Pages

Tuesday, 3 June 2014

10 "Pelajaran" dari Edward Snowden...


David Paul Morris/Bloomberg Edward Snowden melakukan telekonferensi dari Rusia kepada hadirin acara South by Southwest (SXSW) 2014 di Austin, Texas.
 
  — Apa julukan yang tepat untuk Edward Snowden, mantan kontraktor Badan Keamanan Nasional (NSA) Amerika Serikat yang mengungkap praktik Pemerintah Amerika memata-matai warga negaranya, negara lain, dan tokoh internasional? Pengkhianat atau pahlawan? Analis sistem kelas rendah atau malah mata-mata yang terlatih?

Mempermalukan para petinggi pemerintahan Amerika dan kemudian berhadapan dengan tuduhan spionase, Snowden menggambarkan dirinya sendiri dalam sebuah wawancara di NBC, yang tayang pada Rabu (28/5/2014). Dia berkeyakinan bahwa langkahnya membuka dokumen praktik intelijen Pemerintah Amerika Serikat tersebut sebagai tindakan benar.

Wawancara dilakukan jarak jauh dengan Snowden berada di sebuah hotel di Moskwa, Rusia. Meski beberapa kali melakukan wawancara serupa, Snowden baru kali ini tampil di jaringan televisi yang berbasis di Amerika Serikat.

Berikut ini adalah 10 poin penting dari wawancara dengan mantan kontraktor NSA berusia 30 tahun tersebut sebagaimana dikutip dari CNN.

1. Arti pahlawan menurut Snowden

"Menjadi pahlawan bukan berarti memberikan prioritas layanan kepada pemerintah di atas segalanya," kata Snowden.

"Menjadi pahlawan adalah tahu kapan harus melindungi negara Anda, tahu kapan harus melindungi konstitusi Anda, tahu kapan harus melindungi semua warga negara Anda, dari pelanggaran dan gangguan musuh. Lawan yang dihadapi juga tidak harus negara lain."

Jawaban ini merupakan tanggapan tajam atas pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry yang lebih dulu bicara di NBC pada Rabu pagi.

Kerry menyatakan dalam wawancara itu, "Pahlawan tidak kabur ke Rusia. Mereka tidak mencari suaka ke Kuba. Mereka tidak mencari suaka ke Venezuela. Mereka berjuang di sini."

Dalam wawancara soal Snowden tersebut, Kerry menyebut mantan kontraktor NSA itu sebagai pengecut. "Dia adalah pengkhianat. Dia mengkhianati negaranya."

2. Snowden mengatakan dia dilatih sebagai mata-mata

Presiden AS Barack Obama pada tahun lalu menyebut Snowden sebagai peretas. Pejabat lain di pemerintahan Obama menyebut Snowden sebagai analis rendahan. "Itu menyesatkan," kata Snowden.

"Saya dilatih sebagai mata-mata dalam semacam pengertian kata itu secara tradisional," ujar Snowden. "Kadang aku bekerja menyamar di luar negeri, berpura-pura bekerja di bidang selain pekerjaan saya, bahkan menggunakan nama orang lain."

Menurut Snowden, pemerintahnya bisa jadi sekarang membantah hal tersebut. "Mereka mungkin membingkainya dengan cara tertentu, seperti "Oh, Anda tahu, dia cuma analis rendahan".

3. Rusia bukan tempat tujuan Snowden
Snowden mengaku dia sendiri pun terkejut sekarang "terdampar" di Rusia. "Saya tak pernah berniat berakhir di Rusia," kata dia. Snowden mengakui rencananya adalah pergi ke Kuba lalu ke kawasan Amerika Latin.

Namun, kata Snowden, perjalanannya dari Hongkong dicegat Pemerintah Amerika Serikat. Pencegatan dilakukan dengan pencabutan paspor yang membuatnya terjebak di Bandara di Moskwa.

Selama tinggal di Rusia, Snowden mengakui ada kesenjangan budaya tetapi dia bisa menyesuaikan diri. "Aku bisa beradaptasi," kata dia.

