Pages

Friday, 2 November 2012

TNI AL dan Angkatan Laut Singapura Gelar Latihan Bersama Sea Eagle 22/12

http://www.idecom-development.me/armabar-files/images/news/1418/7f0a4155-ada1-1067-92f8-339cb3abb16a.jpg 
Jakarta., 2 Nopember 2012…. TNI AL dan Angkatan Laut Singapura akan menggelar latihan bersama Sea Eagle 22/12 yang direncanakan akan berlangsung mulai tanggal 4- 14 November 2012 dengan melibatkan dua kapal perang RI dan satu kapal perang Republik Of Singapura Navy (RSN) dengan menggelar kegiatan di Indonesia dan Singapura
Kegiatan latihan bersama ini dilaksanakan setiap dua tahun sekali oleh TNI AL dan RSN yang berlangsung sejak tahun 1974 lalu diselenggarakan di Indonesia dan Singapura.

Dalam latihan bersama yang ke 22 kalinya ini, direncanakan TNI AL akan melibatkandua kapal perang jenis Sigma KRI Frans Kaisiepo-368 dari Komando Armada RI Kawasan Timur dan jenis kapal cepat Fast Patrol Boat (FPB) 57 KRI Lemadang-632 dari Komando Armada RI Kawasan Barat. Sedangkan RSN melibatkan kapal perang RSS (Republic of Singapore Ship, berarti Kapal Republik Singapura) jenis Fregat RSS Stalwart-72
Dalam latihan bersama ini direncanakan diawali dengan kegiatan kedatangan kapal perang Singapura RSS Stralwart-72 sandar di dermaga Pelabuhan Tanjung Priok Jakartadalam rangka kegiatan latihan bersama dan kunjungan kehormatan ke Koarmabar.
Kegiatan Latma Sea Eagle 22/12 terbagi dalam tiga tahap meliputi latihan di Pangkalan (Harbaur Phase) selama dua hari dengan melibakan dua KRI dan satu kapal perang RSN . 
Selanjutnya tahap kedua dilaksanakan manuver lapangan ( Sea Phase) mulai dari perairan laut Jawa dengan menggelar beberapa serial latihan dan lintas laut melalui perairan Selat Karimata dan perairan laut Natuna dengan melibatakan dua kapal perang TNI AL dan satu kapal RSN yang direncanakan berlangsung selama empat hari.
Sedangkan untuk tahap ke tiga, kegiatan latihan bersama kedua angkatan lautdipusatkan di Cangi Naval Base (CNB) di Singapura dengan beberapa kegiatan yang akan dihadiri delegasi TNI AL.. Selama kegiatan tersebut dua unsur KRI merapat di dermaga Cangi Naval Base (CNB) di Singapura dan akan melaksanakan kegiatan bersama yang akan dihadiri oleh personel dua angkatan laut diantaranya kaji ulang bersama pelaksanaan latihan dan olah raga bersama serta ,kunjungan ke kapal Singapura , resepsi ( Coctail Party ) di KRI Frans Kaisiepo-368) dan dilanjutkan dengan Upacara penutupan Latma SeaEagle 22/12 di Cangi Naval Base (CNB) .
Dalam latihan bersama Sea Eagle 22/12 kali ini TNI AL akan melibatkan 2 KRI denganKomandan Satuan Gugus Tugas Letkol Laut (P) I .G.P Aswan Candra yang sehari-hari menjabat Wakil Komandan Komando Latihan Komando Armada RI kawasan Barat (Wadan Kolat Koarmabar )
 
Sumber :Kompasiana

Fasilitas Hanggar Pesawat Tanpa Awak Siap Digunakan


Pesawat tanpa awak Pelatuk dikembangkan Kemhan, Kemenristek dan BPPT. (Foto: VIVAnews/Muhamad Solihin)

2 November 2012, Jakarta: TNI AU sudah menyiapkan hanggar untuk skuadron pesawat tanpa awak. Rencananya skuadron ini akan ditempatkan di Pontianak. Pengadaan skuadron ini sudah direncanakan jauh-jauh hari oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan). "Hanggar sudah selesai. Tinggal menunggu kedatangan pesawatnya," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama Azman Yunus, saat dihubungi Koran Jakarta, Kamis (1/11).

