Pages

Saturday, 10 January 2015

Mengintip latihan 'hellweek' Kopaska TNI AL yang bikin merinding

Personel Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL saat ini sedang berjibaku mengevakuasi mayat korban AirAsia QZ8501. Mereka juga ditugasi menyelam ke dasar laut untuk mencari bangkai pesawat nahas itu di Perairan Pangkalanbun, Kalimantan Tengah.

Tugas yang tidak mudah karena saat ini ombak ganas menerjang dengan ketinggian hingga empat meter. Ditambah cuaca yang tidak menentu, membuat operasi ini jelas tak bisa dilakukan sembarang orang.

Kopaska adalah satuan elite di tubuh Angkatan Laut. Sudah sejak era Trikora tahun 1963 mereka kerap diterjunkan dalam misi setengah mustahil. Tapi itulah pasukan khusus.

Personelnya dipilih dari orang-orang terbaik. Selain berotot kawat dan bertulang besi, mereka juga wajib datang dari Korps Pelaut. Syarat wajib lain harus sudah pernah bertugas di kapal TNI AL selama dua tahun atau lebih.

Kenapa harus pelaut?

Pertama, anggota Pasukan Katak (Paska) harus mengetahui konsep perang laut secara menyeluruh. Misal hendak melakukan misi sabotase atau pembebasan sandera, mereka sudah harus tahu bagian-bagian kapal. Bila bukan pelaut, mereka akan kesulitan mengenal bagian-bagian dalam kapal. Kedua, jika sudah berpengalaman dalam KRI, insting mereka akan langsung bermain di mana kamar mesin, ruang amunisi, tanki bahan bakar dan sebagainya. Hal ini jelas akan berpengaruh dalam kesuksesan misi.

Latihan pertama yang harus dijalani oleh calon personel Paska adalah hellweek. Latihan yang benar-benar menguras emosi, tenaga dan keringat sampai ke tetes terakhir.
Intip bagaimana para pasukan katak ini digembleng habis:
 
Mengintip latihan 'hellweek' Kopaska TNI AL yang bikin merinding

Seperti neraka!

Merdeka.com - "Sesuai namanya, seperti neraka! Cukup sekali seumur hidup," singkat seorang mantan anggota Paska saat ditemui di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.

Dalam buku Kopaska, Spesialis Pertempuran Laut Khusus yang diterbitkan dalam rangka 50 tahun Kopaska, dikupas soal hellweek ini.

Setiap calon Paska tak pernah diberi tahu kapan rangkaian hellweek akan dimulai. Bisa saja tiba-tiba saat mereka belajar di kelas, atau saat tidur terlelap.

Hari pertama minggu neraka ini dibuka dengan ritual melahap nasi komando bersama-sama. Nasi komando adalah hasil blenderan nasi, lauk pauk, telur mentah, minyak ikan dan terasi. Makanan ditaruh dalam satu tempat dan dimakan secara bergiliran. Jika salah satu muntah di tempat itu, maka yang berikutnya tetap harus memakan nasi komando itu sampai tandas.

Sebagai pelepas dahaga, minuman yang diberikan adalah jamu brotowali. Jamu ini memang menyehatkan, tapi mungkin merupakan minuman paling pahit di dunia.

Setiap hari porsi tekanan terus ditambah hingga benar-benar memaksa seseorang untuk bertahan di titik maksimal.

Uniknya selama pendidikan, nama mereka diganti dengan nama hewan laut. Maka nama-nama tongkol, udang, paus, kakap wajib digunakan. Nah, kadang hingga pendidikan selesai, nama ini masih melekat di antara sesama mereka.

Jika tak kuat pendidikan, silakan berhenti. Tak ada paksaan sama sekali untuk mengikuti latihan Paska ini.

Siswa yang gugur atau mengundurkan diri diminta meletakkan topi bajanya di pinggir lapangan. Dari situ kelihatan berapa orang yang telah mengundurkan diri dalam satu angkatan.
Mengintip latihan 'hellweek' Kopaska TNI AL yang bikin merinding


2.
Jalan masih panjang, Bro!

Bagaimana dengan yang lulus hellweek? Apakah sudah berakhir semua deraan dan siksaan?