Menurut Snowden, gaya hidupnya pun tak banyak berbeda dengan saat tinggal di Amerika. "Inilah indahnya internet. Kita tak lagi terikat dengan masyarakat dalam koneksi fisik."

4. The Wire, tontonan waktu luang Snowden

Untuk mengisi waktu luang, Snowden mengaku menonton serial lama The Wire. "Aku benar-benar menikmatinya." Namun, menurut dia, season 2 dari serial itu tak terlalu hebat.

5. Snowden tak suka dengan beberapa kebijakan Rusia

Meski tinggal dan mendapat izin dari Pemerintah Rusia, Snowden mengaku tak punya hubungan khusus dengan pemerintah Vladimir Putin. Dia juga mengaku tak suka dengan beberapa kebijakan Rusia.

"Kadang-kadang membuat frustrasi menjadi seseorang yang bekerja keras memperluas domain hak dan privasi perorangan tetapi kemudian terjebak di tempat yang menentang hak-hak itu dengan cara yang menurut saya sangat tidak adil."

Snowden memberi contoh hukum di Rusia yang tak dimengertinya adalah aturan baru yang mengharuskan bloger untuk mendaftarkan diri. "Apa dasar hukum untuk itu? Pemerintah seharusnya tidak mengatur kebebasan pers."

Menurut Snowden ada banyak hal yang karenanya ingin dia lakukan di Rusia. Namun, kendala bahasa membatasinya. "Ini terasa mengisolasi dan membuat frustrasi."

6. Mata-mata hanya butuh telepon genggam

Snowden mengatakan, seorang agen mata-mata Amerika Serikat dan negara lain hanya butuh sebuah telepon genggam untuk tahu banyak tentang seseorang bila memang menginginkannya.

"NSA, dinas intelijen Rusia, dinas intelijen China, setiap dinas intelijen di dunia yang memiliki dana yang signifikan dan tim riset yang ditunjang teknologi dapat masuk ke jaringan mana pun dalam hitungan menit."

Bahkan, kata Snowden, dinas intelijen itu bisa mengaktifkan telepon di mana pun dari jarak jauh. Menurut dia, aktivitas seseorang mencari informasi lewan mesin pencarian Google dapat mengungkapkan banyak hal.

Informasi yang bisa didapat dari aktivitas "googling" itu, sebut Snowden, mulai dari kewarganegaraan, bahasa yang dipakai, lokasi, pola hidup, aktivitas harian, jadwal harian, jumlah telepon genggam yang dimiliki, hingga relasi selingkuh.

7. Arti rumah bagi Snowden

"Jika aku bisa bepergian ke mana pun di seluruh dunia, tempat itu akan menjadi 'rumah'," kata Snowden. Ketika ditanya lokasi yang benar-benar bisa dia sebut sebagai "rumah", Snowden justru menjawab dengan serangkaian pertanyaan retoris.

"Apa yang tidak saya rindukan? Apa yang akan Anda rindukan? Apa tidak akan Anda rindukan?" sebut Snowden. "Saya merindukan keluarga saya. Saya merindukan rumah saya. Saya merindukan teman-teman saya. Saya rindu pekerjaan saya."

8 . Kenapa Snowden tidak kembali ke Amerika?

Saat ditanya tentang alasannya tak kembali saja ke Amerika untuk menghadapi tuduhan yang dikenakan padanya, Snowden berkomentar pertanyaan itu wajar tetapi bodoh.

Menurut Snowden, dia didakwa menggunakan Undang-undang Spionase. Dengan delik itu, dia mengatakan tak bakal punya kesempatan untuk melakukan pembelaan publik atas kasusnya.

"Anda tidak diizinkan untuk berdebat berdasarkan semua bukti untuk mendukung Anda karena bukti tersebut masuk klasifikasi rahasia."

