Pages

Monday, 25 August 2014

52 Tank Leopard Pesanan Indonesia Sudah Dikirim dari Jerman

Tank Leopard A4 dan Marder akan tiba di Tanjung Priok 28 Agustus 2014.


- Sebanyak 52 tank produksi Rheinmetall Jerman dijadwalkan tiba di pelabuhan Tanjung Priok pada 28 Agustus 2014. Tank yang dikirim, dengan perincian sebanyak 24 MBT Leopard A4 dan 28 Tank Marder.
Kedua jenis tank ini telah diberangkatkan sejak 31 Juli 2014 lalu, dengan kapal kargo berbendera Panama, Morning Celesta, dari pelabuhan Bremenhaven, Jerman.

Rencananya, setibanya di pelabuhan Tanjung Priok, tank-tank ini akan dipindahkan dari Morning Celesta ke kapal yang lebih kecil untuk dikirim ke Tanjung Perak Surabaya.
Tank-tank ini segera disiapkan untuk parade militer pada ulang Tahun TNI 5 Oktober mendatang di Surabaya.

Mengejar target parade militer, durasi pengerjaan tank tersebut dipercepat dari 12 bulan menjadi delapan bulan, sehingga sejumlah bagian dari tank ini belum usai dikerjakan. 

Atase Pertahanan KBRI Berlin, Kol. (Pnb) Samsul Rizal terus memonitor produksi dan pengiriman alutsista pesanan Kementrian Pertahanan tersebut. Dia mengatakan bahwa sistem komunikasi dan sistem pendingin 24 MBT Leopard akan dikerjakan di Indonesia.

"Pengerjaan tersebut sesuai dengan perjanjian ToT (Transfer of Technology) antara Indonesia dan pihak Rheinmetall," kata dia kepada VIVAnews di Jerman.
Menggandeng Rheinmetall, PT Pindad akan dilibatkan dalam melengkapi sistem pendingin dan sistem komunikasi tank tank tahap pertama ini.
(Miranti Hirschmann/Jerman/asp)


VIVA.co.id

Pindad dan Rheinmetall Akan Bangun Pabrik Amunisi Tank

Guna memenuhi permintaan sejumlah negara di wilayah Asia Pasifik.

Sebanyak 24 tank Leopard saat akan dikirim ke Indonesia
Sebanyak 24 tank Leopard saat akan dikirim ke Indonesia (Miranti Hirschmann/ Jerman)
- Rheinmetall Denel Munition (RDM) dan PT Pindad menandatangani sebuah perjanjian kerja sama (memorandum of understanding/MoU), guna membangun kemampuan industri pertahanan dalam negeri.

Rheinmetall dan PT Pindad membentuk sebuah joint venture (usaha patungan) pada 2015, dengan fasilias di atas lahan seluas 168 hektare di daerah Malang, Jawa Timur, untuk mengembangkan pabrik amunisi kaliber besar.

Pabrik ini akan memproduksi amunisi tank Leopard dalam kisaran 30 hingga 105 milimeter yang diperuntukkan bagi TNI dan untuk memenuhi permintaan sejumlah negara di wilayah Asia Pasifik.

Harald Westermann, Direktur Rheinmetall Landsystem GmbH, mengatakan bahwa Rheinmetall tertarik melakukan kerja sama jangka panjang dengan Indonesia, guna meningkatkan teknik industri pertahanan dalam negeri.

"Indonesia merupakan pasar strategis bagi kami di masa mendatang. Kami akan men-support tank buatan kami selama 25 hingga 30 tahun. Bila pihak Indonesia meminta support lebih lama lagi, tentu akan kami lakukan," ujarnya.

Saat upacara rollout MBT Leopard dan Marder di Unterluss Jerman, beberapa waktu lalu, Direktur PT Pindad Sudirman Said, menegaskan bahwa yang sifatnya jangka panjang, Pindad juga akan mengembangakn produk lokal lain bersama Rheinmetall.