Belum bro! Masih panjang sekali perjalanan sang calon pasukan katak ini.

Begitu lulus mereka wajib mengikuti sekolah penembak. Calon Paska dikenalkan berbagai macam senjata, mulai dari pistol, senapan serbu, hingga senapan sniper. Mereka juga diajari berbagai macam teknik tembak reaksi, antiteror dan akurasi.

Selanjutnya siswa menempuh latihan komando gunung hutan dan longmarch di Karang Tekok. Disambung lintas medan ke Ijen, Situbondo, Bromo hingga Surabaya.

Lolos komando, giliran latihan terjun harus dijalani. Mulai terjun statis, HALO, HAHO wajib diikuti para siswa Paska. Setelah itu mereka digembleng aneka praktik demolisi dan pertempuran bawah laut khusus. Latihan dilanjutkan dengan praktik intelijen di Banyuwangi dan Malang.

Total rangkaian seluruh pendidikan ini makan waktu 10 hingga 12 bulan. Setelah lulus barulah mereka berhak mengenakan brevet Pasukan Katak dan baret merah.

Tan Hana Wighna Tan Sirna, tak ada rintangan yang tak bisa diatasi!(Merdeka.com)

Dari RE Martadinata Hingga Ade Supandi

Laksamana RE Martadinata (Foto: santijenanda.wordpres.com)
Laksamana RE Martadinata

Jabatan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) memiliki nilai tersendiri bagi pemegangnya beserta tantangan pada zamannya. Sejarah perjalanan TNI Angkatan Laut yang berawal dari nama BKR Laut kemudian berganti menjadi TKR Laut dan bertransformasi lagi menjadi TRI Laut hingga ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) diwarnai dinamika dalam sumbangsihnya terhadap bangsa dan negara. Tercatat 24 nama telah menghiasi perjalanan sejarah pimpinan matra yang bermoto Jalesveva Jayamahe itu. Diantara nama-nama besar seperti Mas Pardi, M. Nazir, R Soebijakto, RE Martadinata, Sudomo, Achmad Sutjipto, hingga Tedjo Edhy Purdijatno dan lainnya pernah terukir dalam sejarah TNI AL sebagai pimpinan tertinggi atau saat ini bernama Kepala Staf.

Kemarin, Rabu 31 Desember 2014, Presiden Joko Widodo melantik pimpinan angkatan laut ke-25 Laksdya TNI Ade Supandi di Istana Negara yang menggantikan Laksamana TNI Marsetio melalui Surat Keputusan Presiden Nomor: 92/TNI Tahun 2014.

Pepatah mengatakan sejarah akan berulang.Suatu peristiwa yang terjadi di masa lampau akan kembali berulang dalam waktu yang akan datang dengan kejadian yang hampir sama namun berbeda dalam ruang dan waktu.

55 tahun silam, tepatnya pada 17 Juli 1959 Laksamana RE Martadinata dilantik oleh Presiden Sukarno sebagai Menteri/Panglima Angkatan Laut (Menpangal) menggantikan Laksdya R Soebijakto. RE Martadinata merupakan salah satu pimpinan angkatan laut yang membawa kemajuan bagi pembangunan matra laut pada masanya.

Laksdya TNI Ade Supandi

Laksdya Ade Supandi (Foto: ANTARA/Prasetyo Utomo
Laksdya Ade Supandi

Lahir di Bandung, 26 Mei 1960, Ade mengawali karirnya di Angkatan Laut saat memasuki AAL pada tahun 1980 dan lulus tahun 1983. Selesai dari AAL, Ade melanjutkan pendidikannya pada Suspadiv dan Kursus CTT & NBCD di Belanda tahun 1986. Di TNI AL, kariernya diawali di beberapa KRI di bawah jajaran Koarmatim baik Satuan Kapal Eskorta maupun Satuan Kapal Patroli, diantaranya KRI Mongisidi-343 sebagai Asisten Kadiv Senjata Atas Air (SAA) dan Kadiv Komunikasi tahun 1983. Selanjutnya tahun 1986 sebagai Kadiv Pusat Informasi Tempur (PIT). Tahun 1990 menjabat sebagai Kadiv Artileri KRI Ahmad Yani-351. Dua tahun kemudian tahun 1992 dimutasikan ke KRI Oswald Siahaan-354 sebagai Kadep Operasi. Penugasan di kapal perang pun masih terus berlanjut. Palaksa KRI Nuku-373 dijabatnya pada tahun 1993. Dua tahun kemudian tepatnya tahun 1995 dipercaya sebagai Komandan KRI Tongkol-813, selang setahun kembali dipercaya sebagai orang nomor satu di KRI Sutedi Senaputra-378.

