Pages

Sunday, 6 January 2013

Golden Eagle Pesawat Multirole Untuk TNI AU


T50 LIFT Aerobatik Camo (Kenyot10)
IMD:(DM) - Publik sudah banyak mengetahui bahwa TNI AU melakukan pembelian pesawat dari Korea Selatan yaitu T-50 Golden Eagle, dimana pesawat ini adalah pesawat latih lanjut seri T-50 Family dari Korea Selatan.

Pesawat ini akan menggantikan posisi pesawat Hawk Mk-53 yang segera dipensiunkan dengan total pembelian, pemerintah menyiapkan dana 400 juta dolar AS untuk mendatangkan satu skuadron Golden Eagle ini.

Golden Eagle ini akan menggantikan Posisi dari Hawk Mk 53, dimana kita juga mengetahui pesawat Hawk Mk 53 ini, adalah pesawat multirole yaitu sebagai pesawat buat trainer dan serang ringan, Hawk Mk 53 dan Hawk 100/200 sangat berperan waktu memberantas separatis di Timtim, Aceh dan OPM, fungsinya untuk air cover terhadap flight Hercules yang akan menerjunkan pasukan.



Selain itu, flight Hawk Mk 53 juga berperan memberikan air cover terhadap operasi amfibi yang digelar marinir. Dalam semua misi ini, semuanya berlangsung sukses. Sampai pihak pembuat pesawat melakukan embargo pada TNI. Menurut cerita para pilot di jajaran TNI-AU, pesawat ini dikenal andal dan mudah dikendalikan. Bahkan jet kecil ini bisa juga didaulat sebagai penempur, dengan berbagai macam senjata.

Hawk Mk 53 merupakan jenis pesawat latih lanjut untuk penerbang tempur. Istilah bekennya LIFT "Lead In fighter Trainer". Dengan pesawat ini, pendidikan bagi pilot tempur akan lebih singkat, karena teknologi dan kemampuannya mendekati kemampuan jet tempur sejati. Patut diacungi jempol upaya TNI-AU membeli pesawat ini. Karena, pada masa itu belum banyak AU di dunia yang mengoperasikan pesawat latih LIFT ini.
Berbicara tentang Golden Eagle ini, dimana didalam 1 skuadron pesawat ini terdapat beberapa pesawat untuk digunakan dalam Aerobatik dan untuk pesawat yang akan digunakan oleh tim Aerobatik TNI AU sudah selesai dibuat, terbukti dengan dirilisnya foto pesawat untuk tim Aerobatik ini.

(Kenyot10)

Yang menarik adalah pesawat ini bukan murni pesawat latih saja, tapi bisa digunakan untuk pesawat serang ringan, TNI selalu mengedepankan multirole pada setiap Alutsistanya baik itu di setiap angkatan, termasuk untuk Angkatan Udara.

Terbukti pada pesawat Golden Eagle ini, dimana pesawat ini digunakan juga untuk versi Training dan Serang Ringan, dengan melihat penomoran pada pesawat ini yang menggunakan TT (Tempur Taktis) bukan LL (Latih Lanjut).

Jika melihat dari varian pesawat ini, T-50 adalah murni untuk Latih Lanjut, tapi mengapa penomoran pada pesawat ini bukan LL. Inilah yang menjadi pertanyaan dari pesawat ini???.

Kita bisa melihat dari tipe yang di inginkan oleh TNI AU yaitu T-50 LIFT (Lead In Fighter Trainer), tipe ini sering dibicarakan di forum-forum dan blog di indonesia. Dimana pesawat LIFT adalah pesawat latih tingkat lanjut seperti Hawk Mk 53.

Dimana didalam kategori untuk pesawat latih itu terbagi dalam  3 bagian, yaitu:
1.Basic Trainer
2.Advanced Trainer
3.Lead In Fighter Trainer (LIFT)
Dimana jika sudah melewati ke 3 tahap itu, maka pilot tersebut sudah bisa menggunakan Jet tempur.

