Pages

Friday, 3 April 2015

Pemerintah Evakuasi 220 WNI di Yaman Tahap Pertama

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir. (Kemlu)

Jakarta - Saat ini pemerintah mengevakuasi warga negara Indonesia (WNI) dari Yaman. Berdasarkan data terbaru hari ini, Selasa (31/3), sebanyak 220 WNI sudah berada di kota yang relatif masih aman di Yaman, Al Hudaydah, dan akan segera dievakuasi ke Kota Jizan, Arab Saudi. Ada dua opsi pemindahan dari Al Hudaydah ke Jizan, yaitu memakai pesawat TNI Angkatan Udara (AU) atau menempuh jalur darat sejauh 600 - 700 kilometer (km).

Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Arrmanatha Nasir mengatakan, jumlah WNI yang akan dievakuasi sangat dinamis atau bisa berubah dari menit ke menit.

Pada Senin (30/3), Menteri Luar Negeri (menlu), Retno Marsudi mengatakan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Sanaa akan mengevakuasi 90 WNI dari Sanaa menuju ke Kota Al Hudaydah, namun angka itu bertambah menjadi 190 orang. Setibanya 190 WNI tersebut di Al Hudaydah, ternyata sudah ada 30 WNI yang menunggu di situ, sehingga total WNI yang akan dievakuasi mencapai 220 orang.

“Proses evakuasi untuk WNI kita di Yaman, utamanya akan mengeluarkan mereka ke wilayah terdekat, seperti Salalah di Oman dan Jizan di Arab Saudi. Prinsipnya, evakuasi harus aman, cepat, dan efisien,” kata Arrmanatha, Jakarta, Selasa (31/3).

Menurut Arrmanatha, pemerintah sudah mengirimkan satu pesawat TNI AU jenis Boeing 737 untuk evakuasi WNI. Pesawat itu termasuk jenis pesawat untuk penerbangan jarak dekat, dengan kapasitas sekitar 120 - 200 penumpang.

Saat ini, di Yaman masih ada 4.159 WNI, yang terdiri dari 2.626 mahasiswa, 1.488 pekerja profesional bidang minyak dan gas, dan 45 orang staf KBRI dan keluarganya.

Arrmanatha mengatakan, evakusi WNI akan terus dilakukan, terutama untuk menggeser WNI dari Ibu Kota Yaman, Sanaa, ke kota lain yang lebih aman. Dia menjelaskan, Kota Jizan, yang merupakan kota perbatasan Arab dan Yaman, tidak memiliki bandara internasional. Oleh karena itu, KBRI di Yaman masih mencari cara untuk menerbangkan 220 WNI itu menuju Indonesia.

“Pertama, kita keluarkan WNI dari daerah tidak aman ke daerah aman. Dari situ, mereka akan kita keluarkan dari Yaman, yang penting keluar dulu dari Yaman. Lalu kita cari tempat transit untuk nantinya bisa membawa mereka pulang ke Indonesia,” ujarnya.

Arrmanatha mengatakan, pesawat TNI AU juga membawa tim evakuasi gabungan dari TNI AU, Kemlu, dan kepolisian.

Mekanismenya adalah para WNI di Yaman, yang akan diminta berkumpul di beberapa safe house (rumah perlindungan) di Yaman. Selanjutnya, mereka akan dikumpulkan di satu titik untuk dijemput oleh tim evakuasi.

“Jadi tim evakuasi akan bolak balik, keluar masuk dari titik berkumpulnya WNI, untuk menjemput mereka keluar Yaman,” katanya.

Dia menambahkan, pemerintah Indonesia terus berkomunikasi dengan koalisi liga Arab, agar tidak melakukan serangan ke koordinat tertentu, yang merupakan tempat berkumpulnya WNI. Diantaranya, KBRI Sanaa, Wisma Indonesia di Sanaa, dan safe house.