Usai mengikuti pendidikan Seskoal pada tahun 1997, Ade bergabung di Akademi Angkatan Laut (AAL) sebagai Kepala Subdit Perencanaan dan pengembangan tahun 1998. Dua tahun berdinas di Kampus AAL, ternyata jabatan sebagai orang nomor satu di KRI masih menghampiri pria yang dikenal low profile ini, diantaranya sebagai Komandan KRI Malahayati-362 pada tahun 2000 dan Komandan KRI Ahmad Yani-351 yang dijabatnya satu tahun kemudian pada tahun 2001. Pada tahun 2002 menjabat sebagai Asisten Operasi Gugus Tempur Laut Koarmabar dan ditahun yang sama memegang jabatan sebagai Sahli “F” Binpotnaskuatmar Pangarmabar. Usai berdinas di Koarmabar, tahun 2002 hingga 2004 kembali bergabung memperkuat jajaran Koarmatim dengan jabatan masing-masing sebagai Komandan Satuan Kapal Amfibi, Komandan Satuan Kapal Eskorta dan Komandan Komando Latihan.

Karirnya kian menanjak di lingkungan TNI AL. Pada tahun 2007 dengan pangkat Kolonel, dirinya mengabdi di Lembaga Pendidikan Kobangdikal hingga 2009, dengan jabatan masing-masing sebagai Direktur Operasi Pendidikan (Dir Opsdik) dan Komandan Komando Pendidikan Operasi laut (Dankodikopsla). Satu tahun menjabat sebagai Dankodikopsla, bulan Juli tahun 2009 jabatan sebagai Orang nomor satu di jajaran Guskamlabar dipercayakan kepadanya. Dan setahun kemudian dipercayakan menjadi Gubernur AAL.

Karirnya berlanjut pada tahun 2011 dengan menjabat sebagai Pangarmatim dan diteruskan dengan menjadi Assisten perencanaan dan Anggaran (Asrena) Kasal setahun kemudian. Dan terakhir menjabat sebagai Kasum TNI sebelum akhirnya dilantik sebagai Kasal oleh Presiden Jokowi pada 31 Desember 2014.

Laksamana RE Martadinata.

Lahir di Bandung 29 Maret 1921, RE Martadinata mengawali pendidikannya di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Lahat tahun 1927-1934 dan di­lanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs bagian B (MULO-B) Bandung tahun 1934-1938 kemudian Algemene Middelbare School (AMS) Jakarta tahun 1938-1941. Pada masa pendudukan Jepang, dirinya masuk Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) hingga menjadi guru di sekolah itu.

Menjelang kemerdekaan, Ia aktif melakukan pergerakan dengan para pemuda lainnya dan menjalin hubungan erat dengan Bung Karno dan Bung Hatta dalam merencakan kemerdekaan. Pasca 17 Agustus 1945, bersama lulusan SPT lainnya, RE Martadinata turut melucuti tentara Jepang hingga terbentuknya BKR Laut pada 10 September 1945.

Karirnya dalam badan itu yang kemudian menjadi TKR Laut lalu ALRI itu senantiasa dekat dengan dunia pendidikan. Ia pernah diangkat menjadi komandan Latihan Opsir Kilat ALRI di Kalibakung dan kepala pendidikan perwira Basic Operation School di Sarangan. Kemudian pernah ditunjuk sebagai komandan kapal yang diberi nama RI Hang Tuah yang merupakan pemberian Belanda pasca pengakuan kedaulatan.

Puncak karirnya di ALRI ketika ia diangkat menjadi KSAL pada tanggal 17 Juli 1959 dan saat itu dilakukan pe­rubahan dengan program “Menuju Angkatan Laut yang Jaya” dengan bertitik tolak pada konsepsi Wawasan Nusantara. Membangun Angkatan Laut yang kuat perlu penataan kekuatan Armada dan operasi yang didukung dengan pendirian darat.

