Pages

Sunday, 3 June 2012

Presiden Meninggalkan Singapura Menuju Pulau Nipah dengan KRI Diponegoro


Presiden SBY dan Ibu Ani meninggalkan Singapura menuju Pulau Nipah, Indonesia, dengan KRI Diponegoro-365 dari Changi Naval Base, Sabtu (2/6) pukul 13.30 WIB. (Foto: anung/presidensby.info)

2 Mei 2012, Singapura: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ibu Hj Ani Bambang Yudhoyono dan delegasi meninggalkan Singapura menuju Pulau Nipah, Indonesia, dengan KRI Diponegoro-365 dari Changi Naval Base, Sabtu (2/6) pukul 13.30 WIB.

Rombongan Presiden SBY dilepas Duta Besar RI untuk Republik Singapura Andri Hadi, Atase Pertahanan RI Kol (Pnb) Mochamad Fadjar Sumarijadji, serta siswa-siswi KBRI yang mengenakan seragam pramuka dan melambai-lambaikan miniatur bendera Merah Putih.

Di atas kapal, di bawah terik sinar matahari, Presiden SBY disambut dengan upacara penyambutan militer. Selesai upacara penyambutan, Presiden SBY dan Ibu Ani melakukan peninjauan dalam kapal. KRI Diponegoro kemudian perlahan mulai meninggalkan Changi Naval Base dan berlayar menuju Pulau Nipah, Provinsi Kepulauan Riau.

Perjalanan menuju Pulau Nipah ditempuh selama lebih kurang 1 jam 30 menit. Selama perjalanan menuju Pulau Nipah, KRI Dipenogoro mendapat pengawalan dari KRI Kujang dan KRI Clurit

Presiden SBY saat saat berlayar dengan KRI Diponegoro menuju Pulau Nipah, Sabtu (2/6) siang. (Foto: anung/presidensby.info)

Presiden SBY memberikan penghormatan balasan ketika menerima penghormatan sailing pass dan flying pass di anjungan lambung kiri KRI DPN-365, Sabtu (2/6) siang. (Foto: anung/presidensby.info)

Dari atas kapal KRI Diponegoro, Presiden SBY meninjau perairan Indonesia dalam perjalanan menuju Pulau Nipah, Sabtu (2/6) siang. (Foto: anung/presidensby.info)

Tiga puluh menit setelah KRI Diponegoro meninggalkan dermaga, dari anjungan kapal, SBY dan Ibu Ani menerima penghormatan sailing pass dan flying pass di anjungan lambung kiri KRI DPN-365, sebagai tanda memasuki wilayah perairan Indonesia. Sailing pass dan flying pass dilakukan oleh KRI Ahmad Yani-351, KRI Pati Unus-371, KRI Kapitan Pattimura-384, dan pesawat Cassa U-618.

Presiden SBY pun memberikan penghormatan balasan. Mendampingi Presiden SBY, antara lain, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menhan Purnomo Yusgiantoro, Mensesneg Sudi Silalahi, Setkab Dipo Alam, Kapolri Jenderal Timur Pradopo, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, dan KSAL Laksamana TNI Soeparno.

Dengarkan Paparan Menhan di atas KRI Diponegoro

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendengarkan paparan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di atas KRI Diponegoro, dalam perjalanan dari Singapura menuju Pulau Nipah, Provinsi Kepulauan Riau, Sabtu (2/6) siang.

"Sambil menuju Pulau Nipah, pos depan pertahanan kita yang akan kita tinjau, saya memberi kesempatan kepada Menhan bersama Panglima TNI untuk memaparkan laporan," kata SBY di awal acara.

"Silakan melaporkan tentang, pertama, gelar yang telah kita lakukan di Pulau nipah. Kedua, rencana pembangunan pangkalan untuk batalyon marinir di Pulau Batam atau di manapun nanti yang direkomendasikan kepada saya. Kemudian jika waktu masih memungkinkan, dijelaskan kebijakan kita untuk membangun Pulau Nipah ke depan," SBY menambahkan.

Sumber: Presiden RI

Latihan VBSS dalam Latma CARAT 2012


(Foto: Dispenarmatim)

2 Mei 2012, Surabaya: Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksda TNI Agung Pramono SH. M. Hum. Meninjau pelaksanan Latihan Visit Boarding Search and Seizure (VBSS). Kamis (23/5) di Selat Madura. Latihan VBSS yang ditinjau Pangarmatim itu merupakan bagian dari Latihan Bersama (Latma) Cooperation Afloat And Training (Carat) tahun 2012, antara TNI AL dengan US Navy.

