Pages

Thursday, 23 April 2015

Warisan Soekarno untuk Meninju Penjajahan

KAA, Warisan Soekarno untuk Meninju Penjajahan KAA cikal bakal Gerakan Non Blok yang saat ini beranggotakan 120 negara. Pergerakan ini tidak lepas dari peran Soekarno sebagai presiden Indonesia saat itu. 
 
Jakarta, - Konferensi Asia Afrika yang digelar pekan ini di Jakarta menjadi pengingat terhadap upaya negara-negara Asia dan Afrika dalam mencapai kemerdekaan. Pertama kali dibuka oleh Presiden Soekarno tahun 1955, KAA adalah ajang Asia dan Afrika meninju kolonialisme.

Konferensi yang digelar pertama kali pada April 1955 tersebut menjadi pemersatu negara-negara yang  menjadi sasaran penjajahan di Asia dan Afrika, menggalang kerja sama dan sepakat menentang kolonialisme di tengah dunia yang terbagi dua kubu, Timur dan Barat.

KAA juga menjadi cikal bakal Gerakan Non Blok yang saat ini sudah beranggotakan 120 negara. Pergerakan negara-negara Asia dan Afrika ini tidak lepas dari peran Soekarno sebagai presiden Indonesia saat itu.

Soekarno dari atas podium 60 tahun lalu menyampaikan pidatonya yang menggelegar, mengingatkan bahaya imperialisme dan kolonialisme terhadap negara-negara di dunia. Dalam pidatonya yang bertajuk "Lahirkanlah Asia Baru dan Afrika Baru" Soekarno menyatukan negara-negara anggota dalam melawan penjajahan, melahirkan Dasasila Bandung.

"Kita semuanya, saya yakin, adalah dipersatukan oleh hal-hal yang lebih penting daripada yang tampak memisahkan kita. Kita bersatu, misalnya, oleh sikap yang sama dalam membenci kolonialisme dalam bentuk apa saja ia muncul. Dan kita bersatu dalam hal membenci rasialisme. Dan kita bersatu karena ketetapan hati yang sama dalam usaha mempertahankan dan memperkokoh perdamaian dunia,” ujar Bung Karno saat itu.

Semangat yang sama coba disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya pada 50 tahun Konferensi Asia Afrika pada 2005. Acara ini sebagai penyegar bahwa negara-negara Asia dan Afrika bersahabat, dan lebih dari itu, sama-sama menentang kolonialisme.

Pertemuan ini menjadi landasan terciptanya Kemitraan Strategis Baru Asia-Afrika, NAASP.

“Bangsa-bangsa Asia-Afrika akan mampu melewati tantangan kompleks dalam dunia yang global dalam sebuah kerja sama yang sinergis dan itu akan berhasil hanya dengan tekad, komitmen, dan kemauan yang keras,” ujar SBY dalam pidatonya.

Tema yang sama juga diusung dalam 60 tahun KAA yang digelar pekan ini. Delegasi 109 negara Asia dan Afrika akan menyatukan suara dalam mendukung perdamaian dan kemakmuran dunia, salah satu agendanya adalah mendukung kemerdekaan Palestina yang diwujudkan dalam sebuah pernyataan bersama.

Presiden Joko Widodo seperti dua pendahulunya, diprediksi juga akan menyampaikan pesan yang kuat soal keadilan global. Selain itu, ajang ini juga akan menjadi kesempatan untuk meningkatkan perekonomian dua benua.

"Forum ini bertujuan menjembatani negara-negara Asia dan Afrika untuk kemitraan yang lebih kuat dan untuk berbagi pengalaman dalam meningkatkan pembangunan ekonomi dua wilayah," ujar keterangan dalam situs KAA.(CNN)

Iran Luncurkan Bavar-373, Ada yang Serupai S-500

Rudal GMD Boeing AS, Rudal Iran dan Rudal S-500 Rusia
Rudal GMD Boeing AS, Rudal Iran dan Rudal S-500 Rusia
 
 
TEHERAN -- Dalam perhelatan Hari Angkatan Bersenjata Iran, Sabtu (18/4), Iran memamerkan berbagai jenis persenjataan terbarunya, diantaranya sistem rudal pertahanan Bavar-373, sebagaimana dikutip dari Fars News.

