Pages

Wednesday, 20 March 2013

RI-Timor Leste Sepakat Tuntaskan Masalah Perbatasan

Jakarta • PEMERINTAH Indonesia dan Pemerintah Timor Leste sepakat untuk menuntaskan masalah perbatasan diantara kedua negara. Saat ini masih ada tiga wilayah perbatasan kedua negara yang demarkasinya belum disepakati.

Hal ini dikatakan Menteri Luar Negeri (Menlu), Marty Natalegawa. Marty ikut mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menerima kunjungan kehormatan Perdana Menteri Timor Leste, Xanana Gusmao di Istana Merdeka, Rabu (20/3).

"Sebagaimana diketahui kurang lebih 90 persen perbatasan darat antara Indonesia dan Timor Leste sudah terselesaikan, namun ada tiga titik yang belum tuntas demarkasinya. Jadi tadi itu dibahas dan ditegaskan komitmen kedua kepala pemerintahan untuk menyelesaikan masalah ini dalam waktu yang relatif singkat," papar Marty kepada wartawan.

Adapun tiga wilayah perbatasan yang demarkasinya belum disepakati antara lain Dilumik-Memo, Bijael Sunan-Oben dan Noel Besi-Citrana. Marty menambahkan, kedua negara juga sepakat untuk menerapkan suatu peraturan khusus di kawasan perbatasan. Aturan ini akan memudahkan koneksi antara warga Indonesia dan Timor Leste yang bermukim di sisi masing-masing wilayah perbatasan. "Sehingga memungkinkan warga Timor Leste dan warga Indonesia yang berada di sisi masing-masing perbatasan untuk bisa melanjutkan hubungan sosial dan kekeluargaan yang selama ini sudah terjalin selama bertahun-tahun di antara mereka," kata Menlu Marty.

Pertemuan antara Presiden SBY dan PM Xanana Gusmao juga membahas soal upaya Timor Leste untuk menjadi anggota tetap ASEAN. Marty menegaskan, Pemerintah Indonesia mendukung keanggotaan Timor Leste di organisasi negara kawasan Asia Tenggara. Hasil pertemuan hari ini akan ditindaklanjuti oleh menlu kedua negara, Kamis (21/3) besok, Menlu Marty akan bertemu dengan Menlu Timor Leste, Jose Luis Gutteres untuk membahas realisasi kerja sama kedua negara.

"Esok pagi kami akan bertemu dengan Menlu Timor Leste untuk menindaklanjuti apa yang diinstruksikan oleh Bapak Presiden dan PM barusan," tandas Marty.

Sumber Jurnas

Menhan: TNI Bersiaga Cegah Konflik Sabah Meluas ke Indonesia


Menhan: TNI Bersiaga Cegah Konflik Sabah Meluas ke Indonesia
Purnomo Yusgiantoro (Antarafoto/Prasetyo Utomo)
 Jakarta : Konflik memperebutkan wilayah Sabah antara pemerintah Malaysia dan Kesultanan Sulu Filipina masih memanas. Menindaklanjuti hal ini, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, TNI akan berjaga-jaga wilayah perbatasan agar konflik di wilayah Sabah tidak meluas.

"Konflik yang terjadi di wilayah Sabah berada sekitar 150 km dari perbatasan Indonesia. Namun, penjagaan di perbatasan tetap dilakukan untuk mengantisipasi kebocoran," kata Menhan usai pembukaan Dialog Pertahanan Internasional Jakarta (Jakarta International Defense Dialogue/JIDD) 2013 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Rabu (20/3/2013).

Dijelaskan dia, koordinasi telah dilakukan dengan Mabes TNI untuk mencegah meluasnya konflik ke Indonesia. "Yang pasti jangan sampai ada kebocoran. Kuncinya daerah perbatasan. Kita sudah perkuat dengan aparat kita, supaya tidak terjadi rembesan-rembesan, ujarnya.

Purnomo pun berharap agar Malaysia dan Filipina mampu menyelesaikan konflik yang terjadi di Sabah dengan cara diplomatik. Terkait konflik tersebut, Menhan menyebutkan Menteri Luar Negeri Albert del Rosario akan bertemu dengan Menlu Marty Natalegawa pada Jumat 22 Maret mendatang.

