Pages

Friday, 22 November 2013

Cerita di balik kedatangan armada Nazi ke Jawa


Tim penyelam dari Pusat Purbakala Nasional menemukan bangkai kapal selam U-boat Nazi Jerman di perairan utara Karimun Jawa. Jika benar itu adalah bangkai U-Boat seri U-168 sesuai pernyataan Ketua Tim Peneliti dari Pusat Purbakala Nasional Bambang Budi Utomo, itu adalah kapal selam yang kandas ditorpedo saat patroli keempatnya.

Dari data situs U-Boat Nazi Jerman, seri U-168 keluar dari galangan pada 15 Maret 1941 di Bremen. Setelah itu, U-Boat tersebut berpatroli di perairan Eropa sebelum dikirim ke Samudera Hindia. Nahas, U-Boat tersebut karam ditorpedo kapal selam Belanda HrMs Zwaardvisch.

Selama berpatroli, U-Boat U-168 total mengandaskan tiga kapal musuh dengan bobot gabungan 8.008 ton dan merusak satu kapal musuh berbobot 9.804 ton. Berikut ini 4 cerita dibalik kedatangan armada Nazi ke Jawa:

1. Mendukung invasi tentara Jepang

Jerman memang bersekutu dengan Jepang dalam perang dunia ke dua. Pada 14 Desember 1941 pasukan Jepang mendarat di Borneo, kemudian pada Februari 1942 mereka kembali mendarat di Sumatra Barat. Jepang membebaskan orang-orang Jerman yang menjadi tahanan Belanda di Indonesia, dan balik menahan orang Belanda di Sumatera dan Jawa.

Sebelum perang dunia kedua, tepatnya selepas perang dunia pertama, orang-orang Jerman memang banyak yang tinggal di Sumatera dan Jawa. Namun pada perang dunia kedua, tentara Belanda di Indonesia menangkapi orang-orang Jerman karena posisi dua negara saling berhadapan.

Kondisi orang-orang Jerman itu membaik ketika Jepang berhasil mengusir Belanda dari Indonesia. Masa pendudukan Jepang terjadi pada 1942-1945. Selama itu, armada Nazi Jerman juga ikut mendukung kekuatan tempur Jepang, termasuk armada kapal selam.

Pada waktu itu, ada kapal selam Jerman lolos dari blokade sekutu. Kapal selam itu berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok Surabaya, hendak memasok barang-barang kebutuhan kepada tentaranya.

2. Mengimpor barang kebutuhan tentara Jepang

Pada bulan Mei 1943, Angkatan Laut Jerman mendapat persetujuan dari Angkatan Laut Jepang di Penang, Singapura, Jakarta, dan Surabaya untuk mengimpor bahan baku menggunakan kapal-kapal selam, yaitu; impor karet, timah, molybdan, wolfram, lemak, kinine, dan madat.

Bahan-bahan kebutuhan lain adalah: yodium, agar-agar, dan bahan penting untuk warna cat penerbangan. Bahan-bahan seberat 150 ton diangkut menggunakan kapal selam dalam sekali pelayaran hingga membuat kapal menjadi sempit.

3. Perang melawan Inggris dan Belanda 

Patroli kedua kapal U-Boat seri U-168 menuju wilayah Samudera Hindia mampu mengandaskan kapal Inggris SS Haiching sekitar 130 km barat daya Mumbai (India) pada 2 Oktober 1943. Patroli kedua berakhir di Penang, Malaysia pada 11 November.

Di tahun yang sama, 1943 dan 1944 sebanyak 42 kapal selam Jerman telah dikirim ke Asia Tenggara, di antaranya kapal selam U-168. Hanya 13 kapal yang tidak dikirim. Tapi dari seluruh kapal selam yang dikirim itu, hanya 11 yang sampai ke Jakarta, sementara 5 kapal selam lagi karam.