Azman mengatakan skuadron pesawat tanpa awak ini akan difokuskan untuk memantau perbatasan. Itu alasan mengapa pesawat tersebut akan ditempatkan di Pontianak karena dekat dengan sejumlah perbatasan. Nantinya, pesawat juga akan dilengkapi peralatan berupa pengintaian hingga radar untuk memantau cuaca.

Pesawat yang sedang ditunggu kedatangannya itu dipastikan bukan pesawat buatan Indonesia. "Ya, pesawat dari luar (negeri). Pesawat dalam negeri belum memenuhi kebutuhan operasi yang kami ajukan," kata Azman. Dia menambahkan alasan lain memilih produk luar negeri karena daya jelajahnya yang tinggi.

"Kami membutuhkan pesawat tanpa awak yang memiliki daya jelajah hingga 400 kilometer. Dan industri di dalam negeri belum ada yang bisa membuatnya," tambah dia. Dia juga mengatakan belum menghitung berapa pesawat yang akan didatangkan untuk memenuhi skuadron tersebut, termasuk TNI AU juga belum menentukan siapa yang nanti dipercaya mengomandani skuadron itu.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, mengatakan keberadaan skuadron pesawat tanpa awak perlu untuk mengefektifkan pengamanan perbatasan. "Sementara ini, skuadron yang akan kita bangun memang untuk pengintaian dan pengamatan wilayah," kata Purnomo.

Kepala Staf TNI AU, Marsekal Imam Sufaat, mengatakan TNI AU menginginkan pesawat tanpa awak yang memiliki daya jelajah dan daya tahan yang lama. Dan pilihan itu jatuh pada pesawat tanpa awak asal Filipina yang teknologinya dari Israel. Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, saat rapat dengan Komisi I, mengatakan akan membeli 4 pesawat intai tak berawak dengan anggaran 16 juta dollar AS.

Sumber: Koran Jakarta

Indonesia Belanja Alutsista di Inggris


Presiden SBY dan PM Inggris David Cameron menyaksikan penandatanganan MoU kedua negara, seusai pertemuan bilateral di Downing Street 10, London, Inggris, Kamis (1/11) siang. (Foto: rusman/presidensby.info)

2 November 2012, London: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Inggris David Cameron menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) di kantor sekaligus kediaman Cameron, di 10 Downing Street. Kerja sama yang disepakati itu adalah di bidang pertahanan, pendidikan, dan ekonomi kreatif.

Kerja sama bidang pertahanan diteken Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Pertahanan Inggris Phillip Hammond, M.P. Kerja sama itu berupa bantuan peningkatan kapasitas bagi Tentara Nasional Indonesia di Pusat Studi Perdamaian dan Keamanan dalam bentuk peralatan audio visual untuk pelatihan bahasa, juga menyediakan kursus-kursus dan seminar bagi anggota pasukan perdamaian.

Bentuk kerja sama di bidang pertahanan lainnya berupa kontrak penjualan alat-alat pertahanan kepada angkatan udara, angkatan darat, dan angkatan laut Indonesia. Peralatan itu di antaranya peluru kendali Starstreak, senapan sniper, kapal perang kecil multiguna (Multi Roles Light Frigate – MLRF), dan suku cadang untuk pesawat tempur Hawk 109/209.

Tidak dijelaskan apakah kedua kepala pemerintahan itu membicarakan tindak lanjut rencana penjualan 24 unit pesawat tempur Eurofighter Typhoons senilai 2 miliar pound sterling ke Indonesia. Penjualan pesawat tempur senilai Rp 29,2 triliun itu, menurut media Inggris The Guardian, telah disepakati oleh pemerintah Inggris dan Indonesia tahun lalu.

Sebelumnya, dalam kunjungan ke Indonesia pada April 2012 lalu, Cameron membawa sejumlah pengusaha bidang pertahanan. Tidak memerincinya secara mendetail, dia mengakui Inggris menjual beberapa perlengkapan pertahanan kepada Indonesia.

Sumber: TEMPO