Pages

Sunday, 30 November 2014

Kru dan penumpang heli TNI AU terluka

Jayapura - Beberapa kru dan penumpang helikopter Super Puma TNI AU, yang mendarat darurat karena cuaca buruk Jumat, dilaporkan terluka.

"Saya mendapat laporan ada anggota yang terluka namun siapa saja dan apakah lukanya parah atau tidak belum diketahui dengan pasti," kata Kasdam XVII Cenderawasih Brigjen TNI Tonny Damanik kepada ANTARA di Jayapura, Sabtu.

Dia mengatakan bahwa dari laporan yang diterima evakuasi belum bisa dilakukan karena cuaca buruk.

"Kami mendapat laporan ada anggota yang mengalami patah kaki dan luka-luka namun tidak dapat dipastikan siapa saja mereka yang terluka," aku Brigjen TNI Damanik.

Menurutnya, selain helikopter TNI AD, saat ini juga sudah dikerahkan pesawat berbadan kecil milik TNI AU yakni Cassa untuk membantu evakuasi.

Selain menggerahkan pesawat Cassa dan sebuah helikopter, evakuasi juga akan didukung dengan helikopter Airfast dari PT Freeport.

Rencananya evakuasi akan dilanjutkan Minggu (30/11).

Berikut nama-nama prajurit TNI AU yang berada dalam helikopter yang akan mengirim mereka bertugas ke perbatasan:

Sertu Nanang
Serda Arman
Praka Gunawan
Praka Joko
Praka Roy Candra
Praka Ulil
Prada Setia
Prada Adek Ananda
Prada Andra..

(ANTARA News) 

Keren! RI Rancang Pesawat Baling-baling Komersial Terbesar di Dunia

//images.detik.com/content/2014/11/28/1036/lapann219.jpg
Bogor -Pengembangan pesawat terbang di Indonesia kembali bergairah pasca tertidur lama. Industri pesawat terbang nasional sempat mati suri pasca dihentikannya program pesawat baling-baling N250 dan pesawat mesin jet N2130 saat krisis ekonomi 1998.

Kemudian pada tahun 2000-an muncul ide mengembangkan pesawat perintis bermesin turboprop N219. Pengembangan pesawat ternyata tidak berhenti di N219.

Kali ini, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengusulkan pengembangan pesawat komersial atau penumpang baling-baling (propeller) terbesar di dunia. Pesawat yang bernama N2140 ini, nantinya mampu membawa 144 penumpang.

"Kita dapat ide dari pesawat A400 M yang memiliki baling-baling besar. Ini nggak masuk ke pasar jet. Kita kembangkan pesawat yang cocok dengan kondisi Indonesia," kata Kepala Program Pesawat Terbang LAPAN Agus Aribowo kepada detikFinance di Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN, Bogor, Jawa Barat, Jumat (28/11/2014).

A400 M merupakan pesawat angkut militer atau cargo berbadan lebar yang diciptakan oleh Airbus Military. Pengembangan N2140 nantinya akan memakai mesin EuroProp. Ini merupakan mesin terbaru, setelah turboprop, untuk kelas propeller.

Meski bukan mesin jet, EuroProp memiliki kemampuan layaknya mesin pesawat jet. Daya jangkau pesawat ini menyerupai daya jelajah pesawat sekelas Boeing 737 hingga Airbus A320.

"EuroProp bisa masuk transonic. Kalau Boeing (Boeing 737) kecepatan 0,78 mach (kecepatan suara), kalau EuroProp 0,7 mach. Ini nggak beda jauh," jelasnya.

Keunggulan pesawat N2140 daripada pesawat bermesin jet sekelas Airbus 320 dan Boeing 737 ialah konsumsi bahan bakar. Pesawat baling-baling ini hemat dalam pemakaian BBM sekitar 20-25% daripada pesawat jet.

Keunggulan sangat bermanfaat bagi maskapai komersial karena selama ini menerima hantaman tingginya biaya avtur. Harga avtur sendiri menyumbang komposisi sekitar 60% dari biaya di industri penerbangan.

