Pages

Tuesday, 18 February 2014

DPRD Papua Kecam Tindakan Tentara Papua Nugini


Jakarta Sikap tentara Papua New Guinea terhadap nelayan Indonesia di perairan Torasi, Merauke dikecam DPRD Papua. Tindakan membakar perahu lalu merampas isinya sampai para nelayan harus berenang berkilo-kilo meter, dianggap arogan dan tidak manusiawi.

Itu dituturkan Ketua DPRD Papua, Deerd Tabuni, Senin, 10 Februari 2014. “Tindakan Tentara PNG merupakan kejahatan besar dan tidak manusiawi, bahkan masuk dalam kategori pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM),” tegasnya.

Ia juga menyebut, tentara PNG sebagai bandit bersenjata. Apalagi, mereka melakukannya terhadap nelayan Indonesia yang memiliki dokumen untuk memasuki PNG. Menurut Deerd, para nelayan sudah kerap berdagang ke daerah itu.

Kalaupun nelayan Indonesia memang salah, tetap tak layak diperlakukan demikian. “Kan bisa diproses sesuai hukum yang berlaku dengan cara manusiawi. Nanti pemerintah kita tinggal menggunakan jalur diplomatik,” imbuh politisi Partai Golkar itu.

Deerd pun meminta, otoritas Indonesia segera menyelidiki insiden itu. Mengingat, masih ada lima nelayan yang hilang terkait kejadian itu. Ia berharap, pihak berwenang bertindak cepat sembari melakukan pencarian terhadap mereka.

Hal senada diungkapkan Wakil Ketua I DPRD Papua, Yunus Wonda. Sejak lama, sudah ada hubungan tradisional antara masyarakat Indonesia di perbatasan dengan masyarakat PNG. Karenanya, Yunus berharap pemerintah segera melayangkan nota protes.

“Pemerintah harus bersikap tegas, memprotes aksi itu secara resmi ke Pemerintah PNG,” ujarnya.

Masih Mencari

Sementara itu, upaya pencarian terhadap lima nelayan yang hilang masih berlanjut hingga kini. Pasukan marinir yang bertugas di Pos Torasi Merauke masih mencari di sekitar perairan Perbatasan RI-PNG.

Komandan Lantamal XI Merauke Brigjen (Mar) Buyung Lalana saat dihubungi via telepon seluler mengatakan, ada sekitar 50 personel yang diterjunkan mencari. Mereka juga melibatkan lima nelayan yang selamat.

TNI AL sengaja tidak berkoordinasi dengan Tentara PNG. “Kami tak melibatkan Tentara PNG, sebab mereka penyebab hilangnya lima nelayan itu. Mereka membakar perahunya dan menyuruh berenang,” kata Buyung.

Akibat kejadian itu, nelayan mengalami kerugian berupa uang sebesar 160 Kina atau setara Rp 480 juta, rokok, dan bahan bakar.
 

Militer Kompak, Hubungan RI-Malaysia Stabil


Duta Besar Malaysia untuk Indonesia (Foto: Fajar Nugraha/Okezone)  
Duta Besar Malaysia untuk Indonesia 

JAKARTA - Hubungan bilateral Indonesia dengan Malaysia saat ini memasuki masa yang tenang dan kondusif. Selain kerja sama antarpemerintah, kerja sama militer menjadi kunci penguatan hubungan kedua negara bertetangga.

Bentuk hubungan Indonesia dan Malaysia digambarkan secara gamblang oleh Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Datuk Seri Zahrain Mohamed Hashim. Berbicara kepada Okezone di Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta, Kamis, 26 Desember 2013, Datuk Zahrain turut melihat hubungan usaha bisa membuat hubungan kedua negara makin lebih erat.

Bagaimana bentuk hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia saat ini?

Saya lihat dengan pertemuan baru ini (Pertemuan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) cukup akrab. Dari pemimpin ke pemimpin, hubungannya saya boleh mengatakan bahwa mereka terus menjadi kawan.

Dalam ucapan Yang Terhormat (PM Najib) pun menekanan, "we will be friends forever". Bukan hanya sebagai presiden dan perdana menteri, tetapi hubungan yang intim dari kedua pemimpin. Dari segi kemlu (Indonesia dan Malaysia), mereka senantiasa berhubung melalui kedutaan.

Selain dari itu juga, ada pula hubungan militer ke militer. Begitu pun keadaannya, begitu akrabnya. Sebab banyak joint exercise dan beberapa rundingan melalui joint border comitee. Jadi itu telah berlaku. Hubungan itu cukup baik.

Melalui pertemuan-pertemuan itu, antar negara, pemerintah dan militer. Kita ingin melihat kerja sama baik dari business to business. Kita mau pelaku industri kedua negara duduk bersama dan membahas Salah satu objektif yang telah ditetapkan, di mana kami melihat target perdagangan untuk mencapai USD30 juta dalam masa 2015. Pemimpin sudah menentukan, yang bisa berperan mencapai target itu adalah pelaku industri tersebut.

Tugas saya ini adalah pelaku usaha di Indonesia untuk cari jalan untuk meraih kesepakatan dengan pelaku bisnis dari Malaysia.

Selain bidang tersebut, bidang lain yang bisa dimanfaatkan untuk hubungan yang lebih baik?


Hubungan lain yang harus dimantapkan juga adaalah people to people atau masyarakat dengan masyarakat. Dalam hal ini yang menjadi pemainnya mungkin adalah NGO (non-governmental organization) antara kedua negara. Mungkin kita akan mengatur pertemuan antara NGO-NGO, khususnya mengenai masyarakat Indonesia dan Malaysia. Mungkin dari masyarakatnya dan budayanya. Jadi kalau kita tidak kenal, maka tidak cinta.

Datuk sebelumnya menyebutkan kerja sama militer. Bentuk kerja sama militer ini seperti apa?


Kita bentuknya (kerja sama) dalam border atau perbatasan yang cukup luas. Antara Indonesia dan Malaysia kita ada land border (perbatasan darat) hampir 1.700 kilometer. Selain itu juga ada kerja sama pelatihan dan pertemuan antara panglima angkatan tentara Malaysia (PAT) dengan panglima TNI.

Apa bentuk kerja sama militer ini bisa dibilang mengimbangi dominasi China?


Saya tak mau spekulatif. Bagi saya yang penting untuk memantapkan hubungan kedua negara harus ada kerja sama militer yang baik. Jadi bila ada hubungan yang baik, kemungkinan besar kesalahpahaman tidak akan berlaku antara kedua negara.

Jadi tentang yang lain mengenai Laut China Selatan itu spekulatif. Saya tidak mau terlibat dalam perkara itu.

Bentuk kerja sama bordernya seperti apa?


Saya tak berkemampuan untuk terperinci untuk isu ini. Itu operasi-operasi militer, kadang-kadang tidak bisa disebarluaskan. Dari segi keseluruhan, kedua negara paham bahwa kerja sama militer banyak sekali. (faj)

Apresiasi DFC Unifil Kepada Satgas TNI Konga


Apresiasi DFC Unifil Kepada Satgas TNI Konga
PUSPEN TNI - Beberapa waktu lalu, briefing yang diselenggarakan disetiap hari Jumat di ruang rapat Mako Indo FPC Sudirman Camp, dihadiri oleh seluruh Perwira Staf dan Komando Satgas Indo FPC, untuk sementara waktu terhenti karena Dansatgas Indo FPC XXVI-F2 Mayor Inf Aulia Dwi Nasrullah yang saat itu sedang memimpin rapat evaluasi harus mengangkat/menerima telepon dari Komandan Kontingen Garuda TNI, Kolonel Inf Adipati Karnawijaya.
Melalui via dect phone  (HP Inventaris UNIFIL),  Contico (Contigent Commander) menyampaikan hal yang penting yaitu DFC  UNIFIL (Deputy Force Commander United Nation Interim Force In Lebanon) Brig. Gen. Patrick Phelan memberikan ungkapan apresiasi yang tinggi kepada prajurit Indo FPC yang melaksanakan tugas pengamanan di Main Gate telah melaksanakan tugasnya secara profesional. Hal tersebut yang disampaikan oleh Contico (Contigent Commander) Garuda TNI yang juga saat itu usai melaksanakan afternoon brief yang dipimpin oleh DFC di UNIFIL HQ (Headquarter).
Dantim-2 Indo FPC, Kapten Psk Novieary Jacky Wohel yang saat itu sebagai peserta rapat  langsung menjelaskan kronologis kejadian mengapa DFC memberikan penilaian seperti itu. "... Sebelumnya mohon maaf komandan karena baru bisa menjelaskan karena kami pikir kejadian ini adalah biasa, "..seperti biasa komandan lanjut menjelaskan ", setiap prajurit yang melaksanakan tugas pengamanan di Main Gate selalu melontarkan kalimat prosedural " can you show your ID ,Please " kepada siapa saja yang melintasi Main Gate dengan segala keperluannya, dan ternyata kalimat sederhana itu juga yang dilontarkan oleh Serka Jumeneng, kepada DFC  yang saat itu hendak melintasi Main Gate dan saat itu juga beliau langsung menunjukan ID Card-nya,  dan atas tindakan yang sederhana dan prosedural itulah apresiasi langsung diberikan kepada prajurit tersebut, Dantim-2 mengakhiri penjelasannya ...".
Mendengar penjelasan tersebut, Dansatgas Indo FPC kembali meyakinkan penilaian  tersebut kepada Contico karena bisa jadi apresiasi tersebut maknanya berbanding terbalik alias sindiran halus karena tidak menghargai otoritas DFC, namun atas penjelasannya yang meyakinkan Contico kembali menyampaikan bahwa penilaian tersebut memang benar adanya.
Mendengar penjelasan tersebut dan diakhir memimpin briefing evaluasi, Dansatgas menyampaikan ucapan terima kasih dan berpesan kepada seluruh peserta rapat  " ... terkadang ukuran wajar untuk kita, namun ternyata luar biasa tanggapannya bagi negara lain maka jangan pernah bosan untuk melakukan langkah prosedural saat bertugas di Main Gate, namun terpenting dari itu tugas di Main gate adalah pengamanan aset, maka amankan seluruh aset UNIFIL tersebut dari segala bentuk ancamannya sembari Dansatgas Indo FPC menutup rapat evaluasi".     

TNI