Sistem pertahanan udara ini dibuat sendiri oleh Iran menyusul gagalnya negara ini mendapatkan S-300 buatan Rusia, yang belakangan embargonya sudah dicabut.

Menurut Kepala Staf Agkatan Darat Iran, Brigjen Ahmad Reza Pourdastan, Bavar-373 dirancang lebih canggih dari S-300.

Rusia sendiri telah menghentikan produksi S-300 karena dinilai sudah ketinggalan zaman. Namun produksi Antey-2500 masih diteruskan sampai seri S-400. Kedunya pernah ditawarkan ke Iran sebagai pengganti sistem lama.

Namun ada yang aneh dalam parade kali ini, sebuah truk trailer membawa sistem peluncur sepanjang satu baknya. Padahal dalam berbagai foto berita, rudal Bavar ditunjukkan hanya setengah truk trailer.

Dengan sepanjang itu, rudal ini lebih mirip dengan sistem S-500 Rusia atau A-135 dengan rudal Gorgon atau Gazelle yang dibuat sebagai anti-rudal balistik. Sistem yang sama juga dimiliki oleh Amerika Serikat khususnya rudal Ground-based Midcourse Defense (GMD) buatan Boeing.

Di Timur Tengah, sistem pertahanan jarak jauh seperti ini hanya dimiliki Israel dengan rudal Arrow-nya. Selain itu, India dan Cina juga memiliki sistem pertahanan udara jarak jauh.

Belum ada penjelasan khusus mengenai rudal pertahanan yang panjang ini, kecil kemungkinan Iran mampu membat rudal sekelas S-500 karena harus dilengkapi dengan proyektil ekso-atmosferik. Ada kemungkinan ini merupakan rudal S-200 yang disederhanakan.

Presiden Hassan Rouhani dalam sambutannya di parade tersebut mengatakan kekuatan militer mereka hanya untuk pertahanan.

"Strategi kami hanya untuk deteran..," katanya. (REPUBLIKA.CO.ID)

Indonesia Berpengalaman Tangani Radikalisme

Norwegia Indonesia Berpengalaman Tangani Radikalisme
Pertemuan Indonesia-Norwegia 
 
JAKARTA - Norwegia menyebut Indonesia adalah salah satu negara yang paling berpengalaman dalam menangani isu radikalisme. Menurut negara Skandinavia itu, dunia bisa belajar banyak dari Indonesia mengenai hal ini.

"Saya kira dalam isu radikalisme, Indonesia memiliki pengalaman dan pesan penting bagi dunia. Pesan toleransi dari negara populasi yang memiliki interpretasi yang kuat dan baik mengenai Islam. ini satu hal dimana dunia bisa belajar," ucap Duta Besar Norwegia untuk indonesia, Stig Traavik, Minggu (19/4/2015).

Dirinya juga mengatakan, isu mengenai radikalisme ini juga menjadi salah satu pembahasan utama kala Perdana Menteri Norwegia Erno Solberg melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo tengah pekan lalu. Isu ini diangkat karena Norwegia memiliki masalah yang cukup besar dengan radikalisme.

"Ketika PM kami bersama dengan Presiden Jokowi, mereka membicarakan masalah ini. Norway memiliki masalah pemuda yang ikut berperang di suriah. Secara mengejutkan, masalah kami lebih besar dibanding indonesia," imbuhnya.

"Jadi Indonesia memiliki intepretasi yang baik mengenai toleransi. dan memberikan pelajaran kepada dunia. kalian memiliki hubungan antara agama yang sangat baik. Indonesia menunjukkan bahwa Islam moderat, toleransi dan saling megerti satu sama lain. Indonesia memiliki tempat sangat penting dalam masalah ini," tambahnya. (
Sindonews)