Pages

Tuesday, 7 April 2015

Reputasi Senapan G36 Diragukan

Tentara Jerman dengan senapan G36
Tentara Jerman dengan senapan G36

Di dunia senapan serbu, nama G36 adalah salah satu yang menakutkan. Senapan lanjutan dari G3 ini disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Anda dapat menemukan G3 di seluruh dunia seperti senapan dalam lima teratas dalam penjualan senjata kecil.

G36 mulai hadir di awal 90-an sebagai sebuah senapan serbu serbaguna. Banyak tentara Eropa dan pasukan keamanan mengadopsinya. Dua negara membeli lisensi yakni Spanyol dan  Arab Saudi. Jerman sekarang ini juga telah mulai mengirimkan G36 kepada pasukan Peshmerga Kurdi untuk membantu mereka melawan Negara Islam di Irak.
 
Sejak diperkenalkan sebagai senapan serbu standar Jerman pada bulan Desember 1997, tentara Jerman telah berjuang dengan G36 tersebut untuk menggantikan G3 yang telah melayani dengan baik selama hampir 40 tahun.

Seiring adanya perubahan kebijakan luar negeri, untuk pertama kalinya dalam sejarah kontemporer, Jerman mengambil bagian dalam operasi internasional di Balkan. Kemudian pada tahun 2001 Amerika Serikat menginvasi Afghanistan dan Jerman bergabung dengan pasukan pendudukan NATO. Dari medan pertempuran inilah rumor ketidaktangguhan G36 mulai merebak.
G36
G36
g36-2
Pada tahun 2009, Bundeswehr meningkatkan operasinya di Afghanistan. Tentara mulai berbicara tentang G36 yang terlalu panas dalam panas musim panas Afghanistan. Tapi kala itu belum ada bukti kuat untuk mendukung keluhan tentara tersebut.

Semua berubah pada 2010, ketika terjadi pertempuran paling intensif yang melibatkan tentara Jerman sejak Perang Dunia II. Baku tembak yang menewaskan tiga pasukan terjun payung. Selama 10 jam, pasukan payung berjuang dari serangan Taliban di distrik Char Darrah, bersama-sama menembak 28.000 putaran.

Penyelidikan selanjutnya menunjukkan tidak ada Taliban yang luka parah dalam pertempuran itu. Meski pun laporan itu tentu saja dari pihak Taliban.  Namun dari rekaman kamera helm tentara dan saksi mata pertarungan membuktikan bahwa G36 memang bermasalah. Senjata itu terlalu panas. Bahkan tentara harus membiarkan mereka dingin sebelum mereka akan beroperasi dengan baik lagi. Akhirnya pemerintah Jerman telah memperkenalkan versi terbaru dari G36, menggantikan pemandangan refleks terintegrasi dengan refleks pemandangan modular.

Sejauh ini penyelidikan telah membuktikan Departemen Pertahanan Jerman telah meremehkan, pernyataan sejumlah tentara tentang kondisi senapan yang akhirnya memunculkan korban.

Anehnya  laporan baru yang juga menyebutkan amunisi rusak dan terlalu panas hingga bidikan sulit akurat. Pegawai yang bertugas di kementerian tidak menyukai hasil ini dan meminta revisi kedua dan ketiga sampai pelaporan sesuai narasi resmi kementerian.

Tapi protes, pemeriksa yang melakukan dan menulis laporan menyerahkannya ke ombudsman militer.
Musim panas ini Bundeswehr menghentikan pembelian tambahan G36 karena penyelidikan sedang berlangsung. Implikasi politik belum jelas. Bagi para prajurit yang harus pergi berperang dengan senjata tentu tak peduli setan dengan politik. Bagi mereka saat berangkat perang harus membawa senapan yang terpercaya. Tentara Jerman cenderung curiga terhadap G36s mereka dan mencoba untuk menjaga mereka dingin, terutama barel mereka. Beberapa berharap untuk menjadi penembak jitu yang ditunjuk, dilengkapi dengan G3-versi scoped saja daripada senjata G36. (JejakTapek)

Kapal Komando Ekspedisi Nusantara Jaya 2015

KRI Banda Aceh 593: Kapal Komando Ekspedisi Nusantara Jaya 2015

Pangkolinlamil Laksda TNI Aan Kurnia saat ditemui Jurnal Maritim di kantornya, Mako Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta beberapa hari lalu menuturkan bahwa Kolinlamil akan terlibat dalam Ekspedisi Nusantara Jaya 2015. KRI banda Aceh-593 rencananya akan menjadi kapal markas dalam ekspedisi tersebut.

“KRI BAC-593 yang akan menjadi kapal markas atau pusat pengendalian berlangsungnya Ekspedisi Nusantara Jaya 2015 ini, dan itu nanti sudah ada anggota kami yang mengatur itu semua,” ujar Aan.
KRI BAC-593 yang dikomandani oleh Letkol Laut (P) Arief Budiman ini merupakan buatan PT. PAL Indonesia yang sudah melanglangbuana menjalankan operasi baik dalam dan luar negeri.

Ekspedisi yang berlangsung bulan Juni 2015 nanti direncanakan keberangkatannya pada akhir Mei. Pangkolinlamil menyampaikan ekspedisi ini akan dilepas oleh Presiden Joko Widodo dari Kolinlamil dengan iring-iringan kapal lainnya.

