Pages

Tuesday, 30 October 2012

Siasat Dagang Makelar Senjata



foto
Pemeriksaan pesawat tempur Hawk 200 di Depo Pemeliharaan 30 Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur. TEMPO/Abdi Purmono
 TEMPO.CO, Jakarta - Jatuhnya pesawat Hawk di Riau memperjelas kabar yang selama ini terdengar samar: peralatan militer Indonesia sudah ketinggalan zaman. Dari 234 unit pesawat tempur, hanya separuh yang layak terbang. Tiga angkatan TNI menghadapi kondisi yang kurang-lebih sama. Angkatan Darat, misalnya, masih menggunakan sejumlah peralatan tempur yang lebih tua daripada usia jenderalnya.

Majalah Tempo edisi Senin, 29 Oktober 2012, menurunkan laporan utama berjudul "Repot Mencari Simbah" mengenai pengadaan alat utama sistem senjata. Selain uzur, peralatan itu dibeli dari banyak negara sehingga platform-nya pun berbeda-beda. Itu sebabnya, dalam urusan pembelian senjata, kerap terdengar olok-olok bahwa penentunya bukan angkatan, melainkan rekanan. Peran pihak ketiga alias makelar dalam pengadaan peralatan militer ditengarai bahkan lebih dominan dibandingkan dengan penggunanya.


Broker, yang mewakili produsen, umumnya menyorongkan peralatan pada awal masa penyusunan anggaran. Angkatan atau Kementerian Pertahanan kemudian menyusun spesifikasi pembelian peralatan militer berdasarkan tawaran itu. Tentu saja, seperti yang terjadi pada pembelian helikopter tempur Mi-17 dari Rusia pada 2007, suap mewarnai proses ini. Analis militer menyebutkan, pembelian model ini berdasarkan desakan pemasok (supplier driven factors) dan tak semata muncul dari kebutuhan (need driven analysis).

Potensi korupsi dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan memang sangat besar. Soalnya, peralatan militer memiliki spesifikasi khusus yang acap tidak ada pembandingnya. Produsennya pun terbatas, bahkan pada beberapa peralatan hanya ada produsen tunggal. Apalagi, dengan alasan rahasia, pengadaan dilakukan melalui penunjukan langsung.

Meski dinyatakan telah jauh berkurang, peran makelar--juga korupsi--dalam pembelian senjata ternyata masih cukup besar. Dengan karakteristik peralatan yang dibeli, seperti dikatakan Said Didu, Asisten Bidang Kebijakan Komite Kebijakan Industri Pertahanan, peluang tertinggi terjadinya kebocoran ada pada Angkatan Laut, sementara yang terkecil pada Angkatan Darat.

Peluang korupsi dalam pengadaan alat militer itu semestinya segera ditutup. Peran makelar juga sepatutnya diakhiri. Apalagi anggaran belanja alat tempur ini meningkat setiap tahun. Dari sekitar Rp 28 triliun tahun ini, dua tahun mendatang anggaran itu sudah Rp 43,8 triliun. Pada 2030, alokasi dana untuk belanja alat utama sistem persenjataan akan menembus Rp 100 triliun.

Sumber :Tempo

Komisi I DPR tinjau Lanud Halim


Komisi I DPR bersama Komandan Lanud Halim Marsma TNI A. Adang Supriyadi, di Hanggar Skadron Udara 17 Lanud Halim Perdanakusuma. (Foto: Pentak Halim)
Komisi I DPR bersama Komandan Lanud Halim Marsma TNI A. Adang Supriyadi, di Hanggar Skadron Udara 17 Lanud Halim Perdanakusuma. (Foto: Pentak Halim)
Sindonews.com - Kunjungan kerja (kunker) Komisi I DPR RI ke Landasar Udara (Lanud) Halim Perdana Kusuma dalam rangka melaksanakan fungsi dan wewenang DPR sebagai legislasi, fungsi pengawasan dan funfgsi anggaran.

Kunjungan ke Lanud Halim untuk mengetahui secara langsung permasalahan-permasalahan yang diahadapi satuan-satuan yang berada dijajaran Lanud Halim.



"Tujuan kunker ke jajaran Lanud Halim adalah untuk mendapatkan data dan informasi mengenai kesiapan Lanud Halim dalam mengdukung kegiatan tugas pokok TNI Angkatan Udara (AU), serta permasalahan-permasalahan yang terjadi baik menyangkut alutsista, sarana dan prasarana, pembinaan personel maupun kesejahteraan prajurit," ujar Wakil Ketua Komisi I Ramadhan Pohan yang juga sebagai Ketua Rombongan, katanya dalam rilis yang diterima oleh Sindonews, Senin (29/10/2012).

