Pages

Wednesday, 13 August 2014

TNI Ajukan Rencana Pembangunan 1.034 Km Jalan Patroli di Perbatasan Kalimantan-Malaysia


 
Host 100 Hari Keliling Indonesia, Ramon Y Tungka Menengok Patok Perbatasan Indonesia dan Malaysia di Kalimantan Barat
BALIKPAPAN,– TNI ajukan rencana pembangunan jalan patroli di sepanjang titik-titik patok di perbatasan Kalimantan Timur dan Kalimatan Utara dengan Negara Malaysia. Rencananya jalan ini membentang sepanjang 1.034 kilometer dari Long Apari di Kutai Barat di Kalimantan Timur hingga Sei Ular di Nunukan, Kalimantan Utara.
Pembangunan jalan patroli diperkirakan memerlukan dana sedikitnya Rp 2 triliun. Pangdam VI Mulawarman Mayjen TNI Dicky Wainal Usman mengatakan TNI sedang mengajukan anggaran itu ke pemerintah.
“Rencana sudah matang. Sekarang kami sedang memohon ke pemerintah pusat untuk membuat jalan patroli, tapi belum ada anggarannya,” kata Dicky usai menutup kegiatan Karya Bakti TNI Kodam VI Mulawarman TA 2014, Senin (11/8/2014).
Dicky mengatakan, jalan patroli tersebut direncanakan memiliki lebar 12 meter dan berjarak 50 meter dari patok batas negara Indonesia-Malaysia. TNI merancang jalan bisa dilintasi kendaraan pengangkut logistik dan kendaraan aksi cepat. Mereka juga akan menempatkan pos-pos penjagaan beserta prajurit-prajuritnya di situ.
Tak hanya jalan
Menurut Dicky, TNI juga akan memasang pemantau di sepanjang jalan patroli yang direncanakan itu. Alat pemantau ini berteknologi laser yang mampu memantau keluar-masuknya orang atau kendaraan.
“Jadi dari pos ke pos tidak lagi pakai helikopter. Kami pakai helikopter secara terbatas saja. Dengan jalan menyambung terus dengan hutannya, maka pengamanan lebih mudah. Kendaraan bisa lebih lancar dan pasukan yang tinggal di pinggir hutan akan lebih cepat (pergerakannya),” papar Dicky.
Perbatasan Malaysia-Indonesia membentang sepanjang 2.019 km dari Tanjung Batu di Kalimantan sebelah Barat Laut, melewati dataran tinggi pedalaman Kalimantan, hingga ke Teluk Sebatik dan Laut Sulawesi di Timur Kalimantan.
Dengan panjang perbatasan itu, banyak persoalan yang bisa terjadi mulai dari penyelundupan narkoba, pedagang lintas perbatasan, hingga penyelundupan tenaga kerja ilegal. Jalan patroli diharapkan bisa mengurangi dampak persoalan perbatasan tersebut.

JKGR

Kapolri dan KSAD Jajal Jet Tempur Sukhoi


Kapolri dan KSAD Jajal Jet Tempur Sukhoi  
Pesawat jet tempur Sukhoi SU-30 MK 4 asal Rusia tiba di Pangkalan Udara (Lanud) Hasanuddin, Makassar, Kamis (16/5) malam.

 Jakarta - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara akan menganugerahkan lencana Wing Penerbang Kehormatan kepada Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Gatot Nurmantyo dan Kepala Polisi RI Jenderal Sutarman di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu, 13 Agustus 2014. Rencananya, penyerahan lencana kehormatan disematkan langsung oleh Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal Ida Bagus Putu Dunia.

Sebelum penyematan lencana kehormatan, kedua jenderal tersebut diwajibkan 'menjajal' pesawat tempur milik TNI AU Sukhoi SU-30 MK2. Tak mau ketinggalan, KSAU sebagai pemberi lencana kehormatan, ikut menemani Jenderal Gatot dan Sutarman terbang.

Walhasil, ketiganya diwajibkan memakai seragam khusus penerbang tempur. Ketiga jenderal bintang empat itu memakai seragam seperti dalam film Top Gun, yang dibintangi Tom Cruise dan dirilis pada 1986. Tampilan ketiganya makin gagah saat kacamata hitam terpasang di depan mata mereka.

Sebelum terbang, ketiganya mendapat penjelasan dari instruktur dan penerbang pesawat tempur Sukhoi yang langsung didatangkan dari Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Dalam presentasi terungkap bahwa para penerbang angkatan udara hendak mengajak ketiga jenderal itu untuk terbang dari Jakarta ke wilayah Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Penerbangan tersebut diperkirakan memakan waktu sekitar 30-45 menit.

TEMPO

Lanud Adisutjipto kandangkan 10 pesawat latih Bravo

Lanud Adisutjipto kandangkan 10 pesawat latih Bravo

Pesawat latih TNI Bravo jatuh di sawah.
 

 - TNI AU untuk sementara mengandangkan 10 pesawat latih jenis AS 202 Bravo. Keputusan tersebut diambil Pangkalan Udara TNI AU Adisutjipto Yogyakarta setelah peristiwa jatuhnya pesawat buatan Swiss tahun 1980 itu di areal persawahan Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa (12/8) kemarin.

Pernyataan tersebut dikemukakan Komandan Pangkalan Udara TNI AU Adisutjipto Yogyakarta, Marsekal Pertama TNI Agus Munandar, saat meninjau proses evakuasi, bangkai pesawat di Sukoharjo, Rabu (13/8).

"TNI AU saat ini masih menyelidiki penyebab kejadian kemarin. Tim dari Mabes sedang melakukan penyelidikan," katanya.

Menurut dia, selama penyelidikan pesawat jenis tersebut akan dikandangkan hingga penyelidikan selesai.

Agus mengatakan, dugaan awal mengarah pada kemungkinan terjadinya gangguan mesin. Kondisi tersebut membuat pesawat tidak memungkinkan untuk berputar kembali menuju pangkalan. Menurut dia, keputusan awak pesawat sudah tepat untuk mendarat darurat di persawahan.

"Badan pesawat kita bawa ke pangkalan di Yogyakarta, untuk diperiksa secara menyeluruh," ucapnya.

Lebih lanjut Agus menjelaskan, meski dikandangkan, hal tersebut tidak akan mengganggu proses pendidikan di Skuadron Pendidikan (Skadik) 101 Yogyakarta. Pihaknya menggunakan banyak pesawat dari berbagai tipe.

"Pesawat jenis Bravo ini kami gunakan sebagai latihan dasar karena lebih mudah dioperasikan," jelasnya.

Merdeka