Pages

Monday, 2 September 2013

Cerita Dibalik Kesuksesan KRI Banda Aceh-593 Angkut Pemudik Lebaran

kolinlamil-sub
WALAUPUN kebanyakan prajurit TNI, sudah terbiasa dengan tidak merayakan hari lebaran beserta keluarga di rumah atau di kampung halamannya, namun bagi sosok seorang Komandan KRI Banda Aceh-593 Letkol Laut (P) Yana Hardiyana momen Lebaran tahun 2013 ini, menjadi cerita tersendiri yang takkan pernah terlupakan.
Berawal dari penunjukan KRI Banda Aceh-593 sebagai kapal perang dalam mendukung program mudik lebaran gratis menggunakan angkutan laut, yang merupakan kerja sama Kementerian Perhubungan dengan TNI Angkatan Laut, KRI Banda Aceh-593 harus memiliki kesiapan dalam semua aspek dalam mendukung program pemerintah tersebut.
Tidak hanya itu, kesiapan KRI Banda Aceh-593  sebagai salah satu kapal perang yang akan digunakan dalam mengangkut pemudik lebaran, harus dibuktikan mengingat Presiden Republik Indonesia Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono akan melakukan inspeksi kesiapan sekaligus melepas pemberangkatan tahap pertama pemberangkatan  pemudik lebaran dari Jakarta ke Semarang.
Inilah yang turut mewarnai kehidupan karir kedinasan Letkol Laut (P) Yana Hardiyana yang takkan terlupakan, yaitu saat kapal perang yang dikomandaninya mendapatkan kunjungan dari orang nomor satu di Republik ini. Kekhawatiran dan beban terhadap kehadiran tamu istimewa ini hilang dan sirna saat Presiden RI usai melakukan inspeksi dan menyalaminya serta mengucapkan terima kasih atas kesiapannya mendukung program mudik lebaran gratis dengan menggunakan kapal perang.
Namun demikian, walaupun Presiden sudah menyalaminya, sebagai Komandan KRI Banda Aceh-593 belum sepenuhnya lega, mengingat tugas baru saja dimulai, dan selanjutnya tugas ini harus dituntaskan sebaik mungkin.
Sebanyak hampir 2000 penumpang dan kurang lebih 1000 unit kendaraan bermotor roda dua setiap pemberangkatan, menjadi tanggungjawabnya untuk mengantar hingga tiba di tujuan dengan selamat. Dan tidak hanya itu keamanan maupun kenyamananpun menjadi perhatian khusus yang diberikan kepada penumpang pada setiap pelayarannya.
Sejak menjabat sebagai  Komandan KRI Banda Aceh-593, tepatnya tanggal  25 Januari 2013 atau tujuh bulan yang lalu, berbagai tugas baik operasi maupun latihan dilaksanakannya dengan penuh kesungguhan, mulai dari Latgab TNI, beberapa pelayaran bakti sosial dan pelayaran lainnya yang merupakan bagian dari Operasi Militer Selain Perang (OMSP), hingga yang terakhir pemberangkatan pemudik lebaran dengan rute Jakarta – Semarang, dan sebaliknya pada arus balik Semarang – Jakarta.
Menjabat sebagai Komandan kapal perang memang bukan kali ini, tercatat perwira kelahiran kota kembang Bandung 42 tahun yang lalu ini, sudah empat kali menjabat sebagai komandan KRI yaitu Komandan KRI Sigurot-864 pada tahun 2002, Komandan KRI Pulau Rondo-725 pada tahun 2004 dan pada tahun 2008 sebagai Komandan KRI Cut Nyak Dien-375 serta menjadi Komandan KRI Banda Aceh-593 tahun 2013.
