Pages

Monday, 25 November 2013

Jangan Haram Bicara Peningkatan Anggaran Pertahanan


Pengamat militer Dr Connie Rahakundini Bakrie menilai bahwa pemerintah jangan tabu, atau terkesan mengharamkan rencana meningkatkan anggaran pertahanan.

Hal ini karena pertahanan yang kuat yang dalam hal ini ditunjang alusista modern adalah kebutuhan yang mendesak bagi negara kaya sumber daya, seperti Indonesia.

"Mengapa ya kok pemerintah dan kita takut atau kesannya haram bila bicara tentang peningkatan anggaran pertahanan. Padahal kita dituntut untuk mampu melindungi sumber daya alam kita yang kaya, dari jarahan negara asing.

Selalu saja kita hanya memprioritaskan dana untuk pendidikan dan perekonomian. Dan mengapa kita itu lupa pada sejarah bahwa perang memperebutkan sumber daya alam, masih berlangsung, dan tidak akan berakhir," kata Connie dalam orasi ilmiahnya pada acara syukuran HUT ke-1 Presscode, Hotel Sari Pan Pacific, Kamis malam.

Menurut dia, invasi AS dan sekutunya ke Irak dengan dalih demi menghancurkan senjata pemusnah masal Irak, yang mana hal itu tak terbukti, adalah bukti perebutan sumber daya alam berupa minyak.

Begitu pula intervensi militer asing untuk menumbangkan Muamar Qadafi di Libya, juga terkait perebutan sumber minyak. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, maka diperlukan pangkalan TNI AU yang merata.

Dia menggambarkan bahwa pangkalan TNI AU untuk wilayah Timur Indonesia berada di Makasar. Dengan pesawat Sukhoi terbaru yang kita miliki pun masih butuh waktu diatas 90 menit untuk bisa mencapai Merauke.

"Sementara dari pangkalan RAAF (AU Australia), dengan jet tempur mereka bisa mencapai Merauke dengan waktu 60 menit saja. Bila pesawat musuh sudah berada lebih dulu di wilayah kita, dan bahkan malah sudah bersiaga mencegat pesawat kita, apa itu tidak berbahaya namanya. Pembangunan pangkalan TNI AU yang baru untuk wilayah Timur Indonesia, jelas suatu hal yang mendesak," papar dia.

suara merdeka 

Proyek Pesawat Tempur KFX Dipercepat


 
Korea Selatan kembali mengkaji program pengadaan pesawat tempur modern bagi Angkatan Udara mereka. Jumat 22/11/2013, mereka memutuskan untuk membeli 40 pesawat siluman (stealth) yang akan digunakan Republic of Korea Air Force (ROKAF) pada tahun 2018-2021. Dengan keputusan ini jalan masuknya F-35 Lockheed Martin ke dalam AU Korsel terbuka lebar.

Dalam rapat gabungan kepala staff tersebut, militer memutuskan membeli 40 pesawat tempur siluman dengan opsi tambahan 20 pesawat, tergantung situasi keamanan dan perkembangan teknologi ke depan.

“Dalam rapat itu kemampuan operasional pesawat direvisi, mensyaratkan kemampuan siluman tingkat tinggi serta perangkat perang elektronik untuk mencegah provikasi yang dilakukan Korea Utara”, ujar Brigjen Shin Ik-hyun, selaku anggota JCS.

F-35 merupakan pesawat Stealth dari segara aspek yang masih dalam pengembangan. Korea Selatan berupaya membeli pesawat tempur anti-radar, setelah melihat negara tetangganya seperti: China, Jepang dan Rusia yang berupaya menciptakan pesawat siluman juga.

Analis mengatakan Korea Selatan masih memungkinkan membeli 20 pesawat tempur lainnya, dari perusahaan lain seperti Boeing dan European Aeronautic Defense and Space, untuk mendapatkan teknologi bagi pesawat tempur KFX, yang dibangun terpisah, sebagai bagian kemandirian Korea Selatan.

Dewan Militer ini (JCS) juga memutuskan untuk mengubah proyek KFX, yang awalnya berupa proyek jangka panjang, menjadi proyek jangka menengah. Proyek KFX didorong lebih cepat untuk segera terwujudnya konstruksi awal pembangunannya.

