Pages

Sunday, 19 May 2013

Keadilan bagi warga Belanda yang menolak perang di Indonesia

Hukum
Dua warga Belanda yang dipenjara pada 1940-an karena menolak berperang melawan Indonesia meminta Mahkamah Agung memulihkan nama baik mereka.
Liesbeth Zegveld, pengacara Johannes van Luyn dan Jan Massen, mengatakan mereka menolak karena tidak ingin terlibat dalam apa yang disebut sebagai kejahatan perang.
"Namun akibat penolakan tersebut mereka (Van Luyn dan Massen) dianggap sebagai pengkhianat," kata Zegveld di Mahkamah Agung di Den Haag, seperti dikutip kantor berita AFP.
Zegveld meminta agar vonis mahkamah militer yang dulu dikeluarkan untuk Van Luyn (87 tahun) dan Massen (84 tahun) dibatalkan.
Ketika itu mahkamah militer menjatuhkan hukuman antara dua hingga tiga tahun karena Van Luyn dan Massen menolak ditugaskan di Indonesia.
Sekarang Van Luyn dan Massen mendesak pemerintah agar mengakui bahwa perintah pada tahun 1940-an tersebut keliru dan meminta mahkamah agung membatalkan keputusan tersebut didasarkan pada bukti baru atau novum.
"Pada saat itu hakim pengadilan militer tidak memahami skala kejahatan perang (yang terjadi di Indonesia) yang dilakukan tentara Belanda," kata Zegveld kepada majelis hakim di MA.
Ia menjelaskan kliennya tidak menginginkan ganti rugi.
"Yang kami inginkan adalah nama baik mereka dipulihkan dan pemerintah mengakui ada kesalahan dalam vonis sebelumnya," kata Zegveld.

BBC

Kunjungan Resmi Dankoharmatau untuk Mengamati Perkembangan Perbaikan C130H

01 Dankoharmatau Visit 2013
AUSTRALIA : Selama periode 8 hingga 10 Mei 2013, Marsda TNI Sumarno selaku Komandan Pemeliharaan dan Materil Angkatan Udara (Dankoharmatau) melakukan kunjungan kerja ke Markas Angkatan Udara Australia di Richmond dan Markas Angkatan Udara Australia di Williamtown, New South Wales, Australia. Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bagian dari pengembangan hubungan antar TNI-AU dan Royal Australian Air Force (RAAF) di bidang pemeliharaan dan keselamatan penerbangan. 
Pada tanggal 8 Mei 2013, Marsda TNI Sumarno bertemu dengan staf teknik dan logistik yang telah mendukung program C130H untuk RAAF. Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk memberikan paparan kepada Dankoharmatau tentang sistem pendukung untuk empat pesawat C130H yang akan dipindahkan dari pihakAustraliake pihakIndonesia. Paparan tersebut juga termasuk memberikan informasi tentang pelaksanaan perbaikan yang dilakukan pada pesawat sebelum diserahkan kepadaIndonesia.
Setibanya di RAAFRichmond, Marsda TNI Sumarno disambut oleh Commander Air Lift Group, Marsma Gary Martin. Selama pertemuan mereka, Marsma Martin memberikan paparan singkat kepada Marsda TNI Sumarno tentang sejarah armada C130H dalam melaksanakan tugasnya untuk Australiadan berbicara secara mendalam tentang peran penting pesawat tersebut selama bermain dalam operasi di seluruh dunia dan juga dalam hubungan bilateral antara Australia dan Indonesia.
Marsda TNI Sumarno melakukan tur ke hangar di mana armada C130H sedang dalam proses diperbaharui oleh Qantas Defence Services (QDS) sebelum dialihkan kepada pihak TNI-AU. Beliau ditunjukkan pesawat pertama yang telah dipersiapkan untukIndonesiayang telah diberikan tanda Angkatan Udara RepublikIndonesia.
Beliau terkesan dengan kondisi pesawat tersebut dan pesawat lainnya yang akan diperbaiki oleh QDS pada masa depan. Diharapkan bahwa pesawat pertama dapat siap dikirim keIndonesiapada akhir Juli 2013 dan pesawat terakhir akan diserahkan sebelum Oktober 2014. Marsda TNI Sumarno mengatakan bahwa ia sangat tertarik untuk lebih mengembangkan dan memperkuat hubungan antara Koharmatau, Angkatan Udara Australia dan QDS untuk menjamin pengiriman semua empat pesawat akan siap sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan dan telah sesuai dengan praktek terbaik dunia untuk kelayakan udara dan keselamatan penerbangan.
Pada 09-10 Mei, Dankoharmatau melakukan kunjungan lebih lanjut di RAAF Richmond dan RAAF Williamtown untuk mengamati proyek perbaikan hangar di sejumlah markas yang dapat digunakan sebagai contoh untuk proses perbaikan hangar yang sedang dilakukan di Lanud Husein Sastranegara, Bandung, yang di sponsori oleh Australia-Indonesia aviation safety joint working group. Kunjungan tersebut dilakukan pada sejumlah hangar pemeliharaan untuk pesawat C130, F/A-18 dan Hawk 100 termasuk fasilitas untuk mengecat pesawat.
Beliau juga turut mengunjungi fasilitas pemeliharaan pesawat Hawk 100 untuk membahas masalah kelayakan udara serta pekerjaan terpenting dalam pencegahan korosi pada pesawat.
Sebagai hasil dari kunjungan ini, Marsda TNI Sumarno menunjukkan keinginannya untuk Koharmatau menjadi lebih erat terlibat pada proses serah-terima C130H dariAustraliauntukIndonesiadan pada bidang aviation safety joint working group.



