Pages

Monday, 24 March 2014

Delegasi Lapan Kunjungi China

Delegasi Lapan saat mengunjungi CAST
Delegasi Lapan yang dipimpin oleh Deputi Bidang Teknologi Dirgantara, Prof. Dr. Ing. Soewarto Hardhienata, berkunjung ke China pada 11 hingga 15 Maret. Kunjungan ini untuk menindaklanjuti kerja sama di bidang keantariksaan antara Pemerintah RI dan Pemerintah China.

Selama berada di China, delegasi Lapan mengunjungi berbagai institusi yang bergerak dalam kegiatan keantariksaan, yaitu China National Space Administration (CNSA), China Academy of Launch Vehicle Technology (CALT), China Academy of Space Technology (CAST) dan China Center for Resources Satellite Data and Application (CRESDA).

Pada kunjungan tersebut kedua negara merundingkan berbagai kemungkinan kerja sama di bidang keantariksaan. Perundingan menghasilkan kesepakatan kerja sama  antara Indonesia (Lapan) dengan China (CNSA). Kesepakatan tersebut mencakup antara lain kerja sama di bidang pengoperasian kapal TT&C China di perairan Indonesia, roket sonda, peluncuran satelit, dan pemanfaatan data penginderaan jauh. Dalam perundingan tersebut juga disepakati pembentukan working group dan joint committee guna menindaklanjuti dan mengimplementasikan butir-butir kesepakatan kerja sama tersebut. Kedua negara berharap agar kerja sama ini dapat terlaksana dengan baik dan menguntungkan kedua belah pihak.

Saat di China, delegasi Lapan juga berkunjung ke kantor pusat Asia-Pacific Space Cooperation Organization (APSCO) di Beijing.  Sekretaris Jenderal APSCO, Mr. Celal Unver, ketika bertemu dengan delegasi Lapan berharap agar Indonesia, yang termasuk salah satu negara yang menandatangani berdirinya APSCO, segera menjadi anggota (member state) dengan melakukan ratifikasi.

lapan

"Ketegangan Australia-RI Tak Berpengaruh ke ASEAN"

"Hubungan Australia dan ASEAN tetap baik dan kuat."
PM Australia Tony Abbott dan Presiden SBY
 
VIVAnews -- Anggota Senat dari Partai Liberal Australia Brett John Mason menyebut ketegangan hubungan bilateral negaranya dengan Indonesia tak pengaruhi kerjasama Negeri Kanguru dengan organisasi ASEAN. Menurut dia, antara ASEAN dengan Australia telah memiliki landasan dan keseimbangan.
Ditemui perwakilan jurnalis ASEAN, termasuk VIVAnews, di Gedung Parlemen, di Canberra, Australia pada 16-22 Maret 2014, Mason mengakui bahwa hubungan Australia dan RI memang tengah mengalami konflik. Namun, menurut Mason, hal tersebut normal.

"Ketegangan itu hanya terjadi di level politik dan retoris. Sehingga, isu tersebut kerap digunakan oleh para politisi," kata anggota senat yang mewakili negara bagian Queensland itu.

Namun, dia melanjutkan, apa yang tetap bisa mempertahankan hubungan kedua negara melalui ketegangan tersebut, yakni Australia telah memiliki landasan yang kuat dengan ASEAN. Sehingga hubungan kedua negara tetap baik dan kuat.

Bukti, kata Mason, Presiden SBY dan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa tetap mendukung program pendidikan bernama New Colombo Plan, kendati banyak komentar politis dan pemberitaan yang mewarnai televisi di Australia dan RI soal isu penyadapan itu.

"Fokus kami bukan kepada ketegangan yang saat ini tengah terjadi di antara kedua negara, tetapi landasan jangka panjang yang telah dimiliki. Landasan itulah yang kini tengah diuji," imbuh dia.