Sementara itu Perwira Menengah yang memiliki hobi jogging ini, awal penugasannya di lingkungan TNI Angkatan Laut adalah sebagai Asisten Kepala Departemen Operasi di KRI Silea-858, Satuan Kapal Patroli, Koarmabar. Selanjutnya berpindah-pindah kapal termasuk penugasan di staf yaitu pada tahun 2001 sebagai Pabanda Matla di Staf Opersi Mabesal, tahun 2006 di Lantamal III sebagai Pabanops dan pada tahun 2010 menjabat sebagai Pabandya Lattra di Staf Operasi Mabesal serta Pabanops di Staf Operasi Kolinlamil pada tahun 2012.
Sedangkan pendidikan yang ditempuh selepas lulus dari Akademi Angkatan Laut angkatan ke-39 atau tahun 1993, dilanjutkan dengan Diklapa I dan II tahun 1996 dan 2002, serta Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut angkatan ke-45 tahun 2007. Selain itu juga saat ini tengah menyelesaikan pendidikan Strata-1 jurusan  Administrasi Pemerintahan di Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya.
Suka duka berdinas di kapal perang menjadi bagian dari kehidupannya termasuk bagi keluarganya sebagai bagian dari pengabdiannya kepada negara dan bangsa. Berpisah dengan keluarga cukup lama karena melaksanakan tugas kerap dirasakan oleh suami dari Leli Windari, S.E, dan ayah dari Randhyka Elga Driyawijaya dan Sandhyka Arya Driyawijaya ini.
Menjadi Komandan Kapal Perang tidak hanya sekedar melaksanakan perintah, namun lebih dari itu merupakan penghargaan dan kebanggaan serta amanah yang harus diemban untuk dilaksanakan sebaik mungkin. Pendidikan yang pernah ditempuh serta pengalaman dan bimbingan serta arahan dari para senior menjadi modal utama dalam melaksanakan setiap tugas yang diembannya.
Demikian pula saat ini yang menjabat sebagai Komandan KRI Banda Aceh-593 yang merupakan kapal perang binaan di jajaran Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), memacunya untuk terus berkarya dan memberikan yang terbaik. Kunci dari keberhasilan yang ia coba buktikan dalam menyelesaikan tugas adalah bekerja tidak sebagai “superman”, tetapi bekerja sebagai “supertim”, dengan mengandalkan tim work yang solid dan kompak dari seluruh Anak Buah Kapal (ABK) KRI BAC-593.
Menurutnya dengan tim work yang solid dan kompak akan menghasilkan tim yang super dan tangguh. Hal ini senantiasa menyertainya di dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari dimanapun ia berdinas. Selain itu, ketenangan di dalam pengambilan keputusan merupakan bagian dari karakter yang melekat dalam setiap pelaksanaan tugas yang diembannya.
Selain itu masih menurutnya, jangan pernah menyepelekan hal sekecil apapun, karena  masing-masing mulai dari pangkat terendah sampai dengan pangkat tertinggi memiliki peranan yang penting dalam menyukseskan keberhasilah suatu tugas.
Baginya, sebuah perintah, haruslah dilaksanakan dan yang utama adalah perintah itu harus tuntas dan pastinya terlaksana dengan berhasil. “Satya Wira Jala Dharma”.
(dispen kolinlamil/sir)