Selain hemat BBM, pesawat N2140 bisa mendarat atau terbang di landasan lebih pendek daripada pesawat jet dengan ukuran serupa. Selain itu, LAPAN merancang kondisi suara atau tingkat kebisingan di dalam kabin pesawat yang sangat rendah meskipun pesawat tidak memakai mesin jet.

"Ini pakai noise active control. Jadi suara engine dikombinasikan dengan suara di dalam cabin agar bisa menghilangkan resonansi sehingga tingkat kebisingan menjadi lemah,” papar Agus.

Pengembangan N2140 merupakan bagian dari loncatan program N219. Konsep awal setelah N219, LAPAN dan PT Dirgantara Indonesia (Persero) akan mengembangkan pesawat N245 dan N270.

Khusus program N270, pengembangannya diubah karena ada program pengembangan pesawat R80 atau pesawat berpenumpang 80 orang yang memiliki pasar sejenis. Ahasil LAPAN mencari jalan keluar sehingga lahirnya konsep pesawat propeller angkutan penumpang berbadan lebar terbesar pertama di dunia.

Pesaing pesawat tipe propeller, ATR, sama sekali belum memiliki rencana untuk mengembangkan pesawat baling-baling penerbangan sipil di atas 100 penumpang.(Detik)

Mengapa Dia Begitu Sensitif




Ketika presiden sipil Indonesia berteriak lantang untuk menenggelamkan kapal nelayan asing yang maling ikan di perairan kita sehubungan dengan uji nyali jalesveva jayamahe, satu rumah tetangga yang bernama Malaysia tiba-tiba jadi berisik dan bereaksi negatif. Lewat media online yang merupakan corong pemerintahnya, mereka merasa tak nyaman, tak enak badan lalu dengan tak elok pula bilang Jokowi arogan, antek Amerika dan sebagainya.
Bertetangga dengan jiran yang satu ini memang seperti berhadapan dengan saudara bertabiat congkak dan angkuh. Sebenarnya dia yang angkuh karena reaksinya itu terhadap gaya Jokowi yang tegas dan jelas.  Mengapa dia merasa kelasnya lebih tinggi dari Indonesia karena gambaran negeri ini ada di wajah-wajah tenaga kerja yang merantau kesana.  Jadi TKI, PATI Indon itu adalah bingkai cermin cara dia memandang kita.  Belum lagi cara pandang feodal negeri yang terdiri dari kerajaan-kerajaan berbasis Melayu Islam, tentu menjadi pengental cara pandang terhadap apapun yang berbau buruh, kuli atau tenaga berbayar.
KRI Oswald Siahaan meluncurkan rudal maut Yakhont
Sekedar catatan dengan dua jiran yang lain Indonesia baik-baik aja tuh meski ada persoalan perbatasan dengan kita. Menjelang akhir pemerintahan SBY dicapai kesepakatan perjanjian tapal batas bilateral dengan Singapura dan Filipina tanpa gembar gembor. Ini membuktikan ruang kelas dan kualitas dialog dengan kedua negara itu menghasilkan kesepakatan ciamik “bersih cemerlang tanpa menggores”.  Berbeda dengan kawan sebelah ne yang gemar melakukan klaim demi klaim. Ya karena cermin itu tadi, dianggapnya kita ini kelas buruh berbayar yang kelasnya dibawah dia
Adalah menjadi hak yang jelas dan terang bagi pemerintahan bangsa besar ini untuk menyatakan perintah bagi jajarannya agar bertindak keras dan lugas menghadapi para pencuri sumber daya kelautan termasuk menenggelamkan kapal mereka jika perlu. Kita juga kan tak pernah dan tak elok meributkan kenapa pemerintah Malaysia tak mau membuka keran demokrasinya untuk kesamaan hak bagi setiap warganegaranya. Lihat saja yang terjadi sepanjang sejarah negeri itu pimpinan pemerintahannya selalu bernama L4 (Lu Lagi Lu Lagi) maksudnya kalau ditelisik tidak jauh-jauh dari turunan kakek, bapak, anak, sepupu.