Paskhas Akan Dapat OERLIKON 35 mm, Denhanud disiapkan

Paskhas akan pasang OERLIKON 35 mm di Yogyakarta, Makassar, Pontianak dan Jakarta, Denhanud disiapkan. 

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSTBHJyHOn3Yy867gGpgvqcYkOlo4Io60ppN7gKG5rzCD7v0E1D
 Oerlikon 35 mm
TNI Angkatan Udara (AU) pada tahun ini akan menambah alat utama sistem persenjataan (Alutsita) di pangkalan udara (Lanud) Adisutjipto, yaiki peluru kendali (rudal) penangkis serangan udara Oerlikon. Untuk kepentingan tersebut, saat TNI AU sedang mempersiapkan fasilitas dan sumber daya manusia (SDM), yang akan mengawaki alutsista itu.

Komandan Wing II Paskhas Kol Psk Budi Sumarsono mengatakan untuk penyiapan sarana dan prasarana akan dilaksanakan mulai Agustus, sedangkan untuk kesiapan SDM, saat ini TNI AU telah melatih prajurit Paskhas untuk mengawaki rudal tersebut. Yaitu dengan mengirimkan 300 personil ke negara pembuat rudal Oerlikon Swiss.

“Selain di Yogyakarta, rudal oerlikon juga akan ditempatnya di Jakarta, Pontianak dan Makasar,” ungkap Budi Sumarsono, usai serah terima jabatan (sertijab) komandan kompi (Danki) E BS Paskhas Lanud Adisutjipto dari Kapten Psk Habib Yuwono Prasetya kepada Kapten Psk Zaharudin di halaman Mako Paskhas setempat.


Selain untuk mengawaki alutsista, karena pada tahun 2013 akan ada pengembangan detasmen pertahanan udara (Denhanud) Paskhas di Lanud Adisutjipto. Sehingga dengan adanya organisasi baru tersebut, maka prajurit Paskhas akan dibekali ilmu, yang sesuai dengan spesifikasinya masing-masing.

“Misalnya untuk Denhanud ini, nantinya khusus mengawaki alutsista, begitu juga spesifikasi Paskhas lainnya, seperti kompi Matra, PPRC dan lainnya,” terangnya.

Menurut Budi langkah tersebut juga sebagai bentuk profesionalisme prajurit Paskhas dalam menjalankan tugasnya, minimal memiliki kualifikasi para komando (parako) guna melaksanakan tugas secara profesional tersebut. Termasuk untuk mengawaki alutsista yang sudah ada maupun yang akan datang.

Kaskus