Pages

Monday, 10 March 2014

Stemme S15: Pesawat Riset Lapan Terbaru



Pesawat terbang Hi-Altitude Long Endurance ini akan dimanfaatkan untuk memantau wilayah perairan dan pemetaan wilayah. Selanjutnya akan dipasangi kendali jarak jauh pada kontrol penerbangannya agar bisa diterbangkan tanpa awak.

Selasa  4 Februari 2014 menjadi hari penting yang lain bagi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Setelah berhasil menguasai iptek di bidang satelit mikro dan peroketan, lembaga litbang di bawah Kementerian Ristek ini mulai menapak ke iptek penerbangan tingkat advanced. Hal itu ditandai dengan uji terbang perdana glider performa tinggi Stemme S15 sebagai langkah awal menuju perancangan sistem air-surveilance yang baru bagi Indonesia .

Hari itu, glider ramping bermesin tunggal dengan rentang sayap 18 meter tersebut diterbangkan oleh Capt. Irwan dari Balai Kalibrasi Kementerian Perhubungan mengitari Curug, Banten, disaksikan pimpinan Lapan. Dengan wahana dua awak yang bisa terbang hingga 20  jam ini, Lapan berharap dapat menyusun sistem pemantau khusus untuk misi pertahanan dan pemetaan yang mobile, efektif dan efisien bagi wilayah  luas.

Merujuk evolusi sistem pengamatan udara taktis di berbagai negara maju, penggunaan pesawat terbang Hi-Altitude Long Endurance memang telah semakin populer. Jika dengan satelit misi pemantauan diketahui rentan halangan awan, hal ini bisa direduksi dengan bermanuver di bawah awan. Setelah menguasai performa S15, Pusat Teknologi Penerbangan Lapan rencananya akan mencangkokan perangkat flight control dengan kendali jarak jauh agar bisa pula diterbangkan tanpa awak.

Pilihan atas Stemme S15 dijatuhkan setelah tim teknis mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan kandidat lain seperti Diamond DA42 MPP, Diamond DA40 NG, Diamond HK 36 MPP dan Cessna 172R. S15 adalah varian pesawat glider bermotor rancangan khusus Stemme dirancang untuk misi surveillance atau pemantauan udara. Sayapnya telah diperkuat untuk menenteng perangkat seperti FLIR dan kamera video untuk patroli udara dan monitoring lingkungan.

Mendukung kapal perang
Untuk tahap pertama, sistem pemantauan udara berbasis  S15 ini akan dikerahkan untuk mendukung kapal perang TNI AL dalam operasi pengamanan wilayah perairan. Dengan kecepatan jelajah hanya 220 km/jam, salah satu produk andalan Stemme UMS, Strausberg, Jerman ini, bisa  memantau wilayah sejauh 3.000 km dari ketinggian 400-2.000 meter dengan stabilitas aerodinamik yang amat tinggi.

“Kami sudah berdiskusi dengan pihak TNI AL. Pesawat seperti ini bisa menggantikan fungsi kapal ukuran medium. Dengan demikian mereka cukup fokus ke kapal perang besar sebagai kapal komando dan kapal-kapal kecil sebagai kapal kombatan. Untuk memantau wilayah perairan Indonesia, kami pikir cukup dikerahkan empat pesawat seperti ini. Data pantauan bisa dikirim riil-time ke kapal komando,” ungkap Kepala Pustekbang Dr. Gunawan S. Prabowo kepada Angkasa di Jakarta.

Ditambahkan, pihaknya tengah berusaha menyiapkan sistem air-surveillance dengan mobilitas yang amat tinggi. Untuk keperluan ini, baik sistem kendali jarak jauh maupun wahana telah dirancang bisa dimasukkan ke dalam kontainer khusus sehingga bisa dikirim ke berbagai tempat.

Dari operational requirement yang pernah dipaparkan, Pustekbang juga akan mengaplikasikannya sebagai pesawat riset pemula, wahana untuk  verifikasi dan validasi data citra satelit, pemotretan foto udara, monitoring dan pemetaan daerah banjir, pemantauan titik panas kebakaran hujan, serta  misi riset Lapan lainnya.

Angkasa mencatat, perancangan sistem air-surveillance berbasis S15 ini merupakan proyek ketiga Pustekbang terkait program penguasaan  iptek penerbangan. Sementara sebagian enjinirnya dikerahkan untuk menguasai reverse-engineering S15, tahun ini juga sebagian enjinir lainnya diterjunkan untuk merampungkan rancang bangun pesawat komuter N219. Komuter 19 penumpang yang digarap bersama PT Dirgantara Indonesia ini ditargetkan rampung pada 2015.

Sebelum ini mereka telah merampungkan sejumlah pesawat tanpa awak (UAV) ukuran kecil untuk mengasah kemampuan perancangan sistem kendali jarak jauh untuk kontrol penerbangan.

Angkasa

BPS salah masukkan data impor senjata Timor Leste


BPS salah masukkan data impor senjata Timor Leste
pameran senjata.
 

 - Badan Pusat Statistik (BPS) mengakui ada kesalahan input data dalam impor senjata dari Timor Leste. Impor senjata yang seharusnya datang dari Rusia, dalam data ditulis dari Timor Leste.

Direktur Statistik Distribusi BPS Titi Kanti Lestari mengakui ada kesalahan teknis dan tidak teliti dalam memasukkan data dalam program microsoft excel.
"Ada yang meleset. Jadi itu yang benar Rusia. Timor Lestenya enggak ada," ucap Titi kepada merdeka.com di Jakarta, Senin (10/3).

