Pages

Wednesday, 15 April 2015

Pensiunan TNI Bakal Ditempatkan di Perbatasan Kalimantan

Salah satu kawasan perbatasan Indonesia dan Malaysia di pulau Kalimantan.
Salah satu kawasan perbatasan Indonesia dan Malaysia di pulau Kalimantan.

PALANGKARAYA -- Komandan Korem 102 Panju Panjung Provinsi Kalimantan Tengah, Kolonel (Kav) Sulaiman Agusto mengatakan pada tahun ini pensiunan tentara akan ditempatkan di perbatasan Kalimantan. Program tersebut akan terealisasi setelah jalan sepanjang 299 kilometer di perbatasan beserta lahan perkebunan mulai difungsikan.

"Pensiunan TNI itu bukan hanya yang bertugas di wilayah Kalimantan, tapi dari seluruh Indonesia. Semoga tidak ada halangan lagi, karena program ini sudah lama dicanangkan," kata dia, Selasa (14/4).

Program ini dilaksanakan di sepanjang perbatasan Kalimantan. Ada sekitar 2.000 kilometer di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, serta mendapat persetujuan dari Presiden Indonesia. Agusto mengatakan tidak hanya bagi tentara yang akan dan telah pensiun, melainkan masyarakat dari pulau Jawa serta tenaga kerja Indonesia yang masih berada di negara Malaysia.

"Itulah kenapa jalannya diperbaiki dahulu dan dibuatkan perkebunan besar. Presiden ingin TKI melihat daerah perbatasan telah bagus dan ramai, sehingga mau kembali ke Indonesia," katanya.

Danrem 102 Panju Panjung mengatakan program tersebut tidak hanya membantu pensiunan TNI dan masyarakat, namun juga memanfaatkan lahan di sekitar perbatasan sekaligus membantu menjaga keamanan negara Indonesia. Hal ini lah yang mendasari dicanangkan pensiunan TNI bertempat tinggal di perbatasan, dan tetap memberikan manfaat bagi kemajuan pembangunan serta kesejahteraan masyarakat.

"Kami berharap semua pihak terlibat mendukung program ini. Jadi, di tahun 2015 sudah terrealisasi, dan pensiunan TNI tidak bingung lagi harus bagaimana setelah tidak bertugas, kata Agusto.(REPUBLIKA.CO.ID)

RI-Norwegia saling dukung jadi anggota DK PBB

RI-Norwegia saling dukung jadi anggota DK PBB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyambut Perdana Menteri Kerajaan Norwegia Erna Solberg di Istana Merdeka, Selasa (14/4)
Kunjungan PM Norwegia Erna Solberg ke Indonesia ini merupakan yang pertama."
Jakarta  - Pemerintah Indonesia dan Norwegia saling mendukung untuk mencalonkan diri sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB).

"Kedua negara mendukung pencalonan Anggota Tidak Tetap DK PBB periode 2019-2020 untuk Indonesia dan Norwegia untuk periode 2021-2022," kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pernyataan bersama usai pertemuan bilateral dengan PM Kerajaan Norwegia Erna Solberg di Istana Merdeka Jakarta, Selasa.

Menurut Presiden Jokowi, dalam pertemuan itu kedua kepala pemerintahan juga bertukar pikiran mengenai isu Laut Tiongkok Selatan maupun situasi di Timur Tengah.

Pertemuan bilateral kedua negara, dikemukakan Presiden, berlangsung produktif dan menghasilkan sejumlah kesepakatan.

"Kunjungan PM Norwegia Erna Solberg ke Indonesia ini merupakan yang pertama," kata Presiden Jokowi.

Presiden menyebutkan, bagi RI, Norwegia merupakan mitra kerja sama yang penting dalam bidang lingkungan hidup, perikanan, penegakan hak asasi manusia, pengembangan maritim.

"Oleh karena itu kami bahas upaya-upaya peningkatan kerja sama bilateral bidang lingkungan hidup yang pelaksanaannya sudah mulai dari tahun 2010," kata Presiden.

Kedua negara juga meningkatkan kerja sama dalam pemberantasan penangkapan ikan secara tidak sah (illegal fishing), penyediaan energi listrik dari biogas dan kerja sama untuk melatih 25 polisi wanita dan 12 guru dari Afganistan di Jakarta dan Bandung.

"Dalam bidang pendidikan ada kerja sama antarpeguruan tinggi, seperti dengan UGM, ITB dan Akper Ibnu Sina," demikian Presiden Jokowi. (Antara)

RI Bakal Jadi Basis Produksi Jet Tempur 'Typhoon' Setelah Eropa

RI Bakal Jadi Basis Produksi Jet Tempur Typhoon Setelah Eropa Foto: Reuters 
 
Jakarta -Typhoon adalah jet tempur generasi 4.5 andalan dari Angkatan Udara negara-negara maju di Eropa hingga Timur Tengah. Jet tempur tersebut diproduksi oleh Eurofighter. Basis produksi Eurofighter terletak di 4 negara, yakni Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol.

Empat negara tersebut terlibat dalam produksi komponen utama pesawat, serta memiliki fasilitas assembly line atau perakitan akhir. Terakhir, Eurofighter berencana melebarkan sayap produksi di luar Eropa. Perusahaan yang terafiliasi dengan Airbus Group ini, berencana membuka fasilitas assembly line di Indonesia.

Bila rencana ini berjalan mulus, maka Indonesia akan menjadi negara kelima, di luar Eropa, sebagai basis produksi jet tempur yang sukses pada misi di Libya tersebut.

"Indonesia akan menjadi basis produksi yang kelima," Kata Head of Industrial Offset Eurofighter Martin Elbourne saat berbincang di Jakarta, Rabu (15/4/2015).

Tahap awal bila militer Indonesia membeli jet tempur Typhoon, maka Eurofighter bisa memulai program transfer teknologi. Eurofighter akan menggandeng produsen pesawat asal Indonesia yakni PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Selanjutnya, para insinyur atau mekanik pesawat asal Bandung, Jawa Barat, akan dilatih dan terlibat dalam proses pengembangan dan produksi jet tempur Typhoon di Spanyol. Di sana, mereka dilatih selama 2 hingga 3 tahun. "Kita ajak engineer PTDI untuk untuk ambil bagian di Eropa," ujarnya

Selanjutnya ialah, para insinyur PTDI bersama ahli pesawat asal Spanyol bakal kembali ke tanah air untuk memulai proses produksi. Secara bertahap fasilitas produksi dan perakitan pesawat Typhoon di Spanyol bakal diboyong ke Indonesia.

"Selanjutnya final assembly akan dibawa ke Bandung," ceritanya.

Tahap awal, basis produksi akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan jet tempur Tentara Nasional Indonesia (TNI). Setelah itu, pabrik pesawat di Indonesia bisa mengekspor jet tempur ke luar tanah air seperti yang dilakukan pada program pesawat angkut baling-baling tipe CN 235 dan NC 212.

"Pertama untuk memenuhi kebutuhan militer Indonesia kemudian baru untuk dijual ke luar," tuturnya.

Martin menegaskan, rencana Eurofighter di Indonesia tidak akan mengganggu program pengembangan jet tempur antara Indonesia dan Korea Selatan yang bernama program jet tempur KFX/IFX. Justru dengan kerjasama ini, Eurofighter bisa membantu di dalam meningkatkan kemampuan para insinyur pesawat Indonesia untuk merancang hingga memproduksi jet tempur secara mandiri.

"Kita latih untuk kembangkan pesawat tempur karena sekarang Indonesia belum punya," sebutnya. (Detik)