Pages

Thursday, 11 September 2014

UST Peleton Yonif 644/Walet Sakti dekat Perbatasan RI-MLY


 644-Ust-a644-Ust1a Putussibau, menjaga kedaulatan NKRI adalah tugas pokok TNI karena hal itu merupakan harga mati bagi setiap prajurit. Oleh karena itu sesuai dengan direktif latihan Brigif 19/Kh, Batalyon Infanteri 644/Walet Sakti melaksanakan latihan dalam rangka meningkatkan dan memantapkan kemampuan prajuritnya melalui Latihan Tingkat Peleton.
 644-Ust2-a Pelaksanaan latihan tingkat peleton ini merupakan latihan yang dilaksanakan untuk menguji peleton di setiap kompi-kompi jajaran Yonif 644/Wls, medan yang di pilih juga sangatlah tidak mudah karena terletak di pegunungan. Itu ditujukan agar pelaku mampu untuk mengikuti latihan selanjutnya karena masih banyak lagi latihan yang akan diselenggarakan di satuan tempur. Materi Latihan diantaranya Penyergapan, Menembak Reaksi, penghadangan, pengintaian, Purpa, serta Pengepungan kampung dan penggeladahan rumah.
  Danyonif 644/Wls Letnan Kolonel Inf Nico Reza Hardimansyah Dipura menyampaikan bahwa seorang Komandan Peleton harus memiliki kemampuan memberikan perintah, navigasi darat, pengetahuan tentang peta, kemampuan menembak serta fisik yang prima, agar dapat meyakinkan semua anggota yang berada di bawahnya untuk mengikuti perintah yang diberikan.
  Latihan Uji Siap Tempur Tingkat peleton berjalan dengan aman dan lancar, kegiatan ini selain dilaksanakan dengan semangat juga adanya dukungan dari warga sekitar daerah, karena tanpa partisipasi dari warga kegiatan akan terhambat. Kegiatan diakhiri dengan melaksanakan Karya Bhakti berupa gotong royong bersama warga membersihkan jalan serta parit/selokan serta penyerahan bantuan berupa alat Olahraga bola volley dan bola kaki oleh Danyonif 644/Wls kepada perwakilan dari warga di Desa Ulu Tubuk Kec. Nanga Kalis Kab. Kapuas Hulu.

BNPT: Banyak Lapas Keberatan Terima Napi Teroris

Pembinaan napi teroris yang terpusat, deradikalisasi lebih baik.
Kepala BNPT Ansyad Mbai memberikan pelatihan kepada sejumlah lurah DKI Jakarta dalam pelatihan penanggulangan terorisme bersama BNPT di Jakarta.
Kepala BNPT Ansyad Mbai memberikan pelatihan kepada sejumlah lurah DKI Jakarta dalam pelatihan penanggulangan terorisme bersama BNPT di Jakarta. (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)
- Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) mengungkapkan bahwa banyak lembaga pemasyarakatan di Indonesia yang keberatan menerima narapidana terorisme. Sebab, mereka khawatir para napi teroris itu memengaruhi napi lainnya.

BNPT telah memiliki Pusat Pelatihan dan Penanggulangan Terorisme dan Deradikalisasi di Sentul, Bogor, Jawa Barat. Balai itu merupakan pusat pembinaan napi teroris, sehingga tidak dicampur dengan napi non teroris di lembaga pemasyarakatan umum.

"Kalau di lapas itu malah menyebarkan radikalisme, di sini memang pusat pelatihan dan interaksi," kata Kepala BNPT, Ansyad Mbai, ketika bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Pusat Pelatihan dan Penanggulangan Terorisme dan Deradikalisasi, Senin 8 September 2014.

Menurut Ansyad, selain ditakutkan bisa menulari napi lain, napi teroris juga bisa membuat para sipir merasa terancam. Sebab, banyak lapas yang keberatan diisi napi teroris.

Para ulama yang kerap didatangkan untuk memberikan pencerahan pun waktu singgahnya menjadi relatif singkat, jika para napi tersebut dipisah-pisahkan. Dengan pembinaan napi teroris yang terpusat, proses deradikalisasi bisa lebih baik.

Presiden SBY menyatakan, setuju ide tempat khusus untuk menahan para napi teroris. Ia mengaku mengerti yang dikhawatirkan BNPT.

"Saya mengerti persoalan ini. Tapi kita akan bicarakan dalam waktu enam minggu yang tersisa ini. Yang jelas, jangan jadi seperti Guantanamo, kita harus mendukung sisi-sisi human right (hak asasi manusia)," kata Presiden. (asp)


VIVA.co.id

Kawasan Perairan Luas, Indonesia Hanya Punya 2 Kapal Selam


- Banten. Indonesia saat ini telah memiliki dua unit Kapal Selam yang beroperasi mengamankan perairan nusantara yakni KRI Nanggala 401 dan KRI Nanggala 402. Jumlah ini dinilai kurang.
Laksamana Muda I.N.G.N Ary Atmaja mengatakan, idealnya Indonesia memiliki 8 unit kapal selam untuk mengamankan negara dengan kawasan perairan terluas di dunia ini."Harusnya kita punya kapal di 8 penjuru mata angin, Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat, Barat Laut, Utara dan Timur Laut. Satu penjuru satu kapal selam," tuturnya kala berbincang dengan tamu undangan dan awak media di Darmaga Indah Kiat Merak, Banten, Sabtu (6/9).
Dalam kesempatan berbeda, Menteri Koordinator bidang perekonomian (Menko Perekonomian) Chairul Tanjung menyatakan komitmennya mewakili pemerintah untuk terus mendorong sektor pertahanan maritim nasional kembali ke masa jayanya.
"Indonesia adalah negara kepulauan di mana lebih dari 2/3 bagiannya merupakan lautan. Kita harus memiliki angkatan laut yang kuat. Salah satu armada yang sangat strategis adalah kapal selam ini. Di masa jayanya dahulu Indonesia pernah punya 12 armada kapal selam. Kita dalam tahap pemesanan, pada 2014 akan datang 3 dari korea. Dalam renstra-nya (rencana strategisnya) akan punya lagi 12 seperti dulu," sebutnya.
CT Menambahkan, Indonesia memang tengah dalam rencana menambah armada Kapal Selamnya untuk memperkuat armada yang sudah ada.
TNI AL telah memesan 3 kapal selam jenis Changbogo yang merupakan kerjasama pembelian dan transfer teknologi dengan Daewoo Shipping Marine Enginering (DSME) dan PT PAL Indonesia.
Sesuai dengan bentuk kerjasama berupa transfer teknologi, maka terjalin kesepakatan bahwa perakitan 1 dari 3 kapal selam tersebut dibangun di Indonesia dan 2 lagi dilakukan di Korea Selatan, markas DSME.
"Makanya kami sematkan tanda kehormatan Brevet Hiu Kencana kepada 3 menteri ini. Karena tanpa kontribusi penganggaran, kebijakan dan dukungan promosi dari ibu bapak menteri ini, maka angkatan laut Indonesia akan sulit maju," kata Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Marsetio sembari menjamu para tamu undangan. (dtf)

MedanBisnis