Dan kita sama-sama mengetahui bahwa Golden Eagle ini disiapkan untuk para pilot yang akan menggunakan Jet tempur seperti Sukhoi, F16 dan F5.

Jadi yang sebenarnya di beli oleh TNI AU adalah tipe pesawat TA-50 bukan T-50. Karena yang masuk kualifikasi LIFT itu adalah TA-50. Mari kita lihat tabel dari KAI:


Pada bagian Feature, T-50 masuk dalam Kategori Advanced Trainer, sedangkan TA-50 masuk kategori LIFT.

Kita mengetahui bersama bahwa T-50 ini memiliki banyak family, baik itu T-50B, TA-50 dan FA-50, diantara 4 Tipe yang memiliki kemampuan untuk Training dan Serang Ringan adalah TA-50, ini sudah sesuai dengan Kode penomoran pada pesawat Golden Eagle TNI AU yaitu TT (Tempur Taktis), seperti pada Hawk Mk 53.


Jika di lihat dari armament yang di bawa oleh TA-50 sudah sesuai dengan Klasifikasi Pesawat Penyerang, ini akan berbeda dengan T-50 Yang murni masih Advanced Trainer yang belum masuk kategori Tempur Taktis.

Dalam dunia militer banyak yang bersifat abu-abu atau abstrak, yang lebih mengetahui adalah usernya sendiri, karena 1 Alutsista itu mempunyai 1 kelemahan dan 1 kelebihan, disinilah kerahasiaan dari alutsistanya diutamakan.

Semoga dengan kedatangan Golden Eagle di bumi pertiwi nanti, akan membuat TNI AU bisa memberikan yang terbaik bagi pengamanan pertahanan bangsa ini.

Pertahananbangsa

Nasib Proyek Frigate Nasional



Frigate Shivalik India
Frigate Shiyalik India
JKGR-(DM) : Kisah dari negeri India sering kali keren dan gaungnya bergema hingga ke nusantara. Negeri Shah Rukh Khan ini bukan hanya pintar bernyanyi sambil menggoyang-goyangkan pinggul, tapi unggul juga dalam bidang militer.

Untuk urusan nyanyian dangdut ala India, kita berhasil menyerapnya dengan baik. Begitu pula dengan tarian pinggul. Bahkan Indonesia punya yang lebih heboh, seperti: Candoleng-doleng, Goyar Ngebor hingga Goyang Vibrator.

Bagaimana dengan urusan teknologi militer ? 

Keberhasilan India membangun frigate Shivalik Class merupakan cerita indah dan manis bagi penduduknya yang relatif miskin.  Meski mengeluarkan banyak biaya, rakyat tidak protes karena  frigate yang merujuk kepada teknologi Frigate Talwar Class Rusia ini, bisa diandalkan melindungi rakyat dan menjaga kedaulatan India di masa sekarang dan mendatang.
INS Sahyadri, Shivalik class Stealth Frigate

Frigate Shivalik  pun menjadi topik pembicaraan Internasional, karena memang canggih dan lebih lagi India mampu menyerap teknologi Rusia dengan baik.
Frigate buatan Galangan kapal Mazagon Dock Limited ini memiliki kemampuan stealth, multi-role dan telah beroperasi sejak 29 April 2010.

India membangun 3 frigate Shivalik Class, termasuk Sapura yang beroperasi tahun 2011, serta Frigate terbaru  Sahyadri, beroperasi Juli 2012. Militer India masih memesan 7 frigate Shivalik Class untuk dijadikan tulang punggung Angkatan Laut untuk waktu puluhan tahun ke depan.

Selain membangun Frigate Nasional, India pun belajar membuat rudal ke Rusia.

