Pages

Monday, 2 September 2013

Anggaran TNI dan Polri Tak Berimbang



JAKARTA : Alokasi anggaran Kementerian Pertahanan sebesar Rp 83,4 Triliun yang disebutkan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya dihadapan Rapat Paripurna DPR RI, Jumat (16/7) dinilai tidak berimbang, dibandingkan dengan anggaran Kepolisian sebesar Rp 41,5 Triliun.
Pasalnya anggaran Kementerian Pertahanan Rp 83,7 Triliun tersebut untuk lima unit organisasi yaitu Kementerian Pertahanan, Mabes TNI, TNI AD, TNI AL, dan TNI AU.
Penilaian tersebut disampaikan Ketua Komisi I DPR RI, Mahfudz Siddiq usai mengikuti Rapat Paripurna DPR RI Pembukaan Masa Sidang I Tahun Sidang 2013-2014 dan Pidato Presiden RI dalam rangka penyampaian RUU APBN Tahun Anggaran 2014 di Gedung DPR RI, Jumat (16/7).
"Di pengantar nota keuangan ini memang Kementerian Pertahanan mendapatkan alokasi anggaran terbesar. Tetapi yang harus dipahami, anggaran Rp 83,7 Triliun itu untuk lima unit organisasi yaitu Kementerian Pertahanan, Mabes TNI, TNI AD, TNI AL, dan TNI AU," papar Mahfudz.
"Semuanya itu bukan untuk Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista). Itu untuk Alut Sista, Modernisasi, Belanja Rutin termasuk Gaji personil," tambahnya.
Yang dibutuhkan sekarang adalah Tunjangan Khusus untuk prajurit yang ditugaskan di daerah-daerah terpencil atau tugas-tugas khusus, karena memang kebutuhan mereka itu jauh melampaui tunjangan minimal yang mereka dapatkan. Jadi ini yang masih harus dieksplorasi lagi.
"Sebenarnya melihat anggaran Kepolisian sebesar Rp 41,5 Triliun itu hanya untuk satu unit Polri, ya memang tidak berimbang, tetap Polisi jauh lebih tinggi proporsinya dibandingkan TNI," kata politisi PKS ini. Mestinya anggaran ini berimbang, modernisasi alut sista berjalan tapi kesejahteraan prajurit tertinggal ini terjadi demoralisasi juga. (Rully) 
 

Freedom Flotilla tetap ke Merauke klaim sebagai misi budayajavascript:;