Sementara itu, terkait dengan pengadaan 180 unit tank Leopard dan Marder, produk Rheinmetall, Pindad juga dilibatkan dalam pemasangan sejumlah bagian tank. Seperti sistem komunikasi dan sistem pendingin. Hal ini merupakan keuntungan tersendiri sebagai transfer teknologi.

Seperti diketahui, sebanyak 52 tank yang terdiri dari 24 MBT Leopard A4 dan 28 Tank Marder, sudah diberangkatkan sejak 31 Juli 2014 lalu dengan kapal kargo berbendera Panama, Morning Celesta, dari pelabuhan Bremenhaven, Jerman.

Tank-tank itu dijadwalkan tiba di pelabuhan Tanjung Priok pada 28 Agustus 2014. Rencananya, setibanya di pelabuhan Tanjung Priok, tank-tank ini akan dipindahkan dari Morning Celesta ke kapal yang lebih kecil untuk dikirim ke Tanjung Perak Surabaya. Tank-tank ini segera disiapkan untuk parade militer pada ulang Tahun TNI 5 Oktober mendatang di Surabaya, Jawa Timur.

(Miranti Hirschmann/Jerman/asp)


 VIVA.co.id

Eropa Usulkan Misi PBB ke Gaza

Jerman, Perancis dan Inggris mengusulkan misi perdamaian PBB ke Gaza untuk mengakhiri perang. Sementara Israel menyiapkan operasi darat baru dan memanggil 10.000 tentara cadangan.
Tiga negara Eropa, Jerman, Perancis dan Inggris mengajukan rancangan resolusi dengan misi pengamatan PBB ke Jalur Gaza. Rancangan resolusi itu kini sedang dibicarakan kalangan diplomat di Dewan Keamanan PBB.
Prakarsa Eropa tersebut awalnya diberitakan oleh harian Israel Haaretz. Namun belum ada reaksi dari pihak-pihak yang bersengketa.
Resolusi yang diajukan ketiga negara Eropa itu antara lain menuntut pembukaan lalu lintas perbatasan di Jalur Gaza, dengan kontrol ketat terhadap barang-barang yang masuk, untuk mencegah pemasokan senjata bagi kelompok Hamas.
Uni Eropa menyatakan akan memperluas partisipasinya di Jalur Gaza demi memenuhi tuntutan resolusi. Misi PBB yang diusulkan untuk Gaza adalah misi pengamatan politik, jadi bukan pengiriman pasukan perdamaian.
Masih belum jelas, kapan rancangan resolusi itu akan dibahas oleh Dewan Keamanan. Selain usulan Uni Eropa, ada juga rancangan resolusi yang diajukan oleh Yordania untuk gencatan senjata.

Operasi darat baru?
Israel mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan eskalasi baru konflik di Gaza dan memanggil 10.000 pasukan cadangan. Kalangan pengamat menilai, langkah ini adalah persiapan untuk operasi darat baru.
Angkatan udara Israel terus melakukan serangan ke kawasan Palestina sepanjang Kamis malam (21/08). Menurut keterangan militer, sepuluh sasaran di Jalur Gaza menjadi target serangan. Hari Jumat pagi, militan Palestina kembali menembakkan roket ke beberapa kota di Israel selatan.
Kelompok Palestina mengumumkan akan melakukan langkah balasan terhadap pembunuhan tiga komandan Hamas oleh serangan udara Israel.
Sayap militer Hamas, Brigade Kassam, menyatakan akan meneruskan perlawanan. "Pembunuhan para pemimpin tidak akan melemahkan kami", demikian disebutkan dalam sebuah pernyataan.
Menteri Pertahanan Israel Moshe Yaalon menerangkan, ketiga komandan Hamas yang terbunuh bertanggung jawab atas "serangan-serangan berat terhadap warga sipil dan tentara" Israel. Mereka juga terlibat dalam penculikan serdadu Israel Gilad Shalit tahun 2006.
Sejak operasi militer Israel dimulai 8 Juli lalu, lebih 2000 warga Palestina tewas, sekitar 10.000 orang dilaporkan luka-luka. Di pihak Israel, 64 serdadu dan tiga warga sipil tewas.

 DW