poskotanews 

Indonesia-China mantapkan kerja sama industri pertahanan


https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSpN0EJkuGkjKfwJVXwlQ6tGqNBqpIgm-JrHcX2kw6bYrbQnpdpHg
Rudal C705
Beijing - Indonesia dan China sepakat untuk memantapkan kerja sama industri pertahanan berdasarkan prinsip saling menguntungkan dan saling menghormati.

"Indonesia dan China telah memiliki kerja sama yang baik, termasuk dalam industri pertahanan," kata Dirjen Departemen Perdagangan Militer dan Hubungan Luar Negeri State Administration for Science, Technology and Industry for National Defense (SASTIND) Zhan Chunli di Beijing, Senin.

Dalam pertemuan kedua kerja sama pertahanan Indonesia-China, ia mengatakan pihaknya mengharapkan kerja sama yang telah terjalin baik dapat ditingkatkan dan diperluas di masa datang.

"Karena itu dalam pertemuan kali ini diharapkan dapat disepakati sejumlah perkembangan yang telah dijalankan sebelumnya oleh kedua pihak dalam kerja sama industri pertahanan," kata Zhan Chunli.

Ia menegaskan dengan pemantapan butir-butir kerja sama yang telah disepakati dalam pertemuan sebelumnya, diharapkan kerja sama industri pertahanan kedua negara akan semakin luas.

Sementara Dirjen Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI Pos Hutabarat mengatakan Indonesia sangat menyambut positif kerja sama industri pertahanan dengan China.

"China menjadi salah satu mitra strategis bagi pengembangan industri pertahanan Indonesia, banyak hal yang dapat kita kerja sama dengan dasar saling menguntungkan," katanya.

Sebelumnya Kemhan RI dan SASTIND telah menyepakati sejumlah poin kerja sama industri pertahanan seperti produksi bersama, pengembangan bersama, pemasaran bersama serta alih teknologi.

"Kedepan sejumlah poin yang sudah disepakati itu dapat dimantapkan lagi sehingga benar-benar memberikan manfaat dan keuntungan bagi industri pertahanan kedua negara, dan bagi hubungan kedua pihak di masa depan," ujar Pos Hutabarat.

Selama ini Indonesia telah menjalin kerja sama industri pertahanan dengan China, antara lain dalam pengembangan bersama peluru kendali C-705, dan telah melakukan pembelian senjata dari China seperti rudal panggul QW3 untuk Pasukan Khas TNI Angkatan Udara.

Dalam pertemuan kedua itu, masing-masing industri pertahanan kedua pihak melakukan presentasi tentang produk yang dimiliki.

Dari pihak Indonesia terdapat PT LEN, PT Dirgantara Indonesia, PT Indadi Setia, dan PT Info Global. Sedangkan pihak China menampilkan antara lain PT CETC, Nourinco, dan ALIT

antaranews

Bung Karno "Hadir" Saat Razia Tentara Mesir

Seorang tentara Mesir berjaga dengan kendaraan lapis baja dekat lapangan Nahda, tempat para pendukung Presiden Muhammad Mursi berkemah di sekitar Universitas Kairo, Giza
Pasukan Mesir Berjaga di sekitar Pendemo
Pemberlakuan undang-undang negara dalam keadaan darurat dan penetapan jam malam atau larangan keluar rumah di waktu malam dari pukul 19.00-6.00 selama sebulan sejak Rabu (14/8), memungkinkan tentara memiliki wewenang menangkap siapa saja yang dicurigai "melanggar hukum".

Tapi sebagian kalangan tentara yang hanya dicekoki ilmu perang di medan pertempuran, ternyata buta tentang mana orang yang melanggar hukum dan mana yang tidak.

Kecerobohan tentara Mesir itu terlihat ketika menahan ANTARA selama sekitar tiga jam saat meliput pegelaran tank tempur di Jalan Salah Salim, jalan utama yang menghubungkan Bandara Internasional dan pusat kota Kairo, pada Jumat (16/8) silam.

ANTARA ketika itu hendak shalat Jumat di Masjid Al Azhar di Distrik Hussein dan sedianya berencana akan meliput aksi unjuk rasa pendukung presiden terguling Mohamed Moursi di Bundaran Ramses, pusat kota Kairo.

Ketika melintas di Jalan Salah Salim, ada peristiwa menarik untuk diliput, dan ANTARA pun mengambil gambar barisan tank tempur tersebut setelah minta izin kepada seorang tentara di sekitanya, dan dipersilahkan.

Baru beberapa kali menjepret, seorang tentara yang agak senior berteriak dari jauh, "mamnu' tashwir" (dilarang motret) sambil berlari ke arah ANTARA.

Dia sempat membentak tentara yang mengizinkan ANTARA untuk memotret, dan tanpa bertanya, dia langsung dengan paksa menarik tangan ANTARA dan dimasukkan ke mobil patroli.

Padahal ANTARA sudah berteriak-teriak, "Saya wartawan, saya wartawan", tapi tentara berseragam loreng padang pasir itu tidak peduli teriakan tersebut, dan tetap saja menarik tangan ANTARA dengan kasarnya.

Di dalam mobil patroli militer, sudah ada empat warga asing berkulit putih, sepasang laki-wanita berkulit hitam, dan seorang pria berwajah Arab, terkena razia tentara.

