Pages

Friday, 29 June 2012

Jupiter Aerobatic Team Beraksi di Langit Bangkok


29 Juni 2012, Bangkok: Jupiter Aerobatic Team (JAT) TNI AU unjuk kebolehan dan telah memukau publik Bangkok dalam atraksinya pada acara Air Show di Appron Terminal Cargo, Don Muang International Airport, Thailand, pada tanggal 29-30 Juni 2012. Tampilnya JAT TNI-AU dimaksud atas undangan Royal Thai Air Force (RTAF) Thailand dalam rangka perayaan 100 Tahun RTAF yang puncak peringatannya akan dilaksanakan pada tanggal 2 Juli 2012 dan akan dihadiri oleh PM Yingluck Sinawatra, berikut pejabat tinggi negara lainnya baik sipil maupun militer.

Dalam acara peringatan satu abad penerbangan RTAF sebagaimana tersebut di atas, RTAF mengadakan kegiatan dengan mengundang angkatan udara dari sejumlah negara sahabat dalam exhibition, Static Show, Air Show, Aerobatic Show RTAF, RSAF dan TNI AU, serta music band yang dimainkan oleh tim RTAF dan TNI AU. Negara yang terlibat dalam acara ini adalah Thailand, Indonesia, Singapura dan Malaysia.

Keikutsertaan JAT dalam HUT bersejarah penerbangan RTAF Thailand ini merupakan implementasi dan bukti hubungan bilateral yang sangat baik antara TNI AU – RTAF. Kedua belah pihak merupakan negara pertama di ASEAN yang telah melakukan Latihan Bilateral dengan nama Elang Thainesia, yang dimulai 30 tahun yang lalu, dan pada periode waktu selanjutnya diikuti oleh negara-negara ASEAN lainnya.

Setelah pelaksanaan Air Show, telah dilangsungkan pula upacara penyerahan flying suit oleh Komandan JAT TNI AU kepada Commander-in-Chief RTAF ACM Itthaporn Subhawong dan Duta Besar Lutfi Rauf, yang didampingi Atase Udara RI Kol Pnb A.Joko Takarianto.

Duta Besar Lutfi Rauf menyampaikan harapannya bahwa hadirnya JAT dalam peringatan ini menjadi awal tonggak sejarah untuk semakin mempererat hubungan bilateral kedua angkatan udara TNIAU-RTAF.

“Kehadiran JAT merupakan perwujudan dari hubungan yang baik antar kedua negara, terutama antara kedua Angkatan Udara. Disamping itu, kegiatan ini juga memberikan kesempatan bagi JAT untuk menunjukkan keterampilan dan profesionalitas para penerbang TNI AU dalam aerobatic team ini” demikian Duta Besar Lutfi menyampaikan.

Sementara itu Commander-in-Chief RTAF menyampaikan penghargaan yang setinggi tingginya dan rasa terima kasih untuk JAT yang telah turut berpartisipasi dalam peringatan 100 tahun penerbangan RTAF Thailand, peringatan yang sangat bersejarah ini sembari mengucapkan salam "EVERLASTING FRIENDSHIP TNI AU-RTAF."

Terdapat hal yang perlu dicatat dalam event ini, bahwa JAT adalah aerobatic team pertama yang hadir dalam perayaan ini. Selain itu, bagi JAT sendiri, event ini merupakan pengalaman pertama tampil di luar negeri. Pada kegiatan ini, tak ketinggalan pula RSAF F16 turut serta dalam solo aerobatic, seluruh pesawat RTAF dengan Aerobatic Team-nya Blue Phoenix, RTN, RSAF, RTA, serta Royal Thai Police yang ikut meramaikan acara.

JAT tiba di Thailand pada tanggal 26 Juni 2012 didahului oleh pesawat tim aju C-130 dari Skuadron Udara 32, disusul 7 pesawat KT1 dan diakhiri oleh pesawat C-130 sebagai pendukung. JAT dan rombongan terbang melalui Medan, Hatyai, Prachuab, Bangkok dimana pada setiap pemberhentian mengisi bahan bakar. Rombongan JAT dipimpin oleh Kol Pnb Lubis, Komandan Wing Pendidikan Terbang dengan diikuti 12 penerbang lainnya.

Sumber: Kemlu

Presiden: Indonesia Perlu Membangun Strategi Budaya Baru


29 Juni 2012, Bandung: Melihat perkembangan geopolitik di Asia Pasifik, Indonesia perlu membangun strategi budaya baru (new strategic culture). Dengan cara itu, Indonesia akan selalu siap untuk menjadi bagian dari solusi damai di kawasan, bukan menjadi bagian dari masalah.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan hal ini dalam pembekalannya kepada siswa Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI, Sesko Angkatan, dan Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah (Sespimmen) Polri di Gedung Soedirman, Markas Komando Sekolah Calon Perwira (Mako Secapa) TNI Angkatan Darat, Hegarmanah, Bandung Jumat (29/6) pukul 09.00 WIB.

Pembekalan Presiden ini berjudul Perkembangan Geopolitik di Asia Pasifik Abad 21 dan Pengaruhnya Terhadap Indonesia. "Dengan new strategic culture kita betul-betul bisa membangun perdamaian yang kokoh dan berkelanjutan di kawasan ini," kata Presiden SBY. Untuk mendukung hal itu Indonesia perlu terus membangun apa yang disebut dengan confidence building measures.

