Pages

Tuesday, 18 February 2014

Panglima TNI Tarik Tim Jupiter dari Singapore Airshow

Jenderal Moeldoko juga tidak akan hadir jika prajurit RI batal tampil.


Panglima TNI Jenderal Moeldoko
Panglima TNI Jenderal Moeldoko (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)
 Panglima TNI, Jenderal Moeldoko, menyatakan akan menarik tim aerobatik Jupiter TNI Angkatan Udara dari Singapore Airshow jika tidak mendapat jadwal tampil. Jenderal Moeldoko juga menolak hadir jika prajurit Indonesia tidak berangkat ke Singapore Airshow.

Hal tersebut diungkapkan Moeldoko di Gedung DPR, Jakarta, Senin 10 Februari 2014.

"Jupiter akan tampil bila diberi jadwal. Kalau tidak (diberi jadwal), ya akan kami tarik," kata Moeldoko.

Meski begitu, ia mengaku tidak kecewa dengan pembatalan sepihak itu. "Saya juga mengambil sikap. Kalau anak buah saya nggak berangkat, kok Panglima TNI berangkat, kan nggak baik," tuturnya.

Moeldoko menegaskan, tidak masalah bila Singapura membatalkan jadwal untuk Indonesia. "Memang ada undangan, tapi dibatalkan sepihak. Nggak masalah, silakan saja," ujarnya.

Semula beberapa petinggi militer RI seperti Wakil Menteri Pertahanan, Letnan Jenderal (Purn) Sjafri Sjamsoedin, Panglima TNI, Jenderal Moeldoko, Kepala Staff TNI Angkatan Darat, Jenderal Budiman dan Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Ida Bagus Putu Dunia dijadwalkan akan hadir di pameran terbesar di Asia, Singapore Airshow 2014. 

Rencananya acara itu akan dibuka secara resmi pada Selasa, 11 Februari 2014 hingga Sabtu, 16 Februari 2014. Menurut harian Singapura, Straits Times, dalam pameran dirgantara terbesar di Singapura itu, publik dapat melihat lebih dari 90 pesawat militer dan komersial dari 47 negara. 

Pihak panitia telah menyediakan 22 paviliun khusus bagi negara peserta yang ingin memamerkan peralatan alutsista militer yang dimiliki oleh masing-masing negara. Kali ini, pameran dirgantara turut dihadiri oleh Hong Kong dan Malaysia. 

Juru bicara Kementerian Pertahanan Singapura membenarkan soal batalnya delegasi militer RI ke Singapura. Namun, mereka tidak menyebut alasan di balik absennya para delegasi tersebut. 

Sementara juru bicara Kemenhan RI mengatakan pembatalan tersebut sudah jelas terkait keputusan Indonesia yang tetap bersikeras menggunakan nama Usman Harun untuk salah satu KRI baru yang dibeli dari Inggris. Tetapi dia memastikan tim aerobatik Indonesia di ajang Singapore Airshow tetap tampil. 

Nama tersebut diambil dari dua tentara marinir, Harun Said dan Osman Haji Mohammed Ali, yang menjadi aktor di balik aksi pengeboman MacDonald House di Orchard Road tahun 1965 silam. 

Keputusan untuk menggunakan nama tersebut, diprotes oleh Pemerintah Singapura pada pekan lalu. Keberatan disampaikan langsung oleh Kementerian Luar Negeri Singapura kepada Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa. 

Menurut Pemerintah Negeri Singa, penggunaan nama itu membangkitkan luka lama yang dialami oleh keluarga korban. (sj)

viva.co.id

Kisah Kopassus siram orang Papua Nugini yang mabuk di KBRI

 
Jenderal Budiman terima brevet komando. ©2013 Merdeka.com/arie basuki




Tentara Papua Nugini membakar kapal nelayan Indonesia. Mereka pun memerintahkan awak kapal nelayan tersebut berenang.

Dari sepuluh nelayan hanya lima yang kembali dan ditemukan oleh Marinir TNI di pos terdepan paling Timur Indonesia. Belum jelas bagaimana nasib lima nelayan lainnya. Diduga, kelima orang tersebut tewas tenggelam karena tak mampu berenang sampai ke daratan.

Ada cerita menarik dari anggota Kopassus yang pernah bertugas menjaga Kedutaan Besar Republik Indonesia di Port Moresby. Suasana di Port Moresby sangat mencekam. Angka kriminalitas sangat tinggi. Masyarakat di sana hobi mabuk-mabukan.

Kisah ini dimuat dalam buku Kopassus untuk Indonesia yang ditulis Iwan Santosa dan EA Natanegara dan diterbitkan R&W.

Sejak tahun 1993 dengan pertimbangan tersebut, pemerintah Indonesia merasa perlu mengirimkan Kopassus untuk menjaga KBRI dan Wisma KBRI.

Dulu sebelum ada Kopassus, tak ada yang berani menegur staf lokal KBRI yang merupakan warga Papua Nugini. Pernah terjadi saat ditegur, seorang staf lokal malah mengajak teman-temannya mengeroyok staf KBRI.

Serka Margono, anggota Kopassus pernah bertugas di sana sekitar tahun 1993-1994. Dia menceritakan ada seorang staf lokal yang kurang ajar. Suatu hari staf itu datang dengan mata merah dan mulut bau alkohol. Dia duduk di bawah tiang bendera KBRI dengan mata nyalang, seolah menantang. Serka Margono pun mencoba menegur.

"Saya tegur sekali, dua kali, dia tidak mau pergi. Saya mengambil air dan saya siram dia. Saya ajak berkelahi, dia tidak berani. Dia kemudian pergi ngeloyor sambil ngomel-ngomel," kata Margono.

Kondisi rawan di Port Moresby memang mengharuskan anggota Kopassus selalu siaga. Pertokoan hanya buka hingga pukul 18.00 WIB. Setelah itu hanya perampok yang berkeliaran di jalan yang sepi.

"Walhasil, perusahaan-perusahaan yang mampu selalu menyewa tenaga petugas keamanan swasta," kata Margono.

merdeka

Timor Leste Terbuka bagi Armada China

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvKR8uBl81YenZVtTFL_BLJRHq5GCTi0GR6nkpRELhyhyLkkQAiYodIPjjXaOkvmAa2wvYGpFMYPWb-n1rdJHN__gmFkfLuiTUf9R5HSEnUfE0uev4JQT4XL2tOXG_tWzvc6VcwSU-PrXW/s1600/al7.jpg 
Jakarta : Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Timor Leste Xanana Gusmao menyatakan pihaknya terbuka bagi kehadiran armada Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China di wilayahnya.

”Saya ditanya hal yang sama saat berada di Australia. Kami terbuka dan sebagai negara kecil tentu menyambut baik pihak-pihak yang bersahabat,” kata Xanana di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (10/2).

Xanana sebelumnya ditanya soal kesiapan Timor Leste membuka pangkalan bagi armada China atau fasilitas logistik dan perbaikan kapal bagi armada China yang sedang membangun kekuatan lintas benua.

Xanana menjawab, Asia Pasifik adalah wilayah yang luas dan mampu menampung niat positif dari semua pihak yang berkepentingan. Namun, tidak dijelaskan di mana fasilitas bagi angkatan laut asing tersebut akan disiapkan di Timor Leste.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro saat ditanya mengenai izin bagi armada China melintasi perairan Indonesia menuju ke timur (Timor Leste) menjelaskan, sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang dapat dilintasi armada mana saja, termasuk Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA).

Selama ini, Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) dan AL Australia (Royal Australian Navy) juga biasa melintas secara damai di perairan Indonesia. US Navy juga memiliki fasilitas perbekalan dan perbaikan di Singapura untuk elemen Armada Ketujuh yang beroperasi di kawasan Asia Pasifik.

Selain itu, US Navy juga memiliki fasilitas di Guam dan pangkalan Marinir di Darwin, Australia.

Seperti diberitakan sebelumnya, AL PLA sudah mengoperasikan kapal induk perdananya dan sedang membangun beberapa kapal induk lagi untuk mewujudkan armada lintas samudra (blue water navy). Pemerintah China juga diketahui membantu pembangunan infrastruktur kompleks Kementerian Pertahanan Timor Leste.

Sebaliknya, Timor Leste memiliki hubungan baik dengan negara-negara Lusofoni (pemakai bahasa Portugis), termasuk dengan Daerah Administrasi Khusus Makau yang kini sudah kembali menjadi wilayah China di sebelah barat Hongkong.

 Terbuka untuk semua  

Xanana mengingatkan media tentang pesan yang disampaikan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton saat berkunjung ke Dili tahun 2012 yang menyatakan, Asia Pasifik terbuka untuk semua pihak dan bisa mengembangkan potensi ekonomi, pariwisata, dan lain-lain, termasuk kerja sama militer.

Ditanya tentang kerja sama intelijen dengan Indonesia mengingat Timor Leste dan Indonesia mengalami hubungan kurang baik dengan Australia, Xanana mengingatkan agar media massa tidak mencampuradukkan persoalan yang dihadapi Timor Leste dengan hubungan Indonesia dan Australia.

Dalam kunjungan ke Jakarta, dicapai sejumlah kesepakatan bidang latihan dan pendidikan bagi personel militer Timor Leste hingga rencana pembelian persenjataan dari Indonesia untuk Kementerian Pertahanan Timor Leste.

Timor Leste berbagi perbatasan darat dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur dan perbatasan laut dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Provinsi Maluku. (Ong)