Puluhan aktivis Australia dan Papua Nugini tetap melakukan pelayaran menuju Merauke, Papua meski mendapat peringatan dari Pemerintah Indonesia dan ketidaksetujuan dari Pemerintah Australia.
Amos Waingai, aktivis Papua Merdeka yang kini mendapat suaka dan memiliki paspor Australia mengungkapkan saat ini kapal layar Freedom Flotilla telah menuju Cooktown, masih di wilayah pesisir timur laut Australia.
Lebih dari 20an aktivis mulai berlayar kemarin dari Cairns, negara bagian Queensland.
Kepada Radio Australia Amos mengungkapkan tetap berkeras melakukan pelayaran bersama puluhan aktivis lainnya menuju Merauke kendati mendapat penolakan dari  Pemerintah Indonesia dan tanpa restu dari Pemerintah Australia.
“Kami sudah siap menghadapi semua resiko yang akan terjadi. Semuanya,” ujar Waingai.
Seperti diketahui pihak keamanan Indonesia menegaskan akan menangkap orang orang yang masuk dalam daftar pencarian orang dengan rekam jejak tuduhan tindakan kriminal di Papua.
Angkatan Laut Indonesia juga akan mencegat kedatangan kapal tanpa ijin yang memasuki territorial Indonesia.
Sementara, Menteri Luar Negeri Australia Bob Carr menyatakan pelayaran Freedom Flotilla tidak mendapat dukungan dari Australia serta menyebut pelayaran itu memberikan harapan palsu tentang kemerdekaan Papua dari Indonesia.
Menurut Amos Wanggai perjalanannya tidak bermaksud dengan tujuan politik seperti yang dituduhkan.
Wanggai mengklaim pelayaran yang juga mengikutsertakan aktivis warga Papua Nugini sebagai perjalanan misi kebudayaan untuk memperingati pemisahan daratan Australia dan pulau Papua sejak zaman pencairan es 10 ribu tahun yang lalu dan era kolonisasi.
“Terserah orang mau bilang apa, tujuan saya cuma satu, saya jalan untuk connect dua tempat antara pulau dan daratan besar,” kata Waingai.
“Kalau nanti bisa tiba di Merauke, kami akan buat acara upacara adat. Akan ada upacara penyambutan dari seluruh orang Papua untuk mempersatukan dua pulau yang terpisah sekian lama,” lanjutnya.
Dalam setiap tempat persinggahan, menurut Wanggai akan ada aktivis lainnya yang bergabung dengan kapal layar Freedom Flotilla.
“Kami sekarang ada tiga kapal layar di Cooktown, nanti akan ada kapal lainnya, tapi saya belum tahu berapa lagi yang ikut bergabung,” jelas Waingai.
Diperkirakan rombongan kapal layar Freedom Flotilla akan memasuki territorial perairan Indonesia pada akhir Agustus atau awal September.
Jika nanti dihalau oleh aparat atau kapal militer Indonesia  Amos Wangai menyampaikan “Kami akan bicara terlebih dahulu.”
Amos Wainggai datang ke Australia sebagai pengungsi pencari suaka politik yang kini menetap di Melbourne sejak 2006.
Dia mendapat suaka bersama 42 aktvis Papua Merdeka lainnya dari Australia dan baru mendapat paspor Australia dua tahun lalu.
Dalam pelayaran Freedom Flotilla kali ini, selain Amos juga ditemani oleh Jacob Rumbiak yang juga dikenal sebagai aktivis Papua Merdeka lainnya.

radioaustralia 

Kisah Pesawat Dakota Komodor Adisutjipto ditembak jatuh Belanda

 




29 Juli 1947, Pesawat Dakota VT CLA pulang menjalankan misi kemanusiaan di Malaya. Pesawat bantuan pengusaha India untuk rakyat Indonesia itu hampir mendarat di Lapangan Udara Maguwo, Yogyakarta, ketika tiba-tiba muncul dua pesawat pemburu Kitty Hawk milik Angkatan Udara Belanda.

Pesawat pemburu itu memberondong Dakota dengan senapan mesin. Pesawat Dakota oleng dan kehilangan kendali. Pilot Alexander Noel Constantine mencoba mendarat darurat, tetapi gagal. Pesawat jatuh dan terbakar di Desa Ngoto, sebelah barat Maguwo.

Peristiwa naas ini menewaskan awak pesawat tersebut, yaitu pilot berkebangsaan Australia mantan perwira RAAF (AU Australia), Noel Constantine dan seorang kopilot berkebangsaan Inggris mantan perwira RAF (AU Inggris), Roy Hazelhurst. Bersama mereka turut pula tewas Komodor Udara Adisucipto, Komodor Udara Abdurrahman Saleh, operator radio Adisumarmo Wirjokusumo, Zainal Arifin dan seorang teknisi India, Bidha Ram. Istri Constantine juga tewas tak berapa lama setelah kecelakaan. Satu-satunya yang selamat adalah Abdul Gani Handonotjokro.

Kejadian ini menimbulkan protes Indonesia. Penerbangan pesawat itu resmi dan telah mendapatkan izin dunia internasional, termasuk pemerintah Belanda. Pesawat Dakota mengangkut obat-obatan bantuan dari Palang Merah Malaya untuk Indonesia, bukan berisi persenjataan. Surat kabar dan pers juga telah menayangkan berita soal penerbangan kemanusiaan ini. Tetapi kenapa masih juga ditembak?

Komodor Adisutjipto gugur dalam serangan pengecut itu. Ketika gugur usianya baru 31 tahun. Dialah bapak penerbangan Indonesia.

Kalau Adisutjipto tidak nekat menerbangkan pesawat bobrok peninggalan Jepang, entah apa nasibAngkatan Udara Republik Indonesia. Adisutjipto adalah orang yang merintis penerbangan AURI, membangun sekolah penerbang dan melakukan berbagai misi kemanusiaan lewat udara di tengah serangan Belanda. Hidupnya dihabiskan membangun kekuatan udara RI tanpa lelah. Di langit pula kesatria udara ini mengakhiri hidupnya.