"Bila seseorang bertanya, 'Mengapa Anda tidak menghadapi tuntutan itu?', saya akan berkata 'Anda harus memahami bahwa tuntutan ini bukan diajukan di pengadilan terbuka dengan peradilan yang adil'," papar dia.

9. Snowden membocorkan rahasia karena sudah tak ada pilihan lain

"Situasi yang ada memaksa bahwa dokumen tersebut harus diberitahukan ke publik," kata Snowden. "Konstitusi Amerika Serikat sudah dilanggar dan dalam skala besar."

Pemerintah Amerika Serikat telah menggunakan dalih ancaman terorisme untuk pembenar bagi program yang membuat kita aman tetapi harus dibayar dengan kebebasan, harga yang tak seharusnya dibayarkan untuk itu.

10. Sudah berupaya dulu memakai jalur resmi

Sebelum akhirnya memilih mengungkapkan dokumen NSA kepada publik, Snowden mengaku sudah berupaya menempuh jalur resmi untuk menghentikan program pengawasan bekas institusinya tersebut.

"Saya melaporkan ada masalah nyata dengan cara NSA menafsirkan otoritas hukumnya," kata Snowden. "Responsnya, dalam bahasa birokrasi kurang lebih, 'Anda harus berhenti bertanya'," ujar dia.

kompas

Jet Tempur Se-Indonesia Kumpul di Juanda


SHOW OF FORCE: Belasan jet tempur TNI-AU bersiaga di Bandara Juanda Surabaya menjelang latihan gabungan TNI pada 1–5 Juni. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)
SHOW OF FORCE: Belasan jet tempur TNI-AU bersiaga di Bandara Juanda Surabaya menjelang latihan gabungan TNI pada 1–5 Juni. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)



SURABAYA – Kesibukan area parkir Base Ops Pangkalan Udara TNI-AL (Lanudal) Juanda meningkat pesat Jumat (30/5). Belasan pesawat tempur TNI-AU itu berkumpul di Juanda dalam rangka persiapan latihan gabungan TNI di perairan utara Situbondo hingga selatan Selat Bali pada 1–5 Juni nanti.
Berdasar pantauan Jawa Pos, jet tempur itu didominasi pesawat serang ringan T-50 tipe i produksi 2005–2009 dari Korea Selatan. Jumlahnya 12 unit.
Empat helikopter sarpur (misi pencarian dan penyelamatan tempur) MBB Bo 155 turut disiagakan. Tidak tertinggal dua pesawat tempur multiperan F-5 dan satu Hercules Lockheed C-130. Dua jenis pesawat tersebut diproduksi Amerika Serikat pada awal 2000.
Menurut Komandan Pangkalan Udara TNI-AU Surabaya Kolonel (Pnb) Mujianto, sebagian pesawat tempur tersebut berdatangan mulai 23 Mei lalu dari sejumlah lanud. ”Terutama dari Pangkalan Udara Utama (Lanuma) Hasanuddin Makassar selaku pusat komando operasi angkatan udara II,” ujarnya di sela-sela acara Static Show, pengenalan matra udara, di Base Ops Lanudal Juanda kemarin.
Sebagian pesawat tempur lagi terbang dari Lanuma Iswahjudi Madiun dan Abdulrachman Saleh Malang. Sementara itu, Lanud Surabaya yang nebeng di kawasan Juanda menjadi pendukung latgab TNI unsur kekuatan udara.
Dalam latgab yang rencananya ditonton Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pesawat-pesawat tersebut mem-back up kapal perang RI (KRI) yang melepaskan tembakan rudal maupun mendaratkan pasukan amfibi.
Dari Situbondo dikabarkan, Panglima Komando Tugas Darat (Pangkogasrat) Latgab TNI 2014 Mayjen TNI Fransen Siahaan menjelaskan bahwa kegiatan spiritual dilakukan prajurit unsur darat dengan kegiatan doa bersama masyarakat sekitar dan ulama. ”Kami semalam mengadakan kegiatan doa bersama dipimpin kiai yang santrinya 20.000-an orang,” kata jenderal berbintang dua itu.
Menurut dia, pada latihan gabungan yang dipimpin Direktur Latihan Letjen TNI Lodewijk F. Paulus itu, banyak manuver yang akan dilakukan prajurit, baik yang menggunakan alat utama sistem persenjataan maupun pasukan infanteri yang melakukan serangan dengan berjalan kaki. ”Dengan persiapan dari segala aspek, diharapkan latihan yang melibatkan belasan ribu prajurit ini berjalan sesuai dengan rencana,” ujarnya.
Sementara itu, dalam latgab, disimulasikan bahwa musuh akan diserang dengan melibatkan berbagai kekuatan TNI. Mulai kapal perang, pesawat tempur, kekuatan meriam dari pasukan artileri, kekuatan tank kavaleri, hingga helikopter serbu maupun yang mengangkut pasukan.
Latgab TNI 2014 yang melibatkan 15.108 prajurit dari TNI-AD, TNI-AL, dan TNI-AU serta sejumlah alutsista. Latihan dilaksanakan mulai 1 hingga 5 Juni 2014 di perairan di Jawa Timur dan Bali, yang puncaknya akan dilaksanakan di Asembagus, Situbondo, 4 Juni 2014. ”Latgab TNI yang dilaksanakan di Asembagus ini untuk menguji doktrin TNI, yakni kampanye militer,” kata Lodewijk yang juga komandan Komando Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI Angkatan Darat itu. (sep/c10/kim)