Pada 5 Oktober 1944, U-168 di bawah Kapten Letnan Pich berlayar dari Jakarta ke Surabaya, tapi dalam perjalanannya, kapal selam itu ditorpedo oleh kapal selam Belanda "ZWAARDFIS"

4. Memutus jalur logistik sekutu dari Asia Tenggara

Arkeolog dan penyelam yang menemukan bangkai U-Boat, Shinatria Adhityatama (25), mengatakan U-Boat bertugas untuk menghancurkan garis suplai sekutu dari Asia Tenggara. Termasuk jalur logistik Inggris dari India.

"Mereka juga bekerja sama dengan Jepang sebagai sekutu. Jerman membantu mengamankan perairan Pasifik yang dikuasai Jepang," ujarnya.

Selain Jerman dan Jepang juga berbagi teknologi militer. Mereka juga diduga berbagi pangkalan kapal selam. Saat Perang Dunia, diketahui ada pangkalan U-Boat di Pulau Penang, Batavia dan Surabaya.

"Jadi mereka melakukan operasi gabungan di Indonesia. Di perairan inilah satu-satunya ada operasi gabungan angkatan laut Jerman dan Jepang," tutur Shinatria.

merdeka 

KRI Malahayati-362 Siaga Di Perbatasan Selatan Indonesia


http://farm4.static.flickr.com/3187/2972055101_b3ca23a730.jpg?v=0Memanasnya isu penyadapan yang dilakukan Australia terhadap pejabat negara Indonesia, sampai saat ini belum berdampak besar terhadap pelaksanaan tugas pokok KRI Malahayati-362. Sempat jauh dari pemberitaan, KRI Malahayati-362 kembali terlihat saat melaksanakan bekal ulang di salah satu kota di Nusa Tenggara Timur. Keberadaannya kali ini dalam rangka operasi Taring Hiu-13 di bawah komando Gugus Keamanan Laut Koarmatim.

Dalam pelaksanaan patroli laut nya di wilayah-wilayah paling selatan Indonesia sepanjang Samudera Hindia yang berbatasan langsung dengan negara Australia, KRI Malahayati-362 senantiasa siaga dengan segala bentuk ancaman maupun pelanggaran yang akan terjadi. Selain pelanggaran pidana pelayaran, illegal logging dan illegal fishing yang rawan terjadi, KRI Malahayati-362 terus mengawasi beberapa tempat yang ditengarai sebagai hotspot para pencari suaka domestik.

“Sampai saat ini belum ada perintah langsung dari komando atas untuk meningkatkan derajat kesiagaan tempur, kita masih konsisten melaksanakan patroli laut di sektor operasi. Namun jika sewaktu-waktu diperlukan seluruh prajurit KRI Malahayati-362 selalu siap menjadi martir di garda terdepan”. Kata Komandan KRI Malahayati Letkol Laut (P) Moch. Irchamni.

KRI Malahayati-362 (corvette class), kapal perang dengan kemampuan anti udara, anti permukaan dan anti kapal selam dengan tingkat endurance tinggi sepanjang tahun 2013, termonitor teguh menjaga kedaulatan NKRI. Setelah mengikuti pelaksanaan Latgab TNI 2013 dan menjaga perbatasan utara NKRI di perairan Karang Unarang dalam operasi Tameng Hiu-13, akhir tahun 2013 ditutup dengan setia menjaga perbatasan selatan wilayah laut NKRI.