Tindakan yang perlu dilakukan, antara lain, dengan meningkatkan postur pertahanan. "Kita membangun postur yang disebut dengan minimum essential force yang transparan kita lakukan dan kita juga menjaga terus melakukan confidence bulinding measures. Ini juga salah satu cara kita untuk mencegah ketidakpercayaan (mistrust) di antara kita semua," SBY menjelaskan.

Presiden SBY juga mengedepankan pentingnya diplomasi yang semakin konstruktif. Indonesia sendiri terus mengembangkan kemitraan yang komprehensif dengan negara-negara sahabat yang dalam 8 tahun terakhir mencapai lebih dari 10 negara.

Akhirnya, lanjut Presiden, semua tindakan ini untuk menuju dan membangun sebuah kerja sama geopolitik yang baru (a new geopolitic of cooperation. "Mari kita perluas kerja sama yang bersifat win-win, kemudian mari kita kurangi rivalitas yang mengarah kepada zero-sum," SBY menambahkan.

Sumber: Presiden RI

Komisi I Kuker Pelajari IndustrI Pertahanan Brasil dan Spanyol


27 Juni 2012, Senayan: Terkait pembahasan RUU Industri Pertahanan, sejumlah anggota Komisi I DPR akan melakukan kunjungan kerja ke Spanyol dan Brasil pada 1-7 Juli 2012. Apa tujuan dan alasan Komisi I kunker ke kedua negara tersebut?

"Jadi, tujuan kami kunker ke dua negara tersebut di antaranya untuk mendapatkan gambaran secara umum mengenai konsep dan sistem dalam industri pertahanan yang diselenggarakan pada negara tujuan kunker. Termasuk mempelajari berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai industri pertahanan di negara tersebut," ujar Wakil Ketua Komisi I Tubagus Hasanuddin dalam penjelasannya di Press Room DPR RI, Selasa (26/6).

Politisi PDIP ini mengatakan, sasaran yang diharapkan dapat tercapai dari kegiatan kunker ini ialah mendapatkan informasi mengenai sistem dan konsep yang berkaitan dengan industri pertahanan, dari segi kelembagaan atau pelaku industri pertahanan, penyertaan modal negara untuk pendirian industri pertahanan, lembaga regulasi industri pertahanan. Juga standardisasi alat peralatan pertahanan dan keamanan, penelitian, pengembangan dan rekayasa dalam industri pertahanan (research and development) serta sistem pengadaan pertahanan terintergrasi.

"Termasuk soal sanksi terhadap kejahatan di bidang industri pertahanan, sistem pengawasan industri pertahanan, tanggung jawab anggaran industri pertahanan, serta bagaimana soal insentif tarif bea dan fiskal dalam industri pertahanan," ujarnya.

Lantas, kenapa negara yang jadi tujuan kunker adalah Spanyol dan Brasil? Kata Hasanuddin, kedua negara tersebut dinilai memiliki produk alutsista berkualitas tinggi dan memenuhi persyaratan atau tuntutan yang tinggi.

"Di negara tersebut industri pertahanannya secara aktif berpartisipasi dalam restrukturisasi berbagai sektor dan memperluas pasar serta menyesuaikan kapasistas produksinya dengan kebutuhan pasar. Termasuk Kemhan Spayol memberikan dukungan penuh atas kebijakan industri pertahanannya melalui armament and equipment policy terutama dalam inovasi teknologi yang mengadaptasikan dengan situasi dunia terkini," ujarnya.

Sementara, Brasil dipilih atas pertimbangan bahwa negara itu merupakan sebuah negara dengan wilayah yang paling luas dengan jumlah penduduknya yang besar (192 juta jiwa tahun 2010) di Amerika Selatan. Dengan kemajuan ekonominya kini mampu membangun beberapa industri pertahanan dengan kualitas yang sangat baik. Brasil kini menjadi salah satu negara penting pengekspor di bidang persenjataan, terutama bagi negara-negara berkembang.

"Produk industri Brasil selama ini dikenal berkualitas tinggi, mudah dalam pemeliharaan, kinerjanya baik dalam kondisi ekstrem sekalipun, dan harganya murah. Produknya meliputi amunisi, granat, ranjau, kendaraan pengangkut pasukan (APV), kapal patrol, pesawat patroli laut, turboprop trainers, tank, dan pesawat tempur supersonik," ujarnya.

Hasanuddin menambahkan, pada 15 Maret 2012, Wakil Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menerima kunjungan Dubes Brasil untuk Indonesia Paulo Alberto da Silveira Soares di Jakarta. Dalam pertemuan itu, Dubes Brasil menawarkan produk alutsista terbaru kedirgantaraan atau kapal perang serta peningkatan kerja sama industri pertahanan melalui pembangunan pesawat terbang dan kapal perang antara industri pertahanan laut dan udara kedua negara. "Seperti diketahui, Indonesia pun saat ini telah memesan 16 unit pesawat tempur Super Tucano A29 buatan Industri Embraer Defense System, Brasil," pungkasnya.

Sumber: Jurnal Parlemen