Dalam peninjauan langsung ke lokasi latihan itu, Pangarmatim didampingi oleh Asops Pangarmatim, Dansatpaska, Dansatrol, Kapuskodal, Wadan Kolatarmatim, Komandan KRI Frans Kaisiepo-368 serta Komandan KRI Sultan Iskandar Muda-367 menggunakan kendaraan tempur Sea Rider milik Komando Pasukan Katak (Kopaska) Latihan ini diikuti oleh personel dari TNI AL yang terdiri dari Kopaska, ABK KRI dan personel US Navy.


Awak korvet Sigma KRI Sultan Iskandar Muda-367 mendemontrasikan teknik Visit, Board, Search and Seizure (VBSS) dihadapan personil U.S. Navy dan Coast Guard di atas kapal niaga KM Jati Pura. Latihan VBSS salah satu materi Latihan Bersama CARAT 2012 Indonesia. (Foto: U.S. Navy/ Mass Communication Specialist 1st Class Elizabeth Thompson)

Personil US Navy mendemontrasikan prosedur VBSS pada personil TNI AL. (Foto: US Navy/ by Mass Communication Specialist 1st Class Elizabeth Thompson)

Awak kapal korvet Sigma KRI Sultan Iskandar Muda-367 kembali ke kapal setelah menyelesaikan latihan VBSS dengan prajurit U.S. Navy dan Coast Guard. (Foto: U.S. Navy/ Mass Communication Specialist 1st Class Elizabeth Thompson)

Sumber: Dispenarmatim/U.S. Navy

Modernisasi Militer Indonesia akan Memperkuat Kerja Sama Keamanan di Kawasan


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertemu Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong (kanan) pada rangkaian acara Shangri-La Dialogue, di Singapura, Jumat (1/6).Selain menjadi Pembicara Kunci pada forum pertemuan tahunan di bidang pertahanan dan keamanan di kawasan Asia Pasifik ini, Presiden SBY juga dijadwalkan bertemu dengan Presiden Singapura Tony Tan Keng Yam. (Foto: ANTARA/Muchlis/pd/12)

1 Juni 2012, Jakarta: Singapura: Di kawasan Asia, kita melihat tren peningkatan anggaran belanja militer dan upaya-upaya untuk memodernisasi peralatan militer. Ini adalah konsekuensi logis dari fakta tentang pertumbuhan ekonomi di Asia dan mereka mampu membelanjakannya bagi anggaran pertahanan.

“Ini juga terjadi di Indonesia yang berusaha untuk memordenisasi kemampuan militer kami,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menyampaikan pidato kunci pada Opening Dinner for the 11th International Institute for Strategic Studies (IISS), the Shangri-La Dialogue di Island Ballroom, Tower Hotel Shangri-La, Singapura, Jumat (1/6) malam.

Dalam 20 tahun terakhir atau lebih, terang Presiden SBY, krisis ekonomi dan faktor-faktor yang lain memaksa pemerintah Indonesia untuk mengalokasikan anggaran yang minim bagi pertahanan dan keamanan.

“Sebagai hasilnya, postur pertahanan kami sangat minim,” kata SBY. “Sekarang, Indonesia adalah ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan pertumbuhan GDP berkisar antara 6.5 persen. Kami berada di posisi yang lebih baik untuk mengalokasikan bagian yang lebih besar untuk anggaran pertahanan nasional.

Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kapasitas kami untuk melindungi wilayah perbatasan, untuk menanggulangi ancaman trans-nasional, untuk meningkatkan kontribusi pada operasi menjaga perdamaian dunia, untuk lebih siap pada Operasi Militer Selain Perang, dan untuk melaksanakan operasi khusus,” Presiden SBY menjelaskan.

“Baru-baru ini, sebagai contoh, pasukan bersenjata kami untuk pertama kalinya melaksanakan operasi militer terjauh untuk menyelamatkan pelaut Indonesia yang disandera perompak Somalia, sebuah misi sulit yang alhamdulillah berjalan sukses,” ujar Kepala Negara.

Namun demikian, Presiden SBY meyakinkan dunia bahwa usaha memodernisasi militer Indonesia akan berlangsung transparan, dan akan dipadukan dengan usaha intensif pada upaya-upaya membangun kepercayaan seperti pelatihan dan pertukaran militer bersama.

“Kami akan memastikan bahwa modernisasi militer kami tidak akan membuat sebuat ketegangan baru, namun justru akan memperkuat kerja sama keamanan di kawasan,” tegas Presiden SBY.

Sumber: Presiden RI