Ditanya soal harapan pemimpin Australia soal pemilu yang akan digelar pada Mei dan Juli 2014 nanti, Mason menyebut siapa pun yang nantinya akan memimpin hubungan kedua negara akan tetap kuat dan luas.

"Jadi, saya merasa yakin hubungan kedua negara akan segera kembali membaik," tutur dia.

Sebelumnya, pernyataan serupa juga telah disampaikan Sekretaris Jenderal ASEAN, Le Luong Minh yang ditemui media di Universitas Nasional Australia. Le menyebut hubungan ASEAN-Australia telah berlangsung 40 tahun. Dia berharap hubungan RI dengan Australia bisa kembali harmonis seperti dulu.

"Indonesia pun juga mendukung kemitraan antara ASEAN dengan Australia. Diharapkan permasalahan bilateral yang terjadi di antara kedua negara bisa diselesaikan," kata

Hubungan bilateral Australia dan RI mengalami konflik ketika media Australia pada November 2013, Sydney Morning Herald dan The Guardian, mengungkap aksi Badan Intelijen Negeri Kanguru, DSD, yang menyadap komunikasi ponsel pribadi Presiden SBY, Ibu Ani Yudhoyono dan beberapa pejabat tinggi yang dekat dengan dia.

Hubungan itu kian runyam, ketika di hadapan Parlemen Perdana Menteri Tony Abbott menolak meminta maaf soal aksi penyadapan tersebut. Dia berdalih hal itu dilakukan demi melindungi Australia dan semua pemerintahan di semua negara juga melakukan pengumpulan informasi intelijen.

Ketegangan semakin bertambah, ketika Abbott menerapkan kebijakan menggiring perahu pencari suaka ke perairan RI setelah sebelumnya mereka mencoba untuk menyebrang ke Negeri Kanguru.