Adisutjipto lahir tanggal 4 Juli 1916 di Salatiga, Jawa Tengah. Otaknya encer dan prestasinya di sekolah sangat memuaskan. Lulus dari Algemene Middelbare School (AMS) Semarang tahun 1936, dia ingin melanjutkan masuk Akademi Militer Belanda di Breda. Namun sang ayah menyarankan Adisutjipto masuk Geneeskundige Hooge School (Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta.

Tjipto diam-diam mengikuti tes dan diterima di Militaire Luchtvaart Opleidings School atau Sekolah Penerbangan Militer di Kalijati Subang. Tjipto lulus lebih cepat dan mendapat nilai yang sangat baik. Dia berhak menyandang pangkat letnan muda udara. Tjipto juga mendapat brevet penerbang kelas atas. Konon dialah satu-satunya orang Indonesia yang saat itu mempunyai brevet penerbang kelas atas.

Dalam buku Bakti TNI Angkatan Udara 1946-2003 ditulis Tjipto kemudian mendapat tugas di Skadron Pengintai di Jawa. Saat Jepang mengalahkan Belanda, seluruh penerbang Belanda dibebastugaskan. Tjipto kembali ke Salatiga dan bekerja sebagai juru tulis. Di kota ini pula Tjipto menyunting seorang gadis bernama Rahayu.

Setelah kemerdekaan, tanggal 5 Oktober 1945 juga dibentuk Tentara Keamanan Rakyat Jawatan Penerbangan. Surjadi Suryadarma yang memimpin jawatan ini memanggil Adisutjipto untuk membantu membentuk angkatan udara. Kondisi angkatan udara saat itu sangat memprihatinkan. Tidak ada pilot, tidak ada mekanik pesawat, tidak ada dana, hanya ada beberapa pesawat tua peninggalan Jepang.

Tapi Adisutjipto nekat menerbangkan pesawat-pesawat itu. Tanggal 10 Oktober 1945 dia berhasil menerbangkan pesawat jenis Nishikoren yang dicat merah putih dari Tasikmalaya ke Maguwo, Yogyakarta. Tanggal 27 Oktober 1945 dia berhasil menerbangkan pesawat Cureng berbendera merah putih di sekitar Yogya. Bukan tanpa maksud Tjipto melakukan itu. Hal ini dilakukannya untuk memompa semangat perjuangan rakyat.

Tanggal 1 Desember 1945, Adisutjipto dan Surjadi Suryadarma mendirikan sekolah penerbang. Lagi-lagi dalam situasi serba kekurangan. Tjipto menjadi instruktur, sementara Surjadi mengurus administrasi. Angkatan pertama, ada 31 siswa yang mengikuti sekolah penerbangan itu. Hanya bermodal pesawat tua tidak menyurutkan langkah para perintis TNI AU ini untuk belajar.

"Kalian menerbangkan peti mati," ujar para penerbang Kerajaan Inggris yang mengunjungi Lanud Maguwo Yogyakarta tahun 1945. Para penerbang itu geleng-geleng melihat deretan pesawat Cureng buatan Jepang yang jumlahnya tidak seberapa di landasan pacu. Pesawat Cureng itu buatan tahun 1933, beberapa kondisinya jauh dari layak. Karena itu tidak salah jika pilot Inggris menyebutnya peti mati terbang.

Tapi Kepala Sekolah Penerbang Maguwo, Komodor Adisutjipto, cuek saja mendengar ucapan tentara Inggris itu. Kadet-kadet sekolah penerbang itu mencatat prestasi membanggakan. Bukan hanya mencatat zero accident, Suharnoko, Harbani, Soetardjo Sigit dan Moeljono berhasil mengebom tangsi-tangsi Belanda di Salatiga, Ambarawa dan Semarang.

Atas jasa-jasanya pemerintah memberikan gelar Bapak Penerbang Republik Indonesia pada Adisutjipto. Lapangan Udara Maguwo pun diubah namanya menjadi Lanud Adisutjipto.
(mdk/ian)

merdeka