Jakarta,-
Terbunuhnya lima wartawan Australia di Kota
Balibo, Timor Timur, telah mengganggu hubungan dua negara serta
mencoreng nama tentara Indonesia yang dikirim ke tempat konflik itu.
Pihak
Indonesia mengatakan kelima wartawan dari Australia, Inggris dan
Selandia Baru itu tewas setelah terjebak dalam pertempuran dua kubu yang
bertikai di Bumi Loro Sae tersebut.
Namun tahun 2007, tim forensik menemukan bahwa kelimanya tewas dieksekusi, bukan tidak sengaja tertembak.
Awal
pekan ini Kepolisian Federal Australia, AFP, menghentikan penyelidikan
karena kekurangan bukti, memicu kekecewaan dari banyak pihak, terutama
keluarga para wartawan yang terbunuh.
Mantan tentara Komando
Pasukan Khusus Kolonel (Purnawirawan) Gatot Purwanto, merupakan salah
satu tentara Indonesia yang bertugas di Bumi Loro Sae tersebut.
Pada
tahun 2009, Gatot mengakui kepada media Australia bahwa dia adalah
salah satu mantan tentara yang terlibat dalam pertempuran berdarah di
Balibo yang menewaskan lima wartawan.
Kepada CNN Indonesia pada
Rabu (22/10), Gatot menceritakan kembali pengalamannya menjadi mantan
perwira Komando Pasukan Sandi Yudha (kini Kopassus) dalam peristiwa yang
dikenal dengan nama "Balibo Five" itu.
Bisa diceritakan apa yang terjadi di Balibo tahun 1975?Sebagai
anggota Kopassus, saya ditugaskan ke daerah konflik. Kebetulan saya
termasuk salah satu orang pertama yang dikirim dalam pasukan tertutup
Kopassus, atau yang lebih dikenal dengan Tim Susi pada tahun 1975.
Saat itu, ada tiga tim kopassus yang dikirim ke sana, yaitu Susi, Tuti dan Umi.
Satu
tim Susi hanya berisi maksimal 64 orang. Tugas kami adalah mengumpulkan
informasi dan menyamar, tidak menggunakan nama asli.
Kami tidak
memakai seragam Kopassus, sehingga kami dikenal dengan nama pasukan
'blue jeans'. Kami juga tidak menggunakan nama asli kami. Saya kerap
dipanggil Aseng di sana. Waktu itu, saya menjabat sebagai perwira
komando yang paling muda.
Tim Susi ditugaskan sebagai motivator atau sukarelawan.
Kami tidak tahu ada orang asing di situ sebelumnya, apalagi wartawan. Mantan tentara Kopassus Kolonel (Purnawirawan), Gatot Purwanto.
|
Bersama pasukan UDT (Partai Persatuan Demokrat Timor Timur) UDT dan
APODETI (Asosiasi Demokrasi Populer Timor Timur), kami diperintahkan
untuk ikut membantu dalam pertempuran Balibo, total jumlah kami saat itu
sekitar 200 orang.
Menyerbu Balibo memang inisiatif dari pihak Indonesia, untuk membantu menguatkan garis pertahanan kita.
Ketika
baku tembak dengan pasukan pemberontak terjadi, masing-masing dari
kami, termasuk UDT dan APODETI memiliki senjata, sehingga setiap orang
bebas menembak ke mana saja ke arah garis pertahanan lawan.
Ketika
kemudian kami berhasil merebut ketinggian yang menjadi batas pertahanan
lawan, kami melihat di antara mayat tersebut ada orang bule.
Anda tahu mereka wartawan asing?Kami tidak tahu ada orang asing di situ sebelumnya, apalagi wartawan.
Berita yang beredar saat ini adalah kami (Kopassus) menembaki ratusan orang, termasuk para wartawan asing. Itu tidak benar.
Pertempuran di Balibo adalah upaya bela negara.
Dan seperti yang tadi saya katakan, Kopassus bersama dengan ratusan orang dan masing-masing memegang senjata.
Lalu kenapa hanya Kopassus yang disalahkan? Semua peluru dari semua senjata mungkin saja mengenai para wartawan asing itu.