ANTARA sempat bertanya kepada para warga asing itu, apakah mereka juga wartawan, namun seorang wanita bule yang duduk di samping ANTARA menjawab bahwa dia dan tiga temannya adalah turis, ditahan atas tuduhan melanggar jam malam.

Ketika ANTARA bertanya lebih lanjut, mereka dari negara mana saja, seorang tentara pengawal tiba-tiba membentak, "uskut!" (diam), dan semua mata para warga asing itu memandang ke ANTARA.

Dengan spontan ANTARA berteriak balik ke arah sang pengawal, "Saya wartawan Indonesia. Ini kartu pers saya," sambil memperlihatkan dua kartu pers yang bergantung di leher.

Dua kartu pers tersebut, masing-masing adalah dari Press Center Kementerian Penerangan Mesir, dan satunya lagi kartu pers dari Istana Presiden Mesir.

Menanggapi teriakan ANTARA, si tentara pengawal yang duduk di kursi mobil paling belakang dengan berpegang senjata siap tembak itu tidak mau tau, dan tanpa bicara dia hanya memelototkan matanya ke arah ANTARA.

Sesaat kemudian, ANTARA mengambil telepon genggam dari saku rompi untuk menghubungi Bapak Atase Pertahanan (Athan) KBRI Kairo.

Celakanya, di daftar telepon genggam, ada dua nama Athan, Kolonel R. Teguh Isgunanto, dan Kolonel Ipung Purwadi.

Untuk konfirmasi yang mana Athan aktif, ANTARA segera menelepon Staf Athan, Mukhlis Kaspul Anwar, dijawabnya bahwa Pak Ipung adalah Athan baru, pengganti Athan Teguh yang sudah kembali ke Indonesia.

"Saya wartawan ANTARA, Munawar Makyanie, ditahan tentara di Jalan Salah Salim," kata ANTARA kepada Pak Athan Ipung.

Dari seberang, terdengar sayup-sayup sampai suara Pak Ipung bertanya-tanya, "Ini siapa, ini siapa?". Sebelum ANTARA menjawab pertanyaan Pak Ipung, HP sudah dirampas, begitu pula kamera.

"Waduh, celaka duabelas ini, fisik dan nyawa saya bisa hilang tanpa jejak," begitu terlintas di fikiran ANTARA.

Suasana semakin menyeramkan karena menjelang mobil patroli tentara yang mengangkut kami warga asing itu hendak bergerak ke arah entah kemana, mata dan wajah kami ditutup dengan kain hitam.

Sekitar satu jam perjalanan, kami diturunkan di suatu tempat, dan secara terpisah di ruang berbeda, kami diinterogasi oleh petugas.

KBRI Bergerak cepat

Ketika petugas secara paksa merampas HP saat menghubungi Athan Ipung, ANTARA sempat mencoba melawan dan berteriak-teriak panik ke arah petugas, "Ini saya sedang berbicara dengan Duta Besar Republik Indonesia".

Namun, lagi-lagi tentara pongah itu tak mau tau, "Mafisy kalam, uskut!" (Tidak boleh ngomong, diam), bentaknya dengan mata melotot lebih seram, dan kumis tebalnya terlihat bergelombang bagai dihantam tsunami.

Fikiran ini kacau balau dan panik karena saat berbicara telepon dengan Pak Athan Ipung tadi, kayaknya nomor HP ANTARA belum tercatat di HP Pak Athan, sehingga beliau bingung juga, siapa itu Munawar Makyanie.

Untungnya, Pak Ipung bergerak cepat untuk melacak nomor telpon tersebut melalui berbagai pihak.

Belakangan, Staf Athan, Iman Hilmanuddin, kepada ANTARA menceritakan bahwa setelah Pak Ipung mendapat telpon dari ANTARA, beliau mula-mula melacaknya melalui dirinya (Iman Hilamanuddin).

Iman Hilmanuddin juga sempat bingung tentang siapa milik HP tersebut, dan selanjutnya berusaha melacak lagi melalui Staf Pelaksana Fungsi Penerangan, Sosial Budaya KBRI Kairo, Amir Syarifuddin, dan diketahui bahwa itu adalah nomor HP wartawan ANTARA di Kairo.

