Pages

Monday, 4 August 2014

Israel yang Bunuh Ratusan Orang, AS Justru Sebut Hamas Barbar

Hamas
Hamas

GAZA — Amerika Serikat menuding Hamas telah melanggar perjanjian gencatan senjata dengan Israel yang disepakati terjadi selama 72 jam hingga Sabtu (2/8) ini. Hal tersebut merujuk pada penyergapan di wilayah Rafah kemarin yang menewaskan dua orang tentara Israel dan satu komandan perang mereka Letnan Hadar Goldin disekap oleh Hamas.

Washington menuduh Hamas melakukan aksi barbar dengan tidak mengindahkan gencatan senjata yang sudah disepakati. Komitmen Hamas dalam gencatan senjata yang ikut dimediasi oleh Turki, Qatar, dan AS serta PBB ini pun dipertanyakan.

Namun, Hamas balik menuding Israel sebagai pemicu keruntuhan gencatan senjata itu. Pasalnya, militer Israel disebut telah melakukan penyerangan ke terowongan Hamas yang menyebabkan terjadinya pernyergapan oleh Qassam Brigades.

Dikutip dari Reuters, Sayap bersenjata Hamas ini akhirnya harus membunuh dua tentara Israel dan menyekap komandan mereka, Letnan Goldin. Tetapi Hamas sendiri tidak mengetahui seperti apa keadaan Goldin saat ini.

“Kami tidak memiliki informasi pada saat ini tentang tentara (Goldin) yang disebutkan hilang itu, apakah dia masih hidup atau tidak,” demikian pernyataan korps Qassam yang dinukil dari reuters Sabtu.

Di sisi lain, Israel melalui siaran radio mereka menyebut Qassam terakhir terlihat berada di tengah jasad dua tentara yang tewas dalam penyergapan yang dilakukan oleh Hamas. Namun, pihak Israel sendiri tidak yakin apakah Goldin masih hidup atau ikut tewas.

Sebelumnya, Israel merespons keras penyergapan yang dilakukan oleh Hamas di Rafah kemarin. Membabi buta, militer Israel menyerang wilayah yang diduga merupakan tempat persembunyian Hamas. Sebanyak 150 orang Palestina tewas akibat serangan brutal Israel ini.

REPUBLIKA

"Libya sekarang lebih buruk dari pada masa Gaddafi"

Bangkai pesawat yang terbakar terlihat usai terjadi serangan di Bandara Internasional Tripoli, Libya, Senin (21/7).
 
Piraeus, Yunani  - Libya mengalami perang saudara yang "jauh lebih buruk" daripada kerusuhan yang menggulingkan diktator Moamer Gaddafi pada tahun 2011, kata penduduk yang melarikan diri dari negara itu, Sabtu.

"Kami telah melalui (perang) sebelumnya, dengan Gaddafi, tetapi sekarang itu jauh lebih buruk," kata Paraskevi Athineou, seorang wanita Yunani yang tinggal di Libya, kepada AFP.

"Tidak ada pemerintah, kami tidak punya makanan, tidak ada bahan bakar, tidak ada air, tidak ada listrik selama berjam-jam," katanya.

Athineou salah satu dari 186 orang yang dievakuasi dari Tripoli oleh kapal angkatan laut Yunani dan mencapai pelabuhan Piraeus Sabtu pagi.

Selain 77 warga negara Yunani, ada 78 warga Tiongkok, 10 orang Inggris, 12 Siprus, tujuh Belgia, satu Albania dan Rusia.

Di antara mereka adalah beberapa diplomat, termasuk duta besar Tiongkok untuk Libya.

Libya telah menderita ketidakamanan kronis sejak penggulingan Gaddafi pada tahun 2011, dengan pemerintah baru tidak dapat mengendalikan milisi yang membantu untuk menyingkirkannya dan

menghadapi ancaman dari kelompok-kelompok Islam.

"Begitu banyak orang mati untuk membuat negara ini lebih baik. Tetapi sekarang kami mulai membunuh satu sama lain dalam perang saudara," kata Osama Monsour, yang berpengalaman kerja 35 tahun pada organisasi non-pemerintah di Tripoli.

