Pages

Friday, 5 June 2015

Radar Portabel Aistenok Akan Hentikan 'Kompetisi Senjata'

Radar Portabel Aistenok Akan Hentikan 'Kompetisi Senjata'
Press photo.
Sistem radar ini dikembangkan oleh JSC Concern Almaz-Antey. Aistenok hanya berbobot 135 kilogram, sehingga memungkinkan pasukan pengintai dapat memindahkan sistem radar ini menggunakan mobil, atau bahkan hanya diangkut oleh tangan (tiga hingga empat orang). Kompleks ini dapat dirakit dan siap digunakan dalam waktu tak lebih dari lima menit.

Struktur radar terdiri dari sebuah tripod dengan unit penerima transmisi berantena, pembangkit tenaga elektrik, unit yang memproses informasi primer, remote control, serta stasiun radio. Elemen-elemen tersebut terkoneksi menggunakan kabel. Informasi mengenai moda kerja radar dan informasi lain ditampilkan di panel kontrol. Data mengenai target yang terdeteksi ditransfer melalui stasiun radio yang beroperasi dalam jangkauan beberapa centimeter. Meski tak memiliki mekanisme pivotnya sendiri, antena dapat mengobservasi area pada azimuthal beamwidth 60 derajat.

"Sistem radar ini bukan sistem yang paling kuat, tapi merupakan sistem paling dinamis yang sulit dideteksi," kata pakar militer, Jenderal Purnawirawan Mikhail Tymoshenko pada RBTH. Sistem tersebut dapat mendeteksi perhitungan musuh dengan mengomputasi tembakan dan lintasan peluru. Ia dapat mendeteksi target pada jangkauan 200 meter hingga 20 kilometer.

Aistenok mampu menjalankan tiga kategori tugas berdasarkan kompleksitas dan tipe deteksinya. Sistem ini dapat melacak tembakan mortar pada jarak yang sangat pendek. Hebatnya lagi, sistem mampu mengalkulasi parameter terbang mortar dan menentukan titik peluncuran atau pendaratannya. Radar juga dapat mengalkulasikan titik luncur serangan balasan terhadap mortar musuh dan menghitung titik pendaratan, untuk menyesuaikan tembakan.

Saat bekerja dengan mortar, jangkauan deteksi maksimum Aistenok mencapai lima kilometer. Pada jarak tersebut, kompleks dapat mengetahui area penerbangan mortar dan memperhitungkan koordinat mortar dengan tepat. Jarak minimal yang dapat dideteksi oleh sistem 1L271 ialah 750 meter. Kompleks mengunci target dengan akurasi hingga beberapa puluh meter. Nilai kemungkinan error tergantung pada tipe target. Bahkan dengan survei error tiga sampai lima meter, kompleks ini mampu mengalkulasi lokasi musuh hingga 30 meter. Selain itu, sistem ini efektif untuk mengontrol tembakan artileri berkaliber 122 hingga 152 mm. Radar menentukan ledakan proyektil dengan tepat dan mengalkulasi lokasi mereka pada jarak sepuluh meter untuk menyesuaikan tembakan.

Fungsi ketiga radar adalah mendeteksi target lapis baja kelas berat yang bergerak di darat seperti tank. Data mengenai lokasi kendaraan musuh yang berada di jarak 20 kilometer ditransfer ke artileri untuk menyusun serangan.

Di kelas radar pengintai kecil, angkatan bersenjata Rusia memiliki sistem yang jauh lebih kuat, namun Aistenok adalah yang paling dinamis dan hal tersebut memengaruhi kemampuan serangan artileri.
Stasiun radar seperti Aistenok akan sangat populer di kalangan mereka yang bertempur di Donbass. Oleh karena itu, kesampingkan kontroversi apakah perlu atau tidak mengirim senjata ke Ukraina, namun yang jelas pasokan radar baru untuk tentara Rusia harus membawa beber.(RBTH)

RI Selamatkan Kapal Pengungsi yang Diusir Australia

RI Selamatkan Kapal Pengungsi yang Diusir Australia Australia menerapkan kebijakan keras terhadap kapal pengangkut pendatang gelap yang akan masuk ke wilayah negara itu. 
 
