Pages

Tuesday, 2 April 2013

DEMO UDARA AKAN MERIAHKAN HUT KE 67 TNI AU

Peringatan Ke-67 Hari TNI Angkatan Udara tahun 2013 akan diadakan secara terpusat di Lanud Halim Perdanakusuma dan diisi dengan kegiatan yang terdiri dari bulan disiplin, donor darah, lomba pidato berbahasa inggris, ziarah, upacara militer, demo darat, demo udara dan malam resepsi/syukuran. “ Demo udara meliputi fly pass, free fall serta aerobatik udara”, jelas Kadispenau didampingi Kadisops Lanud Halim Perdanakusuma Letkol Pnb Aditya Permana.
Penjelasan Kadispenau Marsekal Pertama TNI Azman Yunus tersebut disampaikan kepada para wartawan saat berlangsung Jumpa Pers dalam rangka peringatan Ke -67 Hari TNI Angkatan Udara di Lanud Halim Perdanakusuma, Rabu (27/3).
Dikatakan, aerobatik udara akan menampilkan Tim Dynamic Pegasus dari Skadron Udara 7 Lanud Suryadarma Subang menggunakan tujuh Helikopter EC-120 Colibri. Selain itu juga menampilkan Jupiter Aerobatic Team (JAT) dari Skadron Pendidikan 102 Lanud Adisutjipto Yogyakarta, menggunakan tujuh pesawat latih KT-1 Wong Bee. Akan bertindak sebagai Koordinator Demo Udara Asops Kaskoopsau I Kolonel Pnb Ir. Teddy Rizalihadi.
Sedang free fall dan terjun FASI akan melibatkan 200 personel menggunakan tiga pesawat Hercules C-130 dari Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma, para penerjun membawa bendera Kotama dan bendera Swa Bhuana Paksa. Bertindak selaku Koordinator Demo Terjun Free Fall, Danwing I Paskhas Kolonel Psk Taspin Hasan.
Tema peringatan ke-67 Hari TNI Angkatan Udara tahun 2013 adalah “Dengan Profesioanlisme dan Dedikasi yang tinggi, TNI AU Siap Menjaga Kedaulatan Negara di Udara Demi Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia” dan selaku Penanggung Jawab Kegiatan Aspers Kasau Marsekal Muda TNI Mawardi.
Upacara Militer yang akan dilaksanakan di Lanud Halim Perdanakusuma pada Selasa tanggal 9 April nanti terdiri atas dua brigade, meliputi batalyon perwira, Karbol, Pomau, Wara, Air Crew, Paskhas, bintara, tamtama dan PNS, dengan total peserta sebanyak 2.163 orang.

Sumber TNI AU

Sukses Gelar Operasi Amfibi, Koarmatim Siap Laksanakan Latgab TNI

 Pendaratan amfibi BMP3F
Latihan Operasi Ampibi (Latopsfib) Tahun 2013 yang digelar oleh Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) telah berhasil meningkatkan kemampuan prajurit dalam mengaplikasikan dan menerapkan taktik peperangan laut serta memberikan rasa bangga dan semangat tempur secara positif antar unsur-unsur peserta latihan.

Dengan keberhasilan ini Koarmatim siap laksanakan Latihan Gabungan (Latgab) TNI Tahun 2013. Demikian ditegaskan oleh Panglima Komando Armada RI Kawasan TImur (Pangarmatim) Laksda TNI Agung Pramono S.H., M. Hum dalam amanatnya yang dibacakan oleh Kasarmatim Laksma TNI Darwanto S.H., M. A.P pada saat menutup latihan Parsial III (Latopsfib) tahun 2013 di Puslat Kaprang, Kolatarmatim, Ujung, Surabaya. Senin (01/4).

Latihan Parsial III ini, menurut Pangarmatim merupakan latihan dalam rangka menyiapkan diri untuk menyongsong latihan gabungan TNI yang akan digelar beberapa bulan ke depan. Dari latihan ini diharapkan dapat meningkatkan perfoma unsur-unsur yang terlibat, termasuk dalam peningkatan kemampuan prajurit sehingga memiliki kesigapan dan kecermatan dalam bertindak sesuai dengan peran dan fungsi yang diembannya.