Dicari Capres Penjaga Alutsista Asli Indonesia

pancasila-2
Pemimpin baru di Indonesia, sebentar lagi akan muncul, pasca Pemilu 2014.  Sebagai rakyat saya ingin menitipkan kepada para capres ”alutsista asli bangsa Indonesia”, agar dijaga dan dipakai untuk tujuan ketahanan nasional dan penyelenggaraan negara di masa kepimpinannya.
Seperti halnya senapan agar bisa dipakai sewaktu waktu dan tidak macet, maka alutsista/ senjata memerlukan perawatan. Warisan Senjata adiluhung bangsa ini wajib kita jaga, dihayati, diamalkan dan dilestarikan. Alutsista asli bangsa Indonesia itu adalah PANCASILA.
Pancasila Senjata Persatuan – Kesatuan
Makna lambang negara Burung Garuda:
1.Burung Garuda, yang digantungi perisai, dengan paruh, sayap, ekor dan cakar melambangkan tenaga pembangunan.
2.Sayapnya yang berbulu tujuh belas (setiap sayapnya) melambangkan tanggal 17 (tanggal kemerdekaan).
3.Ekor berbulu delapan menandakan bulan ke 8 /Agustus, bulan kemerdekaan Republik Indonesia.
4.Bulu Leher sebanyak 45 (empat puluh lima) menandakan tahun kemerdekaan (1945).
5.Perisai atau tameng berbentuk jantung adalah senjata yang dikenal dalam kebudayaan dan peradaban Indonesia sebagai tanda PERJUANGAN untuk mencapai tujuan dengan jalan melindungi diri. Senjata yang demikian itu dijadikan lambang, karena wujud dan artinya tetap, tidak berubah-ubah, yakni sebagai lambang perjuangan dan perlindungan.
Dengan mengambil bentuk perisai ini, maka Republik Indonesia BERHUBUNGAN LANGSUNG DENGAN PERADABAN INDONESIA ASLI. (Yang dikesatuaannya memakai perisai sebagai lambangnya jangan salah mengartikannya)
Garis hitam tebal di tengah-tengah perisai ini dimaksudkan khatulistiwa (equator) yang melewati Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Barat. Hal ini menyatakan bahwa Republik Indonesia adalah negara yang MERDEKA dan BERDAULAT PENUH dipermukaan bumi berhawa panas.
Lima buah ruang pada perisai itu masing-masing mewujudkan dasar Negara Republik Indonesia, PANCASILA, yaitu :
Dasar Ketuhanan Yang Maha Esa: Tertulis dengan Nur Cahaya diruangan tengah berbentuk bintang yang bersudut lima.
Dasar Kerakyatan: Dilukiskan dengan Kepala Banteng sebagai lambang tenaga rakyat.
Dasar Kebangsaan: Dilukiskan dengan Pohon Beringin, tempat berlindung.
Dasar Perikemanusiaan: Dilukiskan dengan tali rantai bermata bulatan dan persegi. Rantai bermata bulatan menunjukan bagian perempuan berjumlah 9 (sembilan), dan rantai bermata persegi berjumlah 8 (delapan) menunjukan bagian laki-laki. Jumlah rantai sebanyak 17 (tujuh belas) itu sambung menyambung tidak putus-putusnya sesuai dengan sifat manusia yang turun temurun.
Dasar Keadilan Sosial: Dilukiskan dengan padi dan kapas sebagai tanda tujuan kemakmuran, kedua gambar tumbuh-tumbuhan tersebut (padi dan kapas) sesuai dengan hymne yang memuji-muji pakaian (sandang) dan makanan (pangan).
Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” dapat disalin diartikan sebagai berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Sedangkan perkataan Bhinneka itu sendiri adalah gabungan dua perkataan : Bhinna dan Ika.
Adapun makna dari pepatah itu adalah penggambaran dari PERSATUAN dan KESATUAN Nusa dan Bangsa Indonesia walaupun terlihat dari luar perbedaan dan berlainanKalimat itu telah tua sekali usianya dan telah dipakai oleh pujangga terutama oleh Empu Tantular dalam kitabnya Sutasoma, yang mengartikan pepatah tersebut sebagai “Diantara Pusparagam ada Persatuan”.
Jadi ingat konsep TRISAKTI yang diajarkan oleh Presiden pertama RI Soekarno, yakni : Kedaulatan secara politik,  Berdikari secara ekonomi, dan BERKEPRIBADIAN secara sosial budaya.