“Kita sampaikan juga, ada rencana pesawat TNI AU untuk keluarkan WNI kita. Jangan sampai mereka jadi korban salah sasaran tembak,” kata Arrmanatha.(Berita Satu)

TNI belum rencanakan operasi militer di Poso

TNI belum rencanakan operasi militer di Poso
Dokumentasi Batalion Lintas Udara 700/Radider memantapkan strategi saat akan melakukan penyergapan teroris di Kantor Pertamina Region VII, Sulawesi di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (26/11). Saat ini latihan gabungan TNI berpokok uji doktrin pertempuran gabungan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat dilaksanakan di Poso, Sulawesi Tengah.
... jika kelak ada operasi, pasukan sudah memiliki gambaran tentang cuaca, medan dan musuh...
Palu, Sulawesi Tengah  - Panglima TNI, Jenderal TNI Moeldoko, mengaku belum merencanakan operasi militer di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, untuk mengejar dan menangkap kelompok teroris di daerah itu.

Gerombolan yang dia maksud adalah kawanan Santoso yang kin bersembunyi di hutan-hutan setempat. TNI dipastikan mengejar dan memberangus gerombolan itu sebagai bentuk kehadiran negara menjaga keamanan masyarakat. 

Jika gerombolan ini dibiarkan, Moeldoko katakan, bisa membuat gerombolan ekstrim lain --di antaranya NIIS/ISIS-- tumbuh subur di sana. Jadi sebelum terlanjur besar, diberangus terlebih dahulu.

Moeldoko kepada wartawan di Palu, Senin, mengatakan, saat ini TNI gabungan sedang melakukan latihan perang oleh Pasukan Pemukul Reaksi Cepat dengan organ utama Divisi II Komando Strategis Cadangan TNI AD, di kawasan hutan dan laut di Poso.

Dia mengatakan latihan berkekuatan 3.200 personel gabungan TNI AL, TNI AU, dan TNI AD itu dilakukan di daerah yang punya potensi ancaman keamanan sehingga pasukan TNI lebih mengenal daerah apabila suatu saat melakukan operasi.

"Jadi, jika kelak ada operasi, pasukan sudah memiliki gambaran tentang cuaca, medan dan musuh," katanya.

Latihan perang semacam itu kegiatan rutin tahunan TNI yang di daerah yang dipilih. Saat ini perburuan kelompok Santoso di Kabupaten Poso masih oleh Kepolisian Indonesia sebagai penegak hukum.

Selama 2015, polisi berhasil menangkap 10 orang yang diduga kuat merupakan jaringan kelompok Santoso yang saat ini bersembunyi di hutan.

Santoso dan kelompoknya diduga kuat telah melakukan serangkaian teror kepada petugas negara dan warga di Kabupaten Poso dan beberapa daerah di Sulawesi Tengah. Kelompok Santoso ditetapkan sebagai buronan berbahaya oleh Kepolisian Indonesia sejak tiga tahun silam namun hingga kini belum tertangkap.

Moeldoko menegaskan latihan perang yang melibatkan sekitar 3.200 personel tersebut bukanlah untuk mengejar kelompok teroris.

"Tapi kalau ketemu Santoso dan anak buahnya ya kita minta untuk menyerah atau ditembak," katanya. (ANTARA News)

Monday, 30 March 2015

Mengenang Keberhasilan Operasi Woyla

Mengenang Keberhasilan Operasi Woyla - 1 
 Latihan Gabungan Satuan Gultor TNI di Madiun 
 
Jakarta - Tepat 34 tahun yang lalu di hari dan tanggal yang sama, operasi Woyla dilakukan oleh Kopassus. Saat itu hari Sabtu, 28 Maret 1981 adalah tonggak sejarah keberhasilan personel Kopassus membebaskan sandera pembajakan pesawat oleh teroris pertama yang dilakukan di Thailand.

Seperti dilansir dari berbagai sumber, kala itu 5 orang teroris yang dipimpin oleh Imran bin Muhammad membajak pesawat Garuda Indonesia jurusan Jakarta-Medan. Mereka yang mengidentifikasi diri sebagai anggota kelompok Islam ekstremis Komando Jihad naik dari Bandara Palembang saat pesawat transit.

