Pages

Monday, 30 December 2013

TNI Akan Datangkan Alutsiata Baru


MAKASSAR : Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan membenahi alat utama sistem pertahanan negara (Alutsista) pada 2014 mendatang. Helikopter tempur Apache dan kapal selam Kiloklav adalah dua alat tempur yang akan menjadi pendatang baru penjaga NKRI, tahun depan.

Sedikitnya delapan unit helikopter tempur jenis Apache akan menambah kekuatan TNI tahun depan. Helikopter yang dilengkapi dengan radar ini diperkirakan akan tiba pada pertengahan 2014 mendatang.

Selain apache, alutsista canggih yang juga akan datang ke Indonesia adalah kapal selam kiloklav buatan Rusia. Kapal selam yang juga bernama Kilo Class ini memiliki kemampuan menembakkan rudal sejauh 300 meter.

Kedua alutsista ini dianggap sebagai senjata paling canggih di kawasan negara-negara ASEAN. Helikopter Apache hanya dimiliki oleh Singapura dan Amerika Serikat.

Panglima TNI, Jenderal TNI Moeldoko mengatakan, kedatangan alutsista ini akan dilakukan secara bertahap ke Indonesia. Selain Apache dan Kiloklav, TNI juga akan mendapatkan sistem pertahanan udara yang baru. Rudal Mistral dari Prancis dan Starstreak buatan Inggris juga akan didatangkan.

"Kita siapkan alutsista dengan ukuran balance of power yang setara dengan negara-negara di asean," jelas Moeldoko di Markas Yonif 700/Raider, Minggu 29 Desember, kemarin.

Selain itu, untuk pertahanan darat TNI AD memastikan akan mendatangkan tank leopard ke Indonesia untuk membela pertahanan NKRI. Menurutnya, tank ini adalah tank yang memiliki kemampuan tempur terbaik di Indonesia. Kendaran-kendaraan tempur ini akan dipamerkan pada 5 Oktober 2014 mendatang.

"Pada 2013 ini memang belum kelihatan semuanya. Oktober nanti, sudah akan kelihatan. Meskipun belum datang semuanya," jelas dia.

Jenderal dengan empat bintang di pundak ini juga mengaku telah melakukan komunikasi dengan Menteri Pertahanan, Pramono Sugiantoro terkait rencana mendatangkan pertahanan udara yang terbaru. Rencananya, pesawat Sukhoi SU 35 akan memperkuat pertahanan udara di Indonesia.

"Saya sekarang sedang membayangkan pertahanan udara Sukhoi SU 30 yang selama ini kita miliki diperkuat dengan Sukhoi SU 35. Kita sudah diskusi dengan Menhan terkait rencana SU 35 ini," jelas dia.

Terkait dengan sistem keamanan cyber untuk mengantisipasi penyadapan dari negara tetangga, Moeldoko mengaku akan memperkuat sistem sumber daya manusia (SDM). Menurut dia, penyadapan sangat terkait dengan konteks teknologi. Pengembangan SDM lebih penting dari pada pembelian peralatan teknologi penyadapan.

"SDM yang memadai akan dapat menyetarakan perkembangan teknologi itu," jelas dia.

Terkait dengan remenurasi TNI, Moeldoko mengakui sudah melakukan pembicaraan dengan komisi I DPR RI. Menurutnya, renemurasi TNI juga akan dilakukan pada 2014 mendatang. Namun, jadwal penetapan remenurasi masih menunggu keputusan DPR RI.

"Kami sangat memahami kemampuan negara. Seperti apa, perekonomian menghadapi turbulensi jelang politik. Rencananya, remenurasi kita akan lakukan dengan kenaikan 20 persen secara bertahap," jelas dia.

Terkait dengan prajurit perbatasan, Moeldoko berjanji akan memperhatikan dukungan insentif mereka. Para prajurit perbatasan ini juga akan diberikan asuransi saat melakukan operasi militer di perbatasan.

