Pages

Sunday, 11 January 2015

TNI AU Lirik Rudal dan Radar Hanud Mobile dari Ukraina


oke
Mengikuti jejak TNI AL, TNI AU juga melirik Ukraina sebagai salah satu negara pemasok untuk alutsista. Sayangnya akibat konflik yang berkecamuk, TNI AL lewat Kementerian Pertahanan kemudian membatalkan pesanan panser amfibi BTR-4. Tapi mungkin karena situasi kian kondusif, kini TNI AU tengah melirik berbagai produk militer dari Ukraina. Kabar ini datang dari Ukroboronprom, perusahaan plat merah di Ukraina yang bergerak di bidang pertahanan.


Beberapa waktu lalu, delegasi perwakilan dari Staf Umum TNI mengunjungi Ukroboronprom untuk melihat industri pertahanan Ukraina di sektor aviasi, roket dan artileri. Dikutip dari Janes.com (28/12/2014), kedua belah pihak telah melakukan pembicaraan pada awal Desember 2014 dan mengangkat peluang perdagangan bidang pertahanan antar kedua negara diikuti dengan pembentukan fasilitas produksi bersama di Indonesia. Ukroboronprom mengatakan mereka ingin berpartisipasi dalam tender pasokan logistik persenjataan untuk TNI AU.

Platform sistem senjata menjadi perhatian utama TNI-AU, dalam hal ini termasuk air-to-air missile dan sistem ESM. Pihak TNI sendiri nampaknya sangat tertarik dengan Kolchuga, sistem radar mobile pendeteksi ancaman dari udara dengan platform truk.

oke1
Kolchuga berupa sensor radar pasif yang dikembangkan dari sistem ESM (Electronic Support Measures) asal Rusia yang kemudian di produksi oleh Ukraina. Walau sering disebut Kolchuga Radar, namun sebenarnya sistem ESM yang terdiri dari tiga atau empat receiver ini ditempatkan puluhan kilometer secara terpisah untukmendeteksi dan melacak pesawat dengan triangulasi dan multi lateration emisi frekuensi radio. Dalam moda deteksi line of sight plus dukungan power transmisi, jangkauan deteksi radar ini bisa mencapai 800 km.

Sistem yang ditawarkan menyediakan identifikasi, peringatan dini dan lokasi dari semua emisi frekuensi radio yang ada di darat, laut maupun udara, dan hebatnya Kolchuga mampu mendeteksi pesawat tempur berteknologi siluman (stealth). Bila nantinya TNI AU jadi mengakuisisi jenis radar ini, maka secara langsung akan memperkuat etalase jejaring radar taktis tempur Kohanudnas. TNI AU saat ini mengoperasikan radar mobile Smart Hunter untuk mendukung operasional rudal SAM MANPADS QW-3. Sementara Arhanud TNI AD punya radar mobile Giraffe untuk mendukung operasi rudal RBS-70. Ada lagi radar SR74 yang dipadukan dengan peluncur rudal QW-3 berplatform truk.

R-27 milik AU Cina dalam proses loading
R-27 milik AU Cina dalam proses loading

Selain Kolchuga, kabarnya delegasi TNI juga tertarik untuk mengakuisisi rudal Vympel R-27, sebuahrudaljenis medium-to-long-range air-to-air missile yang telahdikembangkansejak era Uni Soviet padatahun 80-an. Seperti biasa, rudal ini juga diproduksi Ukraina atas dasar lisensi dari Rusia.(Indomiliter)

Robot Burung Flapping Wing Untuk Misi Pengintaian Tersamar

IMG_20141215_134054
Burung besar.

Ada banyak cara untuk melakukan misi pengintaian secara remote dari udara, mulai dari pemanfaatan drone (UAV) hingga quadcopter yang teknologinya secara terbatas telah dikuasai di dalam negeri. Tapi di luar drone ala Wulung UAV dan quadcopter yang dikembangkan Dislitbang TNI AD, ada lagi wahana pengintaian yang jauh lebih unik, pasalnya wahana jenis ini dirancang persis menyerupai burung. Bukan hanya mirip pada desain, cara kerjanya juga mengandalkan kepakan sayap untuk terbang, inilah yang disebut Robot Terbang Flapping Wing (RTFW).


Adopsi robot burung sudah beberapa waktu lalu menjadi program prototipe yang dirancang Dittopad (Direktorat Topografi Angkatan Darat) dengan Universitas Surya. Dengan wujud burung elang, wahana intai ini dapat terbang sembari menyamarkan identitas aslinya. Meski masih berupa prototipe, robot burung ini telah dihadirkan dalam beberapa varian. Seperti diperlihatkan dalam Pameran Alutsista TNI AD 2014, terdapat jenis burung sedang, burung besar, burung mini, dan kumbang. Dimensi dan besarnya burung tentu berpengaruh pada fleksibilitas, jarak jangkau, dan sensor yang dibawanya.

Burung Sedang
  • Rentang Sayap : 130 cm
  • Panjang torso : 72 cm
  • Bahan frame : carbon fiber
  • Baterai : 2S 1.500 mAh Lithium Polymer
  • Motor : 30 Ampere ESC dengan fasilitas hard break 2X9 gram servo untuk gerakan roll dan pitch ekor.
  • Komunikasi : radio control 2.4 Ghz
  • Kamera : FPV mini DV camera 30 fps (frame per second) – 720×480 pixels.
  • Lama terbang : 10 menit
Burung sedang
Burung sedang
Dilengkapi dengan kamera intai.
Dilengkapi dengan kamera intai.
Burung Besar
  • Rentang Sayap : 188 cm
  • Panjang torso : 80 cm
  • Berat : 650 gram
  • Frekuensi kepakan : 3 – 5 Mhz
  • Bahan frame : carbon fiber dan duralium
  • Sensor : akselerometer, giroskop, dan magnetometer
  • Baterai : 2S 2.200 mAh Lithium Polymer
  • Motor : 30 Ampere ESC dengan fasilitas hard break 2X9 gram servo untuk gerakan roll dan pitch ekor.
  • Komunikasi : radio control 2.4 Ghz
  • Kamera : FPV mini DV camera 30 fps (frame per second) – 720×480 pixels.
  • Lama terbang : 10 menit
    Jarak jelajah : 2 km
Remote control
Remote control

Burung Mini
  • Rentang sayap : 42 cm
  • Panjang torso : 82 cm
  • Frekuensi kepakan : 30 Hz
  • Berat : 23 gram
  • Bahan frame : plastik dan steroform
  • Baterai : lithium polymer 1 cell
Kumbang
  • Dimensi : 13,5 x 5 x 3 cm
  • Berat : 13 gram
    Frekuensi kepakan : 30 Hz
(Indomiliter)

Saatnya Unjuk Kemampuan Sonar Kapal Perang TNI AL


Secara tak langsung, momen evakuasi korban dan pencarian badan pesawat Air Asia QZ8501 menjadi ajang unjuk kemampuan alutsista bawah air, khususnya pada kinerja perangkat hull mounted sonar (sound navigation and ranging) yang ada di beberapa kapal perang TNI AL. Tak tanggung-tanggung, misi pencarian yang terkendala gelombang tinggi ini melibatkan beberapa kapal perang TNI AL, sebut saja KRI Bung Tomo 357 dan KRI Sultan Hasanuddin 366 SIGMA Class. Kedua korvet ini mewakili alutsista terbaru dan tercanggih TNI AL saat ini.


Tak hanya kedua korvet anyar yang digelar TNI AL di kawasan Selat Karimata, masih ada jawara TNI AL lain yang diikutkan, yakni KRI Yos Sudarso 353 dari frigat Van Speijk Class. Sebagai kapal-kapal perang utama dari Satuan Eskorta Komando Armada Timur, baik korvet dan frigat dilengkapi hull mounted sonar untuk misi AKS (anti kapal selam). Perangkat ini ditempatkan di bawah lambung, bisa di tengah atau bisa juga di lambung depan. Seperti KRI Bung Tomo 357 dilengkapi hull mounted sonar besutan Thales Underwater Systems TMS 4130C1. Sementara SIGMA Class KRI Hasanuddin 366 dibekali Thales Kingklip medium frequency active/passive. Kemudian KRI Yos Sudarso 353 dibekali sonar Thales PHS-32.

KRI Bung Tomo 357
KRI Bung Tomo 357
KRI-Sultan-Hasanudin 366
KRI-Sultan-Hasanudin 366
KRI Yos Sudarso 353
KRI Yos Sudarso 353

Secara umum, hull mounted sonar dirancang untuk mendeteksi keberadaan kapal selam lawan, dan menteksi ancaman yang berasal dari torpedo dan ranjau laut. Karena ditempatkan di bawah lambung, kemampuan deteksi hull mounted mencapai 360 derajat. Mengenai kemampuan dan spesifikasi teknis antar jenis hull mounted sonar tentu ada perbedaan. Sebagao contoh sonar Thales PHS-32 yang ada di KRI Yos Sudarso 353, dapat melalkukan automatic tracking hingga empat sasaran sekaligus. Thales PHS-32 juga ditanam pada frigat KRI Fatahillah 361 dan KRI Ki Hajar Dewantara 364.

Kemampuan hull mounted sonar juga mampu mendeteksi keberadaan logam yang ada di dasar laut.
Soal kemampuan deteksi bergantung pada kemampuan frekuensi dan bandwidth yang digunakan. Untuk sonar Thales PHS-32 dapat mendekteksi hingga kedalaman ribuan meter. KRI Fatahillah 361 berhasil mendeteksi keberadaan logam pesawat Adam Air yang jatuh di perairan Majene, Sulawesi Barat. Saat itu kedalaman logam yang berhasil di deteksi berada di kedalaman 1.600 meter.
Bagian dalam hull mounted sonar pada bagian bawah lambung kapal.
Bagian dalam hull mounted sonar pada bagian bawah lambung kapal.
Hull mounted sonar_2Hull mounted sonar
Selain hull mounted sonar yang ada di korvet dan frigat TNI AL, armada TNI AL juga mengerahkan side scan sonar. Sonar jenis ini berupa konsol yang diturunkan ke dalam laut, yang pengoperasiannya dengan cara ditarik lewat kabel dari kapal pengendali. Side scan sonar menjadi kelengkapan pada kapal pemburu ranjau Tripartite Class. Ada dua kapal buru ranjau di Tripartite Class, yakni KRI Pulau Rengat 711 dan KRI Pulau Rupat 712. Lambung kapal ini dibangun dari material khusus yang tidak menimbulkan jejak magnetik, yakni mengadopsi jenis plastik yang diperkuat dengan kaca (glass-reinforced plastic atau GRP). Untuk perangkat buru ranjaunya menggunakan sistem sensor dan processing 1 unit Sonar DUBM, 1 Thales underwater system TSM, side scan sonar, Sonar TSM 2022, 1 SAAB Bofors Double Eagle Mk III Self Propelled Variable Depth Sonar, dan 1 Consilium Selesmar Type T-250/10CM003 Radar. Selain kemampuan sonar KRI Pulau rengat juga memiliki PAV (Poisson Auto Propulsion), sejenis kapal selam selam tanpa awak yang sanggup mendeteksi keberadaan pesawat di laut dalam. kapal selam ini mempunyai jangkauan satu kilometer dengan kemampuan penetrasi hingga kedalaman 500 meter.

Mengingat medan pencarian yang cukup luas, informasi terkini juga menyebut kehadiran kapal KM Baruna Jaya IV milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Kapal buatan PT PAL ini dibekali alat sensor sonar yang dapat mendeteksi bentuk atau objek di permukaan laut sedalam 2.500 meter. BPPT juga akan membawa alat sensor sonar portabel yang mendeteksi di kedalaman 250 meter.
Multibeam sonar
Multi beam sonar
KRI Pulau Rengat tengah menurunkan Side Scan Sonar
KRI Pulau Rengat tengah menurunkan Side Scan Sonar
Visual bangkai kapal Titanic yang diperoleh dari side scan sonar.
Visual bangkai kapal Titanic yang diperoleh dari side scan sonar.
sonar2
Dalam operasinya, sonar dapat menjalankan mode multi beam untuk penyebaran sinyal sonar. Artinya, sinyal sonar yang dikirim dapat menjangkau permukaan atau objek di sekitar jalur kapal. Ini berbeda dengan single-beam yang sinyal sonarnya hanya dapat menjangkau garis rute yang dilewati kapal, sehingga objek atau permukaan di sekitarnya tidak terdeteksi.

Ketika dipakai untuk mencari benda di dalam air, Sonar akan menggunakan gelombang suara bawah air yang dipancarkan dan dipantulkan untuk mendeteksi serta menetapkan lokasi objek bawah laut. Data suara akan dipancarkan ulang ke operator melalui speaker untuk kemudian ditampilkan ke monitor dalan wujud visual. Data-data itu berasal dari hasil pantulan gelombang suara yang dikirim ke bawah permukaan laut. Selama ini Sonar telah dipergunakan untuk mendeteksi kapal selam, ranjau, mendeteksi kedalaman, menangkap ikan secara komersil, keselamatan dan berkomunikasi di laut.(indomiliter.com)