Pages

Thursday, 18 July 2013

Apache Lead The Way... !!

Akhir-akhir ini, terutama menjelang masa perubahan APBN 2013 beberapa waktu lalu, beredar kabar akan ditundanya pembelian heli serang Apache. Atau setidaknya banyak pernyataan dari kementrian pertahanan yang menyebutkan, pembelian Apache masih akan ditinjau atau dinegosiasikan. Pernyataan tersebut, tidaklah sepenuhnya salah. Namun kenyataannya, Kemenhan telah memiliki rencana yang jelas terkait pembelian heli serang buatan Amerika Serikat itu.




Dari data yang ARC dapatkan, yaitu program Rencana Kerja Pemerintah 2014, rencana pembelian Apache terpampang jelas. Anggaran untuk pembelian pun telah disiapkan tidak hanya untuk tahun 2014, melainkan juga hingga tahun 2017. Di tahun 2014, dianggarkan sebanyak 3 Trilyun rupiah atau jika dibandingkan dengan mata uang dollar sebanyak 300 juta dollar. Ditahun-tahun berikutnya pun dianggarkan sekitar 3 trilyun rupiah hingga tahun 2017. Cek tabel paling bawah.

Yang unik dan tidak lazim adalah, pencantuman jenis/merk heli Apache secara jelas dan nyata dalam matriks rencana tindak pembangunan kementrian/lembaga tahun 2014 pada RKP. Dengan demikian, hilang sudah kesempatan helikopter serang tipe lain untuk menggeser kedudukan Apache. Sementara, pada pembangunan pertahanan yang lain, baik Angkatan Darat, Laut maupun Udara, tidak ada jenis dan merk tertentu yang ditulis secara jelas.
Indonesia sendiri telah memohon pembelian Apache Block 3 kepada Amerika Serikat sejak pertengahan 2012 lalu. Rilis DSCA menyebutkan, pembelian 8 unit Apache oleh Indonesia ini diperkirakan menelan biaya hingga 1,4 milyar dollar. Nah, dengan kepastian tercantumnya Apache dalam RKP 2014, bisalah kita bilang, APACHE LEAD THE WAY...!!



ARC

Sidney Jones: Waspada Polisi Jadi Incaran Teroris

Mereka kini anggap polisi sebagai musuh terbesar
Seorang polisi berjaga di antara tumpukan kantongan pasir yang dipasang di depan pintu masuk kantor Satlantas Polres Palu, Sulawesi Tengah,  3 Juni 2013
Seorang polisi berjaga di antara tumpukan kantongan pasir yang dipasang di depan pintu masuk kantor Satlantas Polres Palu, Sulawesi Tengah, 3 Juni 2013 
Jaringan terorisme di Indonesia mulai melemah, namun Polri tetap harus waspada, karena musuh terbesar para pelaku terorisme di Indonesia kini adalah Polri. Alasannya, mereka telah lama menaruh dendam lantaran banyak rekan mereka yang tertangkap.

Demikian ungkap peneliti isu terorisme dari lembaga riset International Crisis Group (ICG), Sidney Jones. Dia menyampaikannya saat menjadi pembicara di Universitas Indonesia (UI) di Depok 16 Juli 2013.

Jones menyatakan melemahnya jaringan terorisme saat ini tidak terlepas dari kasus tewasnya pemimpin Al Qaeda, Osama Bin Laden. Saat ini, pelaku terorisme hanya bisa melihat Al Qaeda melalui situs internet.

"Musuh terbesar pelaku terorisme di Indonesia adalah Polri. Alasannya sederhana, mereka dendam karena selama ini banyak rekan mereka yang tertangkap. Ya semacam ajang balas dendam. Contoh kasus, pelaku mulai berani menyerang pos polisi di Solo dan bom bunuh diri di Mapolres beberapa waktu lalu," kata Sidney.

Lebih lanjut ketika disinggung apakah kerusuhan di Lapas Medan ada kaitannya dengan aksi terorisme? Sidney mengaku dirinya belum bisa berkomentar karena belum mempelajari kasusnya.

"Memang di sana ada tawanan pelaku teroris, namun ada kaitannya atau tidak saya belum tahu," kata Sidney didampingi Max Boon, salah seorang korban Bom JW Marriott.

nasional

Jambi Bakal Miliki Pangkalan AL di Ujung Jabung


Jambi • Rencana pembangunan Pelabuhan Ujung Jabung sepertinya akan memiliki dampak yang luas. Tidak hanya untuk kemajuan ekonomi Jambi, namun pembangunan Pelabuhan Ujung Jabung juga akan meningkatkan situasi keamanan di wilayah Jambi. Pasalnya, Jambi ditargetkan akan memiliki Pangkalan Angkatan Laut (Lanal).

Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus (HBA), mengatakan terkait rencana pembangunan Lanal tersebut dirinya telah bertemu dengan Panglima Komando Armada RI Wilayah Barat (Pangarmabar), Laksamana Muda (Laksda) TNI Arief Rudianto. Dikatakan HBA, Pangarmabar menyetujui usulan tersebut, dan merencanakan kunjungan kerja ke wilayah Jambi.

“Beberapa hari lalu saya kunjungi Panglima Armabar, kita menawarkan kenapa tidak bangun Lanal di Jambi. Apalagi dari kawasan Ujung Jabung akan kelihatan kapal lalu-lalang di Laut China Selatan. Rupanya, panglima sudah tahu akan hal itu. Makanya beliau langsung respon," kata HBA.

Sebagai tindak lanjut, kata HBA, Pangarmabar akan segera melakukan studi kelayakan dan survei lapangan. Jika tidak ada halangan, panglima beserta jajarannya akan berkunjung ke Jambi pada tanggal 21-23 Juli ini.

“Beliau akan ke Jambi dengan menggunakan kapal perang. Nanti beliau akan keliling Sabak bersama saya. Nanti teman-teman wartawan juga ikut. Rombongan juga akan bawa pesawat intai," beber HBA.

Bukti keseriusan atas rencana pembangunan Lanal tersebut, HBA mengatakan Pemprov Jambi bersedia menyediakan lahan yang dibutuhkan. "Saya sempat tanya berapa butuh tanah, 100 hektar kita siapkan,"

metro jambi