Jadi
tidak ada maksud untuk membunuh para wartawan untuk menutupi apa yang
dilakukan Kopassus, seperti yang diceritakan film Balibo Five?Kami
saja tidak tahu ada wartawan, apalagi berniat membunuh mereka. Tidak
seperti film Balibo Five, namanya pertempuran ya tidak ada yang bisa
menembak jarak dekat seperti dalam film tersebut.
Memang,
setelah kami berhasil mencapai garis pertahanan lawan dan melihat
jenazah asing, para tentara kami menjarah beberapa mayat tersebut, jam
dan dompet.
Saya cuma dapat filmnya (kamera) salah satu wartawan. Saat itu orang-orang bilang saya bodoh, karena hanya dapat kamera.
Lalu, apa yang terekam oleh kamera tersebut? Ada foto-foto perang?Saya
tidak pernah membuka kamera yang bentuknya kotak kaleng itu. Saya tidak
mau tahu juga di dalamnya ada apa. Saat ini kameranya ada di rumah
saya, jadi ganjalan pintu.
Apa yang tim Anda lakukan terhadap jenazah warga asing itu?Pimpinan menyuruh kami membakar mayat-mayat itu untuk menutupi bukti.
Apakah lazim membakar korban perang saat itu?Ya,
memang itu intruksi pimpinan kami saat itu. Dia tidak mengira sama
sekali bahwa dalam lini pertahanan itu ada wartawan, apalagi wartawan
asing.
Yang kami bakar saat itu kan orang yang sudah meninggal, sudah menjadi mayat. Jadi kita tidak membakar mereka hidup-hidup.
Pimpinan
kami, Pak Yunus Yosfiah sampai dimarahi oleh Kolonel Dading Kalbuadi
terkait wartawan asing tersebut. Mau bagaimana lagi, kami benar-benar
tidak tahu ada warga asing.
(Hingga saat ini, CNN Indonesia belum
berhasil menghubungi Yunus Yosfiah. Namun Yunus pernah menolak dirinya
terkait dengan kasus Balibo di sejumlah media. Sementara, Kolonel Dading
Kalbuadi telah meninggal dunia pada tahun 1999.)Pernahkah ada wartawan asing yang mendatangi atau mencari informasi ke Kopassus di sana?Tentu tidak, kan kami beroperasi di dalam hutan dan bergerilya ke dalam pelosok Timor Timur.
Yang
menjadi pertanyaan adalah mengapa wartawan berada di lokasi pertahanan
paling depan tentara musuh. Seharusnya mereka tidak boleh ada di situ.
Setahu saya, tempat wartawan berada di pinggir kota, dekat gereja.
Saat bertugas di sana, Anda sempat bertemu dengan Xanana Gusmao. Apa yang waktu itu Anda bicarakan?Kami bertemu beberapa kali di dalam hutan. Saya selalu didampingi oleh lima orang pasukan saya.
Namanya sedang perang, saya dan Xanana saling mempengaruhi.
Saya
berusaha mempengaruhi dia agar perang segera dihentikan, dia pun ingin
hal yang sama. Tetapi banyak hal yang belum bisa kami sepakati saat itu.
Sebenarnya, jika ekonomi Indonesia saat itu baik, Xanana pernah
berpikir untuk meminta otonomi daerah saja. Namun saat itu, tahun 1980
ekonomi Indonesia juga sedang turun, itu juga jadi salah satu alasan
pengurangan pengiriman pasukan ke Timur Timor.
Mengapa Anda berani mengungkapkan kasus ini?Semua orang sudah tahu tetang Balibo, mengapa harus ditutup-tutupi?
Cerita
yang beredar sudah menjadi simpang siur dan ditambahi bumbu-bumbu. Saya
ingin mengungkapkan apa adanya, sehingga tidak serta merta Kopassus
disalahkan.
Kepolisian Australia menutup penyelidikan kasus ini, respon Anda?Sebenarnya saya gembira, karena sudah tidak akan ada lagi pernyataan dan pengusutan lebih lanjut.
Apakah benar dihentikannya penyelidikan karena kurang bukti?Mungkin juga karena kurang bukti. Karena bagaimana bisa dibuktikan peluru yang mengenai wartawan itu dari senjata siapa?
Apakah Anda pernah ditanyai oleh pemerintah Australia terkait kasus ini?Sampai saat ini belum pernah. Saya hanya pernah ditanyai oleh jurnalis dari beberapa media Australia.
CNN