JPNN 

Indonesia Negara Maritim, tapi Minim Wawasan Bahari


Indonesia Negara Maritim, tapi Minim Wawasan Bahari
Ilustrasi nelayan melaut pada saat cuaca buruk. ANTARA/Dedhez Anggara
  
Jakarta - Indonesia punya potensi sumber daya laut yang luar biasa. "Jika dikalkulasi dan diolah secara maksimal, maka kekayaan laut Indonesia bisa menyumbang pendapatan sebesar US$ 1,2 triliun," kata Suseno, Kepala Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan, di Universitas Indonesia pada Jumat, 30 Mei 2014.


Kekayaan laut Indonesia, kata Suseno, bisa dipetakan dari beberapa sumber, yakni migas, wisata bahari, dan komoditas perikanan. "Dari sektor cadangan migas saja, 70 persen atau sebesar 9,1 miliar barel terdapat di laut," kata dia.

Selain itu, kata Suseno, potensi sumber daya laut Indonesia tidak hanya datang dari kekayaan alam, tetapi juga bisa datang dari inovasi teknologi berbasis kelautan. "Ada contoh inovasi menarik di Bali, yaitu air mineral disuling dari kedalaman 60 meter di bawah permukaan laut dan dijual US$ 100 per botol," ungkapnya.

Namun, pemerintah mengakui semua potensi tersebut belum memberikan kontribusi maksimal bagi perekonomian nasional. "Indonesia sering lengah mengawasi kekayaan lautnya sehingga kerap dimanfaatkan negara tetangga," ujar Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sjarief Hidayat.

Ia mencontohkan perairan Indonesia cocok sebagai tempat perkembangbiakan ikan tuna karena pertemuan dua arus samudera. Namun, setelah mencapai ukuran proporsional, ikan tuna tersebut malah ditangkap nelayan asing karena minimnya pengetahuan nelayan Indonesia soal musim tangkap ikan.

"Contoh lain lemahnya pengetahuan bahari di bidang tata ruang laut. Misalnya, Singapura menarik kabel fiber optic bawah laut ke Australia. Apakah mereka sudah minta izin ke pemerintah Indonesia?" ujar Sjarief. Kasus tata ruang kelautan itu, katanya, membuktikan Indonesia belum punya wawasan bahari yang mumpuni.

"Cina yang bukan negara maritim saja mengatur secara ketat tiap jengkal kawasan laut dan pesisirnya sehingga potensi lautnya sanggup menopang perekonomian dan menjadi bukti penguasaan bahari yang kuat," katanya.

Tempo