Pages

Sunday, 22 March 2015

Makna Pertempuran RPKAD vs Tentara Inggris Kala Operasi 'Ganyang Malaysia'


Makna Pertempuran RPKAD vs Tentara Inggris Kala Operasi Ganyang Malaysia - 1
Jakarta - Operasi 'Ganyang Malaysia' Dwikora sejak tahun 1964-1966 memang luar biasa. Indonesia yang menentang pembentukan Federasi Malaysia bentukan Inggris harus bertempur melawan Inggris dan sekutunya dari Selandia Baru dan Australia. Pertempuran di Plaman Mapu, Sarawak, Malaysia adalah salah satu yang brutal, meski cuma 1 jam, dari beberapa pertempuran yang ada. Apa makna pertempuran di Mapu?

Dalam dokumen yang didapatkan dari Museum Pustaka Korps Baret Merah, disebutkan penyerangan di Mapu, mempunyai pengaruh besar terhadap pihak lawan, mencatat juga komentar dari juru bicara Pasukan Keselamatan Sarawak yang menyebut serangan ini sebagai 'determine attack' alias serangan yang menentukan yang telah berhasil menembus pertahanan melingkar kawat berduri dan menyerang ke atas bukit.

Dokumen juga mencatat siaran radio Sarawak di Kuching yang mengatakan bahwa tentara Inggris yang bertahan adalah prajurit yang baru lulus 10 bulan dari pendidikan, dan harian Strait Times pada 28 April 1965 menuliskan bahwa tentara Inggris yang diserang adalah "British Paratroops". Pasukan Para Inggris dikenal sangat elit dan seleksi untuk masuk ke Parachute Regiment sangat berat.

Kemudian, dari siaran radio Sarawak di Kuching pada 28 April 1965 pukul 22.00 Wita diketahui ada sekitar 150 penerbangan heli dari pihak tentara Inggris berseliweran, yang memperkuat dugaan Indonesia bahwa korban musuh sangat besar.

Berapa korban tentara Inggris?

Saksi hidup dan pelaku penyerangan di Mapu, Pelda (Purn) Soemadji mengatakan bisa mencapai sekitar 100-an tentara, dan mendengar dari siaran radio bahwa yang tewas adalah 72 tentara Selandia Baru. Sedangkan dalam catatan dokumen di Museum Pustaka Korps Baret Merah dituliskan, berdasarkan tafsiran sementara, paling sedikit 30 orang musuh ditewaskan.

Sedang dalam buku "Britain's Secret War: The Indonesian Confrontation, 1962-66" yang ditulis Will Fowler di halaman 21 dituliskan, saat penyerangan di Mapu itu, saat itu ada 34 tentara, terdiri dari B Coy HQ, Parachute Regiment termasuk satu peleton yang lemah karena prajuritnya baru lulus dari pendidikan. Dituliskan pula korban serangan dari pihak Inggris adalah 2 tentara tewas dan 7 lainnya terluka.

Dituliskan pula, keberhasilan serangan di Mapu karena strategi gerilya dengan serangan pendadakan total, faktor musuh yang lengah karena terlalu percaya akan sistem pertahanannya, faktor cuaca kabut dan hujan, doktrin-doktrin Komando RPKAD, serta moril prajurit yang tinggi juga keeratan hubungan antara pimpinan dan bawahan.

Sedangkan Soemadji mengenang, bahwa meski unggul dalam gerilya, sebenarnya persenjataan RPKAD kala itu kalah dibanding pihak musuh, terutama dalam perlindungan udara. Pihak tentara Inggris, imbuhnya, memiliki banyak helikopter dan pesawat yang bisa melindungi tentara darat dan menyisir musuh dari udara.

"Hanya semangat patriotisme yang sangat tinggi dan latihan yang keras kita bisa sukses melaksanakan tugas," tutur Soemadji di rumahnya, RT 4 RW 7, Cijantung, Kelurahan Baru, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (17/3/2015) lalu.

Dalam catatan eks Komandan Kompi Benhur, Mayor (Purn) Oerip Soetjipto juga menuliskan bahwa "Dalam perjalanan diberitahukan lewat penghubung bahwa dalam pengunduran nanti pasukan akan dilindungi oleh pesawat terbang Mustang. Walaupun pada akhirnya tidak ada kenyataan, namun berita tersebut sudah sempat membesarkan hati pasukan".

Operasi Dwikora yang berlangsung pada tahun 1965 adalah respons Indonesia untuk berperang di Malaysia, di bawah Presiden Soekarno saat itu, karena tidak setuju atas pembentukan Federasi Malaysia oleh Inggris. Inggris, yang hendak mengakhiri kolonisasi saat itu hendak menggabungkan koloninya di Semenanjung Malaya dengan Sabah dan Sarawak di Kalimantan. Presiden Soekarno tak setuju lantaran menganggap Federasi Malaysia adalah boneka Inggris yang akan mengancam kemerdekaan Indonesia.

Satu lagi, pembentukan Federasi Malaysia dianggap melanggar Perjanjian Manila yang diteken 3 negara, Indonesia, Malaysia dan Filipina di Manila-Filipina pada 5 Agustus 1963. Dalam perjanjian itu, ketiga negara sepakat bahwa warga Sabah dan Sarawak mesti melakukan referendum dan menentukan nasib sendiri tanpa ada paksaan dari pihak luar di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Namun ternyata, sebulan setelah Perjanjian Manila diteken, Inggris membentuk Federasi Malaysia pada 16 September 1963.