Setelah mengetahui bahwa itu nomor HP ANTARA, Iman pun sengaja mengirim pesan singkat berbahasa Arab ke HP ANTARA atas nama Atase Partahanan, dengan harapan petugas dapat membaca dan memakluminya.

Pesan singkat berbahasa Arab itu isinya, "Apakah ini Munawar Makyanie, apa kabarnya? Saya adalah Atase Pertahanan KBRI Kairo."

Bung Karno "hadir"

Sebelum diinterogasi, seorang petugas beruban -- tampaknya pejabat senior -- meminta identitas diri, dan ANTARA pun menyerahkan semua dokumen identitas berupa paspor, kartu pers, STNK, SIM Mesir, dan kartu Cairo Sporting Club.

Saat membuka paspor ANTARA, petugas tersebut spontan berucap, "Oh dari Indonesia ya, Soekarno, 'anaa uhibbu Soekarno' (saya cinta Soekarno)," sambil senyum takzim dan menunjukkan kedua jempol tangannya, dan dia pun keluar dari ruangan interogasi.

Seorang pria berpakaian sipil berwajah angker mulai menginterogasi ANTARA dengan beragam pertanyaan memojokkan.

Di ruangan itu cukup sempit, hanya ada dua kursi berhadapan ditengahi sebuah meja kecil, dan sebuah lemari kusam di dekat jendela terbuka berpagar besi.

Di atas lemari dipenuhi sebundel kertas berdebu. Sesekali tampak dua ekor tikus menari-nari berkejaran di sela-sela tumpukan kertas di atas lemari.

Di ruang sebelah, kerap terdengar suara bentakan keras oleh petugas berbahasa Arab.

Di tengah interogasi, tiba-tiba datang seorang petugas berbeda lagi, berpakaian rapi dengan senyum ramah, meminta ANTARA untuk ke ruang tamu.

"Mohon maaf, ini hanya salah pengertian saja. Bapak Munawar Saman Makyanie boleh kembali ke rumah", kata pria berdasi itu sambil menyerahkan kembali telpon genggam, dan semua dokumen identitas, serta kamera, tapi memory card kamera sudah dicopot.

ANTARA pun diantar kembali ke tempat semula ditahan, yaitu Jalan Salah Salim, dalam posisi mata dan wajah kembali ditutup dengan kain hitam.

Selama perjalanan pulang dalam mobil patroli tersebut, ada dua hal terlintas di fikiran ini, yaitu anak-istri dan Toyota Corolla -- mobil sedan pribadi kesayangan yang saya parkir di sisi Jalan Salah Salim, dengan kuci stang buatan Indonesia.

Maklum saja, banyak kerangka mobil rusak terbakar berserakan di pinggir jalan di mana-mana akibat bentrokan.

Sesampai di Jalan Salah Salim, petugas membuka penutup kain hitam dari wajah dan turun dari mobil patroli dengan lega bercampur kacau fikiran.

Alhamduillah mobil pribadi warna metalik itu masih utuh, menanti dengan anggunnya.

Begitu masuk dalam mobil pribadi, istri tercinta menelpon dari Indonesia, "Papa, hati mama tidak tenang di rumah sakit, selalu ingat papa di depan pasien," kata istri, Widiawati Kurnia, yang sedang bertugas sebagai dokter spesialis kandungan di Rumah Sakit Sari Asih Sangeang, Tangerang.

Mendengar suara istri di telpon bergitu, jantung ini terasa bergetar kencang, air mata mengucur di pipi, suara tidak bisa keluar dari mulut, dan langsung saya matikan telepon.

Sesaat kemudian setelah panasin mobil sebentar, saya kirim pesan singkat bbm kepada istri, tanpa kata-kata, hanya berupa gambar setir mobil, pertanda sedang berkendara di jalan.

Antara pun sampai di rumah dengan selamat berkat "kehadiran" Bung Karno.

Proklamator Kemerdekaan RI itu memang cukup disegani rakyat Mesir hingga sekarang yang dikenal sebagai sejawat paling akrab Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, pahlawan legendaris Arab.