Pages

Sunday, 3 November 2013

Duka veteran perang kehilangan tangan di Timor Timur


Ilustrasi Pasukan TNI di Timor Timur (Kaskus)
Kolonel (Purn) M.R. Ronni Muyawa (65) selalu bersemangat bercerita tentang Operasi Seroja, di Timor Timur (sekarang Timor Leste) yang diikutinya pada 1975-1978. Baginya, operasi militer yang kontroversi adalah salah satu pengalamannya sebagai tentara. Operasi militer itu juga menurutnya, juga adalah babak baru kisah hidupnya.

"Lengan atas tangan saya yang kiri tertembak saat turun setelah pertempuran di Gunung Matabean. Tangan saya tidak dapat diselamatkan dan harus diamputasi," kata Ronni saat ditemui merdeka.com di Kompleks Seroja, Bekasi, Jawa Barat, pada Jumat (4/10).

Ronni menjelaskan, saat itu, pasukan ABRI pada akhir 1978 bisa mendesak pasukan Fretilin (Frente Revolucionria de Timor-Leste Independente) -gerakan yang berjuang untuk kemerdekaan Timor Timur- dipukul mundur hingga ke Gunung Matabean. Gunung itu adalah benteng terakhir pertahanan Fretilin.

"Sebelumnya anggota Yonif 328 hilang di kawasan itu. Medannya sulit. Kuda yang ikut naik, juga bisa mati di kawasan itu," ujar Ronni.

Saat menjadi komandan kompi, dia diminta atasannya untuk memimpin pasukan gabungan untuk melakukan serangan balasan. Selain itu misinya untuk merampas senjata perang milik ABRI yang dirampas Fretilin. Ronni menuturkan, dia diberikan kewenangan memilih personel pasukannya.

Setelah berhari-hari melakukan peperangan, pihaknya berhasil menyelesaikan misi dan memukul mundur Fretilin. Oleh komandan, Roni diminta untuk kembali ke Dili untuk membawa pasukannya.

"Saat itu tanggal 5 Desember 1978, kami turun dari Matabean. Saya tidak pernah lupa, saat turun, sekitar pukul 15.00 lengan atas tangan kiri saya kena oleh peluru. Saya langsung jatuh terguling dan sadar saat darah banyak keluar," kata Ronni bercerita penuh semangat.

Roni menjelaskan, kekuatan Fretilin saat itu memiliki pasukan gerilya yang jumlahnya kecil dan bergerak cepat. Tembakan yang mengenai lengannya, menurutnya sudah direncanakan, karena peluru yang mengenainya adalah tembakan yang pertama dari senapan pasukan Fretilin.

"Sepertinya dia tahu saya pimpinan pasukan. Saya kira dia mengincar jantung saya, tapi meleset ke lengan kiri," ujar Ronni.

Setelah terkena peluru Ronni merasa kesakitan, banyak darah yang keluar dan kepalanya mulai pusing. Dia sudah tidak sadarkan diri.

Ronni mengaku sempat sadarkan diri kembali. Saat bertanya ke anak buahnya, mereka masih dalam perjalanan menuju Dili dan sudah berada di atas tandu. Setelah itu kembali pingsan tak lagi mengingat apa-apa.

Dalam penjelasan Ronni, tentara ABRI yang terkena luka tembak dirawat di Rumah Sakit Dili. Demikian juga dengan dirinya. Menurut Ronni, pada 14 Desember 1978, Rafika Duri didatangkan ABRI untuk menghibur para tentara di Rumah Sakit Dili.

"Saya masih ingat lagu yang dibawakan Rafika Duri saat itu judulnya, 'Hanya Untukmu'. Tapi setelah sadar, saya merasa sudah di Rumah Sakit, saat melihat tangan saya yang kiri ternyata sudah tidak ada, diamputasi dengan paksa," kata Ronni.

Roni menuturkan, dia pingsan selama sembilan hari. Saat sadarkan diri, setelah mengetahui tangan kirinya diamputasi hingga lengan atas, dia langsung mengamuk karena frustasi. Frustasi, karena menurut Ronni, karir militernya yang dicintainya sudah berakhir.

"Saat itu, saya sudah merasa menjadi orang yang tidak berguna. Akan menjadi tentara cacat. Karir saya sudah berakhir. Cukup lama saya merasa seperti itu. Hingga saya dibawa balik ke Jakarta untuk operasi lanjutan dan rehabilitasi mental. Bahkan, saat istri dan anak menjenguk, saya minta dia kawin lagi, saking frustasinya. Namun peran keluarga sangat penting dalam kondisi seperti itu agar kembali pulih seperti sedia kala," ujar Ronni.

Menurut Ronni, tidak hanya dirinya yang mengalami cacat dalam Operasi Seroja saat itu. teman-temannya yang lain juga banyak kehilangan organ tubuh yang lainnya. Belum lagi jumlah korban yang meninggal yang dikuburkan langsung di Timor-Timur yang tidak bisa dilihat oleh keluarganya.

Usai Operasi Seroja, menurut Ronni korban yang mengalami cacat tinggal dan janda yang ditinggal suaminya dalam pertempuran itu tinggal di Kompleks Seroja yang berada di Kelurahan Harapan Jaya, Bekasi, Jawa Barat. Lokasi itu merupakan program pemerintah dan Mabes TNI sebagai penghargaan tentara yang berjasa.[bal]

merdeka 

Pasca Disadap, DPR Minta Pemerintah Perkuat Intelijen


Hayono Isman
Penyadapan yang diduga dilakukan oleh Pemerintah Amerika, terhadap komunikasi kenagaraan di Indonesia, rupanya ditanggapi serius oleh sejumlah kalangan. Tidak terkecuali Dewan Parwakilan Rakyat (DPR).