Sementara itu, Panglima Kodam VII/Wirabuana, Mayjen TNI Bachtiar mengatakan, kedatangan Moeldoko ke Makassar dalam rangka mengikuti reuni akbar batalion infanteri (Yonif) 700/Raider. Batalion ini adalah tempat pertama kali Moeldoko menjajaki kariernya di TNI.

"Ini hanya reuni saja. Dia (Moeldoko) juga berkesempatan meresmikan barak dan memberikan kuliah umum di beberapa universitas di Makassar," jelas dia.(eka/pap)

fajar 

Sunday, 29 December 2013

Penampilan Prajurit Indonesia di Timtim

Foto: Penampilan Prajurit Indonesia di
Timtim

“Fashion Show”
Gaya Prajurit Indonesia di Timor
Timur
Operasi Seroja yang dimulai di akhir
tahun 1975 kemudian berlanjut
sampai operasi pemulihan keamanan
hingga tahun 1999, ternyata
membawa hal menarik untuk
dicermati. Cerita-cerita seru dan
unik seputar pertempuran, kisah
kemenangan gemilang, maupun
kisah gugurnya prajurit terbaik
sudah sering menjadi bahan
perbincangan. Namun di samping
cerita-cerita tersebut, ada satu hal
yang menarik untuk disimak, gaya
penampilan para prajurit.
Saat itu seringkali dijumpai para
prajurit Indonesia di lapangan
dengan kombinasi penampilan unik
dan tak lazim. Gaya berpakaian
dengan berbagai model potongan
rambut pun bervariasi. Lain dengan
saat ini, dimana potongan rambut
seorang tentara harus cepak, rapi,
dan berseragam. Jika diumpamakan,
potongan rambut mereka lebih mirip
artis-artis Indonesia yang saat itu
tengah naik daun.
Tampaknya tak terlalu berlebihan
jika model potongan rambut mereka
meniru para artis tahun 80an.
Namun, tentara-tentara yang
bertugas di Bumi Loro Sae itu tentu
memiliki alasan tersendiri tentang
gaya rambut dan penampilan
berpakaian mereka. Penempatan di
pos-pos yang jauh di pedalaman,
membuat prajurit Indonesia
melahirkan gaya tersendiri yang tak
seperti biasanya. Bagaimana tidak?
Posisi mereka yang amat jauh tentu
sangat menyulitkan untuk dropping
logistik, sehingga tidak
memungkinkan bagi mereka untuk
menjaga penampilan mereka, seperti
merapikan rambut seperti
penampilan tentara pada umumnya.
Sehingga dapat dikatakan gaya
tersebut muncul dikarenakan
keadaan. Namun lain ceritanya jika
digunakan sebagai penyamaran.
Ketika operasi Seroja belum resmi
diumumkan, berpakaian seadanya
dengan rambut gondrong merupakan
sebuah kewajiban dalam hal
penyamaran. Hal tersebut
dimaksudkan agar tidak nampak
sebagai Pasukan Resmi Tentara
Nasional Indonesia. Jadi lebih
terlihat sebagai para milisi atau
penduduk setempat, yang
kebanyakan berpenampilan gondrong
seperti itu.
JENIS PENAMPILAN PRAJURIT TNI
Jika dikelompokkan, ada 3 tampilan
khas pasukan Indonesia saat
bertugas di Timtim. Ketiga mode itu
antara lain:
Pertama : rapi dengan seragam
lengkap.
Kedua : rambut gondrong dan
berseragam lengkap.
Ketiga : rambut gondrong dengan
pakaian kombinasi.
Pertama, rapi dengan berseragam
lengkap. Biasanya, mereka adalah
pasukan yang baru datang, atau
kalau tidak, mereka akan kembali
pulang ke markas. Prajurit yang baru
saja diterjunkan, biasanya masih
membawa perlengkapan yang
lengkap serta berpotongan rapi.
Demikian juga ketika mereka akan
ditarik dari medan pertempuran.
Mereka akan berusaha serapi
mungkin, dengan potongan rapi, dan
penampilan yang bersih.
Penampilan prajurit Indonesia yang
bertugas di Timtim tahun 1975.
Perhatikan gaya rambut gondrong
prajurit di sisi paling kanan foto