PANCASILA warisan Adiluhung bangsa Indonesia: Pancasila dalam kehidupan kuno (jaman kerajaan) masyarakat Indonesia sudah di terapkan. Pancasila  sebagai jatidiri bangsa Indonesia, contohnya: AJARAN LIMA PINTU UTAMA dari Prabu Liman Senjaya Kusumah, negara Galuh Pakuan, 1545 M yakni:
1 Semiaji (cerminan Kemanusiaan),
2 Bratasena (cerminan Persatuan),
3 Harjuna (cerminan Keadilan),(
4 Nakula (cerminan Kerakyatan),
5 Sadewa (cerminan Ketuhanan),
Contoh lain jiwa PANCASILA dipakai pada jaman dulu yaitu pada:
LIMA BANGUNAN UTAMA dari Prabu Susuk Tunggal, Negara Soenda, 1345 M ialah :
1. Bima Resi / Sadewa (pengaturan Tatacara & Pelaksanaan Keagamaan),
2 .Punta Dewa / Bratasena (pengaturan Persatuan & Kesatuan Rakyat),
3. Narayana / Sri Kresna (pengaturan tegaknya Peri Kemanusiaan),
4. Madura / Kakak Sri Kresna (pengaturan hak2 Kerakyatan),
5. Suradipati / Harjuna (pengaturan Keamanan, Kesejahteraan, Keadilan).
DASHA SHILA pada kitab Sutasoma [era Majapahit], berisi :
(1) Janganlah menyakiti perasaan orang,
(2) Janganlah menjatuhkan hukuman yang tidak adil,
(3) Janganlah menjarah harta rakyatmu,
(4) Janganlah menunda kebaikan terhadap mereka yang kurang beruntung,
(5) Mengabdilah kepada mereka yang sadar,
(6) Janganlah menjadi sombong, walau banyak orang menghormatimu,
(7) Janganlah menjatuhkan hukuman mati, kecuali menjadi tuntutan keadilan,
(8) Adalah yang terbaik, jika kau tidak takut mati,
(9) Dan bersabar dalam keadaan susah,
(10) Adalah yang terbaik jika kau berjiwa besar dan memberi tanpa pilih kasih.
Dan DASHASILA tersebut pemaknaan terhadap jiwa Pancasila adalah bahwa butir;
(1) merupakan landasan untuk berdemokrasi, dimana kepentingan rakyat banyaklah yang utama, dengan catatan bahwa suara terbanyak bukan berarti kepentingan rakyat banyak.
Maka butir (1) ini harus dijiwai oleh butir (2) yang merupakan asas keadilan, dimana asas keadilan ini digunakan sebagai sarana untuk mencapai yang tercantum di butir (3) dan butir (4) yakni kemakmuran dan kesejahteraan.
Adapun butir2 (5),(6),(7) dan (9) berkaitan dengan keagamaan. Keagamaan disini bukan hanya sekedar beragama (ritual) tetapi merupakan esensi dari beragama, dan esensi beragama ini akan tercermin dari tingkah laku.Kemudian butir terakhir (10) adalah berkaitan dengan kemanusiaan. Sehingga pemaknaan DASHA SHILA dapat disarikan menjadi:
(1) Demokrasi demi terwujudnya
(2) Keadilan, Kesejahteraan/Kemakmuran bagi semua,(3) Keagamaan demi terwujudnya
(4) Manusia yang berperikemanusiaan, dan
(5) asas kebangsaan adalah sebagai ruang (tempat) untuk mewujudkan hal-hal diatas, sebagai satu bangsa yakni BANGSA INDONESIA
Jiwa PANCASILA bersemangat Al Qur’an
Dapat disimpulkan bahwa jiwa Pancasila itu adalah seharusnya keseharian bagi kehidupan umat ketika mengemban Firman-Firman Allah Yang Maha Kuasa.Jiwa Pancasila adalah MAQASID SYARIAH [Adiwarman A Karim, Imam al Syathibi, kitab al Muwafaqat] yakni:
(1) Melindungi agama (Pasal – Ketuhanan Yang Maha Esa),
(2) Melindungi jiwa (Pasal – Perikemanusiaan yang adil dan beradab),
(3) Melindungi keutuhan keluarga besar (Pasal – Persatuan Indonesia),
(4) Melindungi akal pendapat (Pasal – Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan,
(5) Melindungi hak atas harta (Pasal – Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia).
PANCASILA Penerang Perdamaian Dunia
Lima Sinar Cahaya itu adalah:
(1) Cahaya Putih,
(2) Cahaya Kuning,
(3) Cahaya Hijau,
(4) Cahaya Merah,
(5) Cahaya Hitam.