Ketika menjabat KSAL yang kemudian diubah namanya diubah menjadi Menpangal, Angkatan Laut Republik Indonesia memiliki kekuatan yang disegani di kawasan Asia Pasifik seiring dengan meningkatnya konfrontasi dengan Belanda berkaitan dengan perebutan Irian Barat. Dengan dicanangkannya Trikora, maka ALRI membeli peralatan tempur dari Rusia dengan jumlah yang cukup banyak antara lain: 1 kapal penjelajah (kelas Sverdlov), 8 perusak (kelas Skoryy), 8 frigat (kelas Riga), 12 kapal selam (kelas Whiskey) dan kapal-kapal pendukung lainnya yang berjumlah hampir lebih dari 100 buah kapal. Selain itu dibeli pula pesawat pembom torpedo Ilyushin Il-28 seri Il-28T dan Il-28U, serta helikopter Mil Mi-4.

Jabatannya sebagai Menpangal berakhir pada tahun 1966 dan dirinya langsung ditempatkan sebagai Dubes RI untuk Pakistan. Pada saat hari ABRI 5 Oktober 1966, RE Martadinata kembali ke tanah air untuk mendampingi 3 tamu dari Pakistan yaitu Kolonel Laut Maswar bersama istri serta Nyonya Rouf, istri dari Deputi I Kepala Staff Angkatan Laut Pakistan.
Pada tanggal 6 Oktober 1966, mereka mengadakan perjalanan menaiki helikopter Alloutte II milik ALRI yang dikemudikan pilot Letnan Laut Charles Willy Kairupan. Ternyata dalam perjalanan itu, helicopter yang ditumpanginya menabrak bukit di Riung Gunung. Kecelakaan tersebut menewaskan seluruh penumpang dan pilot, termasuk Laksamana Laut R.E. Martadinata. Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional karena pengabdiannya untuk negeri ini.

Kesamaan Keduanya
Antara Laksamana RE Martadinata dan Laksdya TNI Ade Supandi, keduanya sama-sama dilahirkan di Bandung. Selain itu keduanya juga berada di masa kepemimpinan yang boleh dibilang concern terhadap maritim. RE Martadinata dibawah pimpinan Bung Karno fokus membangun bangsa ini dari maritim. Ucapan Bung Karno yang terkenal akan semangat maritimnya yaitu “untuk membangun Indonesia menjadi bangsa yang besar, bangsa yang kuat, bangsa yang makmur, dan bangsa yang damai kita harus punya jiwa cakrawati samudera. Bangsa pelaut yang mempunyai armada niaga, bangsa pelaut yang mempunya armada militer, bangsa pelaut yang kesibukannya di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri”.

Slogan yang didengungkan pada peresmian Institut Angkatan Laut (IAL) di Surabaya tahun 1953 itu menjadi realita saat Bung Karno menjadi Pemimpin Besar Revolusi setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Pasca mengeluarkan Dekrit, 12 hari kemudian Bung Karno mengangkat RE Martadinata untuk menjabat Menpangal dan dituntut menjalankan segala program Presiden yang hendak mendajikan Indonesia sebagai Mercusuar Dunia melalui bidang kemaritiman dan diatar rel-nya Revolusi Indonesia yaitu Pancasila dan UUD 45.

Alhasil, ALRI pun muncul sebagai kekuatan yang semakin disegani di kawasan dan memiliki segudang prestasi dalam melakukan operasi. Pencapaian menjadi negara maritim kian di depan pintu sebelum akhirnya kandas di tengah jalan pasca terjadinya peristiwa 1 Oktober 1965.

Sama halnya dengan RE Martadinata, Ade Supandi menduduki jabatan Kasal di tengah gelora poros maritim dunia yang selalu didengingkan oleh Presiden Jokowi baik pada masa kampanye maupun setelah menjabat sebagai Presiden. Dalam pidato pelantikannya pun, Jokowi mengulang pernyataan Bung Karno tentang perlunya membangun maritim dan ditutup dengan pekikan Jalasveva Jayamahe, yang selama ini menjadi slogan TNI AL.

