KORMAR (8/9),- Komandan Pasmar-1 Brigadir Jenderal TNI
(Mar) Kasirun Situmorang melepas keberangkatan prajuritnya ke Batalyon
Infanteri-10 Marinir di dermaga Koarmatim Ujung, Surabaya, Minggu (07/9).
Sedikitnya 291 prajurit dari Brigif-1 Marinir, Menbanpur-1
Marinir, Menkav-1 Marinir, dan Menart-1 Marinir dengan pimpinan Kapten Marinir
Novri G. Kaloh, berangkat mutasi ke Yonif-10 Marinir Setoko, Batam, dengan
menggunakan KRI Teluk Hading-538.
Dalam arahannya,
Danpasmar-1 menyampaikan, bahwa tugas yang akan dilaksanakan tersebut merupakan
amanah dari seluruh rakyat Indonesia, yaitu menjaga kedaulatan dan keutuhan
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sebelum
mengakhiri arahannya, orang nomor satu di jajaran Pasmar-1 itu berpesan kepada
seluruh prajurit yang akan berangkat ke Yonif-10 Marinir, agar selalu menjalin
komunikasi dengan keluarga, membentengi diri dengan keimanan dan ketakwaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa, meningkatkan komunikasi dan hubungan dengan warga
masyarakat sekitar beserta aparat terkait (Instansi TNI dan Instansi
Pemerintah). Selain itu selalu meningkatkan kepekaan dan tanggap terhadap
aspirasi yang berkembang di wilayahnya masing-masing, menjaga keamanan personil
dan material terutama penyimpanan senjata, amonisi, dan Handak harus sesuai
dengan prosedur yang berlaku dan tidak melakukan tindakan serta perbuatan yang
dapat meresahkan masyarakat dan selalu menjaga nama baik Korps Marinir, TNI AL,
TNI, Bangsa dan Negara.
Usai memberikan
arahan. Komandan Pasmar-1 memberikan ucapan selamat jalan dan bertugas di
tempat yang baru diikuti para Asisten Pasmar-1 dan Pejabat Teras di jajaran
Pasmar-1.
|
Thursday, 11 September 2014
Komandan Pasmar-1 Lepas Keberangkatan Prajurit Yang Mutasi ke Yonif-10 Marinir
Ikut latihan perang di Hawaii, TNI AL buktikan tak kalah kelas
KRI Banda Aceh-593.
- Untuk pertama kalinya, Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut mengikuti latihan gabungan internasional yang digelar oleh Armada ke-3 US Navy. Latihan tersebut tergabung dalam bagian Satgas Rim of The Pacific (Rimpac) 2014 di Hawaii.
Total ada 49 kapal perang atas air, 6 kapal selam, 200 pesawat tempur, dan 25 ribu personel dari 23 negara mengikuti latihan Rimpac.
KRI Banda Aceh-593 milik TNI AK yang mengikuti latihan telah tiba di Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (2/9).
Latihan Bersama Multilateral RIMPAC 2014 merupakan latihan 2 tahunan yang dilakukan negara-negara Asia Pasifik. Ini akan jadi program latihan bersama antara TNI AL dengan US Pacifik Command (USPACOM).
"Ini merupakan latihan dua tahunan terbesar untuk kawasan Asia Pasifik, dan ini merupakan latihan militer yang pertama kali diikuti TNI AL," kata Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Didit Herdiyawan di Kolinlamil, Jakarta Utara, Selasa (2/9).
Didit menjelaskan, latihan yang digelar dari tanggal 26 Juni 2014 hingga 1 Agustus 2014 yang terbagi dalam 2 fase latihan yakni Harbour Phase di Marine Corps Base Hawaii dan US Naval Base Pearl Harbour, serta Sea Phase di perairan Oahu dan Samudra Pasifik.
Lanjut Didit, TNI AL sejak tahun 2008 telah mengirim perwakilannya dari Korps Marinir sebagai peserta. Namun baru pada tahun ini untuk pertama kalinya mengikuti Rimpac dengan mengirimkan sebuah Kapal Perang (KRI Banda Aceh 593) untuk berlatih. TNI AL juga menurunkan 1 Kompi Marinir 226 personel.
"Ini untuk meningkatkan kerja sama internasional serta memantapkan profesionalisme prajurit dihadapkan dengan tuntutan tugas, juga sebagai tolak ukur kemampuan masing-masing individu maupun kerja sama di bidang operasional," jelasnya.
"Pengiriman KRI Banda Aceh-593 berusaha mewujudkan TNI AL berkelas dunia atau World Class Navy. Sekaligus membuktikan kepada dunia bahwa TNI AL juga bisa mengirimkan kapal perang produksi dalam negeri yang kemampuannya dapat disejajarkan dengan kapal perang buatan asing," tandasnya.
Menurut Didit, tidak ada perbedaan yang mencolok dalam latihan gabungan internasional yang digelar oleh Armada ke-3 US Navy tersebut.
"Marinir AS dan disini (Indonesia) tidak ada bedanya, perbedaan kegiatan profesional tidak ada bedanya tapi dalam struktur ada bedanya," pungkasnya.
Merdeka
Presiden setuju ada penjara khusus napi teroris
Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono meninjau lokasi fasilitas deradikalisasi Badan
Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) di Kawasan Pusat Perdamaian dan
Keamanan Indonesia, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (8/9).
"Saya putuskan, idenya bagus, diperlukan, tetapi tempatnya dimana kita pikirkan nanti," katanya saat meninjau lokasi fasilitas deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) di Kawasan Pusat Perdamaian dan Keamanan Indonesia, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin.
Ia mengemukakan hal itu menanggapi keinginan Kepala BNPT Ansyaad Mbai mengenai perlunya penyediaan sel khusus untuk narapidana kasus terorisme karena ada kekhawatiran terjadi rekrutmen teroris di dalam penjara, yang sasarannya bukan hanya narapidana, tapi juga sipir.
Menurut Ansyaad, kepala lembaga masyarakat mengharapkan para narapidana kasus terorisme dipisahkan dari narapidana perkara laih.
Presiden menyatakan sepakat dengan ide pemisahan penempatan narapidana kasus terorisme di dalam penjara.
Namun ia tidak setuju kalau sel-sel untuk para narapidana kasus terorisme dibangun di Kawasan Pusat Perdamaian dan Keamanan Indonesia karena kawasan itu merupakan kawasan untuk pendidikan dan pelatihan untuk pasukan perdamaian maupun umum sehingga justru dapat menimbulkan kerawanan baru.
Presiden Yudhoyono meminta penjara khusus untuk narapidana kasus terorisme dibangun di tempat lain yang lebih aman dan tidak menimbulkan kerawanan baru.
Ia juga mengingatkan bahwa penjara itu nantinya tidak akan seperti Penjara Guantanamo, tempat Amerika Serikat memenjarakan para teroris.
"Kita jelas bukan seperti Guantanamo, jelas bukan sekali. Kita mendukung human rights (hak asasi manusia)," kata Presiden.
Saat memberikan penjelasan tentang fasilitas BNPT di Kawasan Pusat Perdamaian dan Keamanan Indonesia,
Ansyaad mengatakan bahwa ada 48 sel khusus untuk narapidana kasus terorisme dan setiap sel bisa diisi tiga narapidana.
Ia menjelaskan pula bahwa saat ini ada 28 lembaga pemasyarakatan yang menjadi tempat memenjarakan narapidana kasus terorisme.
Antara