Lima Sinar Cahaya itu disebut pula sebagai Pancasila, adalah Cahaya Ilahi (Nur Allah) yang merupakan kebesaran dan kemuliaan Allah dan merupakan satu kesatuan yang utuh tidak terpisahkan.
Bung Karno mengedepankan istilah LEITSTAR atau Bintang Kepemimpinan bagi sosok Pancasila ini. Pancasila dapat disejajarkan dengan : Magna Carta di Inggris, Bill of Rights di AS, Droit de l’home di Prancis.
Republik Indonesia yang baru lahir telah berhasil merumuskan UUD 1945 dengan dasar-dasar negara berupa Pancasila yang mengakomodasi segala macam perbedaan dan keberagaman di antara seluruh rakyat Indonesia dalam motto Bhinneka Tunggal Ika.
Soekarno dan PancasilaCuplikan TRANSKRIPSI SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA MEMPERINGATI PIDATO BUNG KARNO 1 JUNI 1945, GEDUNG MPR/DPR/DPD RI, JAKARTA
“Satu lagi, saudara-saudara, masih berkaitan dengan perkembangan dunia sekarang ini, saya ingin menambahkan satu lagi. Ini fenomena global yang dramatis, yang fundamental. Ada pergeseran atau shake, ada penyesuaian atau adaptation and adjustment dari negara-negara di dunia dalam menganut ideologi-ideologi besar. Sekarang ini, hampir tidak ada satupun negara di dunia yang secara ekstrim menerapkan ideologi ekonomi yang sudah ada dalam khazanah ideologi dunia, misalnya ideologi ekonomi kapitalisme, neoliberalisme, komunisme, dan sosialisme. Sudah banyak varian dari itu semua, varian dari kapitalisme, varian dari sosialisme. Eropa, ada yang menganut namanya welfare state, ekonomi kesejahteraan.
Negara yang dulunya kapitalis, seperti ajaran Adam Smith, David Ricardo, John Stuart Mill, sudah bergeser pula mengadopsi nilai-nilai sosialisme. Negara yang dulunya betul-betul marxis, seperti Rusia, Vietnam, Tiongkok, juga telah memahami esensi dari pasar, tapi tetap dalam bingkai keadilan sosial. Oleh karena itu, terhadap semuanya itu, bangsa Indonesia sepatutnya tidak perlu silau, karena kembali kepada apa yang ada dalam Pancasila, ada resep, ada prinsip dasar, dan di situ jawabannya adalah, yang kita pilih: ekonomi kesejahteraan, berkeadilan sosial.
Saudara-saudara,
Itulah dua substansi yang ingin saya sampaikan, dan sebagai penutup akhirnya mari terus kita jadikan Pancasila sebagai living ideology, sebagai working ideology, yang antisipatif, yang adaptif, dan yang responsif. Pancasita tentu tidak patut kita perlakukan sebagai dogma yang kaku, apalagi kita keramatkan, karena justru menghalang-halangi Pancasila untuk merespon berbagai tantangan jaman, baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat dunia. Dan itulah nilai terbesar dari Pancasila ketika kita aktualisasikan untuk menghadapi tantangan jaman masa kini dan masa depan.
SILA KE 5 PANCASILA DIKUTIP OBAMA (Menyadur  berita dari Republika.co.id)
Pesan politik Nasionalisme Baru yang diusung Presiden Barack Obama diduga terinspirasi politik Indonesia. Politisi Partai Republik, Michael Patrick Leahy, mengatakan ada inti pesan Obama dalam pidatonya yang sangat mirip dengan pidato Presiden Indonesia yang pertama, Soekarno, tentang Pancasila. Analisis Leahy ini dimuat dalam laman American Thinker beberapa waktu lalu.Dengan lugas Leahy mengutip sejarah Bung Karno mengusung Pancasila dalam rapat 1 Juni 1945. Di depan peserta sidang rapat, kata Leahy, Bung Karno menjabarkan prinsip dasar Indonesia yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh rakyat Indonesia.
Menurut Leahy, ada bagian di pidato Obama yang menggaungkan Nasionalisme Baru AS yang sangat mirip dengan sila ke lima yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Hal ini, kata dia, bisa dimengerti karena Obama pernah bersekolah di Indonesia. Ketika sekolah itulah Obama berkenalan dengan nilai-nilai Pancasila, argumen Leahy.
