Pages

Monday, 25 August 2014

SKADRON UDARA 1 SELESAIKAN LATMA ELANG MALINDO


Pesawat Hawk 100/200 dari Skadron Udara 1 berhasil menyelesaikan latihan bersama Elang Malindo XXV yang dipimpin langsung oleh Komandan Skadron Udara 1 Letkol Pnb Sidiq.
Kembalinya para ksatria khatulistiwa di Skadron Udara 1, (22/8) disambut langsung oleh Komandan Lanud Supadio Kolonel Pnb Tedi Rizalihadi, ST, Kadispers Lanud Supadio, Kadislog Lanud Supadio beserta para pejabat di lingkungan Lanud Supadio dan seluruh anggota Skadron Udara 1.
Dalam kesempatan tersebut Danlanud juga menyampaikan rasa syukur dan terimakasih kepada seluruh awak yang bisa menyelesaikan latihan dengan baik terlebih semua bisa kembali dengan selamat dengan membawa nama baik bangsa Indonesia.
Selain itu banyak manfaat yang didapat dengan adanya latihan – latihan semacam ini, selain bisa menjadi nilai lebih untuk meningkatkan kemampuan personel juga lebih mempererat hubungan dan kerja sama antara kedua Negara yang sudah lama terjalin.
Dalam latihan tersebut dilaksanakan berbagai latihan, mulai dari pesawat Super Puma NAS 332 melaksanakan droping pasukan ke Penor dilanjutkan delapan pesawat Hawk 100/200 TNI AU dan TUDM melaksanakan pengeboman di wilayah Penor. Setelah kegiatan tersebut dilanjutkan CN 295 mendroping 10 personel yang terdiri dari Paskhas TNI AU dan Paskau TUDM.

TNI AU

US Navy akan Uji Coba Senjata Laser untuk Hadapi Drone

Senjata laser kompak namun powerfull yang dikembangkan oleh Raytheon akan segera diintegrasikan pada kendaraan High Mobility Multipurpose Wheeled Vehicle (HMMWV), untuk mendemonstrasikan kemampuannya dalam mengalahkan drone, dan juga sebagai bagian dari upaya peningkatan kemampuan pertahanan udara Korps Marinir AS.
Laser Raytheon pada HMMWV

Kantor Penelitian Angkatan Laut AS (ONR-US Navy) sebelumnya telah menggelontorkan dana sebesar USD 11 juta kepada Raytheon untuk mengintegrasikan sistem senjata laser taktis menjadi senjata laser yang berbasis kendaraan, yang mampu mengalahkan ancaman terbang yang rendah seperti drone. Demonstrasi di lapangan yang rencananya akan dilaksanakan oleh ONR dan Raytheon akan mengintegrasikan sistem senjata laser jarak pendek pada kendaraan HMMWV (HMMWV sering juga disebut dengan Humvee).

Ketika proses pengintegrasian sudah rampung, rencananya di masa depan sistem laser ini akan disebarkan pada kendaraan Joint Light Tactical Vehicle (JLTV). Beberapa komponen dari sistem telah diuji coba di bawah program ‘Ground Based Air Defense (GBAD) Directed Energy On-the-Move Future Naval Capabilities,’ yang mendemonstrasikan fungsi deteksi dan kontrol tembak, dengan compact phased array radar yang mampu mendeteksi dan melacak drone dari semua ukuran.

Selanjutnya, para peneliti akan menguji seluruh sistem laser terhadap target dengan menggunakan laser 10kw, sebagai batu loncatan untuk laser 30kw. Pihak Raytheon sendiri berjanji akan menyediakan senjata laser dengan daya output minimal 25kw. Menurut ONR, sistem laser 30kw diharapkan akan siap pengujian lapangan pada tahun 2016. Pengujian ini akan mengevalusi proses intersep secara lengkap, mulai dari deteksi dan pelacakan hingga penembakan, tingkat kehancuran pertempuran, dan semua hal berbasis sensor dan efektor yang terintegrasi pada kendaraan.

Phalanx Laser Raytheon
"Solusi laser Raytheon akan menghasilkan out put daya tinggi namun dari sistem yang kecil dan ringan, cocok untuk platform mobile," kata Bill Hart, wakil presiden Raytheon Space Systems dikutip dari laman resmi Raytheon.

Dengan banyaknya dan semakin canggihnya drone saat ini, Korps Marinir AS mengharapkan sistem laser mobile ini akan semakin meningkatkan kemampuan bertahan dari musuh yang mencoba melakukan pengintaian, pengawasan dan serangan udara dengan menggunakan drone.

Raytheon adalah perusahaan industri dan kontraktor pertahanan utama Amerika Serikat yang berkonsentrasi pada pengembangan dan produksi peralatan dan senjata militer, dan elektronik komersial. Lebih dari 90 persen pendapatan Raytheon didapatkan melalui kontrak pertahanan. Raytheon juga merupakan produsen rudal terbesar di dunia.


Altileri

14 KRI meriahkan puncak Sail Raja Ampat

14 KRI meriahkan puncak Sail Raja Ampat
Parade kapal perang saat pembukaan acara puncak Sail Raja Ampat 2014 di Pantai Waisai Torang Cinta (WTC), Raja Ampat, Papua Barat, Sabtu (23/8). Acara puncak Sail Raja Ampat 2014 yang dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut dimeriahkan dengan atraksi terjun payung, parade Kapal Perang dan sejumlah tarian tradisional. 
 
Waisai, Raja Ampat  - Sebanyak 14 Kapal Republik Indonesia (KRI) dari Komando Armada Laut Timur ikut memeriahkan acara puncak Sail Raja Ampat 2014 di Pantai Waisai Torang Cinta (WTC) yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Sabtu.

Kapal-kapal perang milik TNI Angkatan Laut itu memimpin parade sailing pass, disaksikan Presiden Yudhoyono, sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, tamu undangan dan masyarakat Raja Ampat.

KRI yang mengikuti sailing pass antara lain KRI Ahmad Yani, KRI Yos Sudarso, KRI Sultan Hasanuddin, KRI Keris, KRI Rencong, KRI Kakap, KRI Tongkol, KRI Sampari, KRI Sembilang, KRI Pari, KRI Piton, KRI Kalakai, KRI dr Suharso dan KRI Surabaya.

Selain KRI, sailing pass juga diikuti beberapa kapal lain seperti Kapal SAR milik Basarnas, KM Singa Laut dan KM Kuda Laut milik Bakorkamla, KP Cucak Rawa milik Polair, KM Sabuk Nusantara milik Dirjen Hubla dan beberapa kapal lain, serta kapal perang dari Angkatan Laut Amerika Serikat, Australia dan Singapura.

Dalam sambutannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengucapkan terima kasih kepada para peserta dan negara-negara sahabat yang hadir dalam Sail Raja Ampat 2014.

"Indonesia Indah, Papua Indah. Silakan datang lagi," kata Presiden Yudhoyono.

Presiden mengatakan dengan Sail Raja Ampat Indonesia ingin mengampanyekan semangat persatuan sebagai warga dunia dan penghuni bumi, serta keamanan dunia.

Sail Raja Ampat 2014 akan menjadi acara tahunan Sail Indonesia yang keenam sekaligus terakhir yang dibuka oleh Presiden Yudhoyono sebelum mengakhiri masa jabatannya Oktober mendatang.

Sebelumnya, Presiden Yudhoyono membuka Sail Bunaken 2009, Sail Banda 2010, Sail Wakatobi-Belitong 2011, Sail Morotai 2012 dan Sail Komodo 2013.

Antara