Para pembajak yang menyamar sebagai penumpang lalu menyuruh pilot pesawat DC-9 Woyla itu, Kapten Pilot Herman Rante dan Kopilot Hedhy Djuantoro, untuk terbang menuju Kolombo, Sri Langka. Namun karena bahan bakar terbatas, pesawat lalu transit di Bandara Penang, Malaysia, untuk isi bahan bakar.

"Tuntutan mereka agar temen-temannya dibebaskan," cerita Komandan Penanggulangan Teror Kopassus, Satuan 81 Kolonel Inf Thevi Zebua di Mako Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Sabtu (28/3/2015).

Sebelum pembajakan terjadi, beberapa anggota Komando Jihad memang ditahan pasca Peristiwa Cicendo di Bandung, Jawa Barat. Saat itu 14 orang dari kelompok radikal tersebut membunuh 4 personel polisi di Kosekta 65 pada 11 Maret 1981 dinihari.

Total ada 48 penumpang di dalam pesawat yang dibajak ditambah 5 kru, termasuk 3 pramugari. Mereka membacakan tuntutannya yakni: 80 anggota Komando Jihad yang menjadi tahanan politik dibebaskan, uang senilai USD 1,5 juta, orang Israel dikeluarkan dari Indonesia, dan Adam Malik dicopot sebagai wakil presiden.

Teroris juga meminta pesawat Woyla terbang ke Timur Tengah mengantar mereka beserta tahanan yang dibebaskan. Mereka mengaku telah memasang bom dan akan meledakan diri bersama pesawat berserta penumpang jika tuntutannya tidak dikabulkan.

Sehari setelah tersiarnya kabar pembajakan, pembebasan sandera dilakukan oleh Komado Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) yang merupakan nama Kopassus saat itu. Operasi dikomandoi oleh mantan Panglima TNI Jenderal Benny Moerdani yang saat itu menjabat sebagai Kepala Pusat Intelijen Strategis. Setelah mendapat perintah untuk menyiapkan pasukan, Benny langsung menghubungi Asrama Kopasandha yang diterima oleh sang asisten operasi, Letkol Sintong Panjaitan.

"Waktu itu zamannya pak Benny Moerdani. Pilot Garuda melaporkan adanya pembajakan pesawat oleh teroris," kata Thevi.

Saat peristiwa tersebut terjadi, Indonesia belum memiliki pengalaman dalam menangani terorisme pembajakan pesawat. Setelah melakukan pelatihan dengan meminjam pesawat Garuda, pada Minggu, 29 Maret 1981 malam, 35 anggota Kopassandha bertolak ke Bandara Don Muang, Thailand, tempat pesawat yang dibajak terakhir mendarat.

Operasi pembebasan sandera itu sempat menuai protes dari Amerika Serikat (AS). Dubes AS kala itu, Edward Masters menghubungi Benny Moerdani dan meminta agar operasi militer tersebut dibatalkan terlebih dahulu dan menunggu bantuan. Benny dengan tegas menolaknya. AS khawatir karena ada warga negaranya yang berada di dalam pesawat yang dibajak itu.

"Maaf pak, tapi ini sepenuhnya adalah permasalahan yang dihadapi Indonesia. Ini pesawat udara Indonesia," tutur Benny menjawab permintaan AS seperti ditirukan Thevi. Ia juga menegaskan bahwa Indonesia berhak mengambil segala langkah untuk meringkus para pembajak tanpa perlu meminta izin dari negara lain.

Pemimpin CIA di Thailand juga waktu itu menawarkan untuk memberi pinjaman rompi anti peluru namun ditolak karena pasukan Kopassandha telah membawa perlengkapan sendiri. Pesawat Garuda DC-10 yang membawa pasukan Kopassandha mendarat di Bandara Don Muang setelah mendapat clearance dari Thailand dengan menyamar sebagai pesawat Garuda yang baru terbang dari Eropa.