Menurut, politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Tri Tamtomo, Lanud Halim Perdanakusuma adalah Lanud yang mempunyai nilai strategis yang sangat tinggi, karena di Lanud ini tempat para tamu negara datang dan kembali serta tempat ini pula yang sering digunakan oleh Presiden dan Wakil Presiden atau VVIP/VIP.

"Lanud ini harus mendapatkan prioritas utama untuk pengamanannya dan Alusistanya," katanya.

Setelah mendapat paparan dari Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsekal Pertama TNI A. Adang Supriyadi, tentang alutsista yang ada di Lanud Halim dan sistem keamanannya, dilanjutkan paparan dari masing-masing Komandan Skadron mulai dari Skadron 2, Skadron 17, Skadron 31, Skadron 45 dan Batalyon Paskhas 461 serta yang terakhir dari Skadron Teknik 021.

Dalam kunjungan tersebut, Komisi I diterima oleh Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsekal Pertama TNI A. Adang Supriyadi, SE bersama Pejabat lainnya, dari Mabesau Aslog Kasau Marsda TNI Sitompul dari Kemhan dan Pejabat lainnya dari Lanud Halim di Ruangan Suma Satu, Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma.

Sumber :   Sindonews

Panglima TNI Lantik 405 Prajurit Taruna Akademi TNI




tni-sub
MAGELANG (Pos Kota) – Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E. melantik 405 Prajurit Taruna Akademi TNI, terdiri dari 215 Taruna Akmil, 90 Kadet AAL dan 100 Karbol AAU, di Lapangan Sapta Marga Akademi (Akmil) Magelang, Senin (29/10/2012).

Pendidikan dasar keprajuritan Taruna Akademi TNI Tahun  2012 telah dilaksanakan selama tiga bulan dan semuanya dinyatakan lulus, sedangkan lulusan terbaik untuk masing-masing Matra yaitu :  Prajurit Taruna Istario (Darat), Prajurit Kadet Fa’iz Farrel Apriyono (Laut) dan Prajurit Karbol Juliar Dwidya Firmansyah (Udara).

Panglima TNI dalam sambutannya menyampaikan selamat dan bangga kepada segenap prajurit Taruna yang baru saja dilantik, setelah melalui proses pendidikan ”Chandradimuka”, yang merupakan bentuk pendidikan dasar kemiliteran bagi Taruna Akademi TNI. ”Belajar dan berlatihlah dengan sungguh-sungguh, sebab belajar dan berlatih adalah tugas pokok prajurit selama menyandang predikat Taruna, guna membangun idealisme kebangsaan, kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologi serta kapabilitas sebagai generasi muda intelektual prajurit TNI, yang siap mengabdikan dirinya bagi bangsa dan negara”, tegas Panglima TNI.


Oleh karena itu, laksanakan semua kegiatan pendidikan yang telah digariskan lembaga dengan penuh kesadaran dan ketulusan. jadikan tradisi dan suasana kehidupan militer yang penuh dengan norma, etika dan aturan, sebagai bagian kehidupan untuk membentuk kemampuan fisik, kekuatan mental, disiplin, dedikasi, loyalitas, karakter dan jatidiri, serta profesionalisme.  Semua itu merupakan tuntutan profesi dan kompetensi, guna menghadapi segala tantangan tugas sebagai prajurit TNI Di Masa Yang Akan Datang.

Selanjutnya, kata Panglima TNI, jadikan kebersamaan selama pendidikan dasar Chandradimuka, sebagai basis dari pembentukan dan penguatan integrasi spiritual di antara para Taruna, Kadet dan Karbol.  Berangkat dari kebersamaan itulah, sesungguhnya para prajurit telah diberi bekal dan fondasi untuk membangun jejaring psikologis, sosiologis dan integritas, dalam diri masing-masing sebagai sesama prajurit TNI.  Integrasi spiritual itu harus terus dibina dan dikembangkan di masa-masa yang akan datang, di manapun bertugas dan berada.  Itulah landasan dalam memperkuat jiwa, tekad dan semangat soliditas, solidaritas dan integritas, baik intern maupun antar angkatan, demi semakin kokoh dan mantapnya integrasi dan integritas TNI.



Sejarah membuktikan, dengan integrasi spiritual yang terwujud dalam integrasi TNI, merupakan prasyarat dan jaminan utama bagi keberhasilan TNI dalam mengemban dan melaksanakan tugas pokok guna menjamin tetap tegak dan kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Acara pelantikan Prajurit Taruna Akademi TNI, antara lain dihadiri oleh Kasad Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, Kasal Laksamana TNI Soeparno, Kasau Marsekal TNI Imam Sufa’at, para pejabat di lingkungan Mabes TNI dan Angkatan.

Kadispenum Puspen TNI
Kolonel Cpl. Ir. Minulyo Suprapto, M.Sc, M.Si, M.A.