Sumber menduga, pengembangan KFX akan selesai sekitar tahun 2020 dan operasional mulai tahun 2023.

Indonesia terlibat dalam proyek KFX Korea Selatan ini, dengan penyertaan modal 20 persen dan diharapkan memperoleh 50 pesawat KFX, jika nanti terwujud.(Song Sang-ho / koreaherald.com)
 

TNI Gelar Latihan Penanggulangan Teror


Jakarta : Tentara Nasional Indonesia (TNI) kembali menggelar Latihan Satuan Penanggulangan Teror (Satgultor) 2013 di perairan Batam dan Kepri. Upacara pembukaan Latihan Satgultor dibuka secara resmi oleh Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Laksdya TNI Boy Syahril Qamar, mewakili Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko, bertempat di Markas Komando Detasemen Jalamangkara Cilandak Jakarta Selatan, Jumat (22/11/2013).

Latihan tersebut bertujuan untuk mewujudkan kesiapan operasional Satgas Operasi Khusus TNI yang merupakan gabungan unsur-unsur Sat-81, Denjaka dan Denbravo’90 beserta unsur pendukungnya dengan sasaran untuk meningkatkan kemampuan unsur pimpinan dan staf, tersusunnya rencana operasi khusus TNI, meningkatnya kemampuan interoperability, dan meningkatnya kesiagaan operasional pasukan khusus TNI.

Dalam amanatnya Panglima TNI menyampaikan latihan ini diselenggarakan tidak sekedar untuk memenuhi kalender program dan kegiatan yang telah ditetapkan, namun lebih dari itu. Latihan ini dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas Satuan Gultor TNI, dihadapkan kepada kecenderungan kondisi faktual perkembangan aksi dan modus operandi terorisme saat ini dan dimasa yang akan datang.

"Latihan Gultor TNI tahun 2013, diarahkan pada tema counter hijacking at the sea, sebagai upaya meningkatkan kapasitas dan kapabilitas individu serta interoperability Satgultor TNI di semua strata. Khususnya interoperabilitas komando, kendali, komunikasi, koordinasi, integrasi operasi Sat-81, Denjaka dan Denbravo'90," kata Panglima TNI.

Di akhir amanatnya, Panglima TNI menyampaikan beberapa penekanan.

  • Pertama, satukan visi dan misi Sat-81, Denjaka dan Denbravo’90 dalam satu ikatan tugas TNI. Hilangkan ego sektoral yang dapat menimbulkan kelemahan dan menjadi penghambat dalam mewujudkan TNI yang profesional, militan, dan solid. TNI harus satu persepsi dan menjadi kekuatan utuh dalam tampilan di mata masyarakat dan bangsa Indonesia.
  • Kedua, laksanakan latihan dengan penuh dedikasi, semangat dan tanggung jawab, serta kuasai dari setiap peran para prajurit sekalian.
  • Ketiga, tingkatkan keterpaduan langkah, kesamaan pandang dan pola tindakan, dalam menanggulangi ancaman sesuai skenario latihan, khususnya yang terkait mekanisme perencanaan, persiapan, pelaksanaan dan pengakhiran opssus dengan segala taktik dan teknik yang digunakan.
  • Keempat, pelajari dan kembangkan kemungkinan integrasi komando, kendali, komunikasi, komputer, intelijen, dan manajemen pertempuran pada latihan ini, guna pengembangan perencanaan kebutuhan alat-alat khusus tugas operasi Satgultor TNI.
  • Kelima, catat dan evaluasi segala kelemahan dan kekurangan latihan ini, guna penyempurnaan strategi, taktik dan teknik serta prosedur tetap yang ada, dihadapkan kepada prediksi dan kecenderungan perkembangan ancaman saat ini dan masa yang akan datang.

Latihan Satgultor TNI 2013 terbagi dalam 2 tahap, yaitu latihan posko yang dilaksanakan pada 22-23 November 2013 di Cilandak, sedangkan latihan lapangan 30 November 2013 di perairan Batam dan Kepri. Peserta latihan yang terlibat sebanyak 406 orang, terdiri dari 43 orang penyelenggara, 14 orang Kosatgas, 22 orang Sat-81, 30 orang Denjaka, 22 orang Denbravo’90, dan 275 orang unsur pendukung.(Badarudin Bakri/mar)


liputan6