Pages

Sunday, 1 December 2013

Jupiter Aerobatic Team Tiba Di Brunei


Brunei : Tim aerobatik TNI AU The Jupiters tiba di Pangkalan Tentera Udara Diraja Brunei (TUDB), Sabtu (30/11) kemarin, setelah menempuh perjalanan panjang dari home base-nya di Lanud Adi Sutjipto Yogyakarta.

Duta Indonesia dalam event “THE 4th Brunei Darussalam International Defence Exhibition” (BRIDEX 2013) tentang Invitation to participate the 4th BRIDEX 2013 Air Demonstration di Brunei Darussalam dipimpin oleh Danlanud Adi Sutjipto Marsma TNI Agus Munandar.

The Jupiters berangkat dari Yagyakarta pada tanggal 28 November melalui Surabaya, Lanud Samsudin Noor (Ron), 29 November Lanud Samsudin Noor- Balikpapan-Tarakan (Ron), 30 November darin Tarakan langsung menuju Brunei.


The Jupiters diawaki oleh para Instuktur Penerbang TNI AU Skadron Pendidikan 102 Lanud Adi Sutjipto Yogyakarta menggunakan pesawat KT-1 Woong Bee buatan Korea Selatan, sehari-hari digunakan untuk melatih siswa penerbang.

The Jupiters akan tampil dengan melakukan 15 manuver hight show formasi aerobatik secara Vertikal terdiri seperti Jupiter Roll, Loop, Clover Leaf, Vulcan and cross Over Benefit, Loop and Cross Over Break, Jupiter Wheel, Tango to Diamond, Mirror, Screw Roll, Heart, Roll Slide, Solo Spin, Five Card Loop, Jupiter Roll Back, dan Loop and Boom Burst.

The jupiters dalam perjalanan didukung dengan dua C-130 Hercules Skadron Udara 32 Lanud Abdurachman Saleh Malang, A-1308 dan A-1316 dengan membawa ground crew dan pendukung lainnya.

TNI AU

Australia Harus Minta Maaf

Mantan Menteri Luar Negeri Gareth Evans menyatakan, Pemerintah Australia sebaiknya minta maaf atas skandal penyadapan telepon Presiden Indonesia yang dilakukan oleh badan intelijen Australia. 

Mantan Menlu Gareth Evans. (Credit: Getty Images)
Gareth Evans yang menjadi menlu Australia tahun 1988-1993 mengatakan, pemerintah perlu "secara tegas meminta maaf" kepada Indonesia.

"Terima kenyataan saja. Tak diragukan lagi apa yang telah terjadi. Dan dalam situasi seperti itu kita harus mengatasi akibat yang ditimbulkan," katanya kepada ABC, merujuk pada tindakan mata-mata tersebut.

Evans yang dalam jabatannya sebagai menlu juga beberapa kali harus mengatasi terungkapnya kasus mata-mata menyatakan, aksi operasi intelijen Australia di Indonesia sudah memenuhi syarat untuk "meminta maaf".

"Kita tidak boleh mengabaikan reaksi pengungkapan kasus ini, khususnya penyadapan telepon Presiden dan isterinya," tegas Evans.

Ia menyarankan dua hal bagi Pemerintahan PM Abbott. Pertama, secara tegas meminta maaf atas penyadapan itu. "Permintaan maaf akan dipandang, setidaknya bagi pihak Indonesia, sebagai sikap penyesalan atas kesalahan luar biasa dalam menilai siapa yang berisiko bagi Australia," katanya.

Kedua, kata Evans, pemerintah harus mereview prioritas dan proses pengumpulan informasi yang dilakukan kalangan intelijen.

Gareth Evans baru saja kembali dari Indonesia dan ia melihat sendiri bagaimana sentimen orang Indonesia ke Australia begitu dingin.

Ia kurang setuju dengan negosiasi mengenai kode perilaku yang akan didiskusikan kedua pihak. Menurutnya, hal itu akan menyeret kedua negara dalam pembicaraan yang berlarut-larut.

Evans optimis masalah ini akan bisa diatasi dan pandangan Indonesia terhadap Australia akan pulih dan meningkat.

"Yang ironis dalam kasus ini adalah, inilah pemerintah Indonesia yang paling pro Australia yang bisa diharapkan oleh Australia. Mereka betul-betul hanya ingin segera keluar dari persoalan ini," katanya.
 