Negeri Kuch kuch hota hai ini, belajar membuat rudal anti kapal merujuk kepada P-800 Oniks atau Yakhont milik Rusia. Melalui kerjasama yang apik, India berhasil membuat rudal anti kapal permukaan Brahmos, yang memiliki jarak tembak 300- hingga 500 km.
Rudal BrahMos India
Rudal BrahMos India
Rudal berhulu ledak 300 kg Brahmos ditembakkan secara vertically-launched dan telah menggunakan advanced satellite navigation system seperti Rudal Rusia  Kh-555 dan rudal strategis jarak jauh Kh-101.

Kini semua frigate Shivalik Class buatan India, dipasang 8 tabung VLS  rudal anti kapal BrahMos. Bahkan lebih jauh lagi, militer India telah berhasil mengembangkan BrahMos versi udara ke darat yang akan dipasang di pesawat Sukhoi India. Proyek  Brahmos versi udara ini sedang berlangsung.
Cara Kerja Rudal Shtil
Cara Kerja Rudal Shtil
Frigate Talwar Class ini mengandalkan pertahanan udara dengan Shtil-1 missile system yang juga teknologi Rusia. Launcher ini memiliki 24 rudal dengan jarak jangkau 30 km.

Shivalik Class juga dilengkapi dengan CIWS Barak SAM-launcher buatan Israel dengan jangkauan 10-12 km.
 
Langkah India dalam membangun kekuatan militer, terukur dan jelas. Semua riset dan pengembangan yang mereka lakukan, terintegrasi dan terfokus.
Proyek PKR 10514
Disain Light Frigate Sigma10514
Disain Light Frigate Sigma10514
Sekarang bagaimana dengan proyek Frigate PKR Sigma 10514 yang digarap  DSNS (Damen Schelde Naval Shipbuilding) ?.

Kontrak pembuatan  Frigate Sigma 10514 telah ditandatangani pihak Kementerian Pertahanan dan DSNS, tanggal 5 Juni 2012 lalu, di Jakarta.

Frigate itu nantinya akan dilengkapi rudal Pertahanan Udara Aster 15, serta CIWS Oerlikon Millennium 35 mm.

Kontrak  seharga 2,2 triliun itu (220 juta USD), meliputi  transfer teknologi kepada PT. PAL berupa pembangunan 4 modul kapal beserta integrasinya. Namun, kontrak pembuatan frigate ini tidak meliputi peluncur rudal sasaran kapal permukaan maupun laut. Hal inilah yang menimbulkan banyak pertanyaan dari kalangan pengamat militer maupun Komisi 1 DPR. Kalau persenjataannya tidak lengkap, mengapa harus memaksakan kontrak dengan DSNS Belanda, di saat Orizzonte Italia, menawarkan frigate dengan persenjataan lengkap dan transfer teknologi ?.
Orizzonte Mosaic 2,4 Italia
Orizzonte Mosaic 2,4 Italia
Kasus Pembangunan PKR 10514 oleh Kementerian Pertahanan ini akhirnya berkembang menjadi persoalan transparansi. Adalah Sekretaris Kabinet Dipo Alam yang pertama mengindikasikan adanya kejanggalan pengelolaan dana di Kementerian Pertahanan, selain Kementerian Perdagangan dan Pertanian. Dia pun melaporkannya ke KPK.

Setelah satu bulan pelaporan itu, Ketua KPK Abraham Samad mengatakan, KPK sedang fokus mendalami Kementerian Pertahanan, saat ditanya wartawan, 28 Desember 2012 di Jakarta.

Sekarang mari kita lupakan dulu urusan KPK dan Kementerian Pertahanan. Setiap uang yang dikeluarkan tentu nanti akan ada bentuknya (out put).

Salah satu alasan mengapa Kemenhan memilih perusahaan Damen Belanda, bisa jadi untuk menjaga kesinambungan, karena Indonesia telah menggunakan 4 Korvet Sigma Belanda.