Ia lalu membandingkan pidato Soekarno 1 Juni dengan Pidato Obama di Osawatomie. Pada 1 Juni Soekarno mengatakan, Leahy menulis, “…Dalam sila Keadilan Sosial jangan ada lagi kemiskinan di Indonesia yang merdeka. Apakah rakyat Indonesia ingin Indonesia yang merdeka tapi kelompok kapitalisme juga merajalela. Atau sebaliknya, kesejahteraan untuk seluruh rakyat. Di mana tiap orang bisa makan dengan cukup.”
Sementara pidato Obama di Osawatomie yang dikutip bagiannya oleh Leahy berbunyi seperti ini, “… Mereka (kaum Republik) ingin kembali ke filosofi usang yang tidak memihak ke kelompok kelas menengah AS bertahun-tahun ini. Filosofi mereka sederhana, kita dianggap akan sejahtera kalau semua orang dibebaskan untuk bermain dengan aturannya sendiri-sendiri. Well, saya di sini mengatakan mereka salah! Saya di sini menegaskan kalau rakyat AS akan jauh lebih besar kalau bersama-sama ketimbang sendiri-sendiri. Saya percaya AS akan berjaya kalau semua masyarakat mendapat kesempatan yang sama, ketika semua orang mendapat bagian yang adil, dan semua orang bermain di dalam aturan yang disetujui bersama.”
Menurut Leahy, dalam pidatonya ini Obama sangat terasa merefleksikan nilai-nilai Indonesia ketimbang AS. “AS selalu menjunjung tinggi nilai individualisme di atas kolektivisme. Sementara Indonesia sebaliknya, menjunjung tinggi kolektivisme di atas individualisme. Pidato Obama ini adalah sanjungan untuk kolektivisme Indonesia dan penolakan kepada individualisme AS,” kata Leahy.
Pancasila “Alutsista asli bangsa Indonesia”
Kalau rakyat Indonesia JELI melihat tahun tahun di atas 1345,1545 dan Saat Proklamasi 1945 adalah: Tonggak waktu KEMULIAN Pancasila.
Dan dengan adanya semacam keteraturan waktu yaitu 1345, 1545 dan 1945 maka hal itu dapat memandu kita untuk menggunakan tahun 2045 sebagai tonggak (milestone) sejarah kiprah Pancasila dimasa depan. MUNGKIN pada tahun 2045 Pancasila sudah dijadikan FALSAFAH Internasional dan banyak diikuti negara negara di dunia.
Dan akan IRONI kalau kita bangsa Indonesia asli malah terkikis jiwa pancasilanya. Ini saya peringatkan kembali seperti yang sering saya tulis bahwa Sejak kemunduran reformasi telah terjadi PENJAJAHAN PUTIH dan kita telah mengetahui bahwa warga negara Indonesia telah dijadikan sasaran bagi penggalangan ideologi-ideologi asing yang ingin menggantikan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai falsafah bangsa dalam kehidupan bermasyarakat.
Banyak putera-puteri Indonesia secara TIDAK SADAR yang digalang oleh kekuatan asing kemudian mendatangkan bencana terhadap tanah airnya sendiri.
Singkatnya mereka menyangka bahwa mengawinkan Pancasila dengan Ideologi asing akan dapat membawa kemajuan bagi bangsa Indonesia. Mereka menyangka telah berhasil memodernisir Indonesia, padahal justru hanya membuat dan menambah kedangkalan Ideologi bernegara (Pancasila), membelokkan kiblat masyarakat Indonesia, menanam bom waktu dalam diri generasi muda dan (secara perlahan namun pasti) menghilangkan potensinya.
Mereka telah terperangkap oleh jaring-jaring intelijen lawan. Dengan sukarela ataupun terpaksa, telah menjadi boneka dari penggalangannya dan secara tidak langsung akan mendatangkan bencana di tanah airnya.
Maka saya sebagai rakyat yang ingin Indonesia Jaya ingin menitipkan “Alutsita Asli Bangsa Indonesia” kepada para capres agar dijaga, dipakai, dilestarikan dan diBUDAYAKAN  kembali dalam program pemerintahannya ke depan, atau kami rakyat Indonesia tidak memilih anda.

jakarta greater