Kedua, rambut gondrong dan
berseragam lengkap. Setelah
beberapa bulan penugasan di
medan, rambut seorang prajurit akan
tumbuh lebat, apalagi jika mereka
berada di dalam hutan berbulan-
bulan, dapat dipastikan rambut
tumbuh dengan lebatnya, demikian
juga kumis, jenggong, serta jambang
mereka.
Ketiga, rambut gondrong dengan
pakaian kombinasi. Jika tidak sempat
bercukur atau memotong kumis,
maka para prajurit benar-benar
berpenampilan tidak rapi. Ditambah
pakaian seragam yang tidak layak
pakai, karena belum mendapat jatah
seragam baru dari basis. Akibatnya,
banyak dari mereka yang
mengenakan baju seragam dengan
bawahan celana sipil, ataupun
sebaliknya. Jika benar-benar
kehabisan seragam, mereka hanya
mengenakan seragam sipil biasa.
Kadang pula ditemui prajurit dengan
pakaian olahraga atau dengan kaos
dengan mengenakan celana loreng.
Namun ada juga beberapa prajurit
yang masih memiliki seragam bagus.
Mereka sengaja menyimpan, atau
memakai seragam loreng hanya
dalam kesempatan tertentu.
Misalnya ketika ada kunjungan dari
petinggi Angkatan Bersenjata
Republik Indonesia (ABRI).
GONDRONG VS GONDRONG
Para anggota milisi bersenjata
Fretilin yang mengenakan seragam
loreng TNI dengan
bersenjata lengkap
Penampilan anggota TNI yang
bervariasi, dengan rambut gondrong
dan pakaian seadanya, terkadang
membuat orang awam susah
membedakannya dengan anggota
Fretilin. Hal sebaliknya juga terjadi
pada pihak Fretilin. Kisah tersebut
seperti diungkapkan oleh Sersan
Mayor Mursihadi, seorang pensiunan
TNI dari Detasemen Kesehatan
Wilayah (Denkesyah) Korem 074
Warasratama, Surakarta.
Seperti kebanyakan anggota TNI
lainnya, Mursihadi juga berambut
gondrong. Suatu hari dirinya
mendapat tugas untuk mencari
tambahan makanan. Ia kemudian
masuk hutan sekadar mencari
dedaunan atau berburu binatang,
yang dapat diambil dagingnya. Saat
asik mencari dan berburu, tiba-tiba
muncul seseorang berpenampilan
serupa, gondrong dan menenteng
senjata.
Begitu lama Mursihadi mengamati
orang tersebut. Setelah sekian lama
ia amati, dirinya baru tersadar,
bahwa ternyata orang tersebut
bukanlah rekannya. Seseorang
dengan tampilan sama persis
tersebut merupakan anggota Fretilin,
yang diduga sedang mencari bahan
makanan juga. Dengan sigap, tak
ingin ditembak duluan, Mursihadi
kemudian berhasil menembak mati
Si Fretilin gondrong dalam kontak
tembak yang berlangsung singkat.
Tentara Pembebasan Timtim-
Fretilin
Lain halnya jika anggota Fretilin
yang berpenampilan gondrong yang
menyamar sebagai prajurit TNI. Hal
tersebut dapat berakibat fatal.
Seperti kasus penghadangan truk
yang berisi polisi yang
mengamankan Pemilihan Umum
1997 di daerah Sektor Timur. Truk
yang sedang melintasi perbukitan di
Kecamatan Quelicai, tiba-tiba
dihentikan seseorang yang
berpakaian loreng TNI. Sopir yang
terkejut langsung menginjak rem.
Mendadak orang yang disangka
teman tersebut melemparkan granat,
tepat di bagian bak truk yang berisi
pasukan serta persediaan bensin.
Akibatnya truk meledak hebat,
kobaran api segera melahap truk
seisinya. Selain truk terbakar dan
hancur sangat parah, seluruh
penumpangnya juga tewas
terpanggang. Oleh karena itu
dikemudian hari muncul anjuran,
agar tiap anggota TNI harus selalu
merapikan penampilan. Karena
perbedaan yang terlalu tipis antara
anggota Fretilin dan anggota TNI
dapat berakibat fatal.
@FN

“Fashion Show”  Gaya Prajurit Indonesia di Timor  Timur

Operasi Seroja yang dimulai di akhir tahun 1975 kemudian berlanjut sampai operasi pemulihan keamanan hingga tahun 1999, ternyata membawa hal menarik untuk dicermati. Cerita-cerita seru dan unik seputar pertempuran, kisah kemenangan gemilang, maupun kisah gugurnya prajurit terbaik sudah sering menjadi bahan perbincangan. Namun di samping cerita-cerita tersebut, ada satu hal yang menarik untuk disimak, gaya penampilan para prajurit. Saat itu seringkali dijumpai para prajurit Indonesia di lapangan dengan kombinasi penampilan unik dan tak lazim. Gaya berpakaian dengan berbagai model potongan rambut pun bervariasi. Lain dengan saat ini, dimana potongan rambut seorang tentara harus cepak, rapi, dan berseragam. Jika diumpamakan, potongan rambut mereka lebih mirip artis-artis Indonesia yang saat itu tengah naik daun.

Tampaknya tak terlalu berlebihan jika model potongan rambut mereka meniru para artis tahun 80an. Namun, tentara-tentara yang bertugas di Bumi Loro Sae itu tentu memiliki alasan tersendiri tentang gaya rambut dan penampilan berpakaian mereka. Penempatan di pos-pos yang jauh di pedalaman, membuat prajurit Indonesia melahirkan gaya tersendiri yang tak seperti biasanya. Bagaimana tidak? Posisi mereka yang amat jauh tentu sangat menyulitkan untuk dropping logistik, sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk
menjaga penampilan mereka, seperti merapikan rambut seperti penampilan tentara pada umumnya. Sehingga dapat dikatakan gaya tersebut muncul dikarenakan keadaan. Namun lain ceritanya jika digunakan sebagai penyamaran. Ketika operasi Seroja belum resmi diumumkan, berpakaian seadanya dengan rambut gondrong merupakan sebuah kewajiban dalam hal penyamaran. Hal tersebut dimaksudkan agar tidak nampak sebagai Pasukan Resmi Tentara Nasional Indonesia. Jadi lebih terlihat sebagai para milisi atau penduduk setempat, yang kebanyakan berpenampilan gondrong seperti itu.
 
JENIS PENAMPILAN PRAJURIT TNI
Jika dikelompokkan, ada 3 tampilan khas pasukan Indonesia saat bertugas di Timtim. Ketiga mode itu antara lain:
Pertama : rapi dengan seragam lengkap.
Kedua : rambut gondrong dan berseragam lengkap.
Ketiga : rambut gondrong dengan pakaian kombinasi.

Pertama, rapi dengan berseragam lengkap. Biasanya, mereka adalah pasukan yang baru datang, atau
kalau tidak, mereka akan kembali pulang ke markas. Prajurit yang baru saja diterjunkan, biasanya masih membawa perlengkapan yang lengkap serta berpotongan rapi. Demikian juga ketika mereka akan ditarik dari medan pertempuran. Mereka akan berusaha serapi mungkin, dengan potongan rapi, dan penampilan yang bersih. Penampilan prajurit Indonesia yang bertugas di Timtim tahun 1975. Perhatikan gaya rambut gondrong prajurit di sisi paling kanan foto

Kedua, rambut gondrong dan berseragam lengkap. Setelah beberapa bulan penugasan di medan, rambut seorang prajurit akan tumbuh lebat, apalagi jika mereka berada di dalam hutan berbulan- bulan, dapat dipastikan rambut tumbuh dengan lebatnya, demikian juga kumis, jenggong, serta jambang mereka.

Ketiga, rambut gondrong dengan pakaian kombinasi. Jika tidak sempat bercukur atau memotong kumis, maka para prajurit benar-benar berpenampilan tidak rapi. Ditambah pakaian seragam yang tidak layak
pakai, karena belum mendapat jatah seragam baru dari basis. Akibatnya, banyak dari mereka yang mengenakan baju seragam dengan bawahan celana sipil, ataupun sebaliknya. Jika benar-benar
kehabisan seragam, mereka hanya mengenakan seragam sipil biasa. Kadang pula ditemui prajurit dengan pakaian olahraga atau dengan kaos dengan mengenakan celana loreng. Namun ada juga beberapa prajurit
yang masih memiliki seragam bagus  Mereka sengaja menyimpan, atau memakai seragam loreng hanya
dalam kesempatan tertentu. Misalnya ketika ada kunjungan dari petinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

GONDRONG VS GONDRONG
Para anggota milisi bersenjata Fretilin yang mengenakan seragam loreng TNI dengan bersenjata lengkap Penampilan anggota TNI yang bervariasi, dengan rambut gondrong dan pakaian seadanya, terkadang
membuat orang awam susah membedakannya dengan anggota Fretilin. Hal sebaliknya juga terjadi
pada pihak Fretilin. Kisah tersebut seperti diungkapkan oleh Sersan Mayor Mursihadi, seorang pensiunan TNI dari Detasemen Kesehatan Wilayah (Denkesyah) Korem 074 Warasratama, Surakarta. Seperti kebanyakan anggota TNI lainnya, Mursihadi juga berambut gondrong. Suatu hari dirinya mendapat tugas untuk mencari tambahan makanan. Ia kemudian masuk hutan sekadar mencari dedaunan atau berburu binatang, yang dapat diambil dagingnya. Saat asik mencari dan berburu, tiba-tiba muncul seseorang berpenampilan serupa, gondrong dan menenteng senjata.

Begitu lama Mursihadi mengamati orang tersebut. Setelah sekian lama ia amati, dirinya baru tersadar, bahwa ternyata orang tersebut bukanlah rekannya. Seseorang dengan tampilan sama persis tersebut merupakan anggota Fretilin, yang diduga sedang mencari bahan makanan juga. Dengan sigap, tak ingin ditembak duluan, Mursihadi kemudian berhasil menembak matii Fretilin gondrong dalam kontak tembak yang berlangsung singkat. Tentara Pembebasan Timtim-Fretilin Lain halnya jika anggota Fretilin yang berpenampilan gondrong yang menyamar sebagai prajurit TNI. Hal tersebut dapat berakibat fatal. Seperti kasus penghadangan truk yang berisi polisi yang mengamankan Pemilihan Umum 1997 di daerah Sektor Timur. Truk yang sedang melintasi perbukitan di Kecamatan Quelicai, tiba-tiba dihentikan seseorang yang berpakaian loreng TNI. Sopir yang terkejut langsung menginjak rem. Mendadak orang yang disangka teman tersebut melemparkan granat, tepat di bagian bak truk yang berisi pasukan serta persediaan bensin. Akibatnya truk meledak hebat,
kobaran api segera melahap truk seisinya. Selain truk terbakar dan hancur sangat parah, seluruh penumpangnya juga tewas terpanggang. Oleh karena itu dikemudian hari muncul anjuran, agar tiap anggota TNI harus selalu merapikan penampilan. Karena perbedaan yang terlalu tipis antara anggota Fretilin dan anggota TNI dapat berakibat fatal.

TNI jajaki beli kapal selam Kilo Class Rusia


Foto: Minggu, 29 Desember 2013
18.30

TNI jajaki beli kapal
selam Kilo Class Rusia

MAKASSAR (MI) : Panglima TNI
Jenderal TNI Moeldoko,
menyatakan pihaknya sedang
menjajaki kemungkinan
penambahan armada kapal
selam jenis Kilo Class asal Rusia
demi memperkuat pertahanan
perairan Indonesia.

"Saat ini masih dalam
penjajakan dan sedang
dikalkulasi.Jika kapal selam kilo
class ini bisa kita datangkan
maka tentu luar biasa. Kapal
selam ini memiliki kemampuan
dalam menembak sudal yang
sangat jauh," jelasnya di
Makassar, Minggu.
Kapal selam buatan Rusia ini
kabarnya memiliki keunggulan
pada teknologi peluru
kendalinya. Kapal selam dengan
nama Kiloklav ini mampu
menembak hingga 300-400 km
dari subsurface hingga surface.
Selain kapal selam dari Rusia,
TNI juga akan mendatangkan
tiga kapal selam dari Korea
Selatan. Kehadiran tiga kapal
selam itu akan melengkapi
kapal selam yang ada
sebelumnya.

Saat ini Indonesia dikabarkan
hanya memiliki dua kapal selam,
salah satunya berasal dari
Jerman dengan tipe 209 class.
Sementara yang lainnya juga
berasal dari Korea dengan tipe
hampir serupa dengan 209
class. Kapal selam tersebut telah
mengalami modify combat
management system sehingga
memiliki daya pukul yang lebih
kuat.

Bukan itu saja, TNI juga masih
menunggu kedatangan heli
Apache dari Amerika. Heli jenis
ini dikatakan hanya dimiliki
beberpa negara termasuk
Amerika dan Singapura. Selain
itu adapula tank Leopard yang
dinilai masih salah satu yang
terbaik. Indonesia juga
berencana mendatangkan
peralatan penangkal serangan
udara yang berasal dari Prancis
dan Inggris.
Jenderal TNI Moeldoko juga
memiliki keinginan tidak hanya
mempunyai pesawat tempur
sukhoi 30 namun jenis terbaru
35. Menurut dia, untuk
beberapa peralatan tempur
sebagian besar diantaranya
diperkirakan sudah bisa di
saksikan masyarakat pada acara
di Surabaya, 5 Oktober 2014. Ini
juga menjadi pesan bahwa
Presiden telah melakukan
langkah progresif terhadap
sistem pertahanan Indonesia.

(RAw/Sumber : REPUBLIKA)

MAKASSAR : Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko, menyatakan pihaknya sedang menjajaki kemungkinan penambahan armada kapal selam jenis Kilo Class asal Rusia demi memperkuat pertahanan perairan Indonesia.

"Saat ini masih dalam penjajakan dan sedang dikalkulasi.Jika kapal selam kilo class ini bisa kita datangkan
maka tentu luar biasa. Kapal selam ini memiliki kemampuan dalam menembak sudal yang sangat jauh," jelasnya di Makassar, Minggu. Kapal selam buatan Rusia ini kabarnya memiliki keunggulan pada teknologi peluru kendalinya. Kapal selam dengan nama Kiloklav ini mampu menembak hingga 300-400 km dari subsurface hingga surface. Selain kapal selam dari Rusia, TNI juga akan mendatangkan tiga kapal selam dari Korea Selatan. Kehadiran tiga kapal selam itu akan melengkapi kapal selam yang ada sebelumnya.

Saat ini Indonesia dikabarkan hanya memiliki dua kapal selam, salah satunya berasal dari Jerman dengan tipe 209 class. Sementara yang lainnya juga berasal dari Korea dengan tipe hampir serupa dengan 209 class. Kapal selam tersebut telah mengalami modify combat management system sehingga memiliki daya pukul yang lebih kuat.

Bukan itu saja, TNI juga masih menunggu kedatangan heli Apache dari Amerika. Heli jenis ini dikatakan hanya dimiliki beberpa negara termasuk Amerika dan Singapura. Selain itu adapula tank Leopard yang dinilai masih salah satu yang terbaik. Indonesia juga berencana mendatangkan peralatan penangkal serangan udara yang berasal dari Prancis dan Inggris. Jenderal TNI Moeldoko juga memiliki keinginan tidak hanya mempunyai pesawat tempur sukhoi 30 namun jenis terbaru 35. Menurut dia, untuk beberapa peralatan tempur sebagian besar diantaranya diperkirakan sudah bisa di saksikan masyarakat pada acara di Surabaya, 5 Oktober 2014. Ini juga menjadi pesan bahwa Presiden telah melakukan langkah progresif terhadap sistem pertahanan Indonesia.

  REPUBLIKA