Bahkan, DPR meminta agar intelijen lebih diperkuat lagi, pasca kemungkinan adanya penyadapan yang dilakukan oleh Amerika Serikat.

"Mari kita pahami. Semua negara melakukan kegiatan mematai, bukan hanya Amerika. Bahkan, Amerika sendiri sering kebobolan," kata Anggota Komisi I DPR Hayono Isman kepada jurnalis, setelah ziarah ke makam mantan Presiden RI Soekarno di Blitar, dalam rilisnya, Jumat, 01 November 2013.

Menurut dia, pemerintah harus lebih teliti dan lebih memperkuat intelijen, agar Indonesia terhidar dari hal yang demikian (aksi penyadapan). “Sesama negara sahabat kok saling mematai," kata mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga era 1993-1998 itu.

Namun, dia juga menyebut, aksi penyadapan itu bisa menganggu hubungan bilateral. Ia berharap, intelijen di Indonesia bisa berbenah diri, agar hal serupa tidak terjadi.

Sementara itu, Badan Intelijen Negara (BIN) melakukan pendalaman terhadap kemungkinan penyadapan oleh Amerika Serikat. Hal itu diungkapkan oleh Kepala BIN Letjen TNI (Purn) Marciano Norman.

Dia menyatakan, BIN sedang melakukan pendalaman informasi tersebut, dengan meminta penjelasan "counterpart" Amerika Serikat yang ada di Jakarta.

Di samping itu, BIN juga sedang mencari bukti dari berbagai sumber lainnya. Karena informasi dari sumber terbuka, harus dicek ulang dengan sumber lainnya.

Sehingga hasilnya akan dapat memberikan gambaran, mengenai ada tidaknya penyadapan tersebut.

BIN sendiri juga mendukung kebijakan yang dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri, dengan memanggil KUAI (Kuasa Usaha Ad Interim) Kedubes Amerika Serikat di Jakarta untuk memperoleh klarifikasi resmi.

Bila terbukti melakukan penyadapan, katanya, hal itu merupakan pelanggaran terhadap etika diplomasi dan kedaulatan Indonesia yang tidak selaras dengan hubungan baik, yang selama ini telah dibina oleh kedua negara.

sindo

Indonesia Harus Miliki Pertahanan Berlapis


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIdlg_AK45aJoMVASJaTM62KSUWjtC6cfZEY3WIbQ_7s2gYpHDmNI58Xefnnx0BTe90CZnRG3-r6p-8KOwzCFLOzZ3NoVBtyuctGiNH5egxKoDryJ5Xl9wKSNAGtIJSxfkw4HavXssCBU/s400/LY-80+HQ-16.jpg
Sistem Pertahan China (HQ16)
JAKARTA - Anggota Komisi I DPR Tjahjo Kumolo menyarankan adanya strategi pertahanan berlapis di Indonesia. Hal itu disebabkan Indonesia merupakan negara kepulauan yang berbatasan dengan berbagai negara tetangga.

"Khususnya konsentrasi pada wilayah pertahanan perbatasan, syarat utama adalah kekuatan komunikasi yang tangguh dan penempatan radar yang canggih," kata Tjahjo melalui pesan singkat, Kamis (31/10/2013).

Hal itu didukung dengan penempatan persenjataan jarak menengah dan jauh serta profesionlisme prajurit yang handal. Sekjen PDIP itu menyarankan TNI membentuk satuan khusus intelejen cyber army.

"Kita haruss dukung renstra janka pendek kementerian pertahanan dan TNI secara terpadu," kata Tjahjo.

Indonesia, kata Tjahjo, bisa meniru pola pertahanan negara Tiongkok yang mempunyai strategi pertahanan kewilyahan daratan luas dan lautan yang relatif kecil tetapi terpadu. Tiongkok yang memiliki daratan luas, mampu terkonsentrasi dengan sistem pertahanan satelit dan radar yang canggih.

"Operasi pengamanan pertahanan perbatasan dan operasi daerah rawan harus jadi prioritas pertahanan TNI," imbuhnya.

Disisi lain, kata Tjahjo, TNI harus prioritas mencermati kawasan Asia Timur dan Pasific disamping pada tataran bilateral juga tetap prioritas.

Selain itu, menurut Tjahjo, yang harus terus diperhatikan Kementerian Pertahanan dan pimpinan TNI adalah masalah peningkatan kesejahteraan prajurit TNI. Sebab, kondisi ini memang harus terus dilakukan seiring dengan peningkatan profesionalisme prajurit dan pengembangan modernisasi alutsista TNI.

Disamping pekerjaan rumah TNI yang terus dilakukan seperti menuntaskan reformasi birokrasi TNI dan mengembangkan Trimatra Terpadu serta menuntaskan masalah penghapusan bisnis TNI.

Kemudian, transparansi rekruitmen personil dan Pimpinan TNI serta memberdayakan insdustri pertahanan dann persenjataan dalam negri demi memperkuat postur TNI khususnya diperbatasan.

"Program berkesinmbungn panglima TNI dan renstra jangka pendek, menengah, panjang Kementerian Pertahanan harus terproses bertahap berkesinambungan dan pasti," imbuhnya.