Pasukan tak bisa langsung menyergap para teroris dan menyelamatkan sandera, sebab pemerintah Thailand tak langsung memberikan izin. Akhirnya clearance diberikan usai Benny bertemu dengan Perdana Menteri Thailand saat itu, Prem Tinsulanonda. Meski deadlock sempat terjadi dalam perundingan, Indonesia bersikeras menyelesaikan sendiri pembajakan yang terjadi.

Sintong yang pada saat itu sedang terluka di bagian kakinya, memutuskan terjun ke lapangan untuk membantu anak buahnya melakukan operasi pembebasan sandera. Ia bahkan membuang tongkat penyangga kakinya. Sebelum operasi dilakukan, pasukan kembali melakukan latihan di mana seorang pilot Garuda berkontribusi memberi informasi mengenai bagian-bagian pesawat.

Salah seorang penumpang yang menjadi sandera, WN Inggris, berhasil keluar melalui pintu darurat dengan selamat karena para pembajak sudah mulai lelah. Sementara itu seorang WN Amerika yang juga berusaha menyelamatkan diri tertembak teroris dan tersungkur di aspal. Pembajak pun marah besar.

Selasa, 31 Maret 1981 dinihari, pasukan yang terbagi menjadi 3 tim mulai mendekati pesawat yang dibajak. Mereka berbaring di lantai mobil, bersama Benny yang tiba-tiba masuk dan ikut dalam operasi. Sintong pun kaget karena hal tersebut di luar skenario sebelumnya.

Di tengah deretan pasukan berseragam berbaret merah, Benny mengenakan pakaian preman dengan tangan memegang pistol. Sintong pun sempat memerintahkan anak buahnya agar mengeluarkan perwira tinggi 3 bintang itu demi keamanannya. Namun tak ada yang berani.

Dari kesaksian penumpang, serbuan dimulai dalam kegelapan malam di mana pasukan mendobrak semua pintu kabin pesawat dari luar. Baku tembak pun riuh terdengar dan membangunkan para penumpang yang sedang terlelap.

Salah satu anggota pasukan bernama Achmad Kirang dan Kapten Pilot Herman Rante tertembak dalam operasi pembebasan sandera ini. Setelah beberapa hari mendapat perawatan medis, nyawa keduanya tak dapat diselamatkan. Mereka pun dimakamkan di TMP Kalibata.

"Pak Achmad pangkatnya saat itu Peltu. Tapi karena dia gugur dalam tugas, dapat Bintang Sakti langsung jadi Perwira, kenaikan pangkat luar bisa 2 tingkat, anumerta," jelas Thevi

Drama penyanderaan tersebut akhirnya dapat diakhiri setelah 60 jam berlangsung. Di bawah pimpinan Sintong, pasukan Grup 1 Para-Komado Kopassandha berhasil menyelamatkan seluruh penumpang. Tiga orang pembajak tewas seketika, 2 lainnya meninggal beberapa saat usai ditembak. Namun pimpinan teroris, Imran bin Muhammad Zein selamat dan ditangkap. Ia pun lantas dihukum mati.

Usai penyerbuan singkat itu, Benny lalu menghubungi Kepala Bakin (sekarang BIN) Jenderal Yoga Sugomo melalui kokpit pesawat. Ia menginformasikan bahwa operasi telah selesai dijalankan. Sejumlah negara pun memberikan apreasiasi tinggi terhadap keberhasilan Indonesia tersebut.

"Sekarang kalau direfleksikan, untuk generasi penerus harus mempersiapkan segala sesuatu dalam menghadapi aksi teror," tukas Thevi.

Sementara Asintel Kopassus, Kolonel Inf Rafael G Baay menyatakan Operasi Wolya merupakan sejarah keberhasilan yang membuat pasukan Indonesia tak lagi dipandang sebelah mata oleh negara-negara maju.

"Itu yang menempatkan kita jadi nomor 3 terbaik di dunia. Belum lagi operasi-operasi lainnya seperti di Papua tahun 1997. Itu bagian dari tugas kita," ucap Rafael di lokasi yang sama.(Detik)