koarmatim

Thursday, 21 November 2013

Alouette III: Kiprah Heli Serbaguna Penerbad TNI AD Era 70-an

p1305894922-3
Dilihat dari desainnya, helikopter ini terlihat culun dibandingkan desain heli modern saat ini. Bila dilihat sekilas, bentuk heli ini bahkan mirip dengan helicak (heli becak), kendaraan umum warga DKI Jakarta pada era 70-an. Tapi jangan salah, heli yang menyandang nama Alouette III SA-316 ini punya andil sejarah yang cukup besar dalam dunia dirgantara di Tanah Air, khususnya melengkapi armada Penerbad TNI AD sejak tahun 1969.
Dirunut dari sejarahnya, Alouette III hadir di Indonesia sebagai pelipur lara, pasca Penerbad harus kehilangan armada heli Mil Mi-4 akibat di grounded karena embargo suku cadang militer dari Uni Soviet. Di tahun 1969, melalui Hankam, Penerbad kebagian jatah tujuh unit heli Aerospatiale Aloutte III buatan Perancis. Dalam memperkuat operasi Seroja, pada tahun 1975 sebuah heli sejenis kembali diterima. Bahkan, di tahun 1985, Penerbad mendapatkan dua heli Alouette II bekas pakai Pelita Air Service. Di era yang sama, Penerbad juga tengah mengoperasikan heli NBO-105 dan Bell 205 A-1.
Bila NBO-105 dan Bell 205 A-1 digunakan untuk misi serbaguna, plus bantuan tembakan ke permukaan. Maka peran Alouette III sebatas untuk misi angkut personel, logistik, dan evakuasi medis, karena memang Aloutte III yang dibeli Indonesia tidak dilengkapi dengan paket sistem senjata. Kiprah Aloutte III dalam operasi militer dimulai pada 1969, tatkala heli ini dilibatkan dalam operasi Sapu Bersih menumpas gerakan PGRS/Paraku di Kalimantan.
Alouette II milik Penerbal TNI AL, Penerbad TNI AD pun juga punya jenis heli ini.
Alouette II milik Penerbal TNI AL, Penerbad TNI AD pun juga punya jenis heli ini.
Alouette III Penerbad TNI AD
Alouette III Penerbad TNI AD
Alouette III di halaman Akademi Militer, Magelang.
Alouette III di halaman Akademi Militer, Magelang.
Salah satu Alouette III TNI AD yang masih  beroperasi, nampak di latar belakang heli angkut berat Mi-17.
Salah satu Alouette III TNI AD yang masih beroperasi, nampak di latar belakang heli angkut berat Mi-17.
Di tahun 1974, Alouette III dikerahkan untuk misi pengejaran Tapol G-30S/PKI yang mencoba melarikan diri dari tahanan di Pulau Buru. Kemudian di tahun 1975, Alouette III dilibatkan dalam operasi Flamboyan, sebelum operasi Seroja di Timor-Timur. Tercatat ada tiga heli Alouette III serta sembilan heli NBO-105 dikerahkan. Kiprah lain Alouette III juga ikut dalam operasi pemberantasan GPK pimpinan Hasan Tiro di Aceh. Boleh dibilang Alouette III sudah lumayan kenyang dilibatkan dalam operasi militer dan non militer. Berbeda dengan NBO-105 dan Bell 205 A-1 yang kini masih eksis digunakan, Alouette III saat ini sudah tak lagi dioperasikan secara penuh oleh Penerbad. Sebagian dari armada Alouette III ada yang menjadi monumen di halaman Akademi Militer, Magelang – Jawa Tengah.
Alouette III SA-316
Di antara deretan keluara Alouette, Alouette III adalah seri yang paling sukses. Menyandang predikat sebagai heli ringan serbaguna, Alouette III bisa ditemukan di banyak negara dan digunakan secara luas, baik di kalangan sipil dan militer. Salah satu keunggulan heli ini adalah kemampuannya untuk terbang tinggi, hingga 5.000 meter. Salah satu Alouette III pertama mendarat dan lepas landas Juli 1960 dengan tujuh orang diatasnya dan mampu mencapai ketinggian 4.810 meter di pegunungan Alpen Perancis, dekat Mont Blanc.