Suatu peluang bagi Laksdya TNI Ade Supandi untuk membawa TNI AL dalam gelora tersebut dan mencapai kejayaan bangsa dan negara seperti RE Martadinata dahulu. Bahkan Ade dapat melebihi dari apa yang telah dicapai oleh RE Martadinata waktu itu dalam keadaan dan tantangan yang berbeda. Yang menjadi perbedaan mencolok dari kedua zaman itu, jika masa RE Martadinata dulu bangsa dan negara ini berada pada rel yang sebenarnya yaitu Pancasila dan UUD 45, namun hari ini entah berada di rel apa. Semoga Kasal baru ini dapat mencermati kondisi tersebut untuk sebuah cita-cita yang besar dalam bingkai kepentingan nasional Indonesia. Maju terus TNI AL, Jalesveva Jayamahe !!!

Kapolda ultimatum kelompok Ayub Waker serahkan diri

Kapolda ultimatum kelompok Ayub Waker serahkan diri
Kapolda Papua Irjen Yotje Mende
 
Timika - "Ini yang bertanggung jawab namanya Ayub Waker. Itulah orang yang paling bertanggung jawab sebagai pimpinan mereka di daerah Tembagapura," ujar Mende.

Kepala Kepolisian Daerah Papua Irjen Polisi Yotje Mende mengultimatum Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Ayub Waker di wilayah Tembagapura, Mimika, untuk segera menyerahkan diri.

"Saya memberikan ultimatum kepada mereka untuk segera menyerahkan diri dan mengembalikan senjata api yang mereka rampas dari anggota saya," kata Yotje Mende kepada Antara di Timika, Jumat.

Yotje mengatakan pelaku penyerangan terhadap kendaraan yang ditumpangi anggota Brimob Satgas Pengamanan PT Freeport Indonesia di jalan poros Tembagapura-Kampung Banti pada Kamis (1/1) malam sebanyak empat orang dari KKB Ayub Waker.

Menurut dia, tindakan KKB Ayub Waker yang membunuh dua anggota Brimob Satgas Pengamanan PT Freeport Indonesia yakni Bripda Riyan dan Bripda Andriyan serta seorang petugas Security perusahaan bernama Suko Miartono sangat biadab, sadistis dan tidak berperikemanusiaan.

"Saya anggap tindakan KKB ini biadab, tidak mempunyai perikemanusiaan, sadis. Anak buah saya meninggal dengan luka tembak di kepala dan badan masing-masing tertembus tiga peluru, kemudian dibacok dengan sadis. Saya perkirakan setelah anak buah saya meninggal, mereka masih dibacok," jelas Yotje Mende.

Menyikapi kasus tersebut, pada Jumat siang Kapolda Papua mendatangi lokasi penembakan kedua anggota Brimob yang bertugas di Polda Sumatera Selatan itu.

Yotje Mende memerintahkan anggotanya untuk segera melakukan pengejaran terhadap KKB Ayub Waker yang kini membawa kabur dua pucuk senjata api jenis Steyer dan ratusan amunisi.

"Saya sudah perintahkan anggota saya untuk mengejar mereka sampai kemana pun mereka pergi," ujarnya.

Dalam upaya pencarian para pelaku, aparat mengamankan satu warga berinisial M yang diduga merupakan anggota KKB Ayub Waker di sekitar lokasi penembakan kedua anggota Brimob di jalan poros Tembagapura-Kampung Banti.

Saat hendak disergap, M berupaya melawan. Aparat mengamankan sebilah pisau sangkur dari tangan M. Sedangkan dua rekannya yang lain berhasil kabur dengan melompat ke Kali.

"Kita amankan satu orang dan sekarang dijadikan tersangka. Saat ini yang bersangkutan dalam perawatan," jelas Mende.

Adapun dua anggota Brimob dan satu petugas security PT Freeport Indonesia yang meninggal akibat ditembak oleh KKB Ayub Waker jenazahnya sudah dibawa ke Palembang dan Kediri, Jawa Timur, dengan penerbangan Sriwijaya Air pada Jumat siang untuk dikebumikan di kampung halamannya masing-masing.(ANTARA News)