Selain itu, Purnomo memastikan akan menemui Menhan Malaysia Ahmad Zahid Hamidi yang turut hadir dalam forum JIDD guna membahas perkembangan konflik Sabah.

Melalui forum JIDD ini, sambung dia, diharapkan persoalan-persoalan perbatasan dengan negara tetangga bisa diatasi dengan diplomasi.

"Diplomasi merupakan cara yang baik untuk mengantisipasi ketegangan yang terjadi dengan negara tetangga akibat persoalan perbatasan," ujar Purnomo.

Ia mengatakan, persoalan perbatasan antara Indonesia dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Timor Leste dan Papua Nugini tidak sampai pada taraf "hard power" -- yang dapat menimbulkan konflik meningkat. "Persoalan perbatasan selalu dapat diatasi dengan baik," ujar Purnomo.

Konflik bersenjata terjadi sejak Kesultanan Sulu mengklaim wilayah Sabah yang masuk dalam bagian negara Malaysia merupakan tanah mereka. Namun, PBB maupun Presiden Filipina, Benigno Aquino telah mengatakan perundingan sebagai cara terbaik menyelesaikan klaim kesultanan Filipina atas wilayah Malaysia di Sabah. (Ant/Riz)

Sumber Liputan6

TNI AL Siagakan 6 Kapal Perang Di Ambalat


 KRI 354 OWA
Menyikapi perkembangan situasi di daerah perbatasan kaitannya dengan konflik di negara jiran yang belum menunjukkan tensi menurun, diperlukan kesiapsiagaan dari prajurit yang sedang bertugas di wilayah perbatasan tersebut, baik Satgas darat maupun Satgas laut. Hal ini untuk mengantisipasi agar tidak terjadi hal-hal yang dapat merugikan negara Indonesia, misalnya eksodus warga negara tetangga menuju Indonesia dan lain sebagainya. Untuk memberi motivasi dan semangat kepada prajurit TNI AL yang sedang bertugas di wilayah perbatasan tersebut, Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Agung Pramono, S.H., M.Hum melaksanakan kunjungan di wilayah Lanal Nunukan dan perairan Ambalat, Rabu (20/3). Dalam kunjungan tersebut Pangarmatim meninjau Pos Pengamat TNI AL (Posal) Sei Pancang, Satuan Radar Posal Sei Pancang, Patok Tiga Aji Kuning, Komando Taktis (Kotis) Marinir Sei Bajo dan Mako Lanal Nunukan dan memberikan arahan kepada Prajurit TNI AL yang bertugas di wilayah perbatasan itu.

Kepada prajurit KRI yang bertugas di perairan Ambalat, Pangarmatim memberikan penekanan kepada para prajurit agar selama melaksanakan tugas harus tetap semangat dan selalu meningkatkan kemampuan sebagai seorang prajurit matra laut serta memberikan rasa aman pada masyarakat diperbatasan, khususnya perairan Indonesia – Malaysia. Pangarmatim juga menjelaskan saat ini TNI AL menyiagakan 6 Kapal perangnya di perairan Ambalat yaitu KRI AHP - 355, KRI OWA - 354, KRI SINGA – 651, KRI TDN – 819, KRI SRG – 911 dan KRI PTL – 869. Hal ini diharapkan akan mampu memberikan rasa aman bagi masyarakat Nunukan dan mampu mengamankan kepentingan nasional.

Saat di Pangkalan TNI AL Nunukan, Pangarmatim menekankan kepada prajurit Lanal Nunukan agar selalu mejaga nama baik dan citra TNI AL. Sebagai prajurit yang bertugas diperbatasan, kata Pangarmatim, adalah suatu kebanggaan dan tidak semua prajurit diberikan kesempatan bertugas di perbatasan. Selain itu Pangarmatim juga berpesan agar semua prajurit TNI AL menjaga kekompakan, solidaritas antara TNI dan POLRI serta bangun kebersamaan dalam memberikan pengabdian pada negara dan bangsa Indonesia dengan cara tetap mengasah naluri tempur, kesiapsiapsiagaan, serta menjaga kondisi fisik, mental dan psikologis prajurit.

Sumber Kormartim