Dalam data resmi sebelumnya, BPS menyebut Indonesia mengimpor senjata dari Timor Leste. Impor senjata Indonesia pada Januari 2014 mencakup jenis artileri seperti pistol, howitzer, dan mortar dengan total nilai USD 44,2 juta. Impor senjata ini masuk dari Prancis dengan nilai impor USD 37,4 juta. Selanjutnya senjata ini juga masuk dari Timor Timur (setelah koreksi adalah Rusia) dengan nilai USD 6,8 juta.

"Timor Leste itu sebenarnya adalah Rusia," tegas Titi.

Dari data itu disebutkan juga Indonesia juga mengimpor peluru senilai USD 173.000 dari kawasan yang dulu disebut Timor Leste.

Indonesia juga mengimpor peluru dan perlengkapan amunisi seharga USD 56.900. Impor ini datang dari Jerman dengan total nilai USD 39.200 dan juga dari Timor Leste dengan nilai USD 17.600.

Pada Januari 2014 ini, Indonesia juga mengimpor senjata kebutuhan militer non-pistol. Total nilai impor senjata jenis ini mencapai USD 2,1 juta. Senjata ini didatangkan dari Prancis dengan total nilai USD 1,7 juta dan selanjutnya dari Inggris dengan nilai USD 404.700.

Jenis senjata selanjutnya yang diimpor adalah revolvers dan pistol, dengan nilai mencapai USD 27.000. Impor senjata jenis ini datang dari Singapura dengan nilai USD 4.900 serta Finlandia dengan nilai USD 22.000.

Senjata selanjutnya adalah aksesoris magazine, senapan, dan amunisi dengan nilai impor mencapai USD 125 yang datang dari China. Terakhir, jenis senjata yang diimpor adalah perlengkapan revolver atau pistol dengan total impor mencapai USD 70.000.

Impor peralatan senjata jenis ini datang dari Korea Selatan dengan nilai USD 18.000, Jerman dengan nilai USD 43.200 serta Norwegia dengan nilai USD 809.

Wakil Ketua Komisi I DPR, TB Hasanuddin juga kaget mendengar data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebut Indonesia mengimpor senjata dari Timor Leste. Impor senjata jenis pistol, peluru dan perlengkapan amunisi dari Timor Leste tidak pernah dibahas dalam rapat kerja Komisi I DPR dan pemerintah. Sebab, selama ini Indonesia selalu mengekspor senjata ke berbagai negara maju.

"Ah enggak mungkin lah kita impor, mereka (Timor Leste) saja buat senjata enggak bisa kok kita malah beli senjata dari sana. Itu enggak pernah dibahas, jadi ya tidak masuk dalam rencana kerja Kemenhan tahun 2014," ujar Hasanudin kepada merdeka.com.

Merdeka

Aksi Pasukan Katak getarkan Surabaya bikin Soekarno bangga


Aksi Pasukan Katak getarkan Surabaya bikin Soekarno bangga
kopaska. ©timawa.net   

- Gudang amunisi Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL di Tanjung Priok, Jakarta Utara, meledak. Satu anggota TNI AL tewas sementara puluhan lain terluka.

Kopaska adalah pasukan elite yang berkemampuan lebih baik dari personel Navy Seal Amerika Serikat. Pasukan ini berbalut kerahasiaan yang kental hingga tak sepopuler pasukan elite lain.

Banyak cerita menarik soal Kopaska. Salah satunya cerita Kopaska dan Presiden Soekarno.

Kisah ini ditulis dalam buku Kopaska, Spesialis Pertempuran Laut Khusus yang diterbitkan dalam rangka 50 tahun Kopaska.

Tahun 1960, TNI AL yang kala itu bernama ALRI menggelar peringatan hari Armada. Presiden Soekarno menjadi inspektur upacara dan berdiri di podium Dermaga Ujung Surabaya.

Saat itulah Letnan Laut Joko Suyatno dan Sersan Emil Joseph unjuk kebolehan. Keduanya merupakan personel ALRI yang telah mendapat pelatihan di Underwater Demolition Team di Amerika Serikat.

Letnan Joko dan Sersan Emil keluar dari kapal selam kelas Whiskey RI Tjakra di kedalaman sebelas meter. Mereka muncul sejenak dengan peralatan selam lengkap ke permukaan.

Beberapa saat kemudian ledakan dahsyat terdengar. Markas ALRI sampai berguncang saking kerasnya ledakan.

Ledakan itu tak dirancang untuk menghancurkan, sekadar menunjukkan kemampuan pasukan katak. Walau begitu lumpur dermaga sampai muncrat tinggi ke angkasa.

Setelah ledakan, muncul Joko dan Emil dari kolong dermaga. Rupanya mereka berdua adalah pelaku demo peledakan yang menggetarkan itu.

Joko dan Emil yang mengenakan perangkat SCUBA dan tubuh penuh lumpur mendekati Soekarno di podium. Semua hadirin terkagum-kagum melihat aksi pasukan komando tersebut.

Bung Karno yang mengenakan pakaian kebesaran putih-putih tak risau disalami dua prajurit yang tangannya masih belepotan lumpur itu. Beliau malah tersenyum bangga.

Dengan kagum, Soekarno menepuk pundak kedua anggota pasukan katak itu.

"Angkatan Lautku lengkap sudah," mungkin itu yang ada di pikiran Soekarno saat itu.

Aksi itu pula yang membuat Soekarno mantap memerintahkan ALRI membentuk Komando Pasukan Katak. Dua tahun kemudian, 31 Maret 1962, pasukan elite ini dibentuk.

Saat itu suasana di tanah air sedang tegang. Indonesia terlibat konfrontasi dengan Belanda dalam perebutan Irian Barat.

Kopaska pun berdiri dengan motto Tan Hana Wighna Tan Sirna. Tak ada rintangan yang tak bisa dilewati.

 merdeka