Ketika militer Indonesia sedang puasa alutsista di awal reformasi, jiran sebelah ne banyak kali tingkahnya. Sipadan-ligitan dia goyang dengan melakukan manuver militer.  Sekali waktu di awal tahun 2001 empat pesawat coin kita OV10 Bronco melakukan patroli di Sipadan, eh dia malah mengerahkan jet tempur F5E.  Padahal masih dalam status sama-sama berhak. Dia berhasil di Sipadan-Ligitan melalui Mahkamah Internasional tapi terus kemudian berupaya nak ekspansi pula ke Ambalat.  Indonesia pasang kuda-kuda dengan otot militer.
Sukhoi dan F16 melintas gagah
Akhirnya memang berhadapan dengan tetangga pongah harus dihadapi dengan cara pandang militer. Ini penting untuk diingat saudara-saudaraku. Cara pandang militer (bukan melotot lho) adalah garis tegas di wajah yang menahan amarah manakala pelecehan demi pelecehan dipertontonkan. Maka RI pun belanja alutsista secara besar-besaran, terus menerus dan tak terbendung lagi.  Setelah Presiden SBY menggelontorkan dana US $15 milyar untuk shopping alutsista selama lima tahun terakhir ini maka Presiden Jokowi semakin jelas dan banyak lagi membelanjakan duit untuk alutsista segala matra
Yang menarik orang dekatnya yang menjadi Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto adalah pakar pertahanan dan militer yang sangat visioner. Sebenarnya ada dua figur pakar militer lagi yang sama-sama lantang menyuarakan modernisasi TNI, yaitu Salim Said dan Connie Rahakundini.  Jauh-jauh hari sebelum Andi jadi Seskab dia sudah melontarkan prediksi bahwa belanja alutsista TNI lima tahun ke depan minimal US$ 20 milyar.  Seskab bersama Kemenhan tentu menjadi pilar utama untuk mengambarkan renstra lanjutan lima tahun ke depan.
Terkait dengan poros maritim sudah tentu penggelontoran dana akan terpusat di AL dan AU.  TNI AL segera membentuk armada tengah, divisi 3 marinir, melanjutkan pengadaan KCR (Kapal Cepat Rudal), memperbanyak pesanan PKR, mengakuisisi kapal perang kelas fregat termasuk percepatan pengadaan kapal selam.  TNI AU juga diperkirakan akan menambah sedikitnya 2 skuadron tempur baru disamping mengganti  1 skuadron F5E yang dipensiunkan. Disamping itu akan ada penambahan radar-radar militer, satuan peluru kendali darat udara jarak sedang, pesawat intai strategis, intai taktis.
Gebrakan untuk menenggelamkan kapal nelayan asing sejatinya untuk mengukur kesiapan armada Angkatan Laut, KKP, Bea Cukai, Polisi Air dengan dukungan Angkatan Udara.  Sinergi dan koordinasi akan memberikan pesan apa yang masih harus diperbaiki, ditambah dan dikuatkan.  Ini harus dipraktekkan di lapangan.  Bisa jadi yang diperbanyak kapal-kapal patroli non rudal atau bahkan kapal selam sesuai dengan tugas utamanya sebagai penggentar bawah air tak tertandingi.
Sangat diniscayakan bahwa dalam lima tahun ke depan militer Indonesia akan tampil dengan dandanan gahar, berkualitas dan bergengsi.  Kalau sudah begini apakah si Pakcik akan melontarkan statemen angkuh lagi.  Atau jangan-jangan setelah dia membaca tulisan ini malah sekujur tubuhnya demam lalu mengigau: “kita kan serumpun bang, adek ne hanya bergurau bang, tak nak kita bergaduh, tak elok dilihat sepupu kita Singapura.  Nanti dia orang ketawa senang nak lihat kita bergaduh terus”.  Ternyata igauannya di dengar Pak Jokowi, lalu sang presiden egaliter itu berkomentar: “emang gue pikirin”.
****
Jagvane / 29 Nop 2014(http://analisisalutsista.blogspot.com/)