Pertempuran antara milisi-milisi yang bersaing di Tripoli telah memaksa penutupan bandara internasional kota itu, sementara kelompok-kelompok Islam juga memerangi pasukan khusus di kota timur Benghazi.

"Perang adalah di kota ... dan kita warga sipil berada di bawah tembakan dari kedua pihak," kata Athineou.

"Ini lebih buruk dari 2011," kata Ali Gariani, seorang Libya yang menikah dengan wanita Yunani.

"Waktu itu dibom oleh NATO. Tetapi sekarang kita sedang dibom oleh orang-orang Libya sendiri, dan ini benar-benar memalukan," katanya.

Antara

NATO tidak siap hadapi ancaman Rusia


rusia
Konflik di Ukraina, menurut laporan Komite Pertahanan, menjadi bukti ketidaksiapan NATO.
Kesiagaan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) amat lemah ketika salah satu negara anggotanya diserang Rusia, kata laporan Komite Pertahanan parlemen Inggris.
Komite yang beranggotakan sejumlah anggota Majelis Rendah parlemen Inggris tersebut merujuk konflik di Ukraina sebagai bukti kekurangan NATO.
‘Serangan non-konvensional Rusia, yang menggunakan taktik asimetris atau ‘peperangan ambigu—dirancang untuk menyelusup di bawah kesiagaan NATO. Hal ini sulit untuk dibalas.
‘Kejadian seperti di Ukraina tahun ini, lalu sebelumnya serangan siber di Estonia pada 2007, serta invasi Georgia pada 2008 adalah panggilan kepada NATO agar bangun dari tidur’, demikian petikan laporan itu.
Guna mengantisipasi serangan semacam itu di masa mendatang, laporan tersebut merekomendasikan penambahan pasukan NATO di negara-negara Balkan yang rentan, termasuk Estonia, Latvia, dan Lithuania.
Lalu, NATO disarankan menyiapkan pasukan khusus guna menghadapi serangan non-konvensional, termasuk serangan siber. NATO juga diminta mengadakan latihan dalam skala besar serta meningkatkan jumlah pasukan reaksi cepat secara signifikan.
“Risiko serangan Rusia ke salah satu negara anggota NATO, walaupun kecil, namun signifikan. Kami tidak yakin NATO siap atas ancaman ini. NATO terlalu santai menghadapi ancaman Rusia,” kata Rory Stewart, Ketua Komite Pertahanan dari Partai Konservatif.
Padahal, sambungnya, taktik Rusia berubah cepat, termasuk serangan siber, mendukung kelompok separatis, dan mengombinasikan warga sipil bersenjata dengan pasukan khusus tanpa emblem kesatuan.

Dikaji

Juru bicara NATO, Oana Lungescu, mengaku belum melihat laporan yang disusun Komite Pertahanan Majelis Rendah Inggris.
“Namun, kami akan mengkajinya secara seksama begitu laporan tersebut dipublikasikan. Pada Maret lalu, Sekretaris Jenderal NATO Anders Fogh Rasmussen menyatakan aksi militer Rusia di dan sekitar Ukraina merupakan panggilan bagi aliansi dan komunitas internasional.
nato
NATO diminta menggelar latihan besar-besaran secara rutin.

“Dia juga menekankan bahwa NATO harus beradaptasi dengan lingkungan keamanan yang berubah. NATO telah menempuh sejumlah langkah untuk menguatkan pertahanan kolektif, khususnya untuk sekutu kami di timur, dengan lebih banyak pesawat, kapal, dan latihan di darat,” ujar Lungescu.
NATO dibentuk pada 1949, empat tahun sesudah Perang Dunia Kedua berakhir. Berdasarkan Pasal 5 Traktat 1949, aliansi itu sepakat membantu pertahanan bila salah satu negara anggotanya diserang musuh.
Setelah Perang Dingin usai dan Uni Soviet bubar, NATO melebarkan sayap ke Eropa Timur. Anggota NATO kini mencakup Latvia, Lithuania, dan Estonia yang dulu menjadi bagian Uni Soviet dan Pakta Warsawa.

BBC