Pages

Thursday, 28 November 2013

Australia Tetap Kirim Pesawat Hibah ke Indonesia


Pesawat Hercules Hibah dengan Logo TNI AU
CANBERRA - Menteri Pertahanan Australia David Johnston mengatakan penyerahan pesawat hibah Hercules C-130 dari Australia ke Indonesia akan tetap dilakukan, meskipun kerjasama militer kedua negara tengah berstatus dibekukan gara-gara isu penyadapan.

Situs Radio Austrlia mewartakan, pesawat pengangkut yang akan dihibahkan tersebut diterbangkan dari Darwin Kamis sore (28/11) dan Australia telah menandai status pesawat itu dengan keterangan dilepaskan.

Pesawat Hercules itu juga telah dicat ulang dengan bendera dan simbol Angkatan Bersenjata Indonesia.

Awalnya Australia hendak menyerahkan pesawat hibah itu ke Indonesia dalam sebuah upacara khusus di Kota Williamtown di New South Wales.

Namun upacara itu ditunda menyusul terungkapnya penyadapan Australia terhadap Presiden Yudhoyono, isterinya dan sejumlah menteri senior Indonesia pada tahun 2009.

Juru bicara untuk senator Johnston mengatakan penyerahan C-130 masih akan tetap dilaksanakan.

Namun dia tidak bersedia menjelaskan apakah pihaknya telah menentukan tanggal baru untuk upacara penyerahan resmi pesawat tersebut atau pesawat itu memang sudah diterbangkan ke Indonesia.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Indonesia mengatakan dirinya sudah berbicara dengan mitra kerjanya Menlu Australia, Julie Bishop mengenai pertemuan untuk membahas upaya membangun kembali hubungan bilateral Indonesia – Australia.

Marty Natalegasa menyampaikan hal ini sebelum melakukan pertemuan dengan Komisi I DPR yang membidangi isu luar negeri.

Anggota Komisi I meminta penjelasan lebih rinci mengenai surat dari PM Australia Tony Abbott kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berjanji tidak akan mencederai Indonesia atau hubungan bilateral kedua negara lagi.

Natalegawa mengatakan dia sudah mulai berupaya memulai pembahasan dengan Australia.

“Saya sudah berkomunikasi dengan Menteri Bishop untuk mendiskusikan langkah awal, katakana saja agar kedua negara kembali bisa bersama-sama,” katanya.

Dia mengatakan pertemuan ini diperlukan sebelum protokol kerjasama di masa depan bisa disusun.

Indonesia mengatakan tidak akan memulai kembali kerjasama dibeberapa bidang seperti pencari suaka sebelum perjanjian baru ditandatangani. – abc/d
 
Poskota

Kapal Selam Buatan Korea Selatan Pesanan RI Mulai Diproduksi

http://us.images.detik.com/content/2013/11/28/1036/kapalselama.jpg  
ilustrasi
Jakarta -Sebagian dari tiga kapal selam kelas Changbogo yang dipesan Indonesia dari Korea Selatan (Korsel) mulai diproduksi tahun ini di Korsel. Rencananya satu unit kapal selama juga akan dibuat di Indonesia sebagai bagian dari program transfer of technology (ToT) kedua negara.

"Lagi dimulai, secara fisik sudah dimulai (produksi) tahun ini. Kita pesan tiga kapal, satu dibuatnya di Korea tetapi kita menyertakan tim dari tim ahli sama pekerja ahli sambil kerja praktik di sana atau sambil belajar," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat saat ditemui di Kantor Kementerian Perindustrian Jalan Gatot Subroto Jakarta, Kamis (28/11/2013).

Bahkan kata Hidayat untuk kapal selam kedua beberapa sebagian komponennya ada akan dibuat di Indonesia. Artinya menurut Hidayat, Indonesia mulai berpartisipasi ikut membangun kapal selam Changbogo, diantaranya melalui PT PAL (Persero).

"Insya Allah bisa dilakukan di Indonesia dengan kerja sama juga dengan Korea, itu juga cita-cita Indonesia," katanya.

Tiga kapal ini adalah bagian dari program kerjasama pengadaan kapal selam Indonesia-Korsel hingga tahun 2025. Dari kerjasama ini, ke depan diharapkan insinyur Indonesia bisa mandiri untuk bisa memproduksi kapal selam buatan Indonesia.