Jakarta, Kepolisian Indonesia mengatakan pihak berwenang berhasil menyelamatkan 65 pencari suaka yang mencoba mencapai Australia setelah kapal mereka terdampar di batu karang.

Budi Santoso, kepala gugus tugas pencari suaka kepolisian Indonesia, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa kapal yang karam di lepas pantai provinsi Nusa Tenggara Timur pada Minggu (31/5) ini mencoba mencapai pulau karang Ashmore milik Australia.

Kapal itu membawa 54 warga Sri Lanka, 10 orang Bangladesh dan satu pengungsi dari Myanmar. Tiga diantaranya adalah anak-anak.

Sementara itu seorang politisi partai oposisi Australia mengatakan kapal itu karam setelah diusir oleh angkatan laut Australia. Hal ini menggarisbawahi risiko yang dihadapi oleh para migran akibat kebijakan Australia yang keras.


“Kebijakan Australia untuk mengusir kapal-kapal pendatang membahayakan nyawa anak-anak,” ujar Senator Sarah Hanson-Young dari Partai Hijau dalam pernyataan tertulis.

“Sementara Malaysia, Indonesia dan Tahiland tidak lagi mengusir kapal-kapal pembawa pendatang, pemerintah Australia terus menampik tanggungjawab di wilayah dengan membahayakan nyawa manusia.”

Dalam beberapa minggu terakhir, para pendatang yang mempergunakan kapal tak laik layar mencoba menyebrangi laut Mediterania yang memisahkan Afrika dan Eropa, serta Laut Andaman di Asia Tenggara.

Hal ini menggarisbawahi satu isu global yang sulit diatasi oleh sejumlah negara.

Australia menerapkan salah satu kebijakan paling keras terhadap para pencari suaka yang mencoba mencapai wilayahnya melalui kapal laut. Mereka mengusir balik kapal-kapal pembawa pendatang itu jika laut memungkinkan, dan menahan ribuan pendatang lain di pusat-pusat penampungan di negara lain.

Jumlah pencari suaka yang berhasil mencapai Australia jauh lebih kecil dibanding negara lain, tetapi ini adalah isu politik yang memecah warga dan Perdana Menteri Tony Abbott pun menerapkan kebijakan keras sejak memenangkan pemilu pada 2013.

Australia mempergunakan pusat penampungan di Papua Nugini dan negara Pulau Nauri untuk memproses calon pengungsi yang seringkali membayar para penyelundup manusia di Indonesia untuk mendapatkan kursi di kapal-kapal tak laik layar itu.

Banyak dari mereka tewas ketika mencoba mencapai Australia. (CNN)

TNI AU Halau Pesawat Militer AS di Makassar

Hasil gambar untuk TNI AU Halau Pesawat Militer AS di Makassar
Jakarta - TNI Angkatan Udara (AU) memblokir pesawat militer milik AS di Makassar. Pesawat militer AS jenis C130 Hercules itu tidak boleh melintasi Indonesia karena surat izin melintas wilayah RI sudah kadaluarsa.

"Pesawat hercules AS itu izinnya ada tapi sudah mati sejak tanggal 26 Mei (2015) kemarin. Jadi pesawat itu tidak bisa melintasi Indonesia," ujar Kadispen TNI AU, Marsma Dwi Badarmanto, saat dihubungi, Selasa (2/6/2015).

Pesawat itu terbang dari Darwin untuk kembali ke Singapura. Tapi saat mau melintas ke Indonesia, pesawat itu tertangkap radar TNI AU di Kupang. Dwi mengatakan, pesawat hercules itu dihalau lewat perintah langsung dari Pangkosek II, Marsma Tatang.

"Setelah itu TNI AU koordinasi dengan Kedubes AS dan Air Traffic Makassar, hasilnya pesawat itu kembali lagi ke Darwin," ujarnya.

Dwi mengatakan, pihaknya melakukan tindakan tegas ini supaya NKRI tidak kecolongan. TNI AU juga sudah menyiagakan pesawat tempur tetapi karena pesawat AS menuruti perintah, pesawat TNI AU tidak bergerak.
"Setelah koordinasi, situasi tetap kondusif," ucapnya.