“Ekspedisi ini akan dilepas oleh Presiden Jokowi dan ekspedisi ini juga dalam rangka mengunjungi daerah-daerah di Indonesia sekaligus membawa kebutuhan yang diperlukan oleh daerah. Nanti kita harapkan 1 atau 2 minggu sebelum Hari Raya dapat terpenuhi kebutuhan-kebutuhan daerah,” tambahnya.

Ekspedisi yang bekerjasama dengan Kemenko bidang Kemaritiman ini merupakan ekspedisi yang membatu program pemerintah dengan visi tol laut-nya untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi antara Indonesia bagian barat dan timur.

Menurut Pangkolinlamil, visi itu juga sesuai dengan peran Kolinlamil selaku Kotama Operasional yang bertugas menyelenggarakan operasi angkutan laut TNI baik dalam rangka Operasi Militer Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

Di akhir penyampaiannya, Pangkolinlamil berharap pada setiap komunitas untuk dapat berpartisipasi dalam pelayaran ini sekaligus meminta kepada Jurnal Maritim untuk turut mensosialisasikan dan mendata peserta dari komunitas-komunitas maritim yang berminat dalam ekspedisi ini.

“Mungkin untuk koordinator pendaftaran nanti bisa dari Jurnal Maritim yang mendata kemudian dimohonkan kepad Bapak Kasal. Nanti setiap komunitas bisa mengirimkan beberapa delegasinya untuk ekspedisi ini,” pungkasnya.(Jmol)

Ada dua sumber jaringan teroris di Indonesia

Pakar UIN: Ada dua sumber jaringan teroris di Indonesia
Personel Brimob Polda Jatim menjaga dan menggeledah rumah terduga anggota Negara Islam Suriah dan Irak (ISIS) berinisial HM di Malang, Jawa Timur, Kamis (26/3)
Artinya, jaringan teroris yang mengakar di Indonesia itu tidak ada, karena semuanya impor."
Surabaya  - Pakar terorisme dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya Prof Dr Akhmad Muzakki menegaskan bahwa ada dua sumber jaringan teroris di Indonesia.

"Kelompok yang frustasi dengan keadaan (hopeless) dan kelompok yang mengalami migrasi Indonesia-Malaysia (TKI)," katanya kepada ANTARA News di Surabaya, Minggu.

Oleh karena itu, Muzakki yang juga Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur (PWNU Jatim) menilai, kedua sumber teroris tersebut menyebabkan ada tiga tipe kelompok radikal di Indonesia.

"Tiga tipe dimaksud adalah genealogi, ideologi patronase, dan ideologi etnis," kata Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Ampel Surabaya itu.

Menurut alumnus master dan doktor di Australian National University (ANU) tersebut, tipe genealogi berkaitan dengan pemain lama, seperti Ustaz Rasyid Ridho yang merupakan putra Abubakar Baasyir sebagai kelompok hubungan Indonesia-Malaysia.

Tipe genealogi itu, dikemukakannya, mungkin saja tersebar di kawasan yang memiliki persaingan cukup ketat, seperti Jakarta dan Surabaya.

"Kalau mengalami hopeless, lalu terpengaruh dengan tawaran kerja menjadi TKW atau TKI, maka kepulangannya bisa membawa ajaran radikal dengan tipe genealogi," katanya.

Untuk tipe ideologi patronase, dikatakannya, berkaitan dengan hubungan guru-murid, seperti terduga gerakan yang menamakan diri Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Dau Malang melibatkan Ustaz Romli yang murid Ustaz Rasyid Ridho.

Sementara itu, ia menyatakan, tipe ideologi etnis itu berkaitan etnis Arab yang kebetulan dalam satu kelompok Al-Irsyad, seperti terduga ISIS yang baru saja ditangkap di Malang.

"Penangkapan paling akhir di Jatim itu terkait dengan tipe terakhir, yakni tipe ideologi etnis yang memiliki jaringan dengan kelompok Al-Irsyad," katanya.

Dalam tataran pergaulan kehidupan, ia menilai, kelompok Al-Irsyad di Indonesia itu ada dua golongan, yakni golongan yang terbuka dan dekat dengan tokoh-tokoh Indonesia, karena itu Al-Irsyad dalam golongan itu tidak radikal.

Namun, ia mengemukakan pula, ada kelompok Al-Irsyad yang merupakan golongan yang menutup diri dan dekat dengan tokoh-tokoh di Timur Tengah.

"Inilah yang radikal," kata guru besar termuda di UIN Sunan Ampel Surabaya itu.

Hal itu menunjukkan bahwa semua sumber jaringan teroris itu berasal dari luar Indonesia. "Artinya, jaringan teroris yang mengakar di Indonesia itu tidak ada, karena semuanya impor," katanya.

Pada 25 Maret 2015 Tim Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Polri bersama tim Polda Jatim menangkap tiga terduga anggota ISIS di Malang, yakni Abdul Hakim, Helmi Muhammad Alamudi dan Ahmad Junaedi.

Dua hari kemudian, Tim Densus 88/Antiteror Polri bersama tim Polda Jatim mengembangkan kelompok Malang itu dengan menangkap satu lagi terduga anggota ISIS di Tulungagung, yakni RS. (Antara)