Masih soal ketinggian terbang, pada November 1960, Alouette III mencapai keberhasilan lebih lagi. Dan, hingga saat itu belum ada yang berhasil mencapainya, dimana heli ini dapat mencapai ketinggian 6.004 meter di Himalaya dengan mengangkut dua orang dan muatan 250 kg. Keberhasilan ini sontak mendapat perhatian luas dari seluruh dunia.
Tampilan 3D Alouette III
Tampilan 3D Alouette III
Mesin dibiarkan terbuka, mirip dengan desain di heli Westland Wasp.
Mesin dibiarkan terbuka, mirip dengan desain di heli Westland Wasp.
Prototipe Alouette III SA-316 mengudara pada 28 Februari 1959. Awalnya heli menggunakan mesin turbin gas Turbomeca Artouste 3 yang tingkatnya lebih rendah, menjadikan heli ini dapat beroperasi dengan baik di bawah 880 hp. Tampilan kompartemen mesinnya mirip dengan heli Westland Wasp TNI AL, dibiarkan terbuka tanpa pelindung. Pra seri edisi pertama SA-316 A lepas landas untuk pertama kalinya di Juli 1960.Setelah dua prototipe dan heli pra seri, produksi dimulai pada tahun 1961.
Heli ini  diawaki oleh seorang pilot dan mampu membawa enam penumpang. Untuk kapasitas medis, dua tandu, seorang cedera, dan seorang petugas medis dapat diangkut. Sebagai heli angkut serbaguna, kargo 740 kg di kabin dan 750 kg di luar muatan bisa dibawanya. Peran lain heli ini juga kerap digunakan untuk pemantauan saat kebakaran hutan, dan fotografi udara.
Tampilan pada kokpit.
Tampilan pada kokpit.
Alouette III dapat pula dipasangi door gun, tidak tanggung-tanggung menggunakan kanon kaliber 20mm.
Alouette III dapat pula dipasangi door gun, tidak tanggung-tanggung menggunakan kanon kaliber 20mm.
Alouette versi AKS, lengkap dengan radar Doppler dan torpedo MK46
Alouette versi AKS, lengkap dengan radar Doppler dan torpedo MK46
Alouette III tengah melepaskan rudal AS.11
Alouette III tengah melepaskan rudal AS.11
Lebih tajam perannya sebagai heli militer, Alouette III terbilang galak, bahkan heli ini dapat ditambahkan dengan perangkat radar. Dengan label seri SA-319, heli dapat dibekali radar ORB-31, dan senjata mautnya adalah rudal AS.11 buatan Aerospatiale. AS.11 adalah rudal udara ke permukaan yang dapat melesat hingga kecepatan 580 km/jam. Alouette III dapat membawa 4 rudal AS.11. Selain laris digunakan AD, heli ini juga cukup banyak digunakan oleh AL. Berangkat dari atas geladak kapal perang, heli ini bahkan sanggup membawa dua torpedo MK-46. Ini artinya Alouette III sanggup berperan dalam memperkuat elemen AKS (anti kapal selam). Khusus untuk misi di lautan, selain membawa dua torpedo, Alouette III dapat dilengkapi radar Doppler, auto pilot dan komputer navigasi.
Produksi Alouette III berakhir pada Mei 1985, sekitar 1.473 unit telah dibuat dan beroperasi di 90 negara. Jumlah ini masih harus ditambah lagi sekitar 500 unit yang dibuat dibawah lisensi di India dan Rumania. Selain Indonesia, di Asia Tenggara, Alouette III juga digunakan oleh militer Malaysia dan Singapura. (Bayu Pamungkas)

Spesifikasi Alouette III
Panjang : 10,03 meter
Diamater rotor utama : 11,02 meter
Tinggi : 3 meter
Main rotor area: 95.38 m2
Empty weight : 1,143 kg
Gross weight : 2,200 kg
Mesin : 1 × Turbomeca Artouste IIIB turboshaft, 649 kW (870 shp) derated to 425 kW (570 hp)
Kecepatan max : 210 km/jam
Kecepatan jelajah : 185 km/jam
Jarak jelajah : 540 km
Ketinggian terbang normal : 3,200 meter
Kecepatan menanjak : 4,3 meter/detik

indomiliter