Lalu mengapa Kemenhan memesan Frigate Sigma 10514 tanpa peluncur rudal anti kapal permukaan dan torpedo ?.
Sigma 10513 Tarik Ben Ziad Maroko
Sigma 10513 Tarik Ben Ziad Maroko
Patut diduga milliter Indonesia akan meng-instal rudal C-705 ke dalam Frigate Sigma 10514. Hal ini karena Indonesia sedang bekerjasama dengan China, untuk membangun dan transfer teknologi rudal C-705. Kontraknya sudah ditandatangani.

Jika hal ini terwujud, Indonesia bisa meninggalkan ketergantungan atas alutsista produk asing, sedikit demi sedikit.  Begitu pula dengan teknologi Torpedo-nya yang telah dikuasai TNI AL.

Dengan asumsi tersebut, kontrak Kemenhan dengan DSNS Belanda, lebih untuk mengejar platform PKR Nasional yang nantinya akan dibangun di PT PAL Surabaya.
Spesifikasi PKR 10514 nanti seharusnya:

Combat System: Thales Group

Persenjataan:  Rudal Anti Udara: Aster 15CIWS: Oerlikon Millennium 35 mm,  76mm stealth cupola, C-705 dan Torpedo SUT.

Yang menjadi persoalan, apakah sistem Rudal C-705 bisa diinstal di frigate Sigma buatan Belanda ?

Jika bisa, maka Indonesia akan membuat lompatan besar.

Namun jika nantinya Sigma 10514 diinstal rudal  MBDA Exocet MM40 Block II atau III, serta Torpedo EuroTorp 3A 244S Mode II/MU 90, maka dana yang begitu besar dikeluarkan untuk membeli frigate Sigma 10514 menjadi sia-sia dan tentu mengundang banyak tanda tanya.

Semoga kisah Frigate Nasional PKR 10514 berakhir indah seperti kisah Frigate Shivalik India, bukan berakhir di KPK. 


Sumber : JKGR

RI Kawal Sengketa Laut China Selatan


Foto : Perairan Laut China Selatan (IST)
Foto : Perairan Laut China Selatan (IST) 
JAKARTA:(DM) – Indonesia berkomitmen untuk terus mengawal jalannya penanganan sengketa Laut China Selatan secara damai. Hal tersebut merupakan bagian dari kontribusi Indonesia dalam menjaga stabilitas di kawasan Asia Pasifik.

Sebelumnya pada 2012 lalu, Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa melakukan manuver diplomasi selama 36 jam non-stop untuk meredakan ketegangan yang terjadi di Laut China Selatan. Tahun itu Indonesia juga sempat dipusingkan oleh ulah Kamboja yang menghalangi terbentuknya pernyataan bersama antara negara-negara ASEAN terkait sengketa tersebut.
 
Buntunya penyelesaian konflik juga dikhawatirkan terjadi pada tahun ini. Saat ini keketuaan ASEAN dipegang oleh Brunei sedangkan Sekretaris Jenderal ASEAN akan dijabat oleh Le Luong Minh dari Vietnam, keduanya adalah negara yang memiliki klaim di Laut China Selatan.

Kedua negara tersebut ditakutkan menggunakan posisinya di ASEAN untuk memenuhi kepentingannya di Laut China Selatan. Namun Marty menyatakan hal tersebut tidak akan mengganggu penyelesaian damai karena November lalu China telah menyepakati deklarasi penyelesaian damai dengan ASEAN.

 “Pada tahun 2013, Indonesia akan berupaya membangun momentum pelaksanaan penyelesaian damai yang telah disepakati negara-negara ASEAN dan China,” ujar Marty dalam pidato tahunannya di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat (4/1/2013.

“Namun penyelesaian damai di Laut China Selatan tetap memerlukan kesedian semua pihak untuk mengedepankan kepentingan bersama serta menghormati hukum internasional dan hukum laut internasional," paparnya

Laut China Selatan sendiri dipersengketakan oleh China dengan 4 negara anggota ASEAN, yakni Vietnam, Malaysia, Brunei dan Filipina. China menyatakan Laut China Selatan adalah bagian wilayahnya berdasarkan catatan sejarah masa Kekaisaran China.
okezone