Pasukan penembak Heli Bell mengamati musuh saat berpatroli pada latihan tempur TNI Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Poso, Sulawesi Tengah, Jumat (3/4/15). Latpur yang dipusatkan di gunung biru Poso itu berlangsung hingga 17 hari.
Tuesday, 7 April 2015
Latpur PPRC
Pasukan penembak Heli Bell mengamati musuh saat berpatroli pada latihan tempur TNI Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Poso, Sulawesi Tengah, Jumat (3/4/15). Latpur yang dipusatkan di gunung biru Poso itu berlangsung hingga 17 hari.
TNI AL usir Colona II
Ilustrasi KRI Kerapu-812 dalam misi pelayaran militernya. (blogspot)
Sebab nakhoda tidak dapat memperlihatkan CAIT (Clearance Approval to Indonesian Territory),"Balikpapan - TNI AL mengusir Sebuah kapal layar kecil bertiang ganda (yatch) bernama Colona II, Sabtu.
"Sebab nakhoda tidak dapat memperlihatkan CAIT (Clearance Approval to Indonesian Territory)," kata Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Balikpapan Kolonel Laut (P) Ariantyo Condrowibowo.
Saat ini yatch Colona II dengan nakhoda Kapten Karl Freddy Storheil berkebangsaan Norwegia lego jangkar di dekat Pos TNI AL di Pelabuhan Rakyat Kampung Baru. Kapal juga diawaki dua pria berkebangsaan Amerika Serikat David Blaine Cameron dan David Michael Nelson.
Ukuran kapal ini lebih kurang panjang 20 meter, lebar 5 meter, dan tinggi geladak 2,5 meter.
Menurut Letnan Sarjono, Komandan Pos AL (Posal) di Pelabuhan Rakyat Kampung Baru, kapal singgah ke Balikpapan untuk mendapatkan air bersih dan menambah perbekalan. Kapal dalam perjalan dari Malaysia menuju Filipina.
"Jadi segera setelah mereka mendapatkan perbekalan itu, kapal kami paksa untuk segera melanjutkan perjalanan," tegas Kolonel Condrowibowo.
Danlanal juga menjelaskan bahwa mengenai perbekalan adalah hal kemanusiaan. Sepanjang kru tidak turun ke darat, maka upaya mendapatkan perbekalan itu dibolehkan. Dalam prosedur yang seharusnya, perbekalan itu semestinya sudah disediakan oleh agen kapal yang bersangkutan, atau pihak yang telah ditunjuk oleh agen untuk menyediakan itu.
Pengusiran kapal yatch dari perairan Balikpapan juga pernah terjadi 8 bulan yang lalu. Dua kapal berbendera Hongkong dihalau keluar perairan Balikpapan oleh Patroli Keamanan Laut (Patkamla) dari Posal Balikpapan. Kedua kapal datang dari Hongkong tujuan Balikpapan untuk berpesiar, namun dan tidak memiliki CAIT.
Catatan petugas dari Posal menyebutkan, yatch Belta panjang 17.78 m, lebar 5 m, dan tinggi 2,25 m dengan nahkoda Wang Jun berkebangsaan Cina dan Anak Buah Kapal (ABK) 4 orang. Satu lagi adalah yacht Free Fire, panjang 21,50 M, lebar 4,90 M berbendera Hong Kong. Kapal tersebut dinahkodai Wei Jun asal China, dengan jumlah ABK 6 orang. (Antara)
Ini alasan Kopassus dulu tak mau latihan antiteror di Amerika
Amerika Serikat dikenal punya beberapa pasukan khusus antiteror yang cukup dikenal dunia. Di antaranya Navy Seals dan Delta Force. Namun pasukan Kopassus TNI AD tak mau meniru gaya pasukan khusus AS.
Di akhir tahun 70an, pembajakan pesawat dan aksi terorisme marak di berbagai belahan dunia. TNI merasa perlu ada satuan khusus yang memiliki kemampuan antiteror dan pembebasan sandera. Satuan yang dipilih adalah Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopasandha). Alasannya, pasukan baret merah ini sudah memiliki kemampuan khusus dan kenyang dengan pengalaman operasi tempur.
Saat itu Letjen Benny Moerdani menjabat Asisten Intelijen Hankam sekaligus Kepala Pusat Intelijen Strategis. Dia memerintahkan Letkol Sintong Panjaitan mencari formula paling tepat untuk membangun pasukan antiteror Indonesia.
Namun Benny berpesan satu hal, jangan berlatih di Amerika Serikat. Alasannya, AS terlalu mengandalkan kecanggihan alat dan keunggulan teknologi.
"Hal ini dapat menyebabkan personelnya menjadi manja," kata Sintong.
Maka Sintong melakukan pengamatan ke sejumlah negara yang sudah memiliki pasukan antiteror. Dia mengikuti pasukan Special Air Service (SAS) di Inggris. Pasukan ini memang sudah jadi legenda pasukan elite. Sintong mempelajari cara-cara penanggulangan pembajakan pesawat udara.
Selain itu dia juga belajar pada Korps Commando Troepen kerajaan Belanda. Lalu pasukan khusus angkatan laut Prancis.
Tak ketinggalan dia juga belajar pada GSG-9 atau Grenzchutzsgruppe 9. Pasukan antiteror Jerman Barat itu namanya harum berkat keberhasilan membebaskan sandera di Mogadishu, Somalia.
Sementara di Asia, Sintong memilih pasukan khusus Korea Selatan. Kelebihannya, pasukan ini selalu melakukan latihan bela diri selama empat jam setiap hari jika tak sedang melakukan operasi.
Namun Sintong mengaku tak begitu terkesan dengan apa yang ditampilkan oleh pasukan elite setiap negara. Menurutnya, setiap misi pembebasan sandera rata-rata berada di tempat yang sudah dikuasai penuh. Misi berakhir setelah sandera diselamatkan.
Hal ini berbeda dengan latihan Sandi Yudha yang dilakukan Kopasandha. Pasukan yang kelak bernama Kopassus ini dilatih untuk membebaskan tawanan di tempat yang dikuasai musuh. Jadi setelah membebaskan tawanan, mereka juga harus memikirkan bagaimana cara meloloskan diri.
Maka Sintong meramu bagaimana latihan pasukan antiteror yang cocok untuk Indonesia. Belum rampung segala persiapan, tantangan sudah lebih dulu datang. 28 Maret 1981 pesawat DC-9 Woyla milik Garuda Indonesia dibajak dan diterbangkan ke Bandara Don Muang, Bangkok.
Operasi pembebasan sandera digelar tiga hari kemudian. Semua sandera berhasil diselamatkan hidup-hidup sementara lima pembajak ditembak mati. Operasi Woyla jadi sorotan dan membuktikan pasukan antiteror Indonesia yang baru seumur jagung sama hebatnya dengan para senior mereka di dunia. (Merdeka)