"3 kapal itu program sampai 2025. Kita belajar dulu dan lama, dari kita nggak tahu apa-apa menjadi kita bisa buat di dalam negeri," imbuhnya.

Hidayat menambahkan pengadaan kapal selam ini langsung di bawah koordinasi Kementerian Pertahanan. Namun Kementerian Perindustrian juga mempunyai kebijakan dan program kerja utamanya melihat spesifikasi dan industrialiasi kapal selam yang akan dipesan.

"Bukan ini sebenarnya Kemenperin jadi Kepala Pokjanya (Program Kerja) Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Budi Darmadi. Yang dibicarakan industri strategi seperti kapal selam yang kerjasama dengan Korea. Jadi poinnya bukan saya (Menperin) tetapi Menteri Pertahanan. Industri strategis itu kami melakukan dukungan teknis," jelas Hidayat.

Seperti diketahui Kementerian Pertahanan pada akhir Desember 2011 lalu menandatangani kontrak pengadaan tiga unit kapal selam dengan perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding Marine Enginerering (DSME). Tiga kapal selam ini akan segera melengkapi armada tempur TNI Angkatan Laut.(wij/hen)

Detik

Menhan RI Tinjau Unsur Operasi Arung Hiu Di Perbatasan Pulau Terluar


Menteri Pertahanan (Menhan) RI Purnomo Yusgiantoro meninjau unsur Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) yang tergabung dalam Opersi Arung Hiu-13, di Perairan Raja Ampat, Papua, Selasa (26/11). Kunjungan kerja Menhan didampingi Kasal Laksamana TNI Dr. Marsetio, Pangarmatim Laksmana Muda TNI Agung Pramono, S.H., M.Hum., Komandan Gugus Tempur Laut (Danguspurla) Koarmatim Laksamana Pertama TNI Aan Kurnia, S.Sos., selaku Komandan Gugus Tugas Opersi Arung Hiu-13.

Rombongan Menteri Pertahanan tiba di perairan Raja Ampat menggunakan KRI Surabaya-591 yang menjadi kapal markas Operasi Arung Hiu-13. Selanjutnya Menhan RI didampingi Kasal meninjau rencana lokasi Sail Raja Ampat 2014, dari udara menggunakan Helikopter jenis Bell HU-415. Sedangkan Pangarmatim bersama Komandan Guspurla meninjau rencana lokasi Sail Raja Ampat dari laut menggunakan kendaraan air cepat Rigid Hull Inflatable Boat (RHIB).

Kunjungan kerja Menhan selanjutnya menuju Sorong untuk menghadiri  acara Bhakti Sosial berupa pembagian paket sembako dan perehaban Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jemaat Silo Kampung Mariat Gunung, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong serta menghadiri Seminar Bela Negara di Hotel Meredia. Pada kesempatan itu Menhan selaku pembicara menyampaikan pentingnya pemahaman dan menanamkan jiwa patriotisme, bela negara dan cinta tanah air terhadap masyarakat generasi muda penerus bangsa.

Adapun rangkaian kunjungan kerja menhan ke pulau-pulau terluar di perbatasan Papua diantaranya yaitu, Minggu tanggal 24 Nopember 2013, on board KRI Surabaya - 591 di Pelabuhan umum Biak Numfor, dilanjutkan pelayaran menuju Pulau Bras dan Pulau Fanildo. Pada kesempatan itu Menhan menerima paparan dari Danguspurlatim tentang  rencana terinci Track yang akan di lalui, jadwal kegiatan, situasi daerah operasi serta data-data daerah yang akan di kunjungi.

Selanjutnya Senin tanggal 25 Nopember 2013 KRI Surabaya tiba di perairan Pulau Bras dan Pulau Fanildo, Menhan RI di dampingi Kasal dan Pangarmatim menggunakan Helikopter TNI AL HU-415 menuju Pulau Bras dan Pulau Fanildo untuk melaksanakan peninjauan terhadap Pos Pengamanan Pulau Terluar (Pam Puter). Menhan menyampaikan arahan kepada Prajurit TNI yang sedang bertugas di Pulau Bras dan Pulau Fanildo serta memberikan bantuan kepada masyarakat setempat. (Dispenarmatim)