Manuvra lapangan yang digelar sejak tanggal 25 Maret lalu, berakhir hari ini dengan melaksanakan kaji ulang dan sekaligus penutupan. Latihan ini melibatkan 14 Kapal Perang Republik Indonesia dari berbagai type, 3 buah helikopter, 1 buah pesawat udara, 15 buah tank amfibi, 25 buah kendaraan amfibi dan 6 buah Kapa. Latihan peperangan laut dilaksanakan di laut Jawa, sedangkan operasi pendaratan amfibi dilaksanakan di pantai Banongan, Situbondo, Jawa Timur.

Berakhirnya latihan Parsial III Tahun 2013 ditandai dengan upacara penutupan dengan pelepasan tanda peserta latihan oleh Inspektur Upacara (Irup) Laksamana Pertama TNI Darwanto S.H., M.A.P. Kegiatan ini dihadiri oleh Komandan Gugus Keamanan Laut Armada Timur (Dan Guskamlatim) Laksma TNI Wuspo Lukito, dan para pejabat teras Koarmatim serta para Perwira lainnya.
 
Sumber Kormartim

Wamenhan: Pembangunan Kekuatan Militer Bukan Untuk Offensive


wamenhan-pembekalan-di-seskoadBandung, DMC – Membangun suatu sistem pertahanan negara adalah hal mutlak bagi suatu negara yang berdaulat seperti juga Indonesia. Dalam implementasi pembangunan sistem pertahanan untuk kekuatan militer, tidak didasarkan pada niat untuk membangun angkatan perang yang besar dan bukan untuk offensive, tetapi didasarkan kepada keinginan untuk memiliki Minimum Essential Force(MEF) atau kekuatan pokok minimal.

Demikian disampaikan Wakil Menteri Pertanahan Sjafrie Sjamsoeddin saat memberikan pembekalan kepada Perwira Siswa Pendidikan Reguler Angkatan 51 Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Darat (Seskoad), Rabu (27/3) di Seskoad, Bandung. Hadir mendampingi Wamenhan dalam kesempatan tersebut Komandan Seskoad Mayjen TNI Burhanuddin Siagian.
Lebih lanjut Wamenhan mengatakan, suatu negara yang berdaulat mutlak  untuk membangun angkatan perangnya, begitu juga dengan Indonesia sebagai negara yang sah berdaulat harus dapat membangun angkatan perang yang modern dan profesional dalam rangka menjaga keutuhan wilayah, kedaulatan dan keselamatan bangsa.
Menurut Wamenhan,  membangun angkatan perang yang modern dan profesional menjadi suatu kewajiban pemerintah  dapat dilaksanakan apabila ada pertumbuhan ekonomi.  Manakala pertumbuhan ekonomi telah dapat memberikan kesejahteraan rakyat, maka baru dipikirkan bagaimana pembangunan sistem  pertahanan negara.
“Kewajiban permerintah  untuk bisa melengkapi angkatan perangnya, bisa dilaksanakan apabila  ada pertumbuhan ekonomi. Kita tahu pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih besar dari pertumbuhan ekonomi negara- negara di Eropa,  bisa sampai 6,5 persen”, jelas Wamenhan.
Selain kekuatan militer, dalam implementasi pembangunan sistem pertahanan Negara Kesatuan Republik  Indonesia,  juga meliputi pembangunan kekuatan pertahanan nir mliter. Aspek implementasi  pembangunan pertahanan nir militer  merupakan bagian dari bagaimana untuk menghadapi ancaman non militer.
Dijelaskan Wamenhan  bahwa ancaman non militer  adalah  ancaman yang tidak bersenjata, namun demikian menurut Wamnehan gelombang ancaman non militer akan dapat terjadi lebih besar dibandingkan dengan gelombang ancaman  militer. “Ancaman non mliter dapat menganggu dan melumpuhkan kelangsungan hidup bangsa dan negara, kita tahu perang asimetrik bisa mempengaruhi pola pikir”, ungkapnya.
Pendidikan Reguler Angkatan 51 Seskoad diikuti 292  perwira yang terdiri dari  281 orang perwira TNI AD, dua orang perwira TNI AL, dua orang perwira TNI AU dan tujuh orang perwira siswa mancanegara.  Selain diikuti Angkatan 51 Pasis Seskoad, pembekalan Wamenhan tersebut juga dihadiri  sejumlah perwira organik Seskoad.

Sumber DMC