Ketika Si Kucing Mengaum



Urusan sadap menyadap dengan Australia dan Singapura, biarlah menjadi urusan wajah diplomat dan petinggi republik.  Meski memang harus diakui selama ini wajah Indonesia dalam berdiplomasi mirip seekor kucing, malu-malu kucing, sehingga tak jelas apa yang menjadi fokusnya. Boleh juga kalau memang ingin berada dalam bingkai bebas aktif, tidak memihak sana tidak memihak sini. Tetapi ini bukan persahabatan polos dan lugu melainkan berdasarkan kepentingan. Sama halnya ketika kita dalam beberapa artikel terdahulu berkali-kali mengatakan bahwa Australia bukanlah jiran yang tulus, dan ternyata benar.
Banyak juga yang terkejut karena tiba-tiba kucing ASEAN yang bernama Indonesia itu tiba-tiba tidak mengeong. Kucing itu mengaum mirip harimau menumpahkan kemarahannya kepada kanguru yang hobinya lompat sana lompat sini, rangkul sana rangkul sini, sepak sana sepak sini.  Ketika sang kucing dan kanguru sedang akrab-akrabnya tiba-tiba perselingkuhan pertemanan itu terkuak.  Ternyata kanguru suka nguping urusan rumah tangga kucing. Maka kucing berteriak dan mengaum suara macan, dunia pun tersentak.
Kalau yang ini kucing hutan
Tetapi suara kucing yang mengaum itu boleh jadi sebagai sarana menguji coba nyali, ya nyali sendiri, ya nyali tetangga.  Ternyata tetangga yang berselingkuh itu sedikit gugup juga mendengar auman kucing ASEAN tadi.  Setidaknya dalam bahasa tawar menawar posisi Indonesia berada diatas angin.  Perselingkuhan diplomatik ini tentu mempermalukan Australia sehingga ketika Indonesia berteriak keras maka jiran sebelah kelimpungan dan salah tingkah.  Ironinya tetap saja tak mau minta maaf. Inilah salah satu sifat arogansi yang memang menjadi karakter bangsa bule yang didamparkan ke benua Selatan itu pada abad ke 18 karena perilakunya juga.
Kekuatan kucing yang mengaum tadi tentu punya energi dan adrenalin juga. Salah satu energi pembangkit adrenalin harga diri bangsa itu adalah mulai berdatangannya berbagai jenis alutsista yang sudah dipesan. Sejatinya kekuatan suara diplomatik tergantung pada kekuatan ekonomi dan kekuatan militer sebuah negara.  Indonesia berada di gerbang itu.  Kekuatan ekonomi berada dalam lingkaran 16 besar dunia, nomor satu di ASEAN.  Pertumbuhan ekonomi rata-rata selama 9 tahun ini ada di kisaran 6%,  pendapatan per kapita sudah masuk negara berpenghasilan menengah dengan US $4.000 per kapita pertahun.
Nah, melihat cakrawala ke depan, kanguru tentu harus bisa berbaikan dengan kucing yang tumbuh terus dan membesar.  Memandang ke depan pada starting point tahun 2020 si kucing diprediksi sudah jauh berubah dan menjadi macan. Kekuatan ekonomi Indonesia tahun itu diprediksi ada di urutan 14 besar dunia dengan pendapatan perkapita di kisaran US $ 7.000.  Memang dalam konteks negara kesejahteraan Australia tetap unggul tetapi sebagai negara dengan takdir sejarah bertetangga dengan RI seumur hidup, Australia tidak bisa lepas dan sangat berkepentingan dengan Indonesia.
Demikian juga dalam bidang  militer, Indonesia tahun 2020 sudah setara dengan jiran di sekitarnya.  Pada tahun itu alutsista strategis kita seperti kapal selam, kapal kombatan, rudal, jet tempur sudah berada di garis kesamaan teknologi.  Kesetaraan teknologi persenjataan yang dicapai Indonesia tentu membuat jiran macam Australia dan Singapura bercermin diri.  Soalnya keunggulan yang tak bisa ditandingi seumur hidup kedua negara yang tak tulus bertetangga ini adalah besarnya jumlah penduduk Indonesia, kekayaan sumber daya alam dan warganya yang militan.
Meski Sail Komodo 2013, puluhan KRI ada di depan Australia
Ini adalah kekuatan sejati Indonesia. Kekuatan itu jika ditambah dengan dukungan kekuatan militer dan kekuatan ekonomi maka dipastikan gerak langkah RI di kawasan regional menjadi faktor penentu.  Singapura jika tetap bertahan dengan gaya diplomasi seperti sekarang ini dengan tidak bersedia menjalin perjanjian ekstradisi, meremehkan diplomasi pemerintah Indonesia, perlahan dan pasti akan tergerus dengan kekuatan pertumbuhan ekonomi, militer dan nasionalisme RI.  Demikian juga dengan Australia, dia membutuhkan Indonesia sebagai jembatan penghubung Asia, sebagai pasar sapi dan gandum, sebagai bumper penyangga imigran gelap, sebagai mitra untuk perang melawan teroris.  Australia butuh Indonesia dalam soal apa saja. Maka high profile yang ditunjukkan Presiden SBY terhadap Australia adalah peringatan sekaligus kemenangan diplomatik bagi RI.
Patron diplomatik yang seperti ini sesekali perlu dipertunjukkan untuk menunjukkan nilai harga diri bangsa.  Prediksi tahun 2020 untuk unjuk kerja militer kita bisa digambarkan dengan kepemilikan 10-12 kapal selam Kilo-Changbogo, 3 Skuadron Sukhoi Family, puluhan kapal kombatan berteknologi tinggi, rudal SAM jarak menengah, akan memberikan nilai getar dan gentar.  Belum lagi gelar kekuatan pasukan 3 divisi Kostrad, 3 divisi Marinir dan pasukan Kodam. Ke depan dengan dukungan kekuatan militer yang besar negeri ini dijamin akan disegani.  Sehingga kalau presidennya batuk sedikit saja, pasti angin kekhawatirannya menerpa jiran-jiran pongah itu. Kalau kali ini kucing yang mengaum maka pada tahun-tahun mendatang dipastikan macan yang akan mengaum kalau jiran-jiran itu berulah.