|
Dalam manuver serangan kali ini, pasukan dibagi menjadi tiga poros serangan dengan tujuan untuk melaksanakan Gerak Maju Untuk Kontak (GMUK) guna menguasai Garis Taraf-1 (GT-1). Poros kiri merupakan poros serangan Satgasrat Brigif-9 Kostrad dan Batalyon jajarannya yang terdiri dari Yonif-509 Kostrad, Yonif-514/Raider Kostrad dan Yonif 515 Kostrad. Di bagian tengah menjadi poros serangan dari Yonif Mekanis-202 Dam Jaya, sedangkan serangan di poros kanan dilakukan oleh Pasukan Pendarat (Pasrat) Batalyon Marinir TNI-AL. Sedangkan Yonif Linud-501 Kostrad yang sebelumnya berhasil merebut dan mempertahankan tumpuan udara melalui Operasi Lintas Udara (Linud) melaksanakan pengamanan jalur yang akan dilalui pasukan manuver. Untuk mendukung pelaksanaan serangan, pasukan manuver diperkuat oleh manuver Tank Scorpion Yonkav-8 Kostrad yang melaksanakan pengamanan penembakan sasaran. Satu Baterai Yonarmed-12 Kostrad memberikan bantuan tembakan dan melaksanakan Sling Load dua pucuk meriam 105 mm. Setelah melaksanakan kontak depan, pasukan darat gabungan berhasil merebut dan menguasai Garis Taraf-1 (GT-1), mendesak dan memukul mundur pasukan musuh aliansi Sonora dan Gerakan Sumpit Merdeka (GSM). Selanjutnya pasukan darat gabungan masuk ke kedudukan masing-masing untuk mempersiapkan dan merencanakan serangan esok hari untuk merebut dan menguasai sasaran berikutnya. |
Wednesday, 15 May 2013
PASUKAN DARAT GABUNGAN LAKSANAKAN SERANGAN DAN KUASAI GT-1
Indonesia-Turki Kerjasama Bikin Tank
Setelah menjalin kerjasama erat dengan Korea Selatan, Indonesia kini juga mempererat hubungan kerjasama pertahanan dengan Turki. Dalam temu wartawan di Gedung Kemhan, Rabu (15/05) siang, Kementerian Pertahanan memastikan sejumlah kerjasama itu. Jumpa pers itu sendiri dilakukan oleh Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Dirjen Potensi Pertahanan Kemhan Pos Hutabarat, Dirtekind Dirjen Pothan Marsma TNI Darlis Pangaribuan, Serta juru bicara KKIP, Silmy Karim.
Salah satu yang menarik perhatian adalah kerjasama pembuatan tank antara Pindad dan FNSS Turki. Dari informasi yang ARC dapatkan sebelumnya, memang telah banyak komunikasi antara Indonesia dan Turki dalam bidang kerja sama pertahanan. Bahkan telah ditanda tangani pula MoU antara kedua negara. Namun, berbeda dengan Korea Selatan misalnya, belum ada satupun realisasi kerja sama antara Indonesia-Turki.
Kementrian Pertahanan selanjutnya menerangkan, kerjasama pembuatan Tank Indonesia Turki ini mirip dengan skema kerjasama pembuatan pesawat CN-235, yaitu dengan melakukan produksi bersama alias Joint Production. Pindad serta FNSS kini harus membuat proposal mengenai skema program dan pembiayaan, mulai dari desain hingga joint production. Dengan demikian bisa jadi tank Indonesia-Turki ini adalah jenis baru yang belum pernah ada sebelumnya. Namun, kemhan memastikan kelas tank yang dibuat ini dalam kelas Light hingga Medium Tank. Bagi Indonesia sendiri, Turki dipilih menjadi partner tak lain adalah untuk mengejar teknologi penggerak Tank. Dimana dalam hal ini, Pindad belum menguasainya.
Dalam catatan redaksi ARC, FNSS sendiri pernah mengirimkan Ranpurnya untuk dipelajari oleh Pindad. Ranpur ACV-300 itu bahkan diuji coba hingga ke waduk Jatiluhur. Namun, ditilik dari segi bobotnya yaitu sekitar 14 ton, ACV-300 termasuk ke dalam kelas Tank Ringan.
ARC
Kerjasama Pertahanan, Mulai dari Kapal Selam hingga Rudal
Komite
Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) memastikan kerjasama alutsista
dengan sejumlah negara terus berlanjut, termasuk dengan Korea Selatan,
China serta Turki. Dalam jumpa pers di gedung Kemhan Rabu (15/05) siang,
KKIP menjelaskan panjang lebar sejumlah kerjasama yang tengah dan akan
berlangsung.
Baru-baru ini terjadi polemik tentang pengadaan Kapal Selam dari Korea Selatan. Untuk menjawabnya Kementrian Pertahanan menyatakan, akan mengamandemen kontrak dengan pihak DSME Korea Selatan. Salah satu amandemen adalah jika sebelumnya kapal selam ke-3 dirakit di PT.PAL, maka pada perubahan ini kapal selam tersebut sepenuhnya dibuat total di Surabaya. Sehingga mulai dari modul, bagian-perbagian hingga perakitan sepenuhnya dilakukan PT.PAL.

Lebih lanjut, ARC juga mendapat penjelasan, Kementrian BUMN sudah mengajukan dana sebesar US$ 150 Juta untuk menambah fasilitas di PT. PAL. Pasalnya fasilitas produksi yang ada tidak dirancang untuk membangun kapal selam, tetapi kapal permukaan saja. DSME sendiri dikabarkan setuju dengan amandemen kontrak, dengan syarat Kementrian Pertahanan menjamin PT.PAL mampu melaksanakannya.
Khusus dengan Turki, Kementrian Pertahanan baru saja memastikan akan melakukan kerjasama pembuatan Tank. Selain Tank, masih ada kerjasama lainnya. Yaitu antara PT.LEN dan Aselsan. Sesuai bidangnya, kerjasama dengan Aselsan adalah pada pengadaan alat komunikasi untuk di perbatasan. Prosesnya sendiri sudah dimulai dan sudah masuk tahapan kontrak. Namun tidak dijelaskan alat komunikasi yang dimaksud, yang pasti alat komunikasi yang dibutuhkan adalah yang canggih sehingga anti jamming dan tak bisa diintersept.

Sementara dengan China, Kementrian Pertahanan juga terus melanjutkan kerjasama pembuatan rudal C-705. Saat ini prosesnya sudah masuk tahap feasiblity studies yang dilakukan oleh Kementrian Ristek. Dalam catatan ARC, rudal C-705 ini nantinya akan mempersenjatai kapal perang cepat jenis KCR-40 dan KCR-60 yang jumlah diperkirakan cukup banyak.
ARC
Baru-baru ini terjadi polemik tentang pengadaan Kapal Selam dari Korea Selatan. Untuk menjawabnya Kementrian Pertahanan menyatakan, akan mengamandemen kontrak dengan pihak DSME Korea Selatan. Salah satu amandemen adalah jika sebelumnya kapal selam ke-3 dirakit di PT.PAL, maka pada perubahan ini kapal selam tersebut sepenuhnya dibuat total di Surabaya. Sehingga mulai dari modul, bagian-perbagian hingga perakitan sepenuhnya dilakukan PT.PAL.
Lebih lanjut, ARC juga mendapat penjelasan, Kementrian BUMN sudah mengajukan dana sebesar US$ 150 Juta untuk menambah fasilitas di PT. PAL. Pasalnya fasilitas produksi yang ada tidak dirancang untuk membangun kapal selam, tetapi kapal permukaan saja. DSME sendiri dikabarkan setuju dengan amandemen kontrak, dengan syarat Kementrian Pertahanan menjamin PT.PAL mampu melaksanakannya.
Khusus dengan Turki, Kementrian Pertahanan baru saja memastikan akan melakukan kerjasama pembuatan Tank. Selain Tank, masih ada kerjasama lainnya. Yaitu antara PT.LEN dan Aselsan. Sesuai bidangnya, kerjasama dengan Aselsan adalah pada pengadaan alat komunikasi untuk di perbatasan. Prosesnya sendiri sudah dimulai dan sudah masuk tahapan kontrak. Namun tidak dijelaskan alat komunikasi yang dimaksud, yang pasti alat komunikasi yang dibutuhkan adalah yang canggih sehingga anti jamming dan tak bisa diintersept.
Sementara dengan China, Kementrian Pertahanan juga terus melanjutkan kerjasama pembuatan rudal C-705. Saat ini prosesnya sudah masuk tahap feasiblity studies yang dilakukan oleh Kementrian Ristek. Dalam catatan ARC, rudal C-705 ini nantinya akan mempersenjatai kapal perang cepat jenis KCR-40 dan KCR-60 yang jumlah diperkirakan cukup banyak.
ARC