konflik seperti Aceh, Poso dan Ambon. Kemudian milik para teroris, dan selundupan dari luar negeri. Ada juga senjata rakitan.

Pemetaan terhadap peredaran senjata api yang digunakan para penjahat, dilakukan dari barang bukti senjata api yang disita dari para pelaku.

Pemetaan dilakukan terhadap sejumlah kelompok besar dan beberapa pelaku dari lembaga pemasyarakatan (Lapas) yang telah bebas dan bergabung dengan komplotan penjahat.

Tidak hanya itu, polisi juga kesulitan dalam mengungkap jaringan di balik peredaran senjata-senjata ilegal itu. Sebab, mereka sangat rapi dalam beroperasi. (eh)