Pages

Monday, 10 March 2014

Pangdam ajak masyarakat ciptakan Papua kondusif


Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Christian Zebua memeriksa perlengkapan prajurit TNI.
Jayapura  - Panglima Komando Daerah Militer XVII/Cenderawasih, Mayor Jenderal TNI Christian Zebua, mengajak masyarakat untuk menciptakan Papua yang aman dan kondusif.

"Diharapkan partisipasi dan kekompakan serta pemikiran untuk bersatu, juga berkomitmen secara bersama-sama guna membangun Papua dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua," katanya melalui siaran pers yang dikirim kepada Antara di Jayapura, Senin.

Menurut dia, elemen masyarakat Papua yang diwakili oleh tokoh masyarakat, adat, dan agama diajak pula untuk menciptakan kondisi aman menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum 2014.

"Tokoh-tokoh ini sangat besar partisipasinya dalam menyukseskan pemilu, karena itu merupakan suatu hak dan kewajiban seluruh anak bangsa untuk menyukseskan," ujarnya.

Untuk menciptakan situasi yang aman dan kondusif, pihaknya sering melaksanakan tatap muka dengan para tokoh masyarakat, adat, dan agama, sehingga tali silahturahim yang telah terjalin selalu terjaga.

"Jadi kami sama sekali tidak berbicara masalah politik, tetapi silaturahim secara periodik, ke depan kami juga melaksanakan acara seperti ini secara periodik untuk menjalin silaturahim," katanya.

Selama ini, katanya, hubungan Kodam XVII/Cenderawasih dengan tokoh masyarakat, adat, dan agama relatif sangat baik.

Ia mengatakan para tokoh berbagai elemen masyarakat itu, juga banyak berpartisipasi dalam kegiatan positif yang dilaksanakan kodam setempat.

"Dan kegiatan silaturahim ini akan terus kami bangun karena yang menciptakan aman itu lebih pada kontribusi dari masyarakat," katanya.

325 Prajurit TNI Motuliato Diberangkatkan ke Papua


Prajurit TNI AD
Prajurit TNI AD

GORONTALO -- Sebanyak 325 prajurit TNI Angkatan Darat (AD) Yonif 715 Motuliato, Gorontalo, diberangkatkan ke Provinsi Papua melalui bandar udara Djalaluddin, Minggu.

Bupati Gorontalo Utara, Indra Yasin yang ikut melepas pemberangkatan gelombang pertama prajurit tersebut mengatakan, pemerintah daerah dan masyarakat mendukung sepenuhnya upaya TNI dalam mengamankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pengabdian seluruh prajurit diyakini tidak sekedar mengamankan wilayah perbatasan, namun diharapkan mampu berperan memajukan bangsa sehingga pemerintah daerah mendukung inovasi TNI-AD untuk menggiatkan prajuritnya menjadi tenaga pengajar.

Sehingga beberapa prajurit yang diberangkatkan, telah memegang sertifikat sebagai tenaga pengajar yang bisa melakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah tempat pengabdiannya.

Sebanyak 650 prajurit TNI-AD Yonif 715 Motuliato Gorontalo, akan bertugas di wilayah perbatasan Papua Nugini selama 6 bulan yang diberangkatkan dalam dua gelombang.

"Mereka diharapkan mampu menjalankan tugasnya dalam keadaan sehat dan prima, agar optimal hingga kembali nanti ke Gorontalo," ujar Bupati.

Khusus pengamanan wilayah Gorontalo Utara, bupati optimis mampu terjaga dengan baik mengingat wilayah tersebut memiliki markas satuan TNI dan Polri terlengkap di Gorontalo.

Juga didukung intensitas pertemuan dengan seluruh unsur musyawarah pimpinan daerah (muspida) yang terus dioptimalkan khususnya jelang Pemilihan Umum (Pemilu) legislatif.

"Pemerintah daerah berharap, potensi kerawanan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) terus dijaga dan diantisipasi sedini mungkin, untuk pengamanan wilayah ini," ujar Bupati.

Upacara pemberangkatan dipimpin Danrem 131 Santiago Brigjen TNI Musa Bangun, dihadiri Komandan Brigif 22 Otamanasa, petinggi TNI dan Polri di daerah itu, serta keluarga para prajurit.

REPUBLIKA

Mengapa Rusia tak lagi takut pada Barat


Orang-orang bersenjata lengkap yang diyakini pasukan Rusia mengepung Krimea, Ukraina (Reuters)
Barat terkesima, tak percaya Vladimir Putin menginvasi Ukraina. Semua diplomat Jerman, birokrat euro Prancis dan intelektual Amerika tertegun bertanya-tanya, mengapa Rusia memilih mempertaruhkan hubungan bernilai triliunan dolarnya dengan Barat?

Para pemimpin Barat terpaku tak mengira para penguasa Rusia tak lagi menghormati Eropa seperti mereka perlihatkan usai Perang Dingin.  Rusia tidak lagi menganggap Barat aliansi pembebas. Rusia kini menganggap semua yang ada di benak Barat melulu uang.

Para tangan kanan Putin tahu sekali soal ini. Selama bertahun-tahun para penguasa Rusia telah membeli Eropa.  Orang-orang Rusia mempunyai mansion dan flat mewah dari West End di London sampai Cote d’Azure di Prancis.

Anak-anak Rusia belajar di sekolah-sekolah khusus nan elite di Inggris dan Swiss, sedangkan uang mereka diparkir di bank-bank Austria dan ditampung sistem pajak rendah Inggris.

Lingkaran terdalam kekuasan Putin tak lagi takut terhadap sikap Eropa. Mereka kini tahu betul siapa Eropa. Mereka bisa langsung melihat betapa penjilatnya para aristokrat dan konglomerat Barat itu yang matanya berubah berbinar setiap kali miliaran dolar uang Rusia dimainkan.

Rusia sekarang menganggap Barat munafik karena elite-elite Eropalah yang justru membantu orang-orang Rusia menyembunyikan kekayaannya.

Sekali waktu Rusia menyimak saat kedubes-kedubes Eropa mengutuk korupsi di BUMN-BUMN Rusia. Tapi sekarang tidak lagi. Karena Rusia tahu sekali bahwa para bankir, pengusaha dan pengacara Eropa justru melakukan kerja kotor bagi orang-orang Rusia untuk menyembunyikan uang hasil korupsi mereka di Antila Belanda dan Kepulauan Virgin, Inggris.

Kita tidak sedang membahas uang yang banyak, melainkan uang yang sangat banyak. Bank sentral Rusia memperkirakan dua pertiga dari 56 miliar dolar AS uang yang ada di Rusia pada 2012 ada kaitannya dengan kegiatan-kegiatan ilegal, hasil berbagai kejahatan seperti pungli, uang narkotika atau penggelapan pajak. Ini adalah uang yang digulungkan para bankir kaya raya Inggris sebagai karpet merah demi masuknya orang Rusia ke London.

Di balik korupsi Eropa, Rusia melihat kelemahan Amerika. Kremlin tak yakin negara-negara Eropa, kecuali Jerman, benar-benar independen dari Amerika Serikat. Rusia kini melihat Eropa tak lebih dari negara-negara klien yang bisa dipaksa Washington, untuk tidak berbisnis dengan Kremlin.

Namun ketika Rusia menyaksikan Spanyol, Italia, Yunani dan Portugal saling menyisihkan dalam tender menjadi mitra bisnis terbaik Rusia dalam Uni Eropa, mereka melihat kontrol Amerika atas Eropa perlahan memudar.

Di Moskow, Rusia menyimak kelemahan Amerika di luar Kedubes Moskow.

Suatu waktu Kremlin khawatir petualangan asing akan memicu sanksi ekonomi ala Perang Dingin yang merugikannya seperti larangan ekspor komponen-komponen kunci bagi industri minyaknya atau bahkan diputusnya akses ke sektor perbankan Eropa. Kini kekhawatiran seperti ini tidak ada lagi.

Rusia melihat Amerika bingung karena perjudian Putin di Ukraina menggoyahkan kebijakan luar negeri AS yang lebih memilih membicarakan China atau berpartisipasi dalam perundingan damai Israel-Palestina.

Rusia melihat Amerika rentan: di Afghanistan, di Suriah dan di Iran di mana Amerika Serikat kini amat sangat memerlukan dukungan Rusia untuk melanjutkan pengapalan pasokan-pasokannya, menuanrumahi konferensi perdamaian atau menguatkan sanksi Barat ke Iran.

Moskow tidak gugup. Para elite Rusia telah mengekspos Barat dengan cara luar biasa dengan menawan properti-properti dan rekening-rekening bank Eropa.

Secara teoritis, ini membuat Barat rentan mengingat penarikan dana secara tiba-tiba oleh adanya investigasi pencucian uang dan larangan visa, bisa memangkas kekayaan mereka. Dari masa ke masa Rusia menyaksikan betapa pemerintah-pemerintah Eropa menolak meloloskan undang-undang yang mirip dengan UU Magnistky AS yang mencegah para pemimpin kriminal memasuki Amerika Serikat.

Semua ini membuat Putin percaya diri, sangat percaya diri, percaya bahwa elite Eropa lebih tertarik pada uang ketimbang menghadapinya.

Ini buktinya. Setelah pasukan Rusia mencapai pinggiran Tbilisi, ibukota Georgia, pada 2008, rangkaian pernyataan dan gertakan keluar dari Barat, namun saat dihadapkan pada miliaran dolar dana Rusia, mereka menjadi ciut. Lalu, setelah para tokoh oposisi Rusia diadili, Uni Eropa mengirim surat keprihatinan, tapi sekali lagi mereka bungkam saat miliaran dolar uang Rusia tersaji di hadapan mereka.

Kremlin kini tahu rahasia perang kotor Eropa.  Kremlin tahu pasti sikap Eropa. Orang-orang bermuka masam yang mengendalikan Rusia di era Putin melihat Barat seperti para politisi di akhir masa Soviet.

Menengok era 1980-an, USSR (Uni Soviet) berbicara soal Marxisme internasional padahal Soviet tak lagi mempercayainya.

Kini, Brussels, menurut Rusia, berbicara soal hak asasi manusia tapi mereka sendiri tidak lagi mempercayainya. Eropa sungguh sudah dikendalikan oleh elite bermoralitas hedge fund (pengelola dana atau pialang): Keduk uang dengan cara apa saja, lalu parkir uang itu di luar negeri.
- Disadur dari tulisan Ben Judah berjudul "Why Russia No Longer Fears the West" pada Politico Magazine dalam Politico.com
- Ben Judah adalah pengarang buku "Fragile Empire: How Russia Fell In And Out Of Love With Vladimir Putin"


Antara