Setelah pengaruh Presiden Soekarno berkurang, pasca gerakan G30-S/PKI pada 30 September 1965, dan Surat Perintah 11 Maret 1966, rezim akhirnya berganti pada Presiden Soeharto. Akhirnya, pada 28 Mei 1966, Malaysia dan Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik di Bangkok, Thailand. Perjanjian perdamaian diteken dua negara serumpun ini pada 11 Agustus 1966 dan diresmikan 13 Agustus 1966.(Detik)

Bomber Tercanggih yang Dimiliki Indonesia


Pesawat Bomber Tercanggih Dimiliki Indonesia Era 60 an
Pesawat Tupolev Tu-16 Badger. 
 
JAKARTA - Indonesia pernah memiliki pesawat pembom strategis tercanggih di era 1960-an, yaitu Tupolev Tu-16 bomber (badger). Pada tahun 1961 varian pesawat jenis ini dimiliki AURI (nama TNI AU saat itu) sebanyak 25 unit. Pesawat bomber ini pernah dipersiapkan dalam operasi Trikora tahun 1962 guna merebut kembali Irian Barat dari cengkeraman Belanda.

Berdasarkan data yang dihimpun dari beberapa sumber, Jumat (20/3/2015), sebanyak 14 unit Tu-16 tergabung dalam Skuadron 41 dan sisanya di Skuadron 42. Kedua skuadron ini bermarkas di Pangkalan Udara AURI Iswahyudi, di Madiun, Jawa Timur. Semua unit Tu-16 tidak diterbangkan lagi pada tahun 1969 dan keluar dari armada AURI tahun 1970.

Pesawat yang digunakan Indonesia saat itu hanya dimiliki empat negara di dunia, yakni Uni Soviet, Mesir, Irak termasuk Indonesia. Operasi Trikora adalah perintah langsung dari Presiden Soekarno,  dalam pidatonya dengan lantang meminta kepada seluruh tentara dan rakyat Indonesia menggagalkan upaya pendirian negara Irian Barat bentukan Belanda tersebut.

Pesawat Tupolev Tu-16 adalah pesawat pembom jet bermesin ganda yang dikembangkan dan digunakan angkatan udara Uni Soviet. Pesawat ini telah beroperasi selama lebih dari 50 tahun.
Tupolev Tu-16 dirancang serba bisa dalam berbagai varian sebagai mata-mata, patroli maritim, pengumpul data elektronik intelijen, dan perang elektronik. Sebanyak 1.507 pesawat dibangun di tiga pabrik pesawat Uni Soviet antara tahun 1954 hingga tahun 1962.

Adapun daya angkut pesawat maksimal enam sampai tujuh kru dengan kecepatan maksimal mencapai 1.050 km/ jam (652 mph, 567 kn). Pesawat juga dilengkapi 6-7 × 23 mm Afanasev Makarov AM-23 meriam. Masing-masing ditempatkan pada bagian punggung dan perut pesawat.

Fasilitas senjata lainnya adalah, 2 × Raduga KS-1 Komet ( AS-1 Kennel ) rudal antikapal pada sayap pesawat, atau 1 × Raduga K-10S ( AS-2 Kipper ) antikapal rudal semi tersembunyi di badan pesawat, atau 2 × Raduga KSR-5 ( AS-6 Kingfish ) antikapal rudal pada sayap pesawat, serta bom jatuh dengan bobot 9.000 kg. (Sindo)

Tiga kapal Thailand ditangkap KRI Sutedi Senoputra-378

Hasil gambar untuk Tiga kapal Thailand ditangkap KRI Sutedi Senoputra-378
Ketiga kapal ikan asing dikawal menuju Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Ranai untuk proses hukum lebih lanjut

Jakarta - Salah satu unsur kapal perang jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar), KRI Sutedi Senoputra-378, berhasil mengamankan tiga kapal ikan asing dari Thailand di Laut Cina Selatan, Jumat.

Kepala Dispenarmabar Letkol Laut (KH) Ariris Miftachurrahman, di Jakarta, Jumat, mengatakan ketiga kapal asing tersebut diamankan KRI Sutedi Senoputra-378 yang tengah melaksanakan operasi Rakata Jaya di bawah BKO Pangarmabar di wilayah perbatasan laut Indonesia dan Malaysia.

Ia menjelaskan, kejadian berawal ketika radar JRC KRI mendeteksi kontak yang mencurigakan, selanjutnya diidentifikasi secara visual dengan menggunakan teropong dan diketahui kapal ikan asing.

Mengetahui hal tersebut, kata Ariris, Komandan KRI Sutedi Senoputra Mayor Laut (P) Hendra Astawan memerintahkan anggota KRI untuk melaksanakan peran pemeriksaan dan penghentian kapal.

Dari hasil pemeriksaan, lanjut dia, diketahui ketiga kapal tersebut adalah jenis kapal ikan asing berbendera Thailand masing-masing berbobot 60 sampai 70 GT dengan masing-masing tujuh orang Anak Buah Kapal (ABK) dan setiap kapal memiliki muatan ikan campuran.

Setelah diperiksa lebih lanjut, ketiga kapal ikan asing tersebut tidak bisa menunjukkan dokumen penangkapan ikan yang sah di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

"Ketiga kapal ikan asing dikawal menuju Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Ranai untuk proses